Jumat, 22 April 2011

MORINGA UNTUK DIDA PANDA

MORINGA UNTUK DIDA PANDA

Yudith Fabiola


“Mama, aku mau main ke rumah Dida, ya.”

“Bukankah tadi sudah bertemu di sekolah?”

“Sudah tiga hari Dida tak sekolah, Ma.”

“Lho, kenapa?”

“Itulah, tak ada yang tahu penyebab Dida tak sekolah. Bu Guru pun tak tahu.”

“Tidak biasanya Dida begitu,” gumam Mama, “baik, kau boleh ke sana. Tapi, hati-hati, ya!”

Reti Merpati segera mengepakkan sayapnya kuat-kuat setelah mendapat izin dari mamanya. Ia terbang tinggi melintasi hutan menuju rumah Dida Panda. Dida Panda tinggal di desa Ayunda, desanya para panda. Cukup jauh dari rumah Reti Merpati.

Tiba di sana, Reti Merpati bertengger di pohon di depan teras rumah Dida. Ia bersiul-siul memanggil Dida. Tak lama, pintu rumah Dida terbuka.

“Reti!”

“Dida!”

Dida terkejut melihat Reti berada di teras rumahnya. Sedangkan Reti kaget menyaksikan Dida.

“Ke-kenapa dengan bulumu, Dida?” tanya Reti heran. “Me-mengapa bulu putihmu menjadi kuning kecokelatan?”

Dida Panda menunduk sedih, “Semua panda di sini bulu putihnya berubah warna.”

“Kok bisa?”

“Aku pun tak tahu,” ujar Dida. “Tapi, Ayah bilang, mungkin air penyebabnya.”

“Maksudmu, air di desamu kotor? Warnanya kuning kecokelatan?” Dida mengangguk.

“Terus, kenapa kamu tak ke sekolah tiga hari ini?”

“Aku malu,” jawab Dida. “Bagaimana mungkin aku ke sekolah dengan bulu kotor seperti ini?”

“Tapi, sampai kapan kamu akan terus bersembunyi di rumah?” protes Reti. “Kamu tak mau ketinggalan pelajaran di sekolah, kan?”

“Tentu saja. Tapi, apa yang bisa kulakukan agar buluku putih lagi? Agar air di sini jernih lagi?”

Reti Merpati terbang rendah. Berpikir keras mencari solusi. Begitu juga Dida panda, mondar-mandir di teras rumahnya.

“AHA!” seru Reti tiba-tiba, “kita datangi saja Profesor Cling Kelinci!”

“Cerdas!” puji Dida Panda. “Tapi, kita pergi ke sana malam-malam, ya!” mohon Dida.

“Kamu pasti tak ingin ada yang memergokimu dengan bulu kuning kecokelatan, kan?” duga Reti.

“Pintar!” puji Dida lagi.

Malam hari, mereka segera berangkat menemui profesor Cling Kelinci di kota Wortelu. Beruntung Profesor tengah ada di laboratoriumnya. Mereka menceritakan kondisi Dida dan air kotor di desanya.

“Hmm...” Profesor Cling Kelinci tampak berpikir. “Baik, datanglah kembali tiga hari lagi sambil membawa air kotor dari desamu.”


Tiga hari kemudian, Reti dan Dida berada di laboratorium Profesor Cling Kelinci.

“WOOOW!” pekik keduanya takjub. Air kotor yang mereka bawa, satu jam kemudian menjadi jernih kembali setelah Profesor memasukkan larutan ke dalamnya.

“Larutan ajaib apakah ini, Prof?” tanya Dida.

“Ini bukan larutan ajaib, Dida,” jawab Profesor. “Ini adalah larutan biji Moringa. “

“Biji Moringa?” tanya Reti heran.

“Pernah lihat pohon Moringa?” Profesor bertanya lagi. “Daunnya kecil-kecil dan bentuk polong buahnya memanjang.”

“Sebentar,” Reti tampak mengingat-ingat sesuatu, “Hey, bukankah itu pohon tempatku bertengger di depan rumahmu?”

“Ya, ya, ya, aku ingat!” ujar Dida girang. “Itu sih pohon yang banyak tumbuh di desa Ayunda!” lanjut Dida riang. “Tapi, kami menyebutnya pohon Kelor, Prof.”

“Sama!” tegas Profesor. “Kelor sama dengan Moringa, Kelo, Keloro, Kawano dan ada beberapa nama lagi.”

“Jadi, bagaimana membuat larutan penjernih air ini, Prof?” tanya Dida tak sabar.

Profesor Cling Kelinci pun memperlihatkan cara membuat larutan biji Moringa pada Dida dan Reti.

“Biji moringa yang sudah kering dipanen. Buang kulit bijinya sehingga tampak biji yang putih. Biji ini ditumbuk sampai halus hingga menjadi bubuk biji moringa. Tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji hingga menjadi pasta.”

“Di desaku tak ada air bersih, Prof.” Dida memotong penjelasan Profesor.

“Minta sebotol dua botol pada Reti,” saran Profesor. “Air di desamu tak kotor kan, Reti?” Reti menjawab dengan senyum.

“Kemudian, masukkan pasta ke dalam botol dan tambahkan air segelas. Kocok hingga tercampur sempurna lalu disaring. Larutan yang tersaring dimasukkan ke air kotor. Diaduk selama 10 sampai 15 menit. Nanti, kotoran-kotoran akan mengendap. Satu jam kemudian air menjadi bersih dan bisa dipakai untuk keperluan keluarga.”

“WHIII!” Reti dan Dida kembali takjub. “Gampang sekali, Prof!”

“Nah, tunggu apalagi?” tegur Profesor. “ Kabarkan berita gembira ini pada orang tua dan warga desa Ayunda!”

Dida Panda pamit dengan tergesa lalu melesat bagai kilat. Reti Merpati sampai terengah-engah mengepakkan sayapnya demi mengejar Dida.

“Oooiii Didaaa, tunggu aku!” teriak Reti.

Rupanya, Dida tak mau membuang waktu. Ia ingin segera sampai ke desanya. Memberi tahu orang tua dan mengajak seluruh panda bergotong royong membuat bubuk biji Moringa. Reti geleng-geleng kepala melihatnya.

“Didaaa, semangat nian kau!” Dida menoleh dan mengacungkan ibu jari pada Reti.

Reti tersenyum. Dida pasti akan segera kembali ke sekolah. Bulu kotornya akan putih lagi berkat larutan biji Moringa temuan Profesor Cling Kelinci.


Sumber: http://fefabiola.multiply.com/journal/item/133?mark_read=fefabiola:journal:133&replies_read=1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...