Rabu, 15 Juli 2015

Yuk, Sambut Lebaran Tanpa Stres

Alhamdulillah sampai juga kita diakhir Ramadhan. Tak terasa ya Ramadhan akan segera berakhir. Lalu, ada perasaan sedih atau bahagia menyambut hari kemenangan? Biasanya jelang Idul Fitri banyak toko-toko dikunjungi pembeli untuk membeli baju baru. Kurang lengkap rasanya jika belum punya baju baru, sepatu baru, sendal baru, sarung baru, makanan enak-enak dan lainnya. Semua itu sudah tradisi. Seakan lebaran tanpa yang “baru-baru” jadi basi. Padahal taukah makna lebaran itu? Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya bulan puasa. Kata Lebaran dari lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Jadi, lebaran bukan identik dengan serba baru dan makanan enak aja dong?  Tapi, cek juga apakah ampunan dari Allah Swt telah terbuka lebar untuk kita? Sudahkan amalan ibadah selama Ramadhan sukses kita jalani? Puasa dengan ikhlas sholat terawih, tilawah, sedekah, zakat dan lainnya. Jika belum, pantaskah iku lebaran?

Seorang pernah curhat pada saya, jika tahun ini adalah lebaran yang paling “menyedihkan”. Tak ada jabatan, tak ada fee, sehingga sulit sekali membeli baju baru, makanan enak untuk lebaran. Alhasil stres jika nanti tamu datang. Biasanya di rumah lengkap ketupar, rendang dan opor ayam. Tahun ini mau disajikan apa? “Aduh, stres deh!” katanya.

Lalu, saya teringat lebaran pertama saya menikah tahun 2006. Saat itu, kami tinggal di Lampung Timur. Saat lebaran, saya mengajak anak tetangga makan-makan di rumah. Mereka tidak terbiasa lebaran pertama ada ketupat, mereka terbiasa lebaran kupat, setelah 6 hari puasa sunah syawal. Nah, ketika selesai makan ketupat, mereka ke dapur dan melihat teh celup di rak makan. Salah seorang anak berteriak. “Wah, ini ya teh celup? saya boleh nyoba, tante?” saya kaget luar biasa. Masih ada anak yang belum pernah mencoba teh celup.  Saya merasa tertampar, perih di sudut hati saya. Ternyata saya kurang empati terhadap lingkungan. Sibuk mempersiapkan lebaran dengan serba enak dan baru, tapi melupakan lingkungan.

Sejak itu saya berjanji dalam hati. Ketika lebaran tak perlu ngoyo punya baju baru, makanan enak atau rumah kinclong dengan perabutan serba dipermak. Lebaran bagi saya dan suami saling memperbaiki kualitas diri. Lebaran tak perlu stres mempersiapkan ini-itu. Jika memang ada kelebihan rezeki, siapkan jauh-jauh hari. Mencicil membeli kue dan baju baru. Hindari berdesak-desakan, hingga lelah mencari persiapan lebaran. Sambut lebaran dengan senyuman kemenangan. Cukup bersihkan hati dengan saling memaafkan dan menyambung silaturahmi. So, lebaran itu stres? No way!


4 komentar:

  1. iya saya juga ngak punya baju lebaran mak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi sing penting puasanya berkah ya, Mak :)

      Hapus
  2. Buat kita teh celup biasa banget, ternyata ada yg menganggap luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbk Laura, rasanya mengiris sekali, bikin merenung.

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...