Rabu, 10 Agustus 2016

Tips Menemani Anak Belajar


Tips Menemani Anak Belajar. Assalamualaikum sahabat Smart Mom, lagi ramai ya berita Full Day School, anakku juga sekolah Full Day School. Dulu aku juga mengajar di SDIT. Pulang sekolah sampai sore. Tapi, untuk guru kelas 1 dan 2 pulang sampai dhuzur saja. Sedangkan kelas 3-6 sesuai bidang studi. Namun, lain SDIT, lain lagi kebijakan loh. Jadi, enggak sama rata. Apalagi sejak adanya sertifikasi, guru wajib jadi guru kelas. Namun, ada juga beberapa SDIT memakai sistem guru bidang studi.

Pengalaman mengajar di SDIT ini sangat berharga. Pergi pagi, pulang sore, anakku dititip di mana? Dulu, saat ngajar di SDIT di Lampung Timur, sekolahnya ada Day Care di lingkungan sekolah. Aku bisa sekolah bareng Faris. Saat istirahat, aku bisa menjenguk Faris di penitipan anak. Faris juga PAUD dan TK A di Lampung Timur. Jadi, aku bisa tenang deh. Apalagi kalau ngajar sore, anak boleh diajak ke kelas. Belajar juga udah santai saat siang hari, makanya dibuat jadwal pelajaran yang menyenangkan, tidak yang memerlukan konsentrasi tinggi. Misalnya, kalau jadwal siang hari pelajaran Keterampilan, Bahasa Indonesia, IPS. Nah, jarang banget jam siang pelajaran Matematika, hihi...kecuali dalam seminggu ada 3 kali pelajaran Matematika, maka siang hari hanya untuk pengulangan atau latihan.


Lalu, aku juga pernah mengajar di SDIT Permata Bunda 3 Bandar Lampung. Kebijakan yayasan berbeda lagi. Anak dilarang dibawa ke sekolah. Sedangkan sekolah saat itu belum memfasilitasi adanya penitipan anak, sehingga aku juga kelimpungan nyari pengasuh hihi.... tapi, serunya ngajar di SDIT PB, selalu ada kegiatan per tema. Misal, adanya pekan prestasi, puncak tema dan perayaan hari besar. Anak-anak diajarkan unjuk kemampuan seperti belajar pidato, menari, drama, dan lainnya.

Lembar Kerja Siswa yang dibuat guru

Menariknya, anak-anak tidak banyak menulis. Sekolah SDIT PB lebih menonjolkan LK (Lembar Kerja) yang dibuat oleh guru. Jadi, kami dulu membuat LK setiap minggu dan berkoordinasi dengan guru lainnya. Misal aku ngaar kelas 2. Di kelas 2 ada 3 lokal. Maka, guru kelas 2 A, B dan C berkoordinasi membuat LK. Dari media pembelajaran, soal, hand out dan lainnya. Kami harus kompak karena pelajaran harus seragam di hari yang sama. Ribet? he eh hahaha..... tapi metode belajar inilah yang menyenangkan. Anak-anak tidak menjadi robot. Anak-anak diajak belajar sambil bermain. Anak-anak tidak dicekokin teori, tapi diajak praktek langsung!

Lalu, setelah aku resign, aku tetap mempersiapkan anak-anakku belajar di rumah. LK yang telah dibagikan, aku kumpulkan, nanti jika mau UASEM (Ujian Akhir Semester), LK ini dirapikan sesuai mata pelajaran. Tapi, sekarang pakai tematis ya? Hihihi....


Pentingnya rapat komite kelas

Para Ayah ikut semangat rapat komite kelas

Nah, beruntungnya di sekolah anakku ada Komite Kelas. Di sinilah enaknya Full Day School yang dikelola profesional. Sekolah memfasilitasi kebutuhan komunikasi wali murid dan guru. Saat rapat komite, wali murid akan dijelaskan apa saja capaian yang diharapkan dari sekolah. Di sinilah perlunya kerjasama wali murid dengan orang tua. Selain itu, ada juga group WA para wali murid dengan Wali kelasnya. Peraturannya ketat. Di group tidak boleh postingan mengenai permasalahan anak A dengan anak B di kelas. Tapi, hanya untuk informasi mengenai pembelajaran sekolah, izin sekolah, atau artikel edukasi. 

Lalu, bagaimana aku menemani anak belajar di rumah? Aku termasuk longgar dalam belajar. Aku tidak membebani anak harus nilai tertinggi di kelas. Namun, aku juga memberi target anakku harus di atas nilai KKM. Minimal enggak terakhirlah ya di kelas hahaha.... caranya melihat juga metode belajar anak-anakku. Kalau tipe belajarnya dengan mendengar. Jadi, kalau mau ujian, aku harus membuat tanya jawab secara lisan, baru membuatkan soal secara tertulis. Faris lebih mudah mengingat pelajaran setelah diulang dibanding disuruh baca sendiri.

Baca Juga : #SaveSiSulung : Cinta dan Emosi
Belajar Bahasa Arab, setelah tanya jawab, mengisi soal di papan tulis atau di kertas soal buatanku

Contohnya, saat mau ujian Bahasa Arab di SDIT Permata Padang tahun lalu, aku menemani Faris dengan belajar membuka buku pegangan siswa. Kuminta Faris membaca sekitar 10 menit materinya, lalu aku membuat soal di papan tulis. Faris lalu mengisi di papan tulis. Jika sudah bisa, materi bisa lanjut, jika belum diulang lagi berapa kali. Selain itu aku juga membuat soal tanya jawab dan soal latihan di kertas. Semua cara dilakukan dengan enjoy, agar anak tidak terbebani. Ini belajarnya setelah Isya dan selesai pukul 21.30 WIB.

Untuk hapalan, Faris lebih banyak dibimbing Abinya. Suamiku akan mengecek hapalan Faris.Selain hapalan, tugas suami juga menemani Faris belajar Matematika, hehe....soalnya aku enggak jago Matematika euy hihi...

Jadi, berikut Tips Menemani Anak Belajar ala aku :

1. Kendali metode belajar anak. Apakah lebih cenderung mendengar, melihat atau lainnya.
2.Siapkan fisik anak. Sebelum belajar, ajak anak makan dulu, siapkan cemilan dan tidak dalam posisi mengantuk.
3. Buat soal atau tanya jawab dari materi yang akan dipelajari.
4. Siapkan media belajar, seperti papan tulis, buku penunjang, ebook atau media pembelajaran lainnya.
5. Untuk menemani anak persiapan US, sebaiknya membeli buku kumpulan soal. Lebih disarankan mengenalkan soal sejak kelas 4, sehingga saat di kelas 6 anak tidak kaget lagi.


Buku pegangan ortu untuk menemani anak belajar

Nah, itulah Tips Menemani Anak Belajar versi aku. Semoga para orang tua dapat mengambil manfaatnya. Namun,kalau boleh aku mengusulkan, silakan baca juga Cara Belajar Efektif dan Menjadi Pintar yang ditulis sahabatku Mahfudz. Saat ini Mahfudz sedang menempuh pendidikan di Okayama University. Belajar memang perlu sebuah kesungguhan. Baik orang tua dan anak. Semoga sharingku ini bermanfaat. selamat mencoba!


31 komentar:

  1. Wahhh..makasih tips2-nya mba..memang bener mba, gaya belajar harus disesuaikan lg dgn kemampuan belajar anak ya..

    BalasHapus
  2. dulu waktu masih sekolah aku suka ditemani ibuku kl belajar walau ibuku sambil tidur tapi aku merasa ada temannya shg belajar sampai malam tenang. Aku parktekan pada anakku, eh malah ikut tidur lihata ku tidur, ha,ha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Mbk, pastilah ana-anak akan senang ditemani belajar dengan ortunya :)

      Hapus
  3. huaaa, buku anak2 mahalll...:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbk, perlu modal gede juga hehehe....

      Hapus
  4. Anakku kalau diajak belajar bawaannya nyelimur trus ngantuk. Kalau tetap dipaksa dia kaya orang stres...hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbk, harus tahu jadwal kapan anak enggak ngantuk jadi kita bisa menjaga stamina anak juga hehe...

      Hapus
  5. makasi tipsnya mba naqy, memang peran orangtua kudu lebih ekstra kerja keras ya mba, jangan mengandalkan guru di sekolah. makasi ya mba diingatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat Erna, tak ada sekolah yang sangat ideal. Semua harus ada kerjasama dari guru dan orang tua.

      Hapus
  6. makasih mba share tipsnya..arfa masih 2 tahun, nanti kalo sudah mulai sekolah bisa dipakai tipsnya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama semoga lancar saat prakteknya ya

      Hapus
  7. Wah mahmud macam aku harus siap2 nih untuk nemani anak belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap, udah siap-siap dari sekarang

      Hapus
  8. Setuju, Mbak...anak-anak akan lebih senang belajar dengan gayanya masing-masing. Supaya lebih efektif ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lebih efektif kita mengarahkannya ya

      Hapus
  9. Jadi keinget tmnku, dia guru di sekolah full day. Kalau pas dia waktunya ngajar dia malah bikin permainan di kelas, bangku2 dipinggirkan, gak pernah kasi PR. Menurutnya dia mau bikin anak2 suka di sekolah, kasian udah dibebani guru lain PR dll, dia ngalah bagian kasi seneng2nya aja buat murid2nya hehe

    Trims tipsnya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbk, begitulah kalau jadi guru harus kreatif hehehe...

      Hapus
  10. susah-susah gampang nemenin anak belajar, apalagi tipe golongan darah B yang males banget belajar, maunya maiiiiiin terus, akhirnya metode belajarnya diganti deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih gara2 tipe darah B? Suamikku tipe darah B, dia lebih banyak mendengar. Sekali lihat dan dengar di kelas bisa ingat, beda dengan aku yang harus berulang-ulang xixiix

      Hapus
  11. Hihihi kalo ngebaca gini inget dulu ya, disuruh belajar susahnya minta ampun saya. Selalu sistem sks haha nakal ya, tapi kalo sekarang masih sks sulit pasti ngikutin kurikulum yang hmmmm berat dibanding zaman sekolah dulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul, anak-anak juga susah kalo sistem SKS, mana kalau udah capek

      Hapus
  12. tipsnya keceee...
    dan aku paling seneng nemenin belajar, emaknya jadi ikutan pinter (sambil ngintip gugel) hahha..

    BalasHapus
  13. Anakku malah lebih kalau belajar aku temani mba. Biar makin semnagat belajar, katanya
    Tapi memang harus sabar dan ngerti suasana hati si anak ya. Kasian kalau capek, malah disuruh2

    BalasHapus
  14. Bener tuh mbak, anak-anak jangan hanya di kasih teori mulu, tapi praktek juga perlu. Masih tips-tips nya, bermanfaat sekali ^-^

    BalasHapus
  15. Tipsnya Oke punya Mba... harus mulai siap-siap nih.. waktu rasanya begitu cepat berlalu, tahu-tahu anak sudah mulai gede aja :)

    BalasHapus
  16. kalau disini biasanya sama-sama aja belajarnya

    BalasHapus
  17. aku jarang nemenin anak belajar biasanya aku tiduran di sampingnya , kalau dia gak negrti baru aku ajarin, biar mandiri

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...