Minggu, 07 Desember 2014

Cara Mengirim Resensi ke Koran Singgalang Padang


Teman-teman ada yang menanyakan cara mengirimkan resensi ke Koran Singgalang Padang, nah berdasarkan info teman-teman yang rajin mengirimkan resensi ke sana dan membaca korannya, berikut ketetuannya.

1. Tulis resensi sebanyak 4000 karakter. Tapi pernah lihat resensi di Koran Singgalang ada yang kurang dari 4000 karakter.
2. Diketik A4, 1,5 spasi, Times Roman.
3. Kirim ke email : hariansinggalang@yahoo.co.id, cc a2rizal@yahoo.co.id
4. Lampirkan cover buku dan biodata.
5. Tidak ada pemberitahuan akan diterbitkan, jadi jika lewat dari sebulan silakan teman-teman tarik resensinya dengan membuat surat/email penarikan naskah.
6. Berdasarkan resensi yang pernah aku baca, resensi bisa dari buku terbitan lebih dari 1 tahun dan bisa buku anak.


Nah, selamat mencoba ya teman-teman. Semoga berhasil, ini aku kasih contoh resensi yang pernah dimuat  oleh Mbk Tri Wahyuni Zuhri.




Judul : La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu  
Penulis : Naqiyyah Syam 
Tebal : 145 
halaman Terbit : Agustus 2014 
ISBN : 978-602-03-0739-8 
Penerbit : Kalil (Imprint PT Gramedia Pustaka Utama) 



Ibu adalah sosok perempuan yang lembut dan penuh kasih sayang kepada keluarganya. Begitu banyak tugas yang di jalankan seorang ibu dalam keseharian. Tetapi hal itu tidak mampu menurunkan semangat dan keinginannya untuk melakukan hal yang terbaik untuk keluarga dan orang lain sekitarnya. 


Dalam buku La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu, karya Naqiyyah Syam ini menjelaskan, seorang ummahat atau seorang perempuan yang sudah menikah, berarti melangkah kejenjang kehidupan selanjutnya. Bisa jadi kehidupan pernikahan akan jauh berbeda saat perempuan masih belum menikah. Saat belum menikah, tentu banyak aktifitas positif yang dilakukan. Ia tidak perlu kuatir ada yang melarang karena kesibukannya. Selagi kegiatan tersebut bernilai positif, tentu dengan penuh semangat di jalani. 

Namun setelah perempuan tersebut menikah, tentu akan namyak hal berbeda. Ia harus berperan sebagi istri untuk duaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Ibu pun harus bisa pintar-pintar mengatur waktu untuk menjalani berbagai aktifitas rumah tangga dan mendidik anak. Semua butuh kesabaran dan rasa toleransi yang besar. Tidak jarang ibu harus mendahulukan kepentingan keluarganya sendiri, dan menunda keinginannya sendiri. Semua itu ibu lakukan demi kebahagiaan dan ketentraman keluarga. Belum lagi dengan ibu yang tetap harus bekerja atau memiliki aktifitas di luar rumah selain mengurus rumah tangga. Sehingga tidak mudah membagi waktu agar semua perhatian bisa termonitor dengan naik. 

Namun begitu, hal ini tidak membuat para ibu menyerah dalam keadaan. Dengan berbagai hambatan dan masalah yang kerap menghadang di tengah jalan proses kehidupan, mereka tetap kuat dan teguh melangkah maju Mereka sadar, semua proses. yang dijalani dalam sebuah pernikahan adalah fase belajar terus menerus. Sehingga tidak salah bila kehidupan dalam berumah tangga kerap di sebut dengan universitas kehidupan. 

Buku Kekuatan Itu Bernama Ibu ini memang disajikan lebih berbeda dari buku-buku lainnya. Buku ini menjelaskan bagaimana peranan seorang perempuan setelah menikah, juga membagi tips dan cara untuk menjadi seorang ummahat yang kuat dan smart. Sehingga perempuan tidak hanya mampu menjadi istri dan ibu yang baik, ia pun bisa menghadapi berbagai cobaan dan rintangan dalam kehidupan rumah tangganya. Bahkan ada pula yang tetap bisa membagi aktfititas untuk memberikan manfaat dan inspirasi pada orang lain. 

Buku ini memuat 6 Bab yang dipadu dengan kisah-kisah inspiratif para ummahat, yang mengajarkan pembaca untuk lebih merenungi kasih sayang seorang ibu yang penuh 
perjuangan, kesabaran serta keiklasan untuk menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Penulis cukup jeli memilih kisah-kisah inspiratif para ummahat yang bisa membuka mata pembaca tentang berbagai sisi kehidupan yang dijalankan para ummahat ini. 

Dalam bab pertama, Kenalkan Aku Ummahat, bercerita tentang bagaimana kisah para ibu dalam menghadapi universitas kehidupannya pasca menikah. Kehidupan pernikahan ternyata jauh berbeda dengan sebelum menikah, membuat mereka terus belajar untuk menjalaninya. Di ceritakan pula lika-liku kisah para ibu yang tetap beraktifitas dakwah ataupun bekerja setelah menikah. Namun, semua akhirnya tetap bisa dijalani dengan terus belajar dan berusaha. Tentu saja dengan dukungan dari keluarga, khususnya suami dan anak-anak. 

Kehidupan rumah tangga tidak selamanya damai dan tentram, bahkan ada kalanya di terpa badai yang tidak terduka. Di bagian Ketika Badai Itu Datang, berceritakan kisah-kisah inspiratif para ibu yang tetap teguh dan kuat dalam menghadapi badai cobaan dalam kehidupannya. Kisah perjuangan seorang ibu yang menanti kehadiran anak selama 8 tahun pernikahan, menjadi salah satu kisah yang mengharukan di buku ini. Memiliki seorang Anak merupakan harapan setiap pasangan yang sudah menikah. Apa jadinya bila anak yang di harapkan tidak kunjung hadir? Dengan kesabaran dan terus ikhtiar, akhirnya ia dan suami bisa melewati semuanya. Hingga Allah memberikan keturunan pada nya.


Ada pula cerita tentang si Mbok yang rela membanting tulang untuk menghidupi anak hingga cucunya. Semua dijalani dengan terus bersabar dan terus berusaha. Anak-anaknya pun beranjak dewasa dan bisa mandiri, merupakan kebahagiaan bagi si Mbok. 

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) ternyata sering terjadi pada kehidupan rumah tangga yang terlihat normal. Dalam bagian Moms, Bangkitlah! Penulis menguraikan kisah beberapa ummahat yang mengalami KDRT dalam rumah tangganya . KDRT bisa saja terjadi dalam bentuk penyiksaan secara fisik ataupun mental kepada ibu. Ada berbagai cerita terjadinya KDRT, dari sifat suami yang emosian, adanya pihak ketiga, hingga anak yang harus dipisahkan suami dari istri dengan paksa. Para Ummahat ini menjalani dengan sabar dan kuat. Namun ada pula yang akhirnya memilih untuk berpisah karena menyadari tidak mungkin sang suami akan berubah. 

Pada bagian lain buku ini berkisah tentang para ummahat dengan kegiatan bisnisnya. Walaupun tetap melakoni peran sebagai seorang ibu dan istri, mereka tetap mengaktualisasi dalam kegiatan berbisnis. Yang menarik lagi, kegiatan bisnis ini dilakukan sembari mengurus kewajibannya berumah tangga. Indari Mastuti salah satunya, seorang ibu yang terjun dalam bidang bisnis agensi naskah dan branding. Kegiatan bisnisnya banyak dilakukan dari rumah dan menghasilkan pendapatan membantu perekonomian keluarga. 

Bagian penutup, penulis mengajak para Ummahat untuk selalu bisa move on dalam berbagai masalah yang di hadapi. Setiap manusia memang memiliki masalah, namun tidak baik meratapinya terus menerus. Bangkitlah, dan lupakan masa lalu. Allah akan mendengar setiap doa-doa yang diajukan hambanya yang selalu berusaha dan bersyukur. 

Buku ini memang sangat menarik untuk di baca dan mengambil hikmah di dari setiap cerita di dalamnya. Menjadi Ummahat yang teguh dan smart memang tidaklah mudah, namun hal itu bisa terwujud bila diiringi dengan proses belajar, iklas dan semangat untuk menjalaninya.  

10 komentar:

  1. Kereeen resensinya, �� Mbak, boleh tahu, honor resensi d Koran Singgalang berapa yak? Semisalnya terbit, honor dikirim via rekening kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belum pernah kirim, tapi kabarnya 25 ribu. Saranku kirim resensi dari buku terbitan yang penerbitnya ngasih reward, jadi agak tertutupi deh karena honornya gak dapat (kalo luar daerah sulit deh dikirim).

      Hapus
  2. Wah sudah lama saya juga ingin mengirimkan RESENSI ke beberapa koran atau surat kabar yang terbit dari beberbagai kota di Indonesia. Termasuk apa yang ada di Padang. Oh ya kalau ada bocoran berapa tuh tarif HONOR TUlisan yang dimuat di sana? Hihihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bocorannya ya segitu 25 ribu untuk koran singgalang.

      Hapus
  3. Ooo jadi gitu ya Mbak, masih murah bingiiit yah 25rebu, �� saran Mbak, Oke juga tuh, nge review buku yg penerbitnya ngasih reward, yeay ��balik modal dah, trims infonya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, coba aja penerbit2 kelompok Mizan, Diva, dll

      Hapus
  4. info menarik mba..benar jg tuh, harus melihat si penerbit biar ga patah hati :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kalo mau dapat reward :) kalo nggak buat latihan dulu aja:)

      Hapus
  5. mbak apa resensi di harian singgalang bisa diakses bebas atau kudu langganan epapernya dulu yaa?kolom resensinya biasa tiap hari apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. enggak ada epapernya. Biasanya kami ngecek dari info teman-teman di group Sastra Minggu, gabung ada di group fb. Nanti tiap Minggu ada infonya.

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...