Rabu, 22 Mei 2013

Resensi Buku : Kak Farhan Selalu Di Hatiku, Perpisahan Itu Indah


Judul   : Kakakku Tersayang
Penulis : Nurhayati Pujiastuti
Penyuting Bahasa : Mastris Radymas
Setting : Pipi Kaira
Desain Sampul : Andhi Rasydan
Penerbit : Lintang Indiva
Tahun : 2012
Jumlah : 120 halaman


Buku ini berkisah tentang seorang anak laki-laki kelas 5 SD yang kerap dicap anak bandel. Farhan namanya. Kak Farhan suka berbohong, mencuri mangga, menganggu binatang, menganggu temannya dan suka mengancam adiknya, Dara untuk tidak mengadu pada Umminya.

Uniknya, Kak Farhan berbeda dengan anak laki-laki sebayanya. Kak Farhan suka memelihara bunga. Kak Farhan mengancam Dara agar tidak memberitahu kesukaannya memelihara bunga kepada teman-temannya.

Dara sangat sayang pada Kak Farhan. Dara tak berani melawan Kak Farhan. Dara memilih diam.
Suatu hari, Kak Farhan mimisan. Darah ke luar dari hidungnya. Awalnya, Kak Farhan memaksa Dara menyembunyikan penyakitnya dari Ummi dan Abi. Darapun menurut. Kak Farhan memilih memakan obat penurun panas sendiri tanpa sepengetahuan Ummi.Lagi-lagi Dara tak berani membantah. Walau sakit, Kak Farhan masih sempat membantu Oding yang neneknya sedang sakit. Kak Farhan dan Dara berjualan layang-layang dan hasil penjualanya diberikan kepada Oding.

Sakit Kak Farhan semakin lama semakin parah. Ummi curiga melihat tubuh Kak Farhan makin kurus dan pucat, bahkan sering mengalami mimisan. Ketika dicek ke dokter, betapa kagetnya Ummi dan Abi mengetahui penyakit Kak Farhan. Semenjak sakit, Kak Farhan menjadi anak yang baik. Ia rajin sholat, patuh kepada kedua orang tua dan jujur. Dara makin sayang dengan Kak Farhan. Sampai suatu hari  Kak Farhan mimisan lagi dan jatuh pingsan. Sebenarnya apa penyakit Kak Farhan? Mengapa Ummi dan Abi sering menangis diam-diam? Bagaimana dengan bunga-bunga milik Kak Farhan?

***

Buku ini ditulis dengan lincah. Kata-kata yang dipilih pendek dan tidak menggurui. Anak-anak diajarkan untuk mempersiapkan diri sebuah kata perpisahan. Ya, hidup di dunia ini sementara. Ada kehidupan selanjutnya setelah di dunia, yakni alam kubur dan akherat yang kekal. Melalui novel ini, anak diajak mempersiapkan sebuah kematian. Walau temanya berat, Nurhayati Pujiastuti berhasil menyisip pesan moral  semangat menghadapi penyakit, berbagi, saling mencintai saudara, persiapan di alam kubur, hingga kematian yang sangat  apik dikemasnya.

Beberapa catatan untuk mengenai buku ini adalah sikap Farhan yang terlalu berani memakan obat penurun panas sendiri tanpa sepengetahuan orang dewasa. Tidak diinformasikan berapa dosis yang dimakannya. Selain itu, tidak dijelaskan secara rinci, sebab Farhan mencintai bunga-bunga. Seakan-akan hanya mengiring bahwa bunga sebagai kunci dari epilog kisah ini saja yang mudah ditebak. Terlepas dari semua itu, buku ini dapat direkomendasikan menjadi pilihan sebagai hadiah kenaikan kelas adik, anak, keponakan dan saudara.


Resensi ini diikut sertakan dalam  Lomba Resensi Buku Anak PaBer


2 komentar:

  1. Semoga menang, Mbak. Bagus resensinya. :) Btw, saya bukan juri. :D

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...