Entri yang Diunggulkan

Meraih Mimpi di #UsiaCantik

Sabtu, 27 Desember 2014

Datuk Ambon yang Semangat Belajar Mengaji

Datuk dan keponakanku, Ara.

 “Ci…, pulanglah ke Bengkulu, datuk sakit,” itu bunyi SMS keponakan. Pagi itu aku panik karena datuk, panggilan pamanku dari keponakan, sakit darah tinggi.
            “Ala, paling alasan datuk aja mau ketemu, toh yang SMS dari Dang Acon,” suami menenangkan. Aku sibuk berdamai dengan hatiku. Sarapan pagi itu tersa asing. Aku tetap resah. Persiapan mengajarpun terabaikan. Tak lama ada SMS lagi.
            “Ci, datuk pingsan di rumah bawah, mulutnya berbusa,” astaghfirllah…aku menjerit. Masih SMS dari keponakanku. Aku tetap berusaha tegak. Walau badanku mendadak limbung. Bimbang antara pulang ke Bengkulu atau tetap berangkat ngajar.
            “Hallo, dek, pulanglah! Datuk masuk Rumah Sakit, jangan sampai terlambat, ajak Faris dan Abi yo,” ini terlpon kakakku. Setengah jam setelah SMS dari keponakanku.
            “Tapi kami tak punya uang,” aku to the point alasan menunda kepulanganku.
            “Nanti Inga transfer, hari ini juga usahakan pulang,” pesan Inga kakak keduaku.
Pagi itu kami berangkat dari Lampung Timur setelah mencairkan uang kiriman dari Inga dan izin kepada kepala sekolahku,. Menjelang siang kami tiba di Terminal Rajabasa. Entah kenapa seperti kompak semua Bis ke Bengkulu hari itu tak ada, kecuali menunggu dari Jakarta. Sedangkan travel berangkat sore dan malam saja. Akhirnya kami lebih memilih berangkat dengan travel walaupun menunggu cukup lama.
Selama di perjalanan, seperti film yang diputar ulang, memoriku berputar ke masa-masa sekolahku. Aku mengenal datuk, panggilan pamanku, adik kandung ayahku yang aslinya bernama Meirin Sonoel itu hanya lewat surat. Ya, pamanku ini agak berbeda dengan paman lainnya. Ia seorang pelaut yang kerja di kapal asing. Beliau tahu saat aku SMA,aku suka mengoleksi prangko, maka jika kami berkirim surat, pasti dibalasnya dengan beberapa prangko asli dari Negara yang dikunjunginya. Tak Cuma itu, beliau pasti menyelipkan uang di dalam suratnya, padahalnya aku tak pernah memintanya. Lama-lama kutahu, datuk tak cuma mengirim uang padaku, semua keponakannya alias sepeupuku dapat percikan rezeki yang rutin dikirimnya.
Datuk datang ke Bengkulu ketika Andung, nenek kami dari ayah meninggal dunia. Belum seminggu di Bengkulu, lalu tak lama perang Ambon bergejolak. Otomatis keluarga melarang beliau pulang lagi ke Ambon. Melihat perang Ambon di TV, datuk sangat sedih. Katanya beliau ingat teman-temannya, beliau ingat pernah ikut minum dan kampung yang terbakar itu adalah tempat biasanya beliau ke sana.
Kuingat, awal tinggal di rumahku, datuk suka bengong. Kalau diajak sholat selalu senyum tak jelas. Entahlah apakah datuk malu-malu karena jarang sholat atau memang sudah lupa? Datuk cerita, beliau banyak hapal isi-isi Injil daripada Al-Quran. Duuu seram banget!
Namun, setelah Ambon pecah perang saudara, Datuk mulai berubah alim. Apalagi sejak rutin kubelikan Majalah Sabili yang saat itu memang konsen memberitakan perang Ambon secara objektif. Kami sering terlibat diskusi dan akhirnya Datuk mulai rajin sholat dan gemar membaca  buku Islami yang tersusun di Perpustakaan pribadiku. Sungguh, aku terharu.
Setelah ibuku meninggal, datuk memilih tinggal di rumahku. Menemaniku dan juga sepupuku. Bertiga kami di rumah. Saling menyemangati dalam kehidupan. Datuk sebenarnya pernah menikah. Pernah bahagia tinggal bersama istri dan anak angkatnya di Ambon. Usut punya usut, rumah tangganya tak bahagia. Karena tak punya keturunan dan istrinya terjerat lintah darat (rentenir). Dua rumahnya dijual istrinya membayar rentenir, hingga yang tersisa hanya beberapa asset saja. Lalu istrinya menjadi TKW ke Taiwan dan Datuk pindah ke Bengkulu.
Anehnya datuk tak mau lagi menikah.
            “Datuk mau di sini saja, menemani, nanti kalo menikah, datuk ikut ya!” pintanya suatu hari. 
Begitulah hari-hariku ditemani datuk. Setiap hari beliau menunggu kepulanganku dari kampus. Duduk di depan gerbang dan siap menantiku. Beliau tak pernah rewel makanan, hanya minum kopinya yang terlalu banyak. Tapi beliau sangat memuji kopi buatanku. Takaran yang tak berganti. Satu sendok kopi dan dua sendok gula. Selalu secangkir kopi membuatanya tersenyu,. Mungkin, beliau sangat mengingkan punya anak ya?
            Kian hari perkembangan ibadah datuk makin baik. Beliau rajin sholat berjamaah di Masjid. Setiap Magrib, Isya dan Subuh paling sering Datuk ke Masjid. Datuk juga mempelajari lagi bacaan Al-Qurannya. Setiap Subuh selalu mengaji. Jika tak benar bacaannya, datuk bertanya dan mengecek lagi di Al-Quran yang ada cara bacanya. Datuk bergerak cepat, jika Ramadhan malu juga, datuk lebih cepat khatam daripadaku.
            “Datuk, nggak mau naik haji? Tanah warisan datuk cukup lho buat biaya naik haji,” ujarku suatu hari.
            “Nggaklah, cukuplah begini. Nanti tanahnya buat Taci saja,” jawabnya. Subhanallah, tanah itu mau diberikannya padaku? Ah, datuk terlalu baik dengan hartanya. Jika printerku rusak, ketika aku ke kampus, diam-diam beliau membawanya ke servis. Pas pulang, printer itu sudah baik. Tak cukup sekali, jika aku membutuhkan uang kuliah yang mendesak, beliau segera memenuhinya. Bahkan kita aku sempat sakit-sakitan paska ibu meninggal, datuklah yang merawatku. Beliau benar-benar menjadikan sosok ayah yang telah tiada menemaniku sejak Tahun 1991.
            Kini, aku pulang. Sebuah perjalanan mudik yang tak diinginkan. Kakakku terus menelpon keberadaanku.
            “Sampai di mana?”
            “Datuk sudah tidur. Datuk ngorok,”
            “Tak usah cemas, semoga perjalanan lancar,”
            Begitulah pesan telpon kakakku di Bengkulu. Kabarnya kakakku dari Jakarta dan Jambi juga menuju pulang. Entah kenapa semua hanya bias jalan darat. Pesawat penuh kehabisan tiket.
            “Aku mau ngomong sama datuk,” pintaku.
            “Tak bisa, datuk sudah tak sadar lagi,”
            Aku hanya bisa menangis. Terus berdoa agar kesempatan masih ada untuk bertemu dengan datuk. Kangen membuat secangkir kopi untuknya. Pasti beliau sangat kesepian setelah aku menikah dan ikut suami di Lampung Timur. Menjaga rumah sendirian tanpa anak dan istri. Datuk memang menolak saat aku mengajak ikut serta ke Lampung Timur.
            Perjalanan nan panjang Lampung-Bengkulu mulai terasa penat setelah travel yang kami tumpangi macet, bannya bocor. Lama menunggu semakin menambah debar di dadaku.
            “Ya Allah, beri aku kesempatan bertemu datuk,” terus doa kupanjatkan.
            Senang hatiku setelah Kota Bengkulu sudah di depan mata. Travel yang kutumpangi sudah memasuki Kawasan Pagar Dewa, sedikit lagi aku akan sampai.
            “Maaf ya Bu, ngantar bapak ini dulu, baru ngantar ibu ya, kasihan kalau mutar lagi,” pinta pak supir. Aku mengangguk pasrah. Padahal aslinya aku ingin segera sampai rumah.
            Baru saja penumpang pertama turun dari travel, hpku bordering.
            “Sampai mana de?” suara Kak Ucang, kakak iparku.
            “Daerah Kilometer 8, lagi ngantar penumpang,” Jawabku.
            “Sabar yo,dek. Datuk baru saja meninggal,” kata Kak Ucang.
            “Innalillahi Wa Innalillahi rojiun,” aku lunglai seketika. Tangisku meledak tak tertahan. Allah, sejuta Tanya ingin kusampaikan.
            “Mengapa tak menungguku? Aku sudah sampai Bengkulu! Sedikit lagi sampai Rumah Sakit DKT” ya…Allah, Astaghfirllah tanpa sadar aku mulai mengugat kuasa-Nya.
            Sampai di depan rumah, kulihat jenazah datuk yang sudah terbujur kaku. Wajahnya tenang, bibirnya tersenyum indah. Pelayat yang datang sangat banyak, datang silih berganti. Semua sepupuku menangis sedih di samping jenazahnya. Para sahabatku datang saat kuSMS. Mereka  bersedia hadir dan ikut sholat jenazah. 
            “Tak usah beli kain kafan, ini sudah disiapkan dari arisan kami,” ujar seorang pengurus jenazah. Baru kutahu datuk aktif mengikuti arisan kain kafan dan perlengkapan jenazah di pengajian bapak-bapak Masjid Syuhada. Allah, aku terenyuh. Datuk benar-benar mempersiapkan kematiannya.
            “Ramadhan kemarin, datuk ngajinya khatam,” cerita keponakanku.
            “Datuk kangen Taci dan Faris,” lapor kakakku yang lain.
            Datuk pergi. Datuk memang telah  pergi meninggalkan dunia ini. Tapi, datuk pergi dengan sejuta cinta yang disematnya di hati para keponakan dan cucunya. Walau bukan dari rahim istrinya, tapi cinta yang disebarkannya tumbuh di hati-hati orang sekitarnya dan mekar dengan indah.
            Jika ingat buku-bukuku akan segera terbit. Aku selalu membayangkan senyum datuk. Senyum yang meronah ketika menanti kado datangnya doa dari kami para ‘anaknya’. Anak yatim-piatu yang datuk asuh menjadi kuat.
            Allah, terimalah datuk di sisi-Mu.

Lampung Timur, 3 November 2010
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...