Senin, 06 September 2010

Ibu dan Batik Besurek Rahayu


Ibu Cugung! Begitulah orang-orang di sekitar rumahku di Desa Dusun Besar Bengkulu memanggil ibuku. Yap! Panggilan cugung yang artinya tinggi. Panggilan ini bermula ketika kami tinggal disebuah perumahan Dinas Perindustrian di daerah yang cukup tinggi. Agak menanjak dan berbeda dengan rumah di sekitarnya. Di kawasan wisata Danau Dendam Tak Sudah.

Awalnya ayah yang ingin mengembangkan batik besurek khas Bengkulu, karena ayah bekerja di kantor peridustrian. Batik Besurek artinya batik bertulisan, besurek juga dapat diartikan huruf kaligrafi. Kain ini dapat digunakan untuk upacara adat, pernikahan, kematian dan pakaian sehari-hari. Motif batik besurek ini beraneka ragam, ada kaligrafi yang dapat dibaca dengan jelas, ada juga cuma huruf arab gundul, tapi ada juga tanpa makna seperti gambar bunga rafflesia burung kuau, relung paku dan lainnya.

Ibuku yang tidak sekolah tinggi karena benturan biaya di kala kecilnya, ternyata memiliki semangat belajar yang cukup tinggi menekuni bidang ini. Aku juga salut dengan ayah yang mendorong ibu belajar apa saja yang penuh kreativitas. Singkat cerita, Ibu dan ayah berangkat ke Jogya melihat langsung pembuatan batik tulis. Ibu belajar langsung cara pembuatannya. Ibu juga mencari refrensi dari beberapa motif kuno kain khas Bengkulu. Membeli bahan yang diperlukan seperti canting, kompor, lilin malam, dasar (kain), dan lainnya. Maka, mulailah ibu membuka home industri yang diberi nama Sanggar Batik Besurek Rahayu yang diambil dari namaku.

Dulu, aku sering sekali protes kenapa sih namaku harus nama Jawa? Apalagi nama Sri Rahayu, ihh, males banget deh dipanggil Sri, hehehe.. secara aku lahir di Jambi dan dibesarkan di Bengkulu.

“Nama Sri Rahayu itu melengketkan nama kenangan ibu dan ayah jalan-jalan ke Yogya lho!” kata Ibu. Kabarnya sih nama Rahayu adalah nama Bioskop di Yogya, jadi biar lengket kisah romantis ayah dan ibu, maka namaku diberi nama RahayuJ

“Tapi nggak mau dipanggil Sri!” ujarku!

Ibu selalu tertawa jika aku menolak dipanggil Sri. Dan memang ibu sangat jarang memanggilku Sri, kecuali jika aku malas bangun subuh hehehe pasti diteriaki deh!

“Sriii….. bangun!” maka aku langsung buru-buru bangun dengan tampang cemberut! Hahaha...

Balik cerita soal sanggar tadi.

Beberapa pekerja dari tetangga ikut serta dengan bisnis ini. Apalagi ibu juga menjadi salah satu pengiat tim PKK di kala itu. Hampir sebagian di desa kami kala itu, para ibu-ibu dan remaja putri terlibat membuat Batik Besurek ini. Mereka menggambil upahan dan bekerja di rumah mereka.

Kami sekeluarga juga mendapat tugas, aku yang masih SD saat itu hanya mendapat tugas membuat motif. Menjiplak motif kain yang akan dibuat di sebuah kain putih. Setelah bermotif, kain akan di batik dan dicelup. Kakak yang lain juga memiliki tugas masing-masing. Ada yang membatik, mencelup dan ada juga yang melorot (menghilangkan sisa lilin malam.

Ibuku terus memodifikasi beberapa motif, hingga kain Batik Besurek buatan ibu cukup di kenal di Bengkulu di masanya, bahkan beberapa turis asing dari Amerika, Australia magang di rumah kami untuk belajar membuat batik. Ibu juga menerima pesanan untuk seragam kantor dan penutup jenazah.

Aku ingat sekali ketika ibu mendapat pesanan kain penutup jenazah ini, ibu sangat hati-hati. Ibu selalu berwudhu ketika membuat motif dan membatiknya. Usaha ibu berkembang pesat, pesanan berdatangan. Bahkan buka cabang di Bengkulu Utara. Ibu juga mendapat undangan melatih anak-anak SLB dan sekolah-sekolah. Batik Besurek kian dikenal, tapi ibu selalu berbagi ilmunya. Siapapun yang datang dan ingin belajar, ibu tak pernah mengeluh. Beliau akan selalu membantu.

Tahun 1991 ayahku meninggal di Bengkulu Utara. Ibulah yang menjadi penopang perekonomian kami sekeluarga. Apalagi saat itu ketiga kakakku kuliah dalam waktu berbarengan. Siang-malam ibu selalu membatik dan menerima pesanan. Sampai akhirnya di awal tahun 1998 krisis moneter melanda, termasuk usaha Batik Besurek kami harus perlahan gulung tikar. Harga bahan baku terus melambung dan orang-orang sudah beralih ke Batik Printing.

Kebetulan usaha Batik Printing ini di pegang oleh ibu-ibu pejabat di kala itu. Maka dengan pertimbangan yang cukup sulit, usaha ini ditutup. Walau, tahun itu juga, aku baru saja masuk kuliah.

“Yuk, kita jual rumah warisan ibu di Muara Dua saja ya buat biaya masuk kuliah,” kata ibu. Aku ikut merasakan kesedihan ibu yang berkorban besar untuk kuliahku.

Beruntung Wodang, kakak pertamaku memiliki bakat yang sama dengan ibu. Wodanglah pengiat batik selanjutnya, tapi karena Wodang tinggal di Jambi, maka Wodang mengiat batik khas Jambi. Tapi paling tidak ilmu yang ibu dapat diteruskan oleh kakakku. Kini Wodang sering menjadi trainer pelatihan membuat batik khas Jambi. Wodang juga membiayai kuliahku hingga selesai.

Ibu, suatu hari kelak, aku akan membangkitkan lagi Sanggar Batik Besurek Rahayu! Insya Allah!

Lampung Timur, 26 Juli 2010

5 komentar:

  1. baru dengar utk pertama kalinya soal batik besurek..:) awalnya aku pikir batik hanya brasal dari jawa.
    subhanallah, ibu yg luar biasa, wiraswasta sejati..

    jd nama naqiyyah bukan nama asli ya mbak...

    aku jg ikutan kompetisi ini, jgn lupa mampir ke blogku ya mbak, thanks :)

    BalasHapus
  2. zasachi : terima kasih sudah berkunjung. Iya, ini khas batik Bengkulu:) Betul banget,Naqiyyah nama penaku:) salam kenal ya! Ntar, aku berkunjung ke blogmu juga:)

    BalasHapus
  3. Mbak, ternyata ibu2 kita selalu menjadi sosok yang hebat ya, paling nggak di mata anak2nya.. Boleh dong mbak naqi, blog ku diintip

    BalasHapus
  4. Keren Mbak Naqi... jadi ingat ibuku...

    BalasHapus
  5. Bunda Nid: iya, ibuku seorang yang hebat juga ibu yang lainnya


    Cicik: betul, kangen ibu

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...