Senin, 12 Desember 2011

Menulis Cerita Lucu Yuk!

Menulis cerita humor untuk anak memang tidak mudah. Hal ini harus saya akui sepenuhnya. Meski saya sudah menulis dan menerbitkan beberapa novel komedi remaja, saya tetap merasa kesulitan saat harus membuat cerita yang bisa mengajak anak-anak untuk tertawa. Sampai saat ini belum sekalipun saya sukses membuat novel komedi untuk anak. Banyak hal yang harus dipertimbangkan agar cerita yang kita tulis, bahkan humor yang kita angkat, memang sesuai untuk anak.


Berkaitan dengan proyek antologi PBA ~ Jejak Kasih, yang sudah berlangsung beberapa waktu lalu, saya salah satu moderator yang dipercaya untuk membaca dan menyeleksi naskah-naskah humor yang masuk. Saat itu target saya tidak muluk-muluk, asal memiliki ide yang lucu, atau sekadar bisa memancing senyum, naskah tersebut bisa masuk dalam nominasi [versi saya, sebelum dirembukan dengan tim penyeleksi lainnya]. Hanya saja, dari [kurang lebih] 17 naskah humor yang saya baca, hanya sedikit sekali yang masuk dalam kriteria yang saya tetapkan. Sebagian besar naskah yang saya baca justru lebih cocok ke dalam genre Misteri, Petualangan, dan [mayoritas] realistis kontemporer.

Agar tidak terbentur dalam genre ‘Humor’ yang nantinya mungkin disematkan dalam cover buku, dan menimbulkan pertanyaan “kok cerita-ceritanya nggak lucu?”, akhirnya panitia sepakat bahwa genre humor dihilangkan. Naskah-naskah ‘humor’ yang layak muat dialihkan ke genre yang lebih pas. Karena itu pula, kenapa genre Realistis Kontemporer akhirnya dibuat dalam 2 gerbong, untuk mewadahi naskah PaBers yang memang bagus-bagus dari segi tema dan penceritaan.

Kalau saya harus mereview [halah, gaya amat ya?] kelemahan yang banyak terjadi dalam cerpen-cerpen humor yang masuk, rata-rata karena semua penulisnya hanya menyorot ‘lucu’ di satu bagian saja. Pada dasarnya, unsur lucu yang terdapat dalam satu poin/bagian saja tidak lantas menjadikan sebuah cerpen menjadi cerpen humor. Cerpen humor harus merupakan kesatuan dari awal sampai akhir, sehingga unsur-unsur kelucuannya harus terbaca di awal, tengah, dan terutama akhir, serta tidak pada bagian tertentu saja.

Sebagai contoh, ada cerita tentang anak yang makan sate. Karena alot, saat dimakan, daging sate itu mencelat dan jatuh gelutukan [cerpen siapa hayo? Maaf saya pinjam temanya ya, semoga berkenan]. Lucu? Pada bagian itu ya! Tapi apakah kisah yang dituturkan dari awal juga lucu? Ternyata tidak. Secara keseluruhan, kisah dalam cerpen ini lebih tepat sebagai cerita realitas biasa. Cerpen-cerpen lainnya pun sebagian besar mengambil tipe seperti ini.


Gara-gara ditunjuk sebagai penyeleksi cerita humor [yang dengan terpaksa genre ini harus dilebur ke genre lainnya], tiba-tiba saja saya ditodong Bunda Peri untuk membuat kiat-kiat menulis cerita humor. Haduh ampuuuun .... jujur saja, saya kalau ditanya tips-tips menulis cerita komedi selalu mati kata. Saya tidak punya kiat tersendiri dalam menulis kelucuan-kelucuan yang biasa saya tulis dalam novel-novel saya. Semuanya mengalir begitu saja. Saya percaya, setiap penulis pasti bisa membuat cerita lucu dengan gaya masing-masing. Setiap orang punya sense of humor masing-masing kok. Lihat saja komen-komen di grup ini, selalu memancing tawa dan kelucuan tersendiri [meski kemudian berujung rusuh. Hehehe]. Sebenarnya, hal-hal seperti itu bisa menjadi modal dalam menulis kalimat-kalimat lucu dalam cerpen humor. Perhatikan juga status-status FB PaBers, pernahkah disadari kalau kalimat itu sudah lucu dan bisa membuat orang yang baca ngakak-ngikik? Kenapa kemudian kita tidak menuangkan gaya kelucuan itu ke dalam sebuah cerita yang lebih panjang? Pantang menyerah sebelum dicoba kan?

Alih-alih memberikan kiat-kiat menulis cerpen humor, mungkin saya ingin memberikan contoh saja. Mohon maaf, bukan merasa sok pinter dan sok lucu ya, karena saya juga sedang mencoba keras untuk bisa menulis cerita lucu buat anak-anak. Insya Allah, penggalan cerita di bawah ini akan segera terangkum dalam sebuah buku yang diterbitkan Dar!Mizan. Kapan terbitnya Kang? *sekalian colek Kang Dadan Ramadhan* hehehe. Ini adalah usaha saya yang pertama dalam menulis cerita-cerita anak dalam balutan komedi.


Mudah-mudahan disukai dan dapat diterima.

Alif, Hisyam, dan Arza adalah tiga sahabat. Mereka bersekolah di Sekolah Dasar yang sama, dan kelas yang sama. Sayangnya mereka tidak duduk di satu meja yang sama juga, soalnya dalam satu meja hanya ada dua kursi. Memangnya kayak di angkot bisa dempet-dempetan? Karena itu, hanya Alif dan Hisyam yang duduk dalam satu meja, sedangkan Arza duduk di luar. Hihihi..., duduk dengan Fauzi, maksudnya.

Siang itu mereka bertiga sedang belajar bersama di rumah Hisyam. Ada PR Matematika yang harus dikumpulkan besok. Kalau sampai tidak mengerjakan PR, bahaya banget. Pak Ramdani, guru Matematika yang terkenal galak itu, akan memberikan hukuman. Anak yang enggak ngumpulin PR harus jalan engklek sambil tepuk tangan keliling kelas. Hiiy..., malu, kan?

Karena itu, Alif, Hisyam, dan Azra semangat sekali mengerjakan PR mereka. Tugas mereka selesai bertepatan dengan suara adzan yang berkumandang.

“Adzan!” teriak Arza seraya melompat berdiri.

“Lapar!”teriak Alif sambil mencomot pisang goreng di atas piring. Pisang goreng itu disediakan Mamanya Hisyam untuk menemani mereka belajar. Wih, sedap sekali.

“Hus!” Hisyam melotot. “Makanan saja yang dipikirin. Salat dulu, tahu!”

Alif nyengir, tapi pisang goreng itu sudah masuk ke mulutnya. Mulutnya masih penuh saat dia mengikuti Hisyam dan Arza ke kamar mandi. Mereka mau mandi bareng-bareng? Yeee... kok mandi? Untuk berwudhu dong. Bukannya sekarang sudah masuk waktu salat ashar?

“Sudah belajarnya?” senyum Mama Hisyam begitu mereka melewati dapur. Mama masih menggoreng pisang di atas wajan. Wanginya langsung tercium.

“Sudah habis tante, pisang gorengnya enak,” jawab Alif sambil membaui wangi pisang goreng itu dalam-dalam. Ah sedaaap.

Arza melotot. “Kok pisang goreng sih? Mamanya Hisyam nanya tentang belajar!”

“Eh, belajar ngegoreng pisang?” tanya Alif bingung.

Arza menepuk jidat, sementara Hisyam dan Mamanya tertawa lebar.

“Makanya otaknya jangan dipakai mikirin makanan melulu, Lif, dengerin kalau orang ngomong.”

Alif menatap Arza masih dengan wajah bingung.

“Sudah, kalian salat ashar dulu. Setelah itu boleh makan pisang goreng lagi.” Mama Hisyam tersenyum.

“Asyiiiik...” Alif bersorak. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu berlari lagi ke kamar Hisyam. “Aku salat duluan ya, biar bisa makan pisang goreng lagi!” teriaknya.

“Hey, salatnya jangan di kamar!” teguran Mama Hisyam menghentikan langkah Alif di pintu kamar.

“Lho, jadi di mana dong, Tante? Masa di teras?”

Kepala Arza nyembul dari kamar mandi. Matanya melotot ke arah Alif.

“Kamu kenapa sih, Za, dari tadi senangnya melotot terus?” cibir Alif.

Arza semakin melotot. “Kamu tuh, dari tadi ngaco terus ngomongnya,” balas Arza.

Mama Hisyam terkikik-kikik.

“Maksud Tante, laki-laki salatnya jangan di rumah, tapi di dapur.” Mama Hisyam langsung kaget sendiri dengan ucapannya. “Haduuh..., tuh kan, Tante jadi kebawa ngaco ngomongnya.”

Alif, Hisyam serta Arza yang baru keluar dari kamar mandi terkikik geli.

Bersambung .... :D

Sebagai orang non-teoritis, saya tidak tahu jenis komedi saya ini disebut apa. Terkadang saya tidak peduli, karena yang saya lakukan hanyalah menulis dan berusaha menciptakan kelucuan [yang mudah-mudahan memang lucu]. Saya hanya berharap tulisan saya ini tidak menyimpang dari kaidah-kaidah dan norma penulisan yang ada [hadeuuh serius banget nih].

Tapi, kalau sudah berbicara tips, mungkin yang berikut ini bisa sedikit membantu.

  • Sebelum menulis cerita lucu, usahakan feel kita pun sudah ada di genre itu. Usahakan baca buku-buku komedi sebelumnya. Bukan untuk meniru gaya penulisannya, tapi semata-mata agar mood kita pun ada di sana. Ini akan lebih memudahkan kita dalam menulis cerita lucu. Setidaknya, itulah yang biasa saya lakukan. Pada saat sedang mengerjakan naskah jenis petualangan atau misteri [misalnya], maka saya akan banyak-banyak membaca jenis buku serupa dan sedapat mungkin menghindari membaca genre lain. Hal ini untuk menghindarkan konsentrasi saya bertabrakan lintas genre. J
  • Menulis cerita lucu harus dalam kondisi riang dan ceria. Tulisan yang dikerjakan pada kondisi sedang sedih, marah, atau banyak pikiran biasanya hasilnya tidak begitu bagus. Jangan heran kalau pas dibaca ulang hasilnya akan; “kok bodornya garing, sih?” mood pada saat menulis sangat berpengaruh. Coba saja bandingkan tulisan yang dibuat pada saat gembira dengan tulisan saat kita sedih, pasti berbeda.
  • Biasanya, kita selalu berpikir keras untuk menciptakan adegan kelucuan. Padahal kalau kita perhatikan, kelucuan anak-anak itu dari celetukannya, lho. Biasanya anak-anak asal ceplos saja kalau ngomong, tanpa dipikir dulu, tapi ujungnya malah jadi lucu. Karena itu, cobalah membuat dialog-dialog spontan. Contohnya seperti yang dilakukan tokoh Alif di bawah ini;

“Kenapa laki-laki harus salat di masjid, hayo?” tanya Mama Hisyam.

“Supaya masjid banyak pengunjungnya!” jawab Alif ngaco.

“Yeee... kok gitu?” toleh Arza.

“Supaya salatnya bisa berjamaah dan pahalanya lebih besar!” jawab Hisyam tanpa memedulikan Alif dan Arza.

“Seratus! Ditambah pisang goreng sebagai bonusnya.” Mama Hisyam terkikik. “Rasulullah Saw. sudah mencontohkan agar selalu mendirikan salat di masjid. Beliau tidak pernah ketinggalan untuk salat berjamaah di masjid sepanjang hidupnya.”

“Kalau masjidnya jauh, Tante? Seratus kilometer dari rumah misalnya, kita tetap harus ke masjid?” tanya Alif.

“HAH? Seratus kilometer? Masjid kan banyak, Alif! Dijitak lagi nih?” Arza mengacungkan jarinya yang terkepal.

“Ini misalnya lho, Zaa...” cengir Alif. “Terus Tante, kalau misalnya kita lagi sakit, atau lagi hujan gedeee... banget, ditambah petir menyambar-nyambar, kita harus tetap ke masjid? Gimana kalau di tengah jalan tersambar petir?”

“Kalau disambar petir ya mati, Lif,” timpal Arza memberengut. Heran deh, Alif kok nanyanya aneh-aneh gitu.



Hihihi... Mamanya Hisyam tertawa.

  • Anak-anak tetap sumber inspirasi hebat. Ingat-ingat dan catatlah setiap celotehan atau guyonan lucu mereka. Selipkan dalam cerita yang sesuai. Hal ini akan membuat cerita kita lebih menganak dan lebih bisa diterima anak, karena toh dialog-dialog tersebut memang datangnya dari mulut anak-anak.
  • Hindarkan gaya penulisan slapstik atau komedi yang menggunakan unsur kekerasan untuk menciptakan kelucuan. Misalnya, orang yang terpeleset kulit pisang lalu menabrak tiang listrik sampai jidatnya benjol. Komedi seperti ini dulu sering dilakukan dalam film-film/sinetronnya Warkop, dan sekarang trend kembali melalui Opera Van Java dan tayangan komedi lainnya. Main gebuk dan pentung [meski menggunakan stereofoam yang aman] pastinya bukan sesuatu yang pas untuk konsumsi anak. Karena itu, dalam penulisan kisah humor pun, unsur-unsur kekerasan yang digunakan untuk memancing kelucuan sebaiknya dihindari.
  • Hindarkan menggunakan kekurangan seseorang [fisik/non fisik] sebagai bahan lawakan. Tentu tidak sepantasnya kalau hal itu kita jadikan poin-poin agar cerita kita bisa mengundang tawa. Selain tidak etis, bisa menyinggung, terlebih hal itu bukan contoh yang baik bagi anak-anak. Yakinlah masih banyak hal lain yang bisa kita gali untuk mengundang kelucuan daripada mengeksplorasi kekurangan seseorang.
  • Banyak cara menciptakan kelucuan lain yang justru akan datang sendirinya pada saat menulis. Tiap orang pasti akan memiliki gaya dan cara berbeda dalam menciptakan kelucuan tersebut. Apakah PaBers memiliki tips tersendiri? Ayo share juga di sini.



Semoga berkenan, dan selamat menulis :)

Salam,

Iwok Abqary

3 komentar:

  1. Lha, jadi ini artikelnya Kang Iwok toh? Tapi diposting di webnya Mb Naqi, gitu yaa? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaha ini dokumen jadul Mbk, dulu blog ini buat nyimpan tulisan doang hihihi iya tuh tulisan Kang Iwok :)

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...