Sabtu, 04 Mei 2013

Resensi Buku Surat Dahlan : Cinta, Dongeng dan Idealisme

Resensi Buku Surat Dahlan : Cinta, Dongeng dan Idealisme


Judul : Surat Dahlan

Penulis : Khrisna Pabichara

Penyunting  : Suhindrati Shinta dan Rina Wulandari
Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika)
Tahun Terbit : 2013
ISBN : 978-602-7816-25-1

Harapan adalah kekuatan terbesar untuk hidup. Walau badan menderita penyakit fisik yang cukup parah, harapan sehat, sembuh dan tatapan kasih orang-orang yang mencintai kita, itulah nyala semangat. Seperti itulah yang ditularkan Dahlan Iskan. Prolog di novel ini mengisahkan saat Dahlan harus dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit liver. Dahlan harus mengalami operasi pencakokan liver dari pendonor liver yang tidak dikenalnya.  Saat divonis untuk tidak bergerak 24 jam, Dahlan menyambutnya dengan senyum. Tak mengeluh, tak juga menyerah.
            Novel ini terdiri dari 31 Bab dengan 376 halaman. Ditulis oleh Khrisna Pabichara, pemuda kelahiran Makassar, 10 November 1975. Penulis yang dikenal dengan sapaan Daeng Marewa ini sebelumnya telah menulis 16 buku baik fiksi maupun puisi. Penghargaan nasional juga telah diraihnya, seperti 10 besar Katulistiwa Literary Award (KLA) 2012. Novel Surat Dahlan ini adalah sekuel dari novel pertamanya, Sepatu Dahlan (Naura Books, 2012).
Secara keseluruhan, inti dari kisah novel ini menurut saya terbagi dalam 3 bagian. Bagian pertama berkisah tentang Dahlan muda dengan kerinduan terhadap kampung halamannya. Saat harus merantau dari Kebon Dalem nun pelosok Pulau Jawa menuju Samarinda untuk menuntut ilmu.
“Bagi setiap perantau sepertiku, rindu adalah hatu yang paling menakutkan” (hal : 17).
 Dahlan muda sempat terombang-ambing dengan kisah cinta masa remajanya. Surat-surat cinta kerap datang dari gadis bernama Aisha. Namun, Dahlan tak pandai menjadi lelaki romantis, tapi bukan juga penggombal cinta. Disimpannya asa untuk memperistri gadis pujaannya itu tanpa membalas surat Aisha. Dahlan muda sibuk dengan kuliah di dua kampus dan jatuh cinta pada organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Di PII Dahlan muda menemukan jiwa nasionalismenya. Jiwa mudanya bergelora. Bersama temannya, Dahlan menyusun demonstrasi menentang  kebijakan pemerintah. Tugu Nasional menjadi saksi perjuangannya, hingga Dahlan dianggap sebagai pemberontak dan menjadi buronan pemerintah.
Dahlan muda, tidaklah kaya, tidak juga memiliki kecerdasan rata-rata. Entah mengapa, Maryati anak jurangan Akbar begitu menaruh harap padanya. Lalu, ada Nafisah rekan sejawatnya di PII yang tomboi, tapi merdu suaranya saat membaca Al-Quran juga diam-diam menaruh simpati padanya. Dahlan terjebak pada cinta segitiga. Siapakah yang akan dipilih Dahlan? Cinta masa remajanya Aisha, Maryati yang terus mengikutinya sampai ke Samarinda atau Nafisah anak seorang tentara yang sangat diseganinya?
Benar kata pepatah, dibalik kesuksesan pria, ada wanita di belakangnya. Dahlan muda didukung penuh oleh Mbak Atun kakak kandungnya. Ada Nenek Saripa sang penolongnya kala sekarat di tengah hutan selain ketiga wanita yang menaruh harap padanya.
“Kita memang dilahirkan bersama rasa takut, Tapi kita tak boleh gentar menjadi apa pun.” Nasehat Nenek Saripa (Hal : 218).
Lalu, ada istri yang setia yang penuh kesabaran. Mengasuh anaknya sendiri dikala Dahlan memilih konsetrasi penuh pada pekerjaannya. Namun, novel ini tidak banyak mengangkat siapa dan bagaimana ibu Dahlan, karena ibunya telah meninggal. Novel ini lebih menceritakan semangat bapaknya Dahlan, Iskan.
Inti kedua pada novel ini tentang dongeng yang dikisahkan apik oleh bapaknya kepada Dahlan. Potongan-potongan dongeng yang bijak menjadi pemacu Dahlan muda untuk terus maju.
“Aku mengusap wajah. Menyesal diri. Tiba-tiba lesap ke dalam kalbu pesan Bapak seusai bercerita tentang konyol kera yang kehilangan kacang itu. Kata beliau, “Kadang kita luput mensyukuri anugerah yang kita terima. Mungkin karena rahmat itu kita anggap kecil atau memang sesuatu yang lumrah, lantas kita lalai menjaganya.” (Hal : 263).
Dongeng yang diceritakan Bapak Iskan  menjadi benang merah  dalam tiap kisah antara kehidupan Dahlan muda di Samarinda dengan kisah di kampung halamannya. Dongeng-dongeng itulah yang melekat pada diri Dahlan untuk melangkah. Menjadikan Dahlan sebagai lelaki yang kuat.
Inti ketiga yang menarik dalam novel ini adalah sebuah idealisme seorang Dahlan muda. Sejak kuliah, Dahlan muda berani, Ia pernah menentang dosennya yang tidak memperbolehkannya ikut kuliah karena Dahlan memakai baju kaus.
Dahlan muda protes dengan menulis di selembar kertas :
“TOLONG KULIAHI KAMI, PARA KEMEJA!” (hal : 71).
Kehidupan Dahlan mulai berubah sejak bertemu dengan Sayid yang menawarinya menjadi seorang wartawan.  Dahlan akhirnya berkarir di dunia jurnalistik dari nol. Dahlan muda pembelajar sejati, walau berita pertamanya tidak layak di muat, Dahlan tak patah arang. Di sini kisah perjuangan makin indah ketika mengetahui dibalik  alasan mengapaDahlan menuliskan namanya menjadi Dahlan Iskan dan bukan nama aslinya. Dengan modal minat dan kesungguhannya, karir Dahlan beranjak cepat. Dari wartawan biasa di Mimbar Rakyat, lalu menjadi wartawan lepas di Tempo, hingga menjadi Ketua Satuan Tugas Pelaksana di Jawa Pos.
            Tak kaget melihat Dahlan dengan lancar menuliskan berita. Selain minat dan kesungguhan, Dahlan muda rajin menulis di buku harian.
            “Hari pertama setelah menikah, aku serahkan tiga buah buku harian : buku yang mengawetkan banyak kenangan, yang menyembunyikan banyak rahasia, yang melipatkan rapi  masa lalu ( hal:287)
            Novel ini juga mengisahkan kisah Dahlan yang tak luput dari kelemahan sebagai pria, suami dan seorang bapak. Adegan haru saat anaknya, Rully yang masih berusia lima tahun berteriak lantang :
            “Ayah lebih sayang kolan dali Ully!” (hal : 328).
            “Pekerjaan memang bisa membuat seorang ayah, tanpa sengaja, lupa kepada anak-anaknya.” (Hal : 332).
            Novel ini sangat rapi dari soal pengeditan dan tata letak. Ditunjang dengan kualitas kertas, hingga tak bosan membacanya. Menurut saya, novel ini akan semakin indah jika dideskripikan lebih totalitas mengenai Samarinda. Lokalitas dalam novel ini masih sekilas dan belum mendalam, misal nama jalan, rumah, keadaan alam, belum menyatu secara sempurna. Entah karena Dahlan berasal dari Jawa, sehingga penulis tidak terlalu mengeksplor Samarinda atau lebih memilih menonjolkan kisah keberhasilan Dahlan mengelola Jawa Pos. Terlepas dari itu semua, novel ini sangat inspiratif. Dapat dinikmati oleh remaja yang memiliki mimpi untuk menjadi orang sukses.

12 komentar:

  1. Wah, novel baru ya. Belum punya yang ini. Soaok dahlan jadi inspirasi ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak sekuel dari Sepatu Dahlan, bagus kok isinya, mengalir penuh dengan kata inspiratif. Makasih Mbak sudah mampir:)

      Hapus
  2. Nice review, Mbak. Aku belum baca yang ini. Kalau dibandingkan dengan buku sebelumnya, Sepatu Dahlan, bagaimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, buku Sepatu Dahlan malah belum punya Mbak Haya, emang kayaknya lebih ciamik kalo dibandingkan ya:)

      Hapus
  3. hehe, kalo anak sampai protes karena ayahnya lebih sayang koran, wahh :D kecintaan banget sama koran ya, sampe lupa waktu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena ayahnya kerja di koran mbak :D

      Hapus
    2. ayahnya yang menjadi pimpinan, jadi mau enggak mau menjadi komandan ^__^ ya begitulah, harus memilih walau dalam keadaan genting ya:)

      Hapus
  4. Aku jd pingin baca bukunya nih..

    Sukses yaa Mbak, lombanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak Linda, semoga doanya dikabulkan Allah.

      Hapus
  5. Jadi pengen beli.aku punya hmpir semua buku yg ada dahlan iskannya.suka lihat beliau

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...