Jumat, 17 Maret 2017

Serba-serbi Pendidikan Seksual Pada Anak Sejak Dini



Assalamualaikum sahabat Smart Mom, apakabar? Udah lama nih enggak ngobrol dengan Duo Ummi, maaf ya rada keteteran dengan jadwal hihi... jadilah aku baru setor tulisan duet ama Oci Ym. Rencana mau ganti jadwal nih enggak seminggu sekali, tapi dua minggu sekali. Nah, tulisan Oci Ym dapat dibaca di sini ya :  Sex Education Pada Anak

Saat mengantar bekal Faris beberapa hari yang lalu, Mas Faris  cerita, kalau baru saja mengikuti MRT (Menuju Remaja Tangguh).

Faris : “Ummi, tadi ada MRT di kelas.”
Ummi : “Diajarkan mandi wajib?”
Faris : “Iya,” mengangguk.
Ummi : “Faris sudah pernah mimpi?” tanyaku penasaran.
Faris : “Belum,”
Ummi : “Kalau Mamas mimpi, harus cerita ke Ummi atau Abi ya, nak.”
Faris :”Iya, tadi bu guru tanya-tanya,”
Ummi : “Tanya  apa saja?”
Faris :  “Tadi bu guru tanya, apa ada yang disukai. Mamas jawab ada, tapi sudah enggak lagi.”


Faris bersama teman-temannya. Faris yang paling kanan.


Itulah sebagaian dialog aku dan Faris. Mas Faris sekarang sudah 11 tahun. Sejak kelas 3 menjelang naik kelas 4, aku dan suami intens mempersiapkan bekal Faris menjelang akil baligh.

Kalau pendidikan seksual dasar sejak kecil kami sudah mengenalkan kepada anak-anak. Sejak masih dini mengenalkan kalau perempuan dan laki-laki berbeda auratnya. Faris dan Fatih tidak dibiarkan berlama-mandi mandi bersama, apalagi kalau mandi membuka aurat. 

Dua anak lelaki aku ajarkan bahwa aurat laki-laki batasnya begini-begini, aurat perempuan berbeda lagi. Saat aku menyusui Aisyah, aku juga meminta kedua anak laki-laki untuk tidak mendekat. Faris terutama, sudah usia 11 tahun. Kalau melihat di TV sekilas ada iklan, Fatih sudah tahu itu kelihatan aurat dan bilang, "Malu!"

Ya, aku membudayakan istilah malu pada kelihatan aurat. Kenapa? Rasa malu ini yang akan mengakar bahwa tak seharusnya aurat diperlihatkan. Malu pada Allah, malu pada orang tua, malu pada teman.

Faris bersama teman kelompoknya (Foto by Bu Laili)


Beberapa tahap yang aku ajarkan yaitu :

1. Mengenalkan Anggota Tubuh
Anggota tubuh perempuan dan laki-laki berbeda. Aurat juga berbeda. Mana yang boleh dilihat orang lain, orang terdekat dan mana yang tidak boleh.

2. Mengenalkan Orang Terdekat
Siapa saja yang boleh menyentuh aurat anak-anak untuk membantu mencebok atau memandikan. Kenalkan siapa saja muhrim (sepupu, om, tante dan lainnya) dan non muhrim. 

3. Kenalkan Sentuhan yang Pantas 
Beberapa sentuhan yang pantas adalah :
1. Sentuhan karena kasih sayang, seperti mengusap, membelai kepala, membedaki badan.

2. Sentuhan yang membingungkan : Sentuhan antara yang menunjukan kasih sayang dan nafsu. Misal, mula-mula mengelus kepala kemudian meraba bagaiann tubuh dari bahu ke lutut (yang tidak boleh dipegang oleh orang lain). 

3. Sentuhan jelek : Sentuhan seseorang meraba paha, dada atau bagian yang dekat dengan kemaluan.

4. Kenalkan Bagian Tubuh yang Boleh dan Tidak Boleh Disentuh
Yang boleh : Di atas bahu dan di bawah lutut

Yang Membingungkan : Dari bawah bahu sampai atas lutut

Yang Tidak Boleh : bagian yang tertutup oleh pakaian renang.


5. Ajarkan Anak Izin Masuk Kamar

Anak-anak biasakan meminta izin untuk masuk ke kamar orang tua, terutama waktu-waktu aurat banyak terbuka. Beri pengertian mengapa waktu-waktu itu orang tua perlu istirahat dan kuatir tersingkap auratnya. Waktu yang diajarkan anak meminta izin masuk itu seperti dalam Qs. An-Nur [24] : 58-59, yakni sebelum subuh, tengah hari dan setelah sholat isya.

6. Memisahkan Tempat Tidur

Ajarkan anak pisah tempat tidur, larang anak untuk satu selimut, walau sesama jenis. 

7. Komunikasi Terbuka

Ajak anak berbicara mengenai kejahatan yang sering terjadi saat ini. Ajarkan anak untuk menjaga diri sendiri kalau perlu berbohong untuk menghindari. Terus tanyakan keadaan anak setelah pulang sekolah, apakah ada kejadian yang tidak menyenangkan di sekolah? Bicarakan pada guru jika ada permasalahan. 



Faris usia 11 tahun

Nah, sebenarnya ya sahabat Smart Mom, dalam Islam, pendidikan seksual bersifat terpadu. Misalnya, membahas tentang akhlak, Islam mengajarkan konsep menghindari ikhtilat (pencampurbauran antara lawan jenis) dan konsep haya' (malu). Selain itu, Islam mewajibkan sholat bagi yang sudah baligh. Jadi konsep puberitas sangat penting dikenalkan pada anak menjelang baligh. Ini PR aku dengan suami saat ini. Bersyukur sekolah sangat mendukung dengan adanya kajian MRT setiap pekan. Faris jadi lebih matang dan tidak malu untuk berdiskusi mengenai perubahannya. Bagaimana pendidikan seksual sahabat Smart Mom dengan anak-anak? Share dong!


Buka puasa bersama di sekolah SDIT Permata Bunda 1

13 komentar:

  1. terimakasih sharingnya mak, ada bbrp tips yg perlu dicoba nih :-)

    BalasHapus
  2. wah..aku masih bingung bagaimana nanti menjelaskan ke Hamid... so sekarang dia masih 2 tahun..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dimulai aja Mbk, pelan-pelan sesuai tahap usia anak.

      Hapus
  3. Setem bun, kejahatan zaman sekarang. Amit amit kalo terjadi sama keluarga kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ikhtiar dan berdoa agar keluarga kita selamat ya

      Hapus
  4. Wah terima kasih sharingnya mba...buat bekal umar nanti..

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah. Terima kasih ummi. Banyak belajar. Insyaallah suatu saat menuliskan di www.ummi-aira.com

    BalasHapus
  6. Makasih sharenya mba Naqi...noted..anak2 msh ingin bobo ditemani uminya tp trpisah ranjang

    BalasHapus
  7. Terima kasih banyak infonya mba. Aku jadi gemas pengen share artikel ini untuk tanteku, dan mungkin buat aku kelak.

    BalasHapus
  8. Makasih sharing yg sarat infonya ini mbak. Bookmark buat bekalku nanti kalo dikasih amanah. Aaminn

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^