Jumat, 22 April 2011

Contoh Dongeng : Air untuk Negeri Angin

Air untuk Negeri Angin

Sudah hampir 5 tahun tidak turun hujan di Negeri Angin. Tumbuhan banyak yang mati kekeringan, hewan ternak pun semakin kurus karena kekurangan makanan dan minuman. Air sangat sulit didapat, kalaupun ada hanya sedikit dan tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Negeri Angin.

Kerap kali Bunga, adik kecil Bayu yang baru berumur 3 tahun, menangis karena kehausan. Ketika air matanya yang asin menetes masuk ke dalam mulutnya tangisannya mulai berhenti. Bayu tidak tega melihat keadaan ini, maklum saja, Raja Negeri Angin menjatahkan jumlah pemakaian air minum sesuai dengan jumlah masing-masing anggota keluarga agar persediaan air yang tersisa tidak cepat habis.

Bayu merebahkan tubuhnya di atas tanah sambil memandang ke langit. Langit begitu cerah dan tak tampak tanda-tanda mendung akan turun hujan, berlawanan sekali dengan perasaan penduduk Negeri Angin yang selalu mendung mengharapkan hujan turun.

“Ya Tuhan, sampai kapan keadaan seperti ini akan berakhir?” tanya Bayu dalam hati. Tapi kemudian Bayu ingat sebuah hal yang selalu ayahnya katakan padanya,Tuhan tidak akan memberikan ujian yang kita tidak sanggup untuk memikulnya.


Sejenak kemudian Bayu berpikir. “Laut! Ya, laut! Air laut sangat banyak tapi mengapa air laut tak dapat diminum? Apa karena rasanya yang asin? Seandainya air laut tidak asin dan dapat diminum tentu seluruh penduduk Negeri Angin tidak akan kehausan.” Berbagai macam pertanyaan muncul dari otak cerdas Bayu. Ya, Bayu adalah seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang cerdas. Bayu selalu bertanya tentang banyak hal yang baru dilihatnya kepada kedua orang tuanya. Namun sayang ia tak bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah karena orang tuanya hanyalah rakyat jelata yang miskin. Hanya anak-anak para raja dan bangsawan saja yang dapat bersekolah.

* * *


Hari itu alun-alun kota ramai dipadati penduduk yang melihat pengumuman dari sang Raja. Sang Raja mengadakan sayembara :
Barang siapa yang dapat menemukan sumber air yang dapat diminum akan mendapatkan hadiah 100 keping emas dari sang Raja.

Penduduk Negeri Angin kasak kusuk membicarakan sayembara itu, ada yang berniat ikut, ada pula yang sudah pasrah dengan nasib mereka selanjutnya. Bayu ingin ikut sayembara itu, bukan karena ia menginginkan hadiahnya tapi karena ia sadar air adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh seluruh penduduk sekarang ini.

Bayu terus berpikir bagaimana caranya agar air laut tidak asin dan dapat diminum sambil terus berjalan menuju pantai. Setibanya di pantai ia duduk di atas pasir sambil menatap ke lautan. Tiba-tiba Bayu teringat dengan proses pembuatan garam, ia sering membantu ayahnya membuat garam dari air laut.


“Ya, garam! Itulah yang membuat air laut menjadi asin.” Seru Bayu. Ayah Bayu pernah mengatakan padanya kalau garam bisa dipisahkan dari air laut dengan cara membiarkan air laut yang telah di tuang ke dalam tambak terkena panas matahari sampai airnya menguap dan tinggallah garamnya.

“Kalau begitu uap air yang dihasilkan tidak asin lagi. Aku harus menahan air yang menguap itu agar tidak terbang ke langit!” Seru Bayu sambil berlari ke rumahnya hendak mengambil sebuah baskom dan selembar plastik bening yang cukup lebar. Plastik ini sering digunakan ayahnya untuk membungkus garam-garam yang akan dijual.

Bayu segera kembali ke pantai, menuangkan air laut ke dalam baskom kemudian menutupnya dengan plastik. Bayu membiarkannya terkena panas matahari sampai tersisa garamnya. Bayu menunggu di tengah teriknya panas matahari. Tapi tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan plastik penutup baskom.

“Waa.. plastiknya terbang!” seru bayu Bayu sambil berlari mengejar plastik itu, Bayu jatuh bangun menangkap plastik itu, celananya sampai kedodoran! Hihi. Akhirnya plastik itu berhasil Bayu tangkap.

“Sebaiknya aku ikat saja deh plastik ini agar tidak terbang lagi.” Ujar Bayu sambil mengikat plastik itu di baskom dengan tali.


Bosan menunggu Bayu melihat sekeliling, ia melihat sebuah batu yang berukuran bulat seperti bola bekel.

“Bagus sekali bentuknya, bulat seperti bola!” Bayu memainkannya, menggelindingkan, dan melempar-lempar kecil batu itu. Tak sengaja batu itu jatuh di atas penutup plastik baskom, berputar dan berhenti ditengah, sehingga bagian tengahnya jadi cekung.

Bayu melihat batu itu, batu itu membuat air yang ada di bagian pinggir plastik penutup baskom mengalir ke tengah dan menetes. Tes..tes..tes.. tapi tidak ada wadah yang menampung air yang menetes itu. Biasanya kalau rumahnya bocor Ibu menyuruhnya mengambil baskom atau ember untuk menampung tetesan airnya. Itulah yang harus dilakukan Bayu. Bayu berlari lagi ke rumahnya dan mengambil baskom yang lebih kecil. Karena di rumahnya tidak ada baskom yang lebih kecil, maka ia menggantinya dengan mangkuk beling.

Bayu meletakkan mangkuk di dalam baskom yang telah terisi air laut, menutupnya dengan plastik dan mengikatnya. tak lupa Bayu meletakkan sebuah batu diatasnya. Bayu menunggu lagi. Kali ini dengan harapan yang begitu besar. Akhirnya lama kelamaan air di dalam baskom habis dan tersisa garamnya saja, sedangkan di dalam mangkuk terisi penuh oleh air laut yang tidak asin lagi. Bayu mencicipi air yang berada di dalam mangkuk.


“Hmm.. tidak asin! Horee.. aku berhasil!” Bayu berteriak kegirangan. Dengan hati yang gembira tidak terkira, Bayu membawa air tersebut ke rumahnya.

“Ayah, Ibu, Bunga... Ini adalah air laut yang tidak asin, kalian dapat meminumnya.” Seru Bayu seraya menuangkannya ke dalam gelas dan memberikannya kepada ayah, ibu, dan Bunga. Dengan raut wajah yang ragu-ragu mereka semua meminumnya.

“Airnya tidak asin, Kak..” seru Bunga dengan wajah gembira.

Ayah dan Ibu sangat bangga pada Bayu, mereka memeluk Bayu penuh haru.

* * *


Bayu membawa sebagian air itu ke istana dan memberikannya pada sang Raja. Sang Raja meminumnya.

“Darimana kau peroleh air ini, Nak?” tanya sang Raja.

“Hamba memperolehnya dari laut, Baginda.” Jawab Bayu.

Sang Raja tak percaya, kemudian Bayu menjelaskan bagaimana ia memperoleh air itu. Sang Raja memerintahkan seluruh rakyat agar bahu membahu merangkai benda-benda yang diperlukan untuk mengubah air laut menjadi air tawar seperti apa yang Bayu katakan.

“Nah, Bayu , kau berhak mengambil hadiahmu” ujar sang Raja.

“Terima kasih, Baginda, tapi maaf, saya tidak menginginkan hadiah itu, bolehkah saya meminta hadiah lain?” tanya Bayu.

“Baiklah, kalau aku bisa berikan itu pasti akan kuberikan padamu. Apa itu, Nak?” tanya Raja.

“Hamba ingin sekolah, Baginda, hamba juga ingin agar semua anak-anak seperti hamba dapat sekolah. Hamba ingin tahu lebih banyak hal-hal lain yang belum hamba ketahui.” Pinta Bayu.

“Hmm.. baiklah, akan kupenuhi permintaanmu. Ternyata selama ini peraturan itu tidak adil, anak cerdas sepertimu telah kusia-siakan. Sekarang semua anak di negeri ini boleh bersekolah, tak pandang bulu apakah dia anak raja, bangsawan, maupun rakyat jelata. Terima kasih Bayu, kau telah menyadarkanku.” Ujar Raja.

Akhirnya sekarang Bayu bisa bersekolah begitu pula anak-anak yang lainnya. Beberapa tahun kemudian setelah cukup menempuh pendidikan di Negeri Angin, Bayu pergi ke Negeri Seberang untuk memperluas pengetahuannya. Setelah itu ia kembali ke Negeri Angin dan mengembangkan teknologi untuk mengubah air laut menjadi air tawar yang kita kenal sebagai ‘destilasi air laut’. Kini hujan telah turun di Negeri Angin. Bila kemudian musim kemarau datang, Negeri Angin tidak akan kekurangan air minum lagi.

T A M A T

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...