Entri yang Diunggulkan

Meraih Mimpi di #UsiaCantik

Minggu, 24 Oktober 2010

Beni yang Sombong

Beni yang Sombong
Oleh : Awang Bayu Arirang, siswa SDIT Baitul Muslim, Way Jepara.


DI sebuah hutan belantara hiduplah berbagai jenis binatang. Ada Beni si kancil, Ani si anjing, Sipi si siput, Tigor si harimau, Jepi si jerapah dan lain-lain.
Suatu hari, Pak Burhan si burung hantu mengadakan lomba lari. Undangan pun disebarkan. Banyak yang ikut serta dalam kejuaraan lari ini. Di tempat lain, Pak Burhan sedang mengumpulkan para peserta.

“Apa hadiahnya?” tiba-tiba Beni bertanya.
“Hadiahnya bagi siapa yang menang akan mendapatkan lahan yang luas di padang safana sebelah utara,” jawab Pak Burhan.
“Oh!” teriak semuanya.

Saat pulang, Beni sempat mengejek yang lain,
“Eh kalian semua itu tidak akan sanggup melawanku! Sipi, kau kecil dan lamban! Tigor, kau kerjanya hanya makan saja! Ani, kakimu pendek, tidak bisa lari cepat!” ejek Beni.
“Hei! Kau jangan mengejek orang!” teriak Tigor.
“Memang kenyataannya begitu!” kata Beni.
“Akan kuhajar kau!” teriak Tigor seraya ingin menghajarnya.
“Hei, sudah! Kita buktikan di lomba nanti!” teriak Pak Burhan seraya menghentikan Tigor.
Keesokan harinya peserta sudah berkumpul di arena. Dengan pistolnya Pak Otan si Orang Hutan yag menjadi juri segera menghitung mundur.
Bersiap, siap! 3,2,1.......dooor!

Semua peserta berlari dengan kencang. Tetapi Beni hanya berjalan sambil jingkrak-jingkrak. Beni berada di posisi pertama, dikejar oleh Tigor, ternyata Sipi jatuh ke sungai. Lalu Sipi dibantu oleh Pak Aya dan Bu Aya si buaya. Mereka berenang cepat dalam air sehingga menyalip Tigor dan Ani.

Wah! Ternyata Beni tadi tersandung batu saat berjingkrak-jingkrak dan posisinya diambil alih oleh Sipi. Di belakang ada Tigor dan Ani, dan Sipi dilemparkan menuju garis finish. Akhirnya Sipi menjadi juara pertama, diikuti Ani juara kedua, dan Tigor juara ketiga. Mereka semua mendapat hadiah, yakni padang safana yang luas. Sedangkan Beni, ia hanya menangis karena tidak menang dan kakinya sakit akibat tersandung batu.

Cerita Anak ini di muat di http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010060600305838

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...