Senin, 29 Agustus 2011

Gimana Menulis Cerita Kocak?

Dewi Dedew Rieka

Dear Temans,

Menulis cerita kocak gampang-gampang susah. Gampang, karena ceritanya sederhana. Bahkan remeh-temeh. Susahnya? Yup. Gimana agar cerita remeh-temeh kita berhasil membuat pembaca tertawa. Ya, minimal mesem-mesem dikulum lah *apa ituu. Menulis cerita kocak sering dipandang enteng. Lah, hikmahnya apa? Ya, tidak perlu berhikmah dan inspiratif asal berhasil membuat tertawa, sudah menghibur orang pan dapat pahala? *minta dikeplak.

Sebagai penulis yang menekuni genre Pelit aka Personal Literature, saya suka mempelajari penulis-penulis hebat yang menekuni genre sama atau menulis cerita lucu juga. Salah duanya adalah Kelik Pelipur Lara dan Boim Lebon. Sakin ngefansnya, saya kejar Boim Lebon hingga Gunung Pati hehe karena beliau menjadi pembicara dalam salah satu pelatihan menulis untuk mahasiswa.

Saya yang emak-emak kece kudu menyamar biar nggak nampak tuwir diantara para peserta yang kinyis-kinyis dan belia *pasang bulu mata palsu, konde gede. Begitu juga, Mas Kelik. Bela-belain saya turun gunung dari Ungaran dalam keadaan hamil untuk berfoto bersama beliau, wkwk. Dengan khidmat saya serap rahasia keduanya dalam meramu kisah kocak. Insya Allah akan saya bagikan untuk teman-teman setelah saya ramu dan kreasikan dalam format terbaru *halah, ngomong apa dia.

Sebenarnya saya baru menulis buku kocak di tahun 2008. Tapi, memang sejak dulu saya ngepens pada buku-buku Hilman dan Boim yaitu the fenomenal one, Lupus. Kisah-kisah Lupus jadi koleksi saya saat SMP tahunnya tak perlu disebutkan. Hihi. Salah satu yang melekat dalam ingatan saya selain kisah Lupus adalah serial Anak Kos Vanya. Hilman meramu ceritanya dengan asyik hingga kita terhanyut dalam kisah anak-ank kos. Padahal, Hilman kan lelaki tulen, bo!

Ketika saya menulis, saya merekam gaya bahasa Hilman yang gaul abis. Dan menerapkannya pada tulisan-tulisan saya. Apa ya kiat-kiatnya? Tiap orang punya cara yang berbeda-beda untuk menulis naskahnya Yang pasti, yang saya pelajari dari mereka, walau bukunya kocak dan kacau, ternyata mereka SERIUS menyiapkan konsepnya, hehe.

1. Hidupmu adalah Kisah seru.

Jangan remehkan cerita hidupmu. Pengalaman sehari-hari adalah dasar dari buku pelit alias personal literature. Genre yang diawali oleh Raditya Dika dengan Kambing Jantan-nya ini, juga berasal dari pengalaman hidup Raditya semasa sekolah di Aussie.

Ah, hidupku biasa-biasa saja, mungkin itu terbersit dalam pikiran kita. Yang biasa dan sederhana bisa jadi luar biasa lho. Contohnya Boim Lebon tuh dapat ide cerita dari kehidupan sehari-hari. sebagai makhluk Betawi asli , bang Boim tinggal di kawasan full of preman di Tanah Abang, dan ia telah bergaul dengan berjenis-jenis manusia yang tumplek blek di sana, dia telah melihat berbagai kejadian yang lucu hingga full of crime gitu deh.

Nah, ia hobi ngerumpi dengan berbagai orang dengan berbagai latar belakang dan disitulah ia banyak mendapatkan kisah seru untuk dibuat cerpen. Misalnya si Bidin yang rada-rada itu, kocak dan suka menolong dalam kumcer lucu itu ada lho orang benerannya.

Seorang penulis adalah pengamat. Ia jeli terhadap sekelilingnya. Mencatat apa saja yang terjadi untuk dibuat tulisan. Makanya hati-hati curhat sama penulis, tahu-tahu jadi buku, hihihi.Sama juga de ngan kisah anak-anak kacau dalam Anak Kos Dodol. Saya menuliskannya berdasarkan pengalaman pribadi dan teman-teman sekosan.

Tidak mesti mengalami, ada banyak peristiwa yang terjadi saat itu dan kita rekam dalam otak. Setiap orang punya pengalamannya sendiri. Walau sama-sama anak kos, ceritanya bisa berbeda. Kalau ceritanya sama, caramu bercerita lah yang membedakan J jadi jangan takut menuliskan kisahmu. Pede aja lagii..

2. Catat cerita lucu yang kamu dengar.

Saya suka mengumpulkan cerita-cerita lucu dari teman. Juga menyerap apa yang saya baca. Saya sering mendapat cerita kocak untuk dituliskan dari twitter atau fesbuk seseorang. Cerita ini bisa jadi bahan tulisan saya. Kumpulan joke, Plesetan, bahasa gaul anak jaman sekarang. Walau bukan Abege, dan tidak menggunakan bahasa alay *oh, no peniiing, setidaknya kita up to date dengan pergaulan anak jaman sekarang.

Seperti dalam kisah Absolutely Kribo tentang masa-masa SMA waktu di Palembang, yang terjadi pada tahun tak perlu disebutkan. Terlalu jadul jika ditulis apa adanya. Jadi, diadakan penyesuaian-penyesuaian mengikuti perkembangan anak jaman sekarang. Segmen pembaca buku ini kan remaja. Tidak lucu kan kalau saya masih menuliskan printer yang saya pakai masih berbunyi ngiikkkk..ngikk..yang suaranya terdengar hingga di ujung kompleks? Waduh, mbaknya iki hidup jaman apaaa?

3. Amati keunikan teman-teman.

Sesuatu yang nggak lazim biasanya jadi lucu dan aneh. Keunikan teman-teman bisa jadi bahan cerita lho. Kata seorang dosen yang menjadikan AKD bahan kuliahnya *hihi buat contoh buku yang kacau banget kali ya? Kekuatan AKD adalah tokoh-tokohnya yang ajaib. Ya, saya belajar dari master cerita anak. Bahwa tokoh unik sangat menarik untuk jadi bahan cerita. Dan kebetulan, Puri Cantika 2 gudangnya anak-anak ajaib, hehe.

Saya menggali setiap karakter teman agar berbeda dengan yang lain. Misalnya Rasti anak Weleri yang panikan, tukang pingsan. Leslie, anak Purwokerto yang hobinya mengoleksi lingerie dan punya penggemar bejibun. Jadi, mengangkat sisi uniknya dan itulah yang diingat pembaca. Hanya saja, sebisanya jangan menulis cerita kocak yang mengeksploitasi seks atau menertawakan kekurangan fisik seseorang atau. Nggak seru ah! Nyakitin hati, iya.

4. Berusaha menulis yang beda

Coba temukan sisi unik dari kisah hidupmu. Ketika genre kocak booming, Kelik menulis buku lucu tapi dengan gaya plesetan. Di tahun 2008, banyak pelit yang mengisahkan cerita lucu kehidupan mahasiswa namun sepertinya belum ada yang mengangkat kehidupan anak kos putri yang hingar-bingar. Maka, saya kumpulkan cerita-cerita lucu yang pernah dikirimkan ke media seperti Femina, Kartika, Noor dan lainnya lalu kukirimkan ke penerbit.

5. Cari judul naskah yang nendang biar dilirik Penerbit!

Judul yang menarik tentu saja membuat editor jadi tertarik membaca naskah kita. Begitu juga sebaliknya, judul yang bikin eneg bikin editor buru-buru membuangnya di tempat sampah. Think out of the box. Kata Mbak Gia, mendapatkan judul nendang untuk bukunya dengan cara melamun. Nah, dakuw?

6. Temukan gaya tulisanmu sendiri

Terkadang, sebuah cerita sebenarnya biasa-biasa saja. Semua anak kos mengalami yang namanya bangun kesiangan, tidur kesubuhan hehe. Makan mie instan dan ngutang di kala sempit. De el el. Klise. Tapi, gaya bahasa kita, cara kita menceritakannya membuatnya berbeda dan segar.

Setiap penulis biasanya terpengaruh gaya tulisan penulis idolanya. Tak mengapa, perlahan nanti kita menemukan gaya penulisan yang sesuai untuk kita. Kalau sekarang masih mengikuti gaya saya eh Raditya Dika atau Aditya Mulya, it’s ok. Banyak membaca buku dan terus menulis akan melatih kita untuk mendapatkan gaya kita sendiri. Yang kalau orang baca, langsung ngeh ini sih tulisannya si Dedew nih hihihi ge er pisan maaak!

Akhir kata, Seperti kata Bang Boim Lebon, , untuk penulis pemula..nggak usah mikir bagus jeleknya tulisan kita, Nggak usah mikir EYD segala macam, nggak usah mikirin bakal dimuat atau dijadikan bungkus kacang sama redakturnya, Nggak usah mikirin genre, segala teori penulisan..apalagi mikirin tulisan kita bakal dapat Adikarya IKAPI atau nggak hihihi…*ini gue yang nambahin sendiri!

Yang penting mah satu euy resepnya kalau pengen jadi penulis, MULAILAH MENULIS sekarang jugaa! Menulis kocak janganlah ditunda-tunda..*senandung Bimbo sebagai sontrek penutup materi dudulku.

Selamat mencoba! Ganbatte Nee! :)

1 komentar:

  1. waa dapat elmu ,mba naqiyah emang lutcu. ngelmu nih, trimksh.

    salam kenal ^-^

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...