Selasa, 07 Februari 2017

Cerpen : Piyama (Dimuat Di Lampung Post, Ahad, 5 Februari 2017)



Assalamualaikum sahabat Smart Mom, Alhamdulillah cerpenku berjudul Piyama dimuat di Lampung Post Ahad, 5 Februari 2017. Rasanya senang sekali karena menunggu cerpen ini dimuat berdebar-debar. Aku kirim diawal Desember 2016 dan dimuat sebulannya. Lama juga ya? Hehe... Desember banyak tanggal merah euy! 

Cerpen ini awalnya aku kirim ke Majalah Femina saat ada lomba cerpen tahun 2015. Tapi, akhirnya aku kirim ke media lain saja, walau ada sih cerpen teman yang enggak menang, tapi bisa terbit diedisi reguler. Tapi, aku memilih untuk dikirim ke Lampung Post saja, apalagi tidak ada email informasi cerpenku akan masuk terbitan reguler, hehe...

Ide cerpen dari naik bis Padang-Bengkulu saat mudik lebaran. Lalu, sepanjang jalan aku merekam semua yang aku alami. Saat masuk kelas Penulis Tangguh yang diasuh Mbk Nurhayati Pujiastuti, aku mengesekusi ide ini. Selamat membaca!
Piyama
Oleh : Naqiyyah Syam *)

Bus SAN melaju perlahan melintasi Solok. Aku merapatkan jaketku. Badanku lelah, tapi mataku sulit terpejam. Jika saja bukan permintaan Inga Liyan, mungkin aku belum ingin pulang ke Bengkulu. Sudah tiga kali lebaran aku tak pulang. Bagiku, pulang sama saja membawa alarm bahaya. Aku ingin melepas lukaku, tapi bayangan kelam itu seakan ingin menelanku. Aku benci. Benci diriku yang gagal melupakannya!
Sudah sampai mana?
Sebuah SMS masuk.
Di rumah makan...
 Kubalas pesan singkat itu. Asam padeh, rendang, opor ayam terhidang di meja. Segera kuambil nasi sepiring dan melahap dengan perlahan. Kuisi perutku dengan mencoba menepis gundah gulana. Di sampingku, duduk seorang ibu dengan balitanya. Sepertinya ibu itu kesulitan menenangkan anaknya yang minta dibelikan mainan.
 Sekilas kulihat bayanganku di cermin yang tergantung di dinding rumah makan ini. Wajah oval, rambut hitam panjang sebahu, kulit bersih, gigi rapi tanpa perlu dikikir. Kuusap wajahku. Tak ada yang banyak berubah, kecuali usia yang mulai beranjak. Jika aku tak mengalami malam menakutkan itu, mungkin hatiku telah berlabuh pada seorang pujaan hati. Memiliki anak yang mengemaskan seperti ibu di sampingku tadi. Tapi, aku memilih untuk meredamnya asa ini. Padahal, aku dulu pernah mencintai seorang yang berdagu lancip dan tinggi menjulang. Pahit rasanya lidah ini menyebut namanya, Ramdan.  Aku beranjak dan membayar ke kasir. Kupesan seduhan teh hangat yang dibungkus dalam plastik. Sepertinya perutku mulai kram, malam ini kuharap aku bisa tidur nyenyak.
Bis kembali bergerak. Penumpang satu per satu naik dan mulai terlelap. Kuraih bantal dan selimut berharap segera menjemput mimpi. Apa daya, mataku sulit terpenjam. Untunglah tak lama TV di bus ini memutar film Tenggelam Kapal Van Der Wijck. Sebuah kisah kasih tak sampai antara Hayati dan Zainoeddin. Aku mulai larut dalam film yang kutonton. Apakah nasibku seperti Hayati? Samar-samar aku seakan mendengar putaran kisahku bersama Ramdan.
“Kelak, aku akan mengajakmu mendaki Bukit Kaba.”
“Ah, tak mau, aku ingin beli pempek panggang saja di Taman Remaja.”
“Ah, mau sampai kapan kau takut bertualang? Naik sampan di Danau Dendam saja tak mau,” Ramdan mencibirku.
Huh, aku kesal tapi tak menyangkal. Aku memang takut mecoba hal baru.
"Ayo, turun! Kita istirahat dulu." Seorang Bapak menyapaku. Aku tergeragap. Berusaha tersenyum. Kulipat selimutku dan segera beranjak turun.
"Kita sudah sampai mana?" Tanyaku pada seorang penumpang.
"Kita sudah di Curup. Sekitar tiga jam lagi kita sampai di Bengkulu."
 Angin menusuk, dingin menyergapku. Teringat masa kecilku. Waktu ayah mengajakku ke Curup bersama Odang Lina, kakak tertuaku yang tinggal di Jambi dan Inga Liyan yang kini tinggal di Bengkulu. Saat itu, kami sekeluarga melihat kebun kol sisa orang panen. Ayah meminta izin memetik kol sisa panen kepada pemiliknya. Kami berebutan memetik kol. Puas sekali bermain dan berlari di kebun kol. Kenangan itu begitu nyata di pelupuk mataku.  Jika malam tiba, kami segera bersiap hendak tidur. Ibu akan meminta kami berganti pakaian tidur. Masing-masing telah dibelikan piyama. Baju tidur bercelana panjang.
"Anak gadis tak elok bercelana pendek, walau sekedar di rumah," kata ibu. Hingga besar kami terbiasa tidur dengan piyama. Kebiasaan itu terus kulakukan walau ayah dan ibu telah tiada, hingga ketika malam jahanam itu datang. Semua karena piyama itu.

Epaper Lampost co

Turun di loket saja. Nanti aku jemput.
 SMS dari Inga Liyan. Hp-ku baru saja aktif.  Aku sengaja mematikannya sejak di Curup tadi. Aku menghemat baterai, walau aku sudah membawa power bank.
Kini Bus SAN benar-benar berhenti. Semua penumpang turun dan sibuk mengambil barang-barangnya. Aku sengaja menepi dan duduk di sebuah kursi panjang. Perlahan penumpang telah pergi, baik yang dijemput maupun memakai jasa angkutan umum. Azan subuh berkumandang, tapi jemputanku belum kunjung tiba. Kucoba menyandar ke dinding dan memejamkan mata. Aku mencoba melawan rasa resahku. Bagaimana jika aku melihat mata itu? Mata yang telah menangkap keceriaan di mataku?
Sebuah mobil berwarna putih menuju ke arahku. Aku yakin itu mobil Inga Liyan. Aku menyongsong kedatangannya. Kami berpelukan melepas rindu.
"Ayo naik, kita cerita di mobil saja." Ajak Inga Liyan sembari membantu membawa koperku. Aku tak bertanya mengapa Inga Liyan datang sendiri menjemputkan. Aku tahu Inga Liyan terbiasa membawa mobil sendiri. Suaminya pasti sedang tidur.
Di mobil, mataku tak lepas melihat keindahan Bengkulu di subuh hari. Melintasi Masjid Jamik, Suprapto hingga ke Sawah Lebar. Sudah tiga tahun aku tak pulang. Rindu itu berkumpul. Tapi aku tahan. Aku selalu beralasan segera menyelesaikan kuliah kedokteranku di Unand. Aku tak bisa pulang walau saat Lebaran sekali pun. Namun, itu tipuanku semata. Tepatnya, aku membunuh rasa rindu karena aku takut menemui mata yang menikamku.
“Masuklah, kamarmu telah disiapkan. Di lemari, piyama kesayangamu telah dicuci dan siap dipakai. Sepertinya kau masih menyimpan piyama kembar kita, ya? Ayo dipakai, istirahatlah!” Inga Liyan keluar kamar, aku segera ke kamar mandi, bergegas menunaikan shalat subuh yang sempat kutunda sejak sampai di loket tadi.
"Sarapanlah dan minum tehnya," ajak Inga Liyan.
"Kenapa tak membangunkan aku?"
"Kau kecapekan, sengaja tak dibangunkan. Dang Rusdi titip salam kepadamu, tadi dia terburu-buru berangkat ke kantor."
Aku menarik napas lega. Setidaknya aku bebas beberapa waktu di rumah ini tanpa ada laki-laki.
"Aku belikan piyama baru. Warna biru kesukaanmu."IngaLiyan menyodorkan sebuah piyama berwarna biru terang dan bergaris kecil.
"Aku tak mau kembar!"  
"Ah, kenapa? Kau tak suka orang-orang mengatakan kita mirip anak kembar?"
"Bukan. Piyamanya saja. Aku tak suka piyama kembar!" ada rasa nyeri menjalar di dadaku. Bayangan seorang lelaki datang mendekapku dan melakukan gerakan yang tak sepantasnya terhadap adik iparnya. Mata yang tajam itu telah menikamku hingga aku tak berani tegak menatapnya. Aku mengigit bibirku, meremas perutku yang kram karena aku muak dengan sikap tak senonohnya.
Inga Liyan terlihat kecewa, ditariknya piyama itu. Aku tak berniat menabur duka pada mata indahnya. Biar bagaimana pun,Inga Liyan telah banyak berkorban demi kuliahku. Dia bersedia menjaga rumah peninggalan ayah ibu, walau sudah punya rumah sendiri.IngaLiyan juga telah bersusah payah mengembangkan usaha keluarga, toko oleh-oleh khas Bengkulu. Setiap bulan,Inga Liyan mentrasnferkan uang untuk biaya kuliahku. Ah, rasanya aku sudah tak berani membantahnya. Kusimpan piyama itu di kamarku. Kupeluk boneka beruang berwarna coklat. Boneka itu kesayanganku sejak aku SMA. Boneka itu dibeli oleh lelaki yang sempat singgah di hatiku. Ramdan kau di mana sekarang? Aku sengaja menutup akses padanya. Dulu kami sekelas saat SMA. Kami sering belajar berkelompok dan satu organisasi di PMR. Tak ada yang berlebihan dari kedekatan kami. Walau saling mencintai, kami memahami sikap dan batas untuk menjaga adab, hingga ketika Ramdan mengajak kakaknya ke rumahku dan berkenalan denganIngaLiyan.
Semua kisah pedih itu bermula. Kakak lelaki Ramdan, Dang Rusdi, ia  jatuh cinta pada Inga Liyan. Aku dan Ramdan saling paham, kami tak mungkin bersatu. Walau agama tak melarang, tapi tabu di keluargaku jika ada dua anggota keluarga menikah silang. Dengan kesadaran kami merelakan pernikahan Inga Liyan dan Dang Rusdi.
Malam telah berganti. Usai makan malam aku segera masuk kamar. Kupandangi piyama pemberian Inga Liyan. Kubolak-balik dan membuka lipatannya. Rasanya tak salah jika aku memakainya. Piyama kembar. Ya, seperti piyama yang dibeli ibu, selalu sama warna dan coraknya. Aku dan Inga Liyan selalu dianggap anak kembar. Kulihat bayanganku di cermin. Aku masih seperti dulu. Kuusap pantulan wajahku di cermin. Berputar dan tertawa kecil. Aku keluar kamar menuju meja makan. Kuhidupkan lampu dapur dan membuka kulkas. Kuteguk air segelas dengan tandas.
“Liyan, kamu di sana?” sebuah suara. Aku merapatkan telingaku. Bergeser ke arah kanan. Keringatku bercucuran. Tanganku gemetar. Suara itu kian mendekat. Lalu, lampu dapur aku padamkan. Kudekap kedua tanganku. Aku berdiam diri di samping kulkas, menahan langkah.
“Stt...aku tahu kau di sana, Lisa.” Sebuah tangan meraih pergelanganku. Oh tidak, aku tak lagi bisa ditipu. Aku tak akan menyerah untuk kedua kalinya.
“Lepaskan! Kau tak berhak menahanku!” kutahan suaraku agar tak terdengar oleh Inga Liyan. Ia pasti sudah tertidur lelap.
“Stt... aku hanya ingin minta maaf. Kenapa kau selalu menghindar? Oke, aku salah. Tapi...aku...”
Maksudnya? Hanya? Kau telah mendekapku dari belakang hanya kau pikir aku adalah Inga Liyan karena malam itu aku memakai piyama yang berwarna dan corak yang sama. Kau hampir saja merampas kesucianku. Aku memang bodoh karena tak berani buka mulut dengan Inga Liyan karena aku tak mau merusak keharmonisan kalian! Aku berteriak dalam hati.
“Lisa, jujur...aku sebenarnya tidak mencintai Liyan. Aku menginginkanmu, sejak kau dekat dengan Ramdan. Aku selalu terobsesi ingin mengalahkan Ramdan. Aku iri padanya. Dia pintar dan cerdas. Aku ingin memilikimu, aku.....”
Aku jadi teringat akan sosok Ramdan. Dia memang pintar dan tampan. Selalu mempesona wanita di sekolahku. Dia juga rajin membantu orang tuanya menjaga toko oleh-oleh khas Bengkulu yang letaknya tak jauh dari toko kami. Siapa yang tak akan jatuh hati jika melihat Ramdan yang bertutur halus itu? Aku sungguh beruntung pernah menarik hatinya. Bahkan hingga sekarang, hatiku pun belum pernah menghapus bayangannya.
Kakiku terasa nyeri menahan tubuhku yang mulai gelisah. Berkali-kali aku merutuk diri, mengapa aku mau memakai piyama ini lagi. Bukankah dulu pernah terjadi karena piyama ini? Saat itu,  Dang Rusdi menyangkal salah peluk. Salah?! Cuih,... aku kesal mengatakan dia berpura-pura salah. Najis rasanya tubuhku pernah didekapnya. Bahkan napasnya yang memburu itu membuat perutku semakin teraduk-aduk.
"Lisa...." tangannya mulai menyingkap piyamaku.
“Cukup!” aku berontak dan berteriak. Tanganku gemetar, kutarik pisau kecil yang tersimpan di balik piyamaku. Napasku sesak menahan amarah. Tiba-tiba, klik. Lampu dapur menyala. Kulihat Inga Liyan berdiri dengan mata merah. Aku mengerut. Wajah Dang Rusdi langsung berubah pias. Pucat pasi.
“Sekarang Inga tahu kan, mengapa aku tak mau pakai piyama yang kembar?” suaraku serak. Sebuah pisau terlepas dari genggamanku.

Padang, September 2015
Catatan : Keterangan bahasa daerah Bengkulu :
Inga : Kakak perempuan tengah (nomer dua)
Odang : Kakak perempuan tertua
Dang : Panggilan kakak untuk laki-laki



*) Ketua Tapis Blogger, Mantan Ketua FLP Lampung

18 komentar:

  1. wahhh bagus nih cerpenya... mau dung aku bukunya ini?

    BalasHapus
  2. Mbak Naqyyy...cerpennya bagus banget. Meski kalah di lomba Femina tapi cerpen ini bagus bangeet. Selamat ya cerpennya dimuat di Koran Lampung Post

    BalasHapus
  3. Cerpennya keren, Mbak. Meski bukan twist ending, dan sudah bisa tertebak di tengah cerita bahwa terjadi sesuatu dengan antara tokoh dan kakak iparnya, tapi ceritanya bikin geregetan.

    Selamat ya, cerpennya dimuat. Moga aku bisa ngikutin jejak Mbak :)

    Aamiin

    BalasHapus
  4. mba...keren nih..buka dong kelas fiksi online buat blogger...pengen belajar

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah senang sekali Cerpennya dimuat, mba Naqi. Aku salut kalau ada yang bisa buat cerpen karena aku nggak bisa :(

    BalasHapus
  6. Sadis, Mbak... sederhana dan dalam.

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah selamat ya bunda, nggak ada tulisan yang sia-sia kan ya :hug:
    aku jadi rindu nyerpen :-D

    BalasHapus
  8. Selamat mbak cerpennya dimuat di Lampost.
    Bagus.

    BalasHapus
  9. Ya Allah, diriku keren banget Mbakj...produktif... #iriii beraat akuuu

    BalasHapus
  10. Selamat ya mba, cerpennya baguus. Duh pengin ngefiksi juga, tapi mampet ide, enak curcol aja di blog hihi :D

    BalasHapus
  11. Selamat ya, moga makin sukses

    Aku jadi pengen bobok kalo ingat judulnya

    BalasHapus
  12. Sukkaa cerpennya, mba Naqiyya....
    Aku kangen baca cerpen seperti ini.
    Jaman dl,
    Cerita pendek seperti ini dilombakan di majalah (wanita).


    Dan aku inget banget, suka nongkrongin lama-lama demi baca cerpen dengan konflik serta bahasa yang ngaliirr...


    Haturnuhun, mba.
    Bikin lagi yaa...mba.
    Aku nge*fans😘

    BalasHapus
  13. Kelas penulis tangguh? Free or berbayar mba? Mau ikut donk.. minta infonya ya mba

    BalasHapus
  14. Kece, Mbak Naqiy. Selamaaat yaaa :-)

    BalasHapus
  15. Aah,terus cemunguttt lah nulisss.keren,mb

    BalasHapus
  16. menegangkan! aku pikir bakal dibunuh :D

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^