Entri yang Diunggulkan

Meraih Mimpi di #UsiaCantik

Sabtu, 14 April 2012

Tips & Trik Mengikuti Proyek Antolog

By : Lygia Pecanduhujan

Horeeee… Makin lama, proyek-proyek antologi makin banyak bertebaran di seluruh penjuru dunia maya. Dengan tema-tema yang makin beragam dan unik, seluruh proyek itu makin seru dan makin menantang untuk ditaklukkan oleh seorang Antologi Mania seperti kita-kita :-).

Mengapa banyak orang yang berminat untuk mengikuti sebuah proyek antologi ? Well, ada beragam alasan dan sebagian besar diantaranya tentunya hanya kita pribadi yang tahu. Namun salah satunya mungkin bisa dibilang adalah untuk ajang pembuktian jati diri sebagai seorang penulis atau calon penulis. Betul tidak ? *memandang kepada seluruh hadirin yang hadir*

Sebagai seorang pemula dalam hal kepenulisan, banyak orang yang begitu tertarik untuk mencoba mengikuti setiap proyek antologi yang diadakan. Bagaimana tidak, untuk menguji dan mengasah kemampuan menulis, mengirim satu tulisan terbaik untuk buku antologi dengan jumlah halaman antara 3-8 halaman cukuplah untuk berlatih. Selain untuk mengasah kemampuan, mengikuti sebuah proyek antologi dan dinyatakan lolos tentu akan membuat kita lebih percaya diri untuk menulis, bukan ?

Hmm, sebelum kita mulai mencari-cari info tentang proyek-proyek antologi apa lagi yang sedang diadakan dalam waktu dekat, saya ingin berbagi tips & trik kepada teman-teman dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengikuti proyek antologi tersebut. Tertarik ? Silahkan dilanjut bacanya ya …

TEMA

Saat hendak mengikuti satu proyek antologi tertentu, jangan lupa perhatikan TEMAnya. Pilihlah tema-tema antologi yang memang betul-betul sesuai dengan kita dan kita kuasai betul. Minimal, kita pernah mengalami apa yang ditentukan oleh tema tersebut. Biasanya, antologi (selain antologi cerpen dan puisi) kebanyakan adalah berupa kumpulan kisah nyata yang menginspirasi. FYI, tidak harus kita yang mengalami, mungkin ada kerabat atau orang terdekat kita yang pernah bersinggungan dengan tema tersebut, mungkin teman-teman atau orang yang setiap hari kita jumpai, dan kita tertarik untuk menuliskan kisahnya.

PENYELENGGARA

Perhatikan siapa penyelenggara proyek antologi tersebut. Apakah perorangan, komunitas, Grup, Penerbit, yayasan, Lembaga dan lain-lain. Penyelenggara proyek antologi yang sudah dikenal dan punya nama baik biasanya bisa dijadikan salah satu bahan pertimbangan bagi kita untuk mengikuti proyek antologi tersebut atau tidak. Sebab sangat banyak pula proyek-proyek antologi yang “tidak jelas” siapa penyelenggaranya, hendak diterbitkan di mana, apa tujuannya, dan lain sebagainya. Tak jarang, ada pula yang ujung-ujungnya hanya berniat menipu, entah itu menipu dengan cara menarik sejumlah uang pendaftaran dari peserta lantas kabur, ataupun lebih parah lagi, setelah naskah masuk ke panitia, mereka menghilang begitu saja, dan ide-ide luar biasa kita bisa saja dimanfaatkan dengan tidak semestinya oleh mereka.

TELITI PERSYARATAN

Setelah TEMA kita pelajari dan sesuai dengan kriteria kita, mulailah MEMBACA DENGAN TELITIseluruh persyaratan yang diminta dalam proyek antologi tersebut. Penuhi seluruh persyaratan tersebut tanpa kecuali dan tanpa tawar menawar. Persyaratan biasanya terdiri dari dua jenis yaitu syarat umum dan syarat khusus. Teliti dengan seksama seluruh poin yang ada dalam kedua jenis persyaratan tersebut. Jangan sampai ketidaktelitian merugikan diri kita sendiri.

DEADLINE

Perhatikan tanggal DEADLINE nya. Jangan biasakan mengirim tulisan kita mepet deadline karena itu akan merugikan kita sendiri. Apa saja kerugiannya ?

1. Panitia/Penanggung Jawab Antologi akan kesulitan membaca sekian puluh bahkan ratusan naskah yang masuk bersamaan saat deadline tiba. Itu akan menyebabkan mereka akan setengah hati membacanya dikarenakan waktu yang sangat mepet atau mata yang terlalu lelah membaca satu persatu, bukan pekerjaan mudah lho … Bisa jadi naskah yang bagus malah terlewat oleh mereka, dan naskah yang kurang bagus malah dianggap bagus. Jelas merugikan bukan ?

2. Kebiasaan mengirim tulisan bertepatan dengan waktu deadline juga akan membuat kita tidak memiliki waktu untuk memperbaiki kesalahan dalam naskah kita. Jangan lupa, seandainya kita mengirim naskah saat masih di awal-awal, Panitia/PJ akan bisa dengan tenang membaca naskah kita, dan ketika juri melihat bahwa naskah kita bagus namun ada beberapa persyaratan yang kurang, dengan baik hati mereka akan mengingatkan kita untuk melengkapinya. Bagaimana kalau kita mepet ? begitu Deadline datang, juri menerima ratusan bahkan puluhan email, mereka akan berlaku tegas untuk memudahkan pekerjaan. Naskah yang masuk tapi kurang persyaratannya misalnya tidak ada biodata, dll, akan menyebabkan naskah itu langsung didiskualifikasi.

3. Selalu ingat akan kemungkinan-kemungkinan tak terduga seperti : mati lampu, hujan deras, koneksi lambat, tiba-tiba habis pulsa, kuota mendadak semaput, dan berbagai kendala lainnya yang diluar perkiraan kita. So, Biasakan kirim naskah dari jauh-jauh hari dan jangan tunggu deadline.

KELENGKAPAN NASKAH

Sebenarnya ini bisa masuk ke point kedua, yaitu TELITI. Hanya saja disini akan dijabarkan apa saja kelengkapan naskah antologi yang biasanya diminta oleh panitia/PJ. Kelengkapan naskah tersebut biasanya adalah :

1. Judul Naskah --> Ini poin penting yang biasanya seringkali terlewat dengan alasan kelupaan. Tuliskan judul naskah di bagian paling atas dari file yang akan kita kiri Jangan pernah lupa, tulis naskah dengan ketentuan Font Times New Roman 12, spasi 1,5, biasanya menggunakan ukuran kertas A4, dan perhatikan jumlah halaman.

2. Nama Lengkap atau Nama Pena --> Tuliskan nama di bawah Judul Naskah.

3. Isi Naskah -->

Tuliskan naskah anda tanpa melanggar jumlah halaman yang telah ditentukan oleh panitia/PJ. Hindari pemakaian kata-kata yang menyinggung SARA, mengandung pornografi, bahasa kasar, dan bahasa alay. BACA ULANG NASKAHMU dan lakukan SELF EDIT sebelum mengirim naskah. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan penulisan/typo dan EYD. Jika kita merasa asyik membaca naskah kita, artinya kemungkinan besar orang lain juga akan enak membacanya. Tapi kalau kita sendiri pusing membaca naskah kita karena berantakan di sana sini, tentunya orang lain juga akan merasakan hal yang sama bukan ?

4. Biodata--> Setelah naskah selesai diketik, di bagian paling bawah masukkan biodata kita sesuai permintaan Panitia/PJ. Biodata ada dua jenis : Biodata detail atau Biodata Deskriptif. Biodata detail biasanya berisi data-data sebagai berikut :

a. Nama Lengkap

b. Nama Pena

c. Tempat Tanggal Lahir

d. Alamat Lengkap

d. No HP dan atau Telp Rumah

e. Nomer Rekening

5. Surat Pernyataan --> terkadang ada panitia/PJ yang mensyaratkan naskah dilengkapi dengan surat pernyataan yang isinya menyatakan bahwa naskah yang diikutsertakan dalam proyek antologi tersebut adalah benar naskah milik kita dan belum pernah dipublikasikan dimanapun. Jika surat pernyataan itu harus dibuat terpisah, buatlah dengan terpisah. Namun jika tidak, surat pernyataan juga bisa dibuat di

bawah naskah sesudah mencantumkan biodata.

6. Kirim --> Setelah seluruh persyaratan khusus tersebut dipenuhi, simpan file dalam bentuk .doc dan file dikirim melalui email dalam bentuk lampiran/attachment email dan bukan di badan naskah. Begitu juga Surat Pernyataan yang dibuat terpisah.

PERHITUNGAN ROYALTI

Urusan royalty adalah hal terpenting sekaligus paling sensitif dalam hubungannya dengan proyek-proyek antologi yang kita ikuti.

Perhatikan dengan seksama urusan royalty ini (biasanya ada di bagian bawah undangan audisi antologi). Yang perlu diingat, dalam sebuah proyek antologi, biasanya Panitia/PJ adalah pemilik/pencetus IDE dan TEMA antologi tersebut. Merekalah yang akan berhubungan dengan penerbit. Begitu pun dalam hal penandatanganan kontrak. Jadi Panitia/PJ (dan terkadang bersama dengan penerbit) yang akan memutuskan sistem royalty seperti apa yang akan diberlakukan dalam proyek antologi tersebut.

Ada beberapa macam jenis pembagian dan perhitungan royalty ini, antara lain :

1. Naskah dibeli putus oleh panitia/PJ.

Panitia/PJ akan menentukan berapa honor yang akan di dapat oleh kontributor (mereka yang naskahnya lolos dalam antologi tersebut). Biasanya jika diberlakukan sistem ini, maka para kontributor akan langsung dibayar begitu buku selesai dicetak, dan mereka tidak akan mendapat royalty apapun lagi. Jumlah fee kontributor bervariasi tergantung berapa halaman naskah yang diminta, dan berapa jumlah yang ditawarkan oleh Panitia/PJ. Kelebihan dari sistem beli putus ini adalah : Jika buku tidak laris di pasaran alias gagal total, kontributor tidak mengalami kerugian apapun karena naskah mereka sudah dibayar dimuka.

2. Royalti dari penerbit dibagi rata

Biasanya, royalty yang diberikan oleh penerbit ada di kisaran 7-13% tergantung kebijakan di masing-masing penerbit. Ini masih harus dipotong Pajak Penghasilan dahulu (30% jika PJ tidak memiliki NPWP dan 15% jika PJ memiliki NPWP), jika antologi tersebut diterbitkan melalui pihak ketiga yaitu agensi naskah, royalty masih akan dipotong lagi sebesar 3% paling banyak dari jumlah royalty yang diterima oleh pemilik naskah. Fee tersebut digunakan sebagai ongkos editing, layout dan lain sebagainya sebelum dikirimkan kepada penerbit. Baru setelah seluruh biaya diperhitungkan, keuntungan bersih dari royalty itu akan dibagi rata antara PJ dengan kontributor yang lain.

3. Seluruh royalty yang didapat disumbangkan untuk kegiatan atau badan/lembaga tertentu.

Tak jarang, penyelenggara sebuah proyek antologi tidak memberikan apapun kepada para kontributornya karena disepakati bahwa seluruh royalty yang didapat kelak, akan disumbangkan untuk kegiatan amal tertentu, malam dana, untuk sumbangan kepada badan/lembaga sosial dan lain sebagainya.

4. Pembayaran royalty dikonversi menjadi buku.

Inti dari poin ini sama dengan poin pertama yaitu naskah dibeli putus. Hanya saja dengan perhitungan efisiensi waktu dan lain sebagainya, diputuskan bahwa fee yang diterima oleh kontributor akan dikonversi menjadi buku sejumlah uang yang didapat oleh kontributor. Misalnya naskah dibeli putus Rp.100.000,- dan harga jual buku adalah Rp.50.000,- maka kontributor akan mendapat 2 buah buku sebagai konversinya. Hal ini biasa dipakai untuk memudahkan penyelenggara dalam membagikan hak dari para kontributor, dan semua tergantung kesepakatan.

Soal komposisi pembagian royalti ini, satu yang perlu kita ingat adalah :

Tanggung Jawab Panitia/PJ : menyusun outline, menyusun pengumuman audisi antologi, membuat email baru untuk keperluan antologi, menyebarkan informasi, berhubungan bolak balik dengan pihak penerbit (termasuk negosiasi dan lain sebagainya), mengecek bolak balik email yang masuk, memeriksa seluruh kelengkapan naskah, membaca SATU PERSATU naskah yang masuk (biasanya sampai ratusan naskah!) untuk kemudian PJ harus MEMILIH naskah-naskah terbaik yang berhak lolos audisi, mengumumkan, mengedit naskah sebelum diserahkan kepada penerbit, bolak balik merevisi atas permintaan penerbit, dan ketika buku terbit, ia juga memiliki tanggung jawab untuk membantu promosi dan launching (kalau ada).

Tanggung Jawab Kontributor : membaca pengumuman, menuliskan kisahnya, mengirim naskah dengan melengkapi syarat-syaratnya, merevisi tulisan (kalau ada) dan menunggu pengumuman lolos/tidaknya naskah yang ia kirim.

So, bagaimanapun perhitungan royalty yang diberlakukan oleh para penyelenggara/PJdari proyek antologi tersebut, tentu sudah melalui perhitungan yang matang. Karenanya, pilihan tinggal jatuh dan ada di tangan para calon kontributor. Apakah mau ikut atau tidak ?

PROMOSI

This is the last but not least. Siapakah yang bertanggung jawab untuk melakukan promosi setelah buku diterbitkan ? Pihak Penerbit ? Penyelenggara ? Jawabnya adalah SEMUA PIHAK, baik itu penerbit, penyelenggara maupun para kontributor.

“Ah, tapi kan naskah kita Cuma dibeli putus, ngapain kita ikutan promosi. Toh laku atau ngga laku buku itu, kita tetap dibayar kan?”

He he he, ini pendapat yang totally wrong alias salah total ! kita mempromosikan buku kita (baik buku solo ataupun buku antologi) tentunya bukan sekedar ingin supaya buku itu laris kan ? well, iya dong, laris juga penting. Tapi yang tak kalah penting adalah supaya nama kita dikenal orang atau penerbit meskipun baru sebatas sebagai kontributor. Betul tidak ?

(sebagai catatan : saya memang mulai menulis buku dari antologi. Tapi karena antologi-antologi itu termasuk unik di pasaran dan saya rajin promo habis-habisan, akhirnya pintu untuk buku solo terbuka lebar untuk saya karena pihak penerbit sudah lebih dahulu mengenal nama saya dari buku-buku antologi tersebut).

Kalau kita ikutan antologi Cuma karena pengen ikut-ikutan saja, kemudian cuek ketika buku itu terbit, bagaimana orang bisa tahu bahwa dalam buku itu ada tulisan kita ? Perlu ditambahkan pula, ketika buku itu laris manis dipasaran dan menjadi best seller, semua yang tergabung di dalamnya pasti akan terkena imbasnya kok.

Mau bukti ? Mungkin dari segi materi Cuma PJ yang dapat royaltinya. Tapi dari segi immateriil ?

ILUSTRASI

Teman : “Eh, aku kemarin lihat-lihat buku di Toko Buku. Ada buku antologi A, kamu ikutan nulis ya ? gile, keren banget euy, bukunya best seller !”

Kita : *ketawa-tawa gak jelas antara malu sama bangga*

Teman : “kamu katanya penulis ? udah nulis buku apa aja ?”

Kita (Jawaban alternatif 1) : “Itu lho, ikutan nulis buku antologi yang judulnya A”

Teman : “Haaa, buku apaan tuh ? kok belum pernah denger ? di toko buku juga gak ada. Gak laku ya bukunya ?”

Kita : “#$%%*#.....*&^&^”

Kita (Jawaban alternatif 2) : “Anu.. nnngg, anu.. aku ikutan nulis buku Antologi itu lho, yang judulnya B. Masa kamu gak tau sih ? itu kan best seller tauuuu, ada capnya gede-gede di cover : BEST SELLER. Dibaca sama banyak selebritis tanah air, diulas di Koran, masuk Tipi dan majalah. Masih gak tau juga ? Ih, gak gaul deh kamu”

Teman : “Oooh …” *manggut-manggut sambil berusaha keras membayangkan buku yang dimaksud, tapi dengan tekad dalam hati, besok kudu nyari buku itu sampe ketemu!*

Baiklah, sepertinya Tips dan Trik yang harusnya singkat ini malah jadi sangat panjang lebar ya ? Maafkan saya yang mungkin terlalu njelimet. Hanya mencoba menyarikan dari apa yang saya tahu, he he he, lebih kurang saya mohon maaf. Kesempurnaan itu hanya milik Allah, *Dorce mode on*

Akhir kata, semoga bermanfaat dan …

Missi aaaaaah ….

Tertanda,

Orang yang masih belajar menulis,

Lygia Pecanduhujan

2 komentar:

  1. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    fikiran yang positif bisa menghasilkan keuntungan yang positif pula.,..
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...