Senin, 06 Februari 2012

Liburan Ke Bengkulu (2)

Bengkulu Kota Sejarah

Terkadang masih banyak teman-teman dari Pulau Jawa menanyakan, “Bengkulu itu di mana?” kesal juga lho! Padahal jelas-jelas Provinsi Bengkulu ada di peta! Bengkulu memang tak seramai seperti provinsi di Sumatera lainnya, apalagi bukan perlintasan. Namun uniknya Bengkulu memiliki tempat penuh sejarah di dalam kota! Jika ingin wisata ke Bengkulu, cukup di kota saja kita akan mendapatkan bukti sejarah itu.

Bengkulu adalah salah satu tempat pembuangan Presiden RI yang pertama, Soekarno di tahun 1938-1942. Soekarno juga menikahi Fatmawati yang asli Bengkulu. Sampai kini rumah kediaman Bung Karno menjadi salah satu objek wisata. Di sana kita bisa melihat bukti sejarah. Ada sepeda yang digunakan Bung Karno, buku-buku, baju yang digunakan, meja dan kursi tempat rapat, juga tempat tidur keluarga Bung Karno. Tiket masuknya cuma Rp. 2500/orang lho!

Masih di dalam kota, kita dapat penggunjungi Benteng Marlborough yang didirikan oleh masa penjajahan Inggris, East Indian Company (EIC) pada tahun 1713-1719 di bawah pimpinan Gubernur Joseph Callet. Tiket masuk benteng ini cukup murah, yakni Rp. 2500/orang. Ketika kami masuk ada shoting drama anak-anak yang diselenggarakan TVRI pusat yang berjudul Rafflesia Untuk Merah Putih. Seru juga melihat mereka shoting apalagi ada yang berbahasa Belanda! Dari atas benteng akan terlihat indah wisata Tapak Padri. Di benteng ini juga ditemukan 3 kuburan orang Inggris, ruang tahanan, dan dokumen zaman dahulu.

Tak jauh dari Benteng, ada perkampungan orang cina di Bengkulu. Nama daerah ini Kampung. Lengkapnya Kampung Cina. Dulu tempat ini cukup ramai karena menjadi salah satu pusat perdagangan, tapi setelah pemindahan pusat perdagangan, Kampung Cina menjadi sepi, hanya malam pedagang berjualan di tenda Baru Koto. Sayang pas malam kami ke sana mencari tekwan langganan keluarga, pedagangnya tutup akhirnya aku bersama keluarga mencari tempat lain.

Pantai Panjang

Bengkulu memiliki pantai yang indah, namanya Pantai Panjang. Berbeda dengan pantai di daerah lainnya yang kebanyakan di kelilingi oleh pohon kelapa, Pantai Panjang di kelilingi pohon cemara laut yang dilindungi. Pantai yang panjangnya 70 KM ini memiliki pasir putih yang lembut dan jaraknya hanya 4 KM dari pusat kota. Nah, selama aku di Bengkulu, tercatat sudah 4 kali ke Pantai Panjang! Kebetulan keluargaku dari Jambi juga liburan di Bengkulu. Jadi ramai sekali, para keponakan mandi, Faris bermain istana pasir dan aku berfoto ria hehehe. Pulang dari Pantai kami membeli udang goreng dan cumi goreng yang di jual pinggiran pantai. Sedap!

Suprapto

Jalan-jalan ke Bengkulu tak lengkap jika belum ke pusat belanja di Suprapto. Bengkulu sekarang sudah cukup ramai dibandingkan 5 tahun lalu. Zaman aku kuliah belum ada mall! Sekarang sudah ada Mega Mall yang diambil dari nama Presiden kita dulu, Bu Megawati Soekarno Putri. Cukup ramai karena sudah ada Gramedia dan Bioskop 21. Jadi Bengkulu sudah cukup maju dong, tak lagi terkenal dengan semboyan, “ikan sejerek, nasi secupak, madar!” Tak jauh dari Suprapto terdapat Masjid Jamik. Masjid ini hasil rancangan Bung Karno.

Oleh-oleh

Puas jalan-jalan, menjelang pulang kami mencari oleh-oleh khas Bengkulu. Tak susah, karena di kawasan Penurunan ada beberapa toko yang menyiapkan lengkap khas Bengkulu. Apalagi baru-baru ini Bengkulu menjadi tuan rumah MTQ, pasti banyak yang datang mencari oleh-oleh khas Bengkulu, seperti batik besurek khas Bengkulu, pernah-pernik dari kayu lantung, miniatur Bunga Rafflesia dan kue-kue lainnya. Kebetulan aku memilih dompet saja yang terbuat dari kayu lantung.

Esoknya aku berangkat lagi ke Bandar Lampung dengan travel yang sama, walau sedikit ada hambatan karena travel kami ditabrak mobil L300, Alhamdulillah kami semua selamat dan akhirnya tiba lagi di Bandar Lampung. Ah, Bengkulu selalu membuatku rindu!

Bengkulu-Lampung, 2010-2012:)

Liburan ke Bengkulu (1)

Oleh Naqiyyah Syam

Ketika liburan tiba (bulan Juni-Juli 2010) dan mengantongi izin suami untuk mudik, emm senangnya! Langsung saja siap-siap barang bawaan dari baju, makanan, sampai bantal kesayangan Faris. Membagi pakaian yang harus di luar untuk Faris sebagai cadanganan, sambil menulis mau ke mana saja ya selama di Bengkulu? Yap! Beberapa rencana sudah dirancang! Asik! Kangen banget makan pendap, kue tat, tempoyak, lempuk, dan makanan khas Bengkulu lainya! Oh, Bengkulu aku pulang!

Dari Bandar Lampung aku dan Faris berangkat pukul 13.30 Wib naik travel Rejang Permata, travel yang cukup murah, dapat diskon lagi. Untuk kami berdua cuma bayar 330 ribu, normalnya sih satu penumpang 185 ribu. Sengaja memilih beli 2 bangku agar Faris tidur dengan tenang. Bismillah kami berangkat! Yap! Kami berangkat cuma berdua saja karena suami berkerja.

Sampai di Bengkulu pukul 06.00 Wib, termasuk agak telat sih, seharusnya jam 4-an subuh sudah masuk, maklum jalan ke Bengkulu penuh dengan belokan dan lubang, mungkin supir cukup hati-hati. Akhirnya aku sampai ke Bengkulu euy! Senangnya! Kumpul keluarga dan saudara lainnya.

Langsung jalan-jalan

Istirahat sebentar, aku bersama Faris dan keponakanku langsung jalan-jalan. Tak sabar menghirup udara Bengkulu lebih banyak hehehe. Bersama motor kakak, aku, Faris dan keponakanku, Ara melaju ke arah Perumnas Lingkar Timur. Karena kangen pempek panggang di Taman Remaja, kami langsung ke sana.

Di Taman remaja, selain banyak pohon karet dan beberapa kursi taman, di sini juga ada Taman Satwa Bengkulu. Tiket masuknya sangat murah, yakni Rp. 500 untuk ada kecil dan Rp. 1000/ orang untuk dewasa. Kami pun masuk setelah membeli kacang dan minuman di warung dekat pintu masuk. Wah, Faris dan Ara sangat antusias memberi makan si kera dan melihat 3 ekor buaya!

Sorenya kami ke Danau Dendam Tak Sudah. Jaraknya sangat dekat dari rumahku. Tanpa tiket masuk! Kami cukup berjalan kaki saja. Danau ini sedikit asing namanya, orang akan lebih familiar dengan Danau Toba di Sumatera Utara atau Danau Ranau di Lampung dibanding danau ini. Tapi jangan salah, danau ini tak kalah indah dari danau lainnya. Banyak wisatawan domestik dan turis datang lho. Apalagi jaraknya cukup dekat dengan pusat kota, sekitar 6 KM.

Danau seluas 37,50 hektare ini memiliki keunikan! Di pinggirnya tumbuh anggrek cantik, yakni Anggrek Pensil (vanda hookeriana). Ketika aku kecil, sering banget beli anggrek dengan nelayan ikan di sini. Sayang, ketika kami datang anggrek tidak mekar. Danau Dendam Tak Sudah ini banyak sekali kisah sejarahnya, ada yang mengatakan kisah asmara dua sejoli yang tak restui orang tua, sehingga bunuh diri di danau ini, tapi ada juga kisah sejarah lainnya. Di zaman Belanda, danau ini adalah Dam. Tapi karena Dam-nya tidak selesai-selesai, masyarakat menyebutnya Dam Tak Sudah yang sekarang dikenal dengan Danau Dendam Tak Sudah. Kini Danau Dendam Tak Sudah mulai ramai, banyak pondok-pondok yang menyiapkan makanan dan minuman. Kami pun memesan jagung bakar dan minuman. Seruuu!

Hari kedua jalan-jalan kami jalan-jalan ke Meseum Bengkulu. Yap! Ini kedua kalinya aku masuk ke Meseum. Tiketnya Rp. 1500/orang. Sepertinya kami pengunjung pertama deh! Karena datang cukup pagi dan lantai bawah belum di aktifkan. Ya sudah kami berjalan-jalan di lantai atas saja. Kami datang berempat dengan motor, aku, Faris, Ara keponakanku dan Kiki saudara dari iparku.

Mereka sangat antusias melihat miniatur rumah adat Bengkulu, patung berpakain pengantin Bengkulu dan beberapa senjata khas Bengkulu. Di lantai bawah tidak semua terlihat, hanya terlihat kamar adat pengantin, tata cara aqikahan adat Bengkulu dan boneka besar berpakaian adat Bengkulu. Sempat kaget juga pas di tangga ada ular besar yang sudah dikeringkan. Aku yang phobia dengan ular sempat keringatan melewatinya, hehehe