Kamis, 18 Januari 2018

Review Film Ayat-ayat Cinta 2 : Kepincut Super Fahri?

Emak-emak zaman now, kepincut Super Fahri? 
Assalamualaikum Sahabat Smart Mom,

Sudah lama nih nonton Film Ayat-ayat Cinta 2 tapi belum sempat juga nulis review filmnya. Diingatkan keponakan yang ingin banget membaca tulisan tantenya ini. Okelah aku akhirnya menulis juga,  ingatan yang tercatat di note hp hehe...

Sejak FLP Bandar Lampung ingin mengadakan Nonton Bareng (Nobar) Film AAC 2 ini,  aku sangat antusias . Apalagi film ini lanjutan dari AAC 1 yang sudah lama berlangsung. Iya dong, zaman AAC 1 aku masih punya anak 1 pas lanjutan AAC 2 aku sudah emak dari 3 anak. Gimana ya sosok Fahri di zaman now? Uhuk, baiklah fix ikutan nonton karena Fahri? Hahah...

Saat di group WA aku nanya, “Eh, yang nonton cuma aku ya emak-emaknya?” soanya dari 40-an peserta yang beli tiket Nobar, malu aja kalau emak-emak sendirian? Untungnya ada Lilih Muflihah menjadi teman nonton, syukurnya juga tempat duduk kami dekatan. Jadilah sepanjang nonton kami diskusi soal adegan di AAC 2. 


Film AAC 2 ini dibuka dengan adegan Aisha sedang di Palestina. Aisha menjadi relawan dan akhirnya kehilangan kontak. Nun jauh di sana, Fahri sedang sibuk sebagai dosen. Ia taat beribadah, bahkan saat  tiba waktu sholat, ia sholat di depan mahasiswanya. Usai sholat ia tetap mengajar. Nah, melihat Fahri sholat, beberapa mahasiswinya kesem-sem melihat Fahri yang ganteng itu. Tapi, ada mahasiswa yang tidak menyukai Fahri dengan mencari gara-gara. Ujung-ujungnya perdebatan soal agama. Saat lagi tegang, muncul argumen dari Perempuan berambut panjang. Gadis cantik ini mendukung argumen Fahri, hingga kelas menjadi hening kembali. Ternyata Gadis cantik berambut panjang itu bernama Hulya sepupunya Aisha. Ia sedang mempersiapkan kuliahnya di tempat Fahri bekerja.

Baca Juga : Film Duka Sedalam Cinta (DSC) : 5 Alasan Harus Nonton!


Pertemuan perdana Hulya dan Fahri

Pertemuan dengan Hulya berlanjut, bersama Hulusi sang asisten yang kocak, Fahri menjalani banyak hal. Dalam sehari Hulya melihat banyak perempuan menggoda Fahri dengan makanan kesukaan.  Fahri juga menyodorkan bantuan kepada Keira tetangganya yag sering merusak mobilnya. Keira menumpang mobil Fahri setelah melihat laki-laki yang akan mengejarnya. Fahri juga ringan tangan dengan tetangganya seperti Nenek Catarina dan Brenda. Hulya akhirnya kepincut dengan Super Fahri yang baik hati, tampan dan tajir ini. Eh, bukannya kalau sering ketemu malah rasa cinta muncul sendiri ya? Uhuk!


Demi cinta Aisha menjadi Sabina
Fahri yang tidak menyadari dengan perhatian Hulya, hatinya masih memikirkan Aisha istrinya yang menjadi relawan di Palestina tapi hilang kontak. Pernikahan mereka belum dikarunia buah hati. Dokter memvonis Aisha tidak bisa memberikan keturunan, sehingga mengobai hatinya yang sedih, Aisha mengikuti temannya menjadi relawan hingga ke Palestina. Di Palestina, Aisha mengalami siksaan amat pedih. Inilah penyebab Aisha tak berani menemui Fahri. Cintanya yang amat besar membuat Aisha tak ingin mengecewakan suaminya. Ia bahkan rela menyamar sebagai pembantu di rumah sendiri. Aisha memakai identitas palsu bernama Sabina. Berulang kali ia menolak bahkan mencenderai tangannya agar indentitas dirinya tidak terbongkar.

Fahri mengajak Hulya menjadi muslimah yang kaffah :)  (Sumber foto : Google)

Di sisi lain, Fahri galau segalau-galaunya. Ia belum menemukan Aisha tapi Hulya sudah memberi sinyal, “Yuk, kita nikah!” aduh, Fahri jadinya minta nasehat Misbah sahabatnya yang menumpang tinggal di rumahnya. Apalagi setelah Ayah Hulya datang dan menjodohkan mereka. Fahri akhirnya mau menerima Hulya dan membimbing Hulya menjadi muslimah yang kaffah. Episode ini so sweet deh. Tapi, acara nikahannya kurang mewah, lebih bergetar di AAC 1 hehe...

Keira yang sukses sebagai pemain biola akhirnya mengetahui siapa sosok penolongnya. Orang yang membayar dan mendatangkan guru les biola ke rumahnya. Keira datang hingga ia berlutut di depan Fahri untuk say, “Nikahi aku Fahri!” uaaaaaaaa... itu di depan Hulya yang lagi hamil gede. Tapi untung gak diterima Fahri ya? Hihi...


Baca Juga : Gempar Mas Gagah Membangkitkan Geliat Film Dakwah


Keira melamar Fahri :) (Sumber foto : Google)

Eh, jadinya gimana dong endingnya? Hulya dan Aisha bersanding bersama mendampingi Fahri? Eits, kok jaidnya face off? Nah, nonton dulu dong!

Usai nonton si Super Fahri ini, sebagai emak-emak zaman now aku punya catatan tersendiri :

1.   Sosok Fahri mengobati rasa rindu akan cocok seorang laki-laki muslim yang ideal. Murah hati, cerdas, taat ibadah dan pengusaha muda yang sukses. Selama ini sebagian remaja menonton film Korea dan mengelukan tokohnya. Di Drama Korea memang tokoh utama tak sempurna, ada sisi kekurangannya, sehingga tidak “malaikat banget.” Nah, Fahri ini tokoh yang diciptakan ideal sebagai identitasnya lelaki muslim.

2.   Fahri terlalu baik hingga menimbulkan fitnah? Betul, kebaikan dia bisa disalah artikan orang. Di sini kadang kita melihat, wiih jiwa malaikat banget emang ada orang kayak gitu? Aku pernah ikut bedah bukunya Kang Abik di Way Jepara, Lampung Timur. Saat itu ada yang bertanya, “Emang ada ya sosok tokoh seperti novel kang Abik? Kok ideal sekali?” Kang Abik saat itu mengatakan, bahwa tokoh itu terinspirasi dari kisah nyata. Memang ada sosok seperti itu dan ia ingin mengenalkan pada banyak orang, ada loh sosok muslim yang ideal. Tapi, tentu dalam 1000 bisa cuma 1 orang kali ya? Hehe...


Ikut nonton saksi cinta Fahri dan Aisha
3.   Sosok Fahri kok  poligami terus? Eh, hampir poligami ya? Haha... ini mungkin industri film ya. Namanya fiksi. Tapi kegigihan Fahri mencari info Aisha kurang tereksplor di film ini. Fahri juga tidak melihat keganjilan terhadap sosok Sabina. Aku sendiri menunggu-nunggu kapan nih Sabina main biola, sehingga Fahri mungkin akhirnya penasaran siapa pemain biola, mengintip dari jauh sosok bercadar itu. Lalu, mulai mengikuti gerak Sabina, bongkar CCTV hahah... ini ide di kepalaku menggantikan skenarionya. Kenapa wahai Fahri, kenapa tidak kau kejar Aisha hingga tetes darah terakhir? Huaaa... emak melow.... :'(

4.   Peran Hulya cakep banget. Sosoknya masih segar di layar kaca. Actingnya juga lumayan oke, tapi aku agak terganggu saat dia hamil. Itu perutnya kenapa kayak kotak? Bukan bulat ya? Lalu, ketika Fahri dilamar Keira, kok dia gak marah? Kenapa dia mengundang Keira ke rumah dengan membongkar kebaikan Fahri membiayai Keira? Kalau aku sih berpikir, biasa ajalah pengen kepastian. Toh di TV dia melihat wawancara Keira kalau ketemu sih penolongnya, ia akan minta dinikahi. Sebagai sosok istri Fahri, Hulya wajar ingin membuktikan. Dan dramatis banget akhirnya ya? Hehe...

5.   Aisha akhirnya ketahuan setelah selama ini menjadi Sabina. Bagaimana hati Fahri? Inilah bedanya dengan perempuan. Laki-laki bisa mencintai perempuan dua sekaligus, huhuhu.... tapi adegan face off emang bikin gregetan. Kok secepat itu? Kenapa tidak seperti Film Hospital Ship, setiap operasi bikin tegang dan kece banget itu detail adegan operasinya? Kutanya dengan keponakan yang dokter, “Emang bisa ya face off? katanya, bisa aja sih tapi di luar sana, tapi enggak juga kayak dicetak wajahnya, malah kayak topeng, padahal seharusnya kemungkinan lembek wkwkkw...

Foto cantik abis Nobar AAC2 dengan FLP Bandar Lampung
Nah, cukuplah 5 pendapatku sebagai emak zaman now menonton Super Fahri ini ya. Aku kepincut dengan setting fillmnya di  Edinburg Skotlandia  yang aduhai indahnya, kapan aku bisa ke sana? Aku juga terpesona dengan acting Dewi Sandra totalitas sebagai Aisha dan Sabina. Terutama adegan di penjara Israel. Ya Allah, kalau aku yang mengalaminya belum tentu berani bertemu suami lagi, huhu...hancur minah, Mak! Sebagai penutup, aku masih berharapada AAC 3 di masa akan datang, kelak anak-anakku bisa nonton lebih banyak Super Fahri yang lain. Sosok lelaki seperti Rasulullah Saw, dari sisi positif film ini banyak sekali. Bangga dengan Kang Abik atau lengkapnya Habiburrahman El Shirazy yang pernah jadi pendiri dan Ketua FLP Mesir ini. Novelnya sudah difilmkan. Teringat zaman Pra Munas FLP, Kang Abik masih membawa calon naskahnya dan baru pulang ke Indonesia. Kang Abik membuat kami bangga, teruslah menciptakan sosok yang menjadi panutan anak-anak kami.
Bersama Kang Abik yang menciptakan tokoh fiksi bernama Fahri


So, Sahabat Smart Mom, apakah kepincut dengan Super Fahri juga? Share dong! 


25 komentar:

  1. Daan, sampai sekarang aku belum nonton Ayat Ayat Cinta 2. Smoga ntar bisa nonton ah. Tapi kayaknya nggak kepicut ama Fahri deh. Mba, di film ini Fahri agak minim senyum ya. Kayak terlalus erius seperti biasanya Fedil Nuril main film ?

    BalasHapus
  2. Apa aku saja yang belum nonton film AAC2, hihi cuma baca riview dari blog, huhu.

    BalasHapus
  3. Mbak Naqiyyah Keren tulisannya,,, jadi pengen bisa nulis kayak mbak naqi nih,,, bagi tipsnya dong...

    sudah baca review tentang film ayat ayat cinta 2 tapi baca tulisan mbak naqi ga bosen bacanya,, sampe berulang saya baca untuk mendapatkan ritme tulisannya,, untuk belajar nulisnya hehehe...

    keren juga sosok fahri di film aac2, jadi idaman tapi menurut saya sosok hulya dan keira juga keren, karena pas saya tunjukin tulisan ini ke istri pas pada poin pembahasan hulya dan keira. istri langsung memandang saya dengan tatapan sinsi... hehehe

    BalasHapus
  4. Sudah beberapa lihat review film aac2 ini,jadi berasa sudah ikutan nonton langsung.tapi baca review mba Naqiy dengan cuplikan dialoqnya makin berasa ikutan menghayati perasaan pemerannya

    BalasHapus
  5. Semoga ada AAC3 ya mbak. aamiin
    Seperti yang kutulis di review AAC2 di blogku : Aku pun percaya kalau di dunia ini ada sosok seperti Fahri.

    BalasHapus
  6. Aku belum nonton bun, ya Allah gemes banget og hahahah Fahri idaman banget

    BalasHapus
  7. Aku juga belum pernah nonton AAC2. Parah? Nggak juga. Dengan baca review teman-teman di blog, kurasa cukup. Meski nggak nolak kalo ada yang ngajak nonton hehe.

    Sosok Fahri kayak impossible deh. By the way ... Film ini juga berkisah tentang poligami ya? Rrrr ...

    BalasHapus
  8. Wah saya jadi rindu ke bioskop, semenjak punya bayi ga pernah nonton di bioskop. Baca review mba naqi malah jadi kepo sm filmnya

    BalasHapus
  9. Saya paling suka foto yang bersama itu mbak... ternyata terselip seorang pemuda di situ. :). Btw, Reviewnya complit loh mbak.

    BalasHapus
  10. Sungguh aku makin penasaran karena aku belum nontoh hihi. Mbak naqy emak jaman now banget siih nulisnya :)

    BalasHapus
  11. Kepincut, haha

    Sama deh mba kaya saya, pengennya buru2 ketauan kalau Sabina itu ya Aisha. Tapi tetep ya jadinya happy ending.

    BalasHapus
  12. Saya ngilu pas di bagian Sabina disiksa itu mbak :( ga tega banget... Nah iya. Kalau wajah diangkat lembek ya. Hahaha... Mbaaak.. jangan diskusi sambil nonton. Diskusinya kalau udah kelar aja :D

    BalasHapus
  13. jarang nonton bioskop saya, nunggu ada di Tv :D

    BalasHapus
  14. Apa cuma aku aja yang mupeng tiap liat temen posting review AAC2? Di kota tepat aku tinggal sekarang, ga ada bioskop dong -,-

    BalasHapus
  15. Waawaa...baru tahu kisah AAC dari perspektif mba Naqiyyah...
    Sukka sekali.
    Komentarnya ga negatif semua.

    Harusnya kita selalu ambil sisi positif dari setiap apa yang kita tonton yaa, mba...
    Jangan hanya bisa mengkritisi...wwkkwkw...tapi memang itulah kehidupan.

    Syukron mba...

    BalasHapus
  16. Di film AAC 1, katanya sosok fahri di dunia nyata sebenarnya adalah kang abik itu sendiri.. Hm..

    BalasHapus
  17. Berhubung yang disuguhkan kepada kita tontonan yang kurang mendidik, jadi ketika ada sosok seperti fahri kita segera berujar. Apa masih ada orang seperti Fahri?

    Saya termasuk orang yang yakin orang seperti Fahri ada dalam kehidupan nyata.

    Semoga ke depan, suguhan film yang positif dan membangun karakter generasi ini semakin banyak di kemudian hari.

    Terima Kasih Mbak Reviewnya.

    BalasHapus
  18. aku suka novelnya...asli.. tapi buat nonton filmnya kok malah nggak kepingin ya baik yang aac 1 atau aac 2

    BalasHapus
  19. Aku belum nonton, hiks. Belum punya waktu untuk nonton AAC2 >.<

    BalasHapus
  20. hehehe, aku belum nonton selalu saja ada kendala tapi bagus banget mbak naqi atas ulasannya btw karena kepincut udah berapa bolak balik ke bioskop buat nonton AAC

    BalasHapus
  21. Aku belum nonton film ini krn belum sempet (sok sibuk banget haha). Tpi klo baca review filmnya udah beberapa kali

    BalasHapus
  22. Nonton Fahri di jaman now gini kek too good to be true ya h mb.. Tapi semoga ada dan tambah banyak deh orang2 ke gini..

    BalasHapus
  23. Wah sosok seorang Fahri memang idaman banget ya mbak Naqiy..
    Alhamdulillah saya sudah nonton filmnya 4 Januari lalu. Dan mencoba menulis reviewnya diblog saya yang masih ala-ala. Hehe..
    Salam kenal mbak Naqiy...

    BalasHapus
  24. Aku belum sempet nonton. Ebooknya ada tapi belum sempet dibaca :). Tapi baca reviewnya justru buat saya semakin menggebu ingin segera menuntaskan niat yang tertunda untuk menelusuri sosok Fachri di AAC2.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^