Selasa, 27 September 2016

Cerita Ta'aruf Gagal Membawa Berkah


Assalamualaikum sahabat Smart Mom, ini kisah lama sih jadi kalau membaca rasanya kayak DeJavu ya, hihi...yang mau baca kisahku Cerita Ta'aruf Gagal Membawa Berkah  bolehlah dibaca sampai tuntas. Soalnya ada rasa mellow gitu deh. Dulu kan ya rada alay juga hahah....Tapi, alhammdulilah berbuah rasa bahagia. Nah, jadi tipsnya menikmati aja deh kalau pernah mengalami ta'aruf gagal ya insya Allah tidak terlalu sakit banget :)

Cerita Ta'arufku ada di buku ini

Akhir Februari 2005 yang Kelabu


Ta’arufku gagal lagi. Ini untuk kedua kalinya proses menjelang pernikahanku kandas di tengah jalan. Allah, sedih itu pasti ada. Siapa sih yang tak ingin menikah dengan lelaki sholeh? Menjadi bidadari dalam rumah tangga yang berlandaskan dakwah? Sungguh, impian setiap akhwat berusia 25 tahunan sepertiku.

Hati lalu bertanya? Mungkin aku belum pantas menjadi bidadari dunia untuk seorang lelaki sholeh itu ya?

Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuatku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya
(Suara Persaudaraam: Hasrat Hatiku)

Waduh, nasyid itu indah sekali, menggedor naluriku. Aih, pengen banget! Aku iri melihat para ummahat yang demo sambil gendong anak. Wajah mereka ceria, walau berpanas-panasan mengendong anaknya. Kadang tak cuma mengendong, tapi juga mengandeng tangan anaknya yang lain.

Dari Murobiyahku, aku dan teman liqoanku sering menjadi baby sitter para ummahat yang sedang rapat atau mengisi pengajian. Wah, senangnya! Mendapat pelajaran praktek dengan gratis! Menimang, menidurkan, bermain dengan anak-anak balita itu penuh cerita. Semakin membuatku ingin segera menikah!

Tapi, proses menikah itu tak mudah! Aku selalu terganjal. Dan selalu pihak ikhwan yang memutuskannya. Aih, benarkah aku tak pantas jadi bidadari dalam rumah tangga para lelaki sholeh itu? Aku pun segera bermuhasabah. Mungkin aku belum ‘dewasa’, belum mampu mengemban tugas-tugas dakwah seorang ummahat jika telah menikah kelak. Aku bertanya pada diriku.

“Sudah berapa banyak hapalanmu?”
“Berapa kelompok binaanmu?”
“Apa persiapan ilmu menjadi seorang istri dan seorang ibu?”

Akupun mantap membidadarikan diriku sendiri sebelum menikah!

Akhirnya aku segera tersadar
Hanya pada Allah lah tempat aku bersandar
Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
Insya Allah azzamku akan terwujud lancar
(Suara Persaudaraam: Hasrat Hatiku)

Jakarta, 26 Maret 2005


Aku bertemu dengan buku Agar Bidadari Cemburu Padamu karya Salim A. Fillah terbitan Pro-U Media. Wow,bukunya keren banget! Benar-benar buku yang kucari! Menjawab kegelisahanku selama ini. Kenapa bidadari cemburu pada wanita dunia? Semua terjawab di buku ini. Memang sepertinya Allah takdirnya menjadi Cerita Ta'aruf Gagal Membawa Berkah.

Aku pun tenggelam dengan kesibukkan baru. Menambah hapalanku, memperbaiki manajemen binaanku, aktif di organisasi keislaman dengan serius dan fokus. Aku all out menyelesaikan ujian skripsi yang terus tertunda karena berbagai masalah. Pelan-pelan aku bisa tersenyum dengan ceria dan semangat lagi. Soal pernikahan, aku simpan dengan harapan, aku lebih siap dan matang jika kelak tiba waktunya.

Ternyata Allah menjawab doaku dengan sangat cepat. Seorang ikhwan dari Lampung akan ber-ta’aruf ke Bengkulu pada tanggal 6 April mendatang. Duu, aku grogian! Rasanya seperti mimpi! Baru saja aku menangis karena ta’arufku yang gagal, tapi kini sudah ada jawabannya! Ta’aruf singkat itu akhirnya sampai ke pelaminan. Kami menikah di tanggal 24 April 2005 dengan penuh bahagia.


Lampung Timur, 2006



Hari-hariku pun dimulai menjadi bidadari dalam rumah tanggaku. Aku sering menjadi tempat curhat persoalan rumah tangga. Seorang sahabat yang baru saja menikah 100 hari, mendapat duka. Suaminya meninggal karena kanker. Dia istri teman dekatku saat kuliah. Dia akhirnya menjanda dalam usia masih muda dan belum hamil. Kulihat dia dengan wajah tegar ketika bertemu. Kupeluk dia dengan rasa cinta yang mendalam. Ah, dia tegar sekali.

“Menikahlah lagi,” saranku.
“Tidak mbak, aku masih sangat mencintai suamiku. Aku tak akan menikah lagi,” jawabnya.
“Jangan begitu. Cobalah buka hatimu, masih banyak lelaki sholeh yang akan meminangmu,” kataku.
“Mbak, jika aku menikah lagi, apakah aku akan berkumpul kelak di surga dengan suami pertamaku?” tanyanya.

Aku tersentak. Oh, iya. Ini sungguh keinginan manusiawi. Kita ingin sekali pasangan kita menjadi pasangan di dunia dan akherat, tapi bagaimana kalau Allah mentakdirkan kita menikah dua atau tiga kali? Apakah kita akan berkumpul dengan suami kita?

Segera kubuka kembali buku Agar Bidadari Cemburu Padamu karya Salim A. Fillah. Aku pernah membacanya! Kutemukan jawabannya di halaman 55.

“Ya Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan merekapun masuk surga. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”


Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu diapun memilih siapa yang di antara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata, “Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik takkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya…”

….Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akherat. (HR Ath Thabrani).


Subhanallah, langsung kuberitahu sahabatku itu. Kupinjamkan buku itu padanya. Dia sangat bahagia dan mulai kembali menata diri. Dia semakin semangat mengaji dan mengikuti kegiatan keislaman lainnya, setelah lama tak aktif mengaji. Dia benar-benar mempercantik diri dengan ibadah. Cukup pesat perkembangannya.

Tak lama dia datang membawa kabar gembira.

“Mbak, aku akan menikah!”
“Dengan siapa?” tanyaku penasaran.

Dia menyebutkan sebuah nama.

Subhanallah, dia akan menikah lagi dengan lelaki sholeh. Seorang lajang dan Insya Allah lebih baik akhlaq dan ibadahnya dari suami pertamanya. Allah, terima kasih telah menjawab doa-doa kami. Doa para wanita yang ingin belajar menjadi bidadari dunia dan juga kelak di akherat. Nah, teman-teman kalau punya kisah ta'aruf yang gagal jangan dulu sedih ya, sapa tahu sama kayak aku Cerita Ta'aruf Gagal Membawa Berkah karena kisah ta'arufku di bukukan dalam buku karya Leyla Hana dan alhamdulillah pernikahanku sekarang sudah 11 tahun :) Kisahnya ada ditulisan Catatan Milad Pernikahan ke- 11 : Belajar Menjadi Sahabat.

Yuk, share gimana cerita ta'arufmu :)



9 komentar:

  1. Semoga setiap rumah tangga bisa samara dan panjang jodoh, dari dunia terus sampai nyebrang ke akhirat. Selamat ber-RT

    BalasHapus
  2. keren ..., smoga bisa menulis seperti sahabat.

    BalasHapus
  3. Hihihi aku taaruf sekali langsung jadi. Sejak SMA seneeeng kalo denger cerita-cerita soal taaruf hihi

    BalasHapus
  4. Waaa... yg gagal segera diganti dg yg lbh baik ya mbak....

    BalasHapus
  5. Waduh, merinding aku bacanya, mbak. Akh dulu gak taaruf. Kenal suami secara langsung. Dia kakak angkatan waktu kuliah. :)

    BalasHapus
  6. wah, buku Salim A. Filah yang itu ya mba,
    dulu waktu kuliah juga baca itu dan jadi berpikir ulang untuk nikah muda karena berpikir, "apa aja yang udah kulakukan sampai saat ini hingga aku pantas?"
    revisi lagi peta hidup, target nikah usia 25, alhamdulilah sebulan sebelum 25, mengakhiri masa lajang ^_^

    BalasHapus
  7. ohh, kehabisan kata buat komentar saya jadinya :) #ada banyak kata yang lalu berseliweran di benak membaca tulisan ini. makasih Mbak...

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...