Senin, 25 Februari 2013

3 Kumcer FLP Se-Sumatera



Cerita ah, mumpung masih suasana Milad FLP ke-16.


Ini kumcer ketiga keroyokan penulis FLP Se-Sumatera. Sebelumnya di tahun 2004, ada antologi kumcer Ketika Nyamuk Bicara. Waktu itu aku masih unyu-unyu dalam menulis. Saat diberi tugas menjadi pj pengumpulan naskah, aku bermodal nekad aja. Bismillah menodong teman-teman FLP Sumatera untuk mengirimkan cerpen. Beruntung Teteh Pipiet Senja mau membimbing,jadilah naskah kami diterbitkan di Zikhrul Hakim. Acara launchingnya juga sukses besar di Pesantren Raudatul Ulum, Sumatera Selatan.

Selanjutnya pada tahun 2006 terbit lagi kumcer FLP Se-Sumatera berjudul Uda Ganteng No 13. Lagi-lagi kumcer ini aku menjaid pj naskahnya. Sayangnya, pas acara launching di Sumatera Barat, aku enggak bisa datangL ekonomi keluarga dan anakku yang masih kecil enggak bisa berangkat T_T

Nah, tahun 2011 untuk mempertahan tradisi tersebut, aku dan beberapa teman lainnya berinisiatif membuat antologi lagi. Walau geliat Kumcer agak lesu, namun, semangat menulis tetap lanjut. Alhamdulillah kami bersatu di group Silaturahmi Sumatera :)


Mengapa antologi? Penulis yang bergabung memang sudah ada beberapa menulis buku solo dan ada yang beberapa kali menang lomba ditingkat Nasional. Kebersamaan itulah yang kami bangun. Agar penulis pemula punya karya.

Tapi, berhubung kumcer lesu di penerbitan mayor, maka kami bertekad menerbitkan secara indie.

Kumcer yang ada di Perempuan Langit ada 12 cerpen dengan latar daerah yang khas, seperti daerah Aceh, Sumbar, Riau, Sumsel, Bengkulu dan Lampung.

Melalui kumcer ini diharapkan mengenalkan pariwisata yang ada di daerah masing-masing. Latar cerpen khas daerah menjadi daya tarik tersendiri.

Bagi Anda yang menyukai travelling, Anda pasti menikmati keindahan alam lewat diksi yang disampaikan cerpenis di Perempuan Langit ini.


Seperti contoh cerpen KOIN LAUT oleh Sinsin Nobai anggota FLP Lampung di bawah ini:
“Lempar koin ke laut mbak! Nanti saya ambil.” Kupasang wajah memelas agar perempuan itu mau mengeluarkan recehan dari dompetnya. Ia mengambil dompet berwarna keemasan yang ukurannya sebesar buku tulisku saat SD dulu dari tasnya.
Koin lima ratus rupiah terlempar ke laut. Dengan gesit dan gerakan yang indah layaknya atlet lompat indah, Rudi mengambil koin yang sudah hampir tenggelam itu. Berhasil. Aku tersenyum melihat gayanya. Rudi pun membalas senyumku sambil mengacungkan koin pertama yang ia dapat sore ini.

Sebuah cerpen lainnya berjudul Memanggil Rantau Karya Uda Agus dari FLP Sumatera Barat :
Pak Muncak duduk di balik jendela rumah gadang sambil tersenyum. Rumah gadang sepertinya juga tengah tersenyum. Pak Muncak memandang para bocah-bocah saling berteriak dan berkejaran di halaman. Sesekali terdengar teriakan marah. Sesekali terdengar pertengkaran. Suara saling berebutan. Tak jarang ada yang menangis sambil berlari kepangkuan ibunya. Pak Muncak sangat bahagia.

Nah, yang berminat silakan beli hanya Rp 29.500 (belum ongkos kirim) yang keuntungannya 100 persen untuk Palestina.

4 komentar:

  1. Pertamax keliatannya saya ini hiehiheee. Saya senang dengan postingan ini, wah seru juga selebrasi Milad FLP yang ke 16 ya, Hmmm, Cerpen cerpen cerpen. Saya senang baca cerpen yang bertema IT atau Semi sains seperti "Supernova" nya Mba Dee itu. Hiehiheiheiee, Seru aja.

    Cerpen cerpennya dijual nda tuh mba? Apa sudah ada tersedia di Gramedia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal ya, bukunya indie kalo yang Perempuan Langit, tapi kalo yang Uda ganteng No 13 dan Ketika Nyamuk Ketika Bicara, ada di Gramedia, tapi udah lamaaaaaaaaa hehehe

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...