Entri yang Diunggulkan

Meraih Mimpi di #UsiaCantik

Senin, 16 April 2012

Tips Menulis Novel Duet

oleh Leyla Imtichanah


Menulis novel dengan jumlah halaman minimal 150 halaman, bagi seorang penulis pemula yang belum punya “napas” panjang, memang terasa berat. Solusinya adalah menulis novel duet. Lho, bagaimana yah caranya? Apa bisa satu novel ditulis berdua? Bagaimana kalau gak nyambung antara penulis yang satu dengan lainnya?

Pengalaman saya menulis novel duet, saat ini baru pada novel “Pilihlah Aku Jadi Istrimu.” Untuk sekarang, novel ini masih dijual indie. Jadi, selain ini novel duet pertama, juga menjadi novel pertama yang diterbitkan indie. Salah satu alasan mengapa novel ini diterbitkan indie, karena tokoh-tokohnya adalah ikhwan-akhwat aktivis pengajian. Jadi, novel ini termasuk “khusus.”

Novel ini ditulis bersama Dhinny El Fazila, seorang mantan anggota FLP Depok. Dulu saya dan Dini bergelut di FLP Depok. Hubungan cukup dekat, sampai sering curhat dan nginap bareng. Misi saya dulu adalah mengangkat penulis pemula, salah satunya dengan novel duet. Itu salah satu cara untuk memotivasi mereka agar terus menulis. Sayangnya, novel ini masih menjadi novel pertama Dini.

Bagaimana cara menulisnya? Secara garis besar, saya yang mengendalikan isi novel. Dini hanya mengikuti intruksi. Di dalam novel ini ada lima tokoh utama: Rama, Jihan, Mayla, Ayna, dan Safiyya. Kisahnya bercerita tentang seorang “ikhwan” yang mengkhitbah empat orang “akhwat” sekaligus. Pada akhirnya, si ikhwan ini bingung karena ketiga akhwat tersebut menyambut baik pinangannya, kecuali Jihan. Padahal, Rama justru lebih condong kepada Jihan dan setia menunggu jawaban dari Jihan.

Kelima tokoh itu punya karakter yang berbeda-beda. Rama, ikhwan “playboy” yang romantis dan puitis. Pintar mengumbar kata-kata gombal. Penggarapannya jatuh pada saya. Saya juga menggarap tokoh Mayla, yang keras dan kuat, dan Jihan yang lembut dan cantik. Sedangkan dua tokoh lainnya, Ayna yang tegas, dan Safiyya yang manja, digarap oleh Dini. Saya dan Dini mengerjakan novel ini bersamaan, karena setiap akhwat tidak saling bersinggungan, alias punya kehidupan masing-masing. Hanya Rama yang bersinggungan dengan semua akhwat, dan penggarapan adegan Rama saat bertemu dengan masing-masing akhwat, dikerjakan oleh saya. Jadi, saya memang lebih banyak mengambil bagian dalam penulisan novel ini.

Setelah jadi, saya pula yang menyatukan isi cerita supaya tidak ada yang janggal, lalu mengeditnya. So, ternyata tidak sulit menulis novel duet. Bahkan, karena adanya pengalaman yang berbeda dari dua orang penulis, novel ini menjadi lebih “kaya.” Pengalaman saya dan Dini dijadikan satu. Misalnya saja, tokoh Safiyya yang pembawa acara radio, diambil dari pengalaman Dini sehari-hari yang kala itu, selain kuliah di UI, juga nyambi kerja di Radio Salam, UI.

Insya Allah, saat ini saya sedang menulis novel duet yang kedua bersama dengan Annisah Rassbell, yang jauh lebih kaya, karena mengambil pengalaman Annisah di Frankfurt, Jerman. Nah, teman-teman, semoga sekilas info ini bisa sedikit membantu penulisan novel duet kita yak…..

1 komentar:

  1. kunjungan gan.,.
    bagi" motivasi.,.
    Kegagalan tidak seharusnya membuat kita rapuh .,.
    tapi justru itulah cambuk kita menuju kesuksesan.,.
    di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...