Senin, 26 Oktober 2015

Resensi Buku Sayap-Sayap Mawaddah : Merawat Cinta Agar Berbuah Mawaddah



Resensi Buku Sayap-Sayap Mawaddah

Judul               : Sayap-sayap Mawaddah
Penulis            : Afifah Afra dan  Riawani Elyta
Tebal              : 206 halaman
Tahun             : Juli 2015
Penerbit          : Indiva
ISBN              : 978 – 602 – 1614 – 65 – 5


Data Pengadilan agama di Indonesia merilis  dari dua juta pasangan menikah pada tahun 2010, terjadi 285.184 pasangan bercerai. Besarnya jumlah itu membuat Indonesia menjadi posisi pertama negara dengan angka perceraian tertinggi di Asia Pasifik. Padahal, Indonesia memiliki penduduk mayoritas muslim. Dimana, dalam Islam, pernikahan adalah bernilai ibadah. Sebaliknya, perceraian adalah peristiwa yang sangat dibenci Allah  Swt. Lebih mengejutkan, dari semua gugatan perceraian itu, 70% dilakukan oleh pihak istri (kaum perempuan). Fakta tersebut menjadi sebuah tanda tanya, ada apa dengan kaum perempuan saat ini? Apakah pernikahan yang tidak harmonis itu menjadi goyah karena modal sakinah mereka sudah habis? Sementara mawaddah dan rahmah buah dari sakinah belum di dapat?  Hal inilah yang dikupas dengan cermat oleh dua penulis hebat Afifah Afra dan Riawani Elyta. 

Buku non fiksi berjumlah 206 halaman ini adalah lanjutan dari buku sebelumnya, Sayap-sayap  Sakinah. Di buku ini, penulis mengajak pembaca untuk membahas permasalahan hubungan suami dan istri dengan konsep mawaddah sebagai fokusnya. Menurut Imam Abu Hasan al-Mawardy, Mawaddah artinya mahabbah, yaitu rasa cinta. Khususnya yang mengarah pada perasaan dua manusia berlawanan jenis yang telah dewasa (hal 16). Lebih spesifik, dalam tafsir Ibnu Abbas dijelaskan bahwa mawaddah artinya cinta seorang istri kepada suaminya. Pendapat Imam Baidlowi menyebutkan bahwa mawaddah dikiaskan sebagai jima' (hubungan seksual antara suami dan istri). 

Di dalam Al Qu'ran, mawaddah disebut sebanyak 29 kali. Sedangkan mahabbah dengan berbagai bentuk disebut sebanyak 95 kali (hal 28). Untuk itu, dalam pernikahan sangat diperlukan adanya perasaan mawaddah. Apa artinya jika dalam pernikahan tak ada mawaddah? Menikah adalah lisensi bagi suami istri untuk mengeskpresikan insting seksual. Tapi, insting seksual seseorang terhadap pasangannya atau pun seseorang yang belum menjadi pasangan sahnya dapat menjadi berkah atau musibah. Contohnya legenda Ratu Mesir, Cleopatra sang ratu yang konon cantinya luar biasa. Kecantikannya dapat mencundangi kaisar Romawi sekaligus (hal 35).

Fitnah perempuan juga dialami oleh orang shalih. Contohnya Umar bin Abdul Aziz yang jatuh cinta kepada budak istrinya. Berkali-kali ia meminta izin untuk menikahi budaknya, tapi ditolak oleh istrinya Fathimah. Namun, rasa cinta yang bergejolak itu teredam sejak ia menjadi Khalifah. Umar bin Abdul Aziz menolak untuk menikahi budak yang ternyata juga mendambakannya. Padahal istrinya sudah merestuinya. Umar lebih memilih merawat cinta-Nya dibanding nafsu menikahi budak tersebut. Umar sangat yakin dan ingin menjalankan firman Allah Swt dalam Qs. An-Nazi'at ayat 40-41.

Perasaan cinta yang bergejolak mampu diredam oleh Umar berkat kedekatannya kepada Allah Swt. Lalu bagaimana merawat cinta agar berbuah mawaddah? Pada buku ini di bab keempat (Sayap 4) dibahas lengkap oleh penulis undangan Ahmad Supriyanto seorang dokter yang membahas tentang seksologi sebagai unsur pokok pilar mawaddah.

Pada sayap empat ini, penulis membahas mengenai adab-adab menyalurkan seks kepada pasangan.  mulai dari foreplay (pemanasan) prasenggama, mengoptimalkan daerah erogen dalam membantu istri mencapai orgasme hingga pembahasan mengenai problem-promblem yang sering terjadi dalam ketidakmampuan mencapai orgasme, seperti impotesi dan ejakulasi dini (hal 67).

Kemudian dibahas mengenai perempuan juga harus agresif dalam melayani suami.Diksiahkan  Yeholana yang memikat suaminya Kaisar Manchu Hsien Feng bersaing dengan 3.000 selir lainnya. Yeholana belajar kepada pelancur, sehingga Kaisar menjadi mabuk asmara dengan pelayanan Yeholana dibanding istri-istrinya yang sering bersikap "pasif (hal 74). 

Namun, itu hanya salah satu cara merawat cinta dalam rumah tangga. Kerap kali kita dengar perceraian terjadi dalam waktu lima tahun pernikahan. Padahal waktu singkat itu rasa cinta masih mengebu-ngebu. Tapi, lagi-lagi ketidakcocokan yang dikambinghitamkan sebagai penyebab retaknya rumah tangga (83). Lalu, apakah setiap ketidakcocokan berakhir perpisahan? Rumah tangga perlu selalu "dihangatkan", tahapan itu seperti belajar mencintai, tunjukan cintamu, dan buktikan cintamu (hal 95).

Buku ini memang tidak setebal dari buku lain yang membahas tema pernikahan, tapi isinya lengkap dan dibahas secara lugas dengan diksi yang  sangat indah. Setiap bab ada puisi-puisi yang indah dan romantis. Buku ini ditutup dengan lima kisah sejati tentang keajaiban cinta. 

Dari uraian yang telah saya sampaikan di atas, jika buku ini akan direvisi untuk perbaikan ke depan, saya memberikan beberapa masukan :

1. Data perceraian yang diulas menggunakan data yang lebih terkini, misalnya tahun 2013 atau 2014 sehingga lebih up date.

2. Untuk penggunaan contoh lirik lagu, hendaknya dipilih lagu yang lagi ngetren saat ini. Lagu dangdut dengan lirik, "kalau cinta sudah melekat, gula jawa pun rasa coklat," sudah tidak relevan. Kemudian di dua bab (Sayap 9 dan Sayap 10) menggunakan contoh lirik lagu Nicky Astria dan alm Nike Ardilla. Menurut saya, lirik lagu ini sudah jarang terdengar, akan lebih mengena jika menggunakan lirik lagu yang sekarang lagi tren.

3. Untuk kisah keajaiban cinta, mungkin ada baiknya disisipkan kisah bagaimana menghadirkan mawaddah jika pasangan belum memiliki keturunan.

Terlepas semua itu,  buku  tema pernikahan dengan harga terjangkau tapi ulasannya lengkap membuat buku ini pantas direkomendasikan untuk pasangan yang baru menikah atau yang lama sekali pun. Pernikahan yang bernilai ibadah harus terus dihangatkan, dirawat agar berbuah mawaddah. Covernya yang teduh, dua ekor burung dengan taman bunga yang mengepakkan sayap-sayapnya hingga terjadilah rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah





4 komentar:

  1. Terima kasih ya reviewnya :)
    Generasi 90an memang begitu, dimanapun tetap ingin mengunyah kenangannya meski hanya berupa bait2 lagu xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah...he eh ya kenangan itu tak terlupakan deh

      Hapus
  2. Hihihi... Ngikik baca tentang lagu. Baru punya Sayap Sakinah. Itu juga ketinggalan bukunya jadi ga bisa ikut lombanya. Hiks.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^