Jumat, 05 Desember 2014

Ikhtiar Demi Cucu yang Ditinggal Ibunya Sejak Usia 7 Hari

Saat suami telah pergi, rasanya ada pegangan hidup yang terlepas. Sedih dan sakit rasanya. Namun, hal itu tak bisa dilakukan berlama-lama. Ada anak-anak yang menangis kelaparan. Ada mata-mata yang menanti senyuman. Mereka belum mengerti arti sebuah kehilangan. Aku terus berjuang demi cita-cita mereka, pun ketika aku harus merawat bocah kecil yang ditinggalkan oleh ibu kandungnya sendiri yang tak lain adalah anakku, ya cucuku sendiri. Demi mereka, aku rela tak kenyang, tak nyenyak tidur, demi melihat senyuman dan

sinar mata mereka yang bagiku lebih berharga. 


Si Mbok Namanya

Si Mbok, begitu orang memanggilnya. Entah siapa nama aslinya, tidak banyak orang yang tahu. Ia hidup sebagai janda dengan lima anak yang masih kecilkecil saat itu. Suaminya meninggal karena sakit. Hartanya habis karena terpakai untuk biaya berobat suaminya. 

Tapi, ia terus tersenyum menghadapi kehidupan yang penuh cobaan ini. Dalam kondisi serba kekurangan ia terus melangkah. Ia berjuang demi anakanaknya. Saat suaminya meninggal, ia bahkan memiliki seorang anak yang masih bayi. Sedangkan kakak-kakaknya juga belum mengerti kalau mereka telah ditinggal sang ayah untuk selama-lamanya. 

Si Mbok dan keluarganya tinggal di sebuah rumah kecil. Rumah sangat sederhana yang terbuat dari anyaman bambu (geribik). Rumah itu berada di sepetak tanah yang disewanya setiap bulan. Di dalamnya ada ruang duduk, satu kamar tidur, dan dapur. Ruang duduk menjadi ruang serbaguna karena saat malam tiba berfungsi sebagai kamar tidur. 

Dalam ruang tersebut digelar kasur yang dipasangi kelambu agar terhindar dari nyamuk. Kamar tidur di rumah si Mbok juga bukan kamar tidur yang layak. Hanya ada tempat tidur dan satu lemari kecil untuk menyimpan pakaian sekadarnya. Bila hujan deras, rumah akan bocor. Dan yang sangat mengkhawatirkan adalah pohon besar di samping rumah. Saat musim hujan tiba, si Mbok akan memeriksa kondisi pohon secara rutin untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Ketika anak bungsunya masih memerlukan ASI, ia tidak bisa memberikannya secara penuh. Bukannya ia tidak paham akan pentingnya ASI bagi bayi di bawah usia 2 tahun. Si Mbok cukup mengerti tentang pentingnya makanan sehat untuk bayi, tapi keadaan memaksanya untuk meninggalkan bayinya dan bekerja. Sebelum bekerja menjadi pembantu rumah tangga di sekitar rumahnya, ia menyiapkan air tajin (air hasil dari menanak nasi) untuk bayinya, dan memberikan pisang rebus yang telah dilumat halus. Dengan telaten, disuapinya bayi kecilnya. 

Setelah bayinya kenyang, si Mbok akan memandikan lalu menidurkannya terlebih dahulu di ayunan. Anak yang lebih besar kemudian diberi tugas untuk menjaga sang adik selama ia bekerja. Usia si kakak tidaklah terlalu jauh dengan si adik. Tapi berkat didikannya, si kakak mulai terampil menjaga adik. 

Mengumpulkan Rupiah

Menjelang siang, ia pulang ke rumah memeriksa bayinya yang masih terlelap di ayunan. Diberinya ASI dan makanan, lalu bekerja lagi. Paling sedikit ia bekerja di dua rumah. Sore hari ia pulang, begitulah rutinitas si Mbok. 

Menjelang malam, ia tidak langsung istirahat. Si Mbok punya keahlian memijat—yang entah diperolehnya secara turun-temurun atau tiba-tiba muncul karena keterdesakan—yang bisa menambah pemasukan untuk keluarganya. Setiap hari ada saja yang memerlukan jasa pijatnya. Ia bersyukur karena semakin lama ia semakin dikenal sebagai si Mbok tukang pijat. 

Langganan si Mbok datang dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan yang ekonominya pas-pasan yang kebanyakan adalah tetangganya sendiri, sampai orang berpunya. Bagi yang kurang mampu, si Mbok tidak mematok tarif khusus, cukup semampunya saja. Namun, tetangganya cukup paham, biasanya mereka membayar jasa pijatnya sekitar 15 ribu untuk pijat bayi dan 25 ribu untuk pijat orang dewasa. Jika langganan yang berkendaraan roda empat menjemput, si Mbok bisa mendapatkan 100 ribu atau lebih. 

Begitulah si Mbok, bertahan hidup dengan anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa. Saat anaknya akan menikah, si Mbok tidak berpangku tangan, ia berusaha mencari pinjaman untuk biaya pernikahan anak lakilakinya. Ia meminta tolong majikannya untuk meminjamkan uang. Beruntung si Mbok memiliki majikan yang baik, ia diberi pinjaman lunak yang sangat meringankan bebannya. Gaji satu tahunnya dibayar sekaligus, sementara pembayaran pinjaman dicicil setiap bulan. Jadi, si Mbok masih mendapatkan sisa gajinya setiap bulan.

Mengasuh Cucu

Ujian ternyata terus menghampiri si Mbok yang pantang menyerah ini, bahkan setelah anaknya mulai besar dan bekerja. Suatu hari anak perempuannya yang bekerja di sebuah pabrik di Jakarta pulang dengan perut membuncit. Rupanya ia tengah hamil tua. Memang
selama ini anak perempuannya itu telah berumah tangga dan memiliki dua
anak di Jakarta.
“Ada apa ini, kok tiba-tiba pulang?”
“Aku rindu, Mbok. Aku mau melahirkan di sini saja,” jawab anak perempuannya.

Si Mbok jelas menyambutnya dengan suka cita tanpa ada rasa curiga. Ia pun melepas rindu yang selama ini ditahannya. Ya, jarak dan biaya menjadi penghalang antara si Mbok dengan anak-anaknya. Ia tak mungkin mengunjungi anak perempuannya di Jakarta karena ongkos bus ke Jakarta cukup mahal bagi si Mbok.

Tak lama anak perempuannya itu melahirkan bayi yang lucu dan sehat.  Keluarga si Mbok pun menyambutnya dengan suka cita. Saat itu anak si Mbok  yang bungsu sudah mulai sekolah, sementara kakaknya sudah duduk di kelas  tiga SD. 

Kejadian tragis terjadi seminggu setelah persalinan cucunya. Sepulang kerja, dilihatnya kedua anaknya yang masih SD berpelukan dan menangis. Kaget bercampur geram, si Mbok melihat kedua anaknya memberikan sepucuk  surat padanya.
“Mbok..., Adik ditinggal!” tangis kedua putrinya sambil menunjuk bayi tak 
berdosa yang sedang tidur di kasur kecil di ruang tamu mereka.

Dadanya terasa panas saat membaca surat dari anak perempuannya itu. Isi  surat itu kurang lebih mengatakan bahwa anak perempuan si Mbok menitipkan  anak yang baru dilahirkannya. 

Maafkan aku Mbok, aku titip Tole ya. Aku tak bisa membawa Tole ke Jakarta. 
Jika Tole tetap kuajak, bagaimana aku bekerja? Anakku sudah dua, sementara 
hidup di Jakarta tidak mudah. Pihak pabrik akan memecatku jika aku terlalu 
lama cuti. 

Sambil berurai air mata si Mbok memeluk sang cucu, ibunya bahkan belum  memberikan nama untuk anaknya. Kini, ibunya telah meninggalkannya tepat  saat usianya masih seminggu.

Demi Adik

Si Mbok patut bangga dengan ketulusan salah satu anaknya yang mengalah  demi masa depan kakak dan adiknya. Ya, anak perempuannya itu dulu telah  mengalah untuk menunda sekolahnya demi menjaga adiknya yang masih bayi  saat si Mbok bekerja. Kini, mengalah lagi demi menjaga keponakannya, anak  kakaknya yang kerja di Jakarta.
“Biar aku di rumah saja, Mbok. Aku akan mengasuh Tole.” 

Episode kehidupan si Mbok kembali berjalan. Anak bungsunya bisa bersekolah  hingga SMA berkat kerja kerasnya dan pengorbanan kakaknya. Cucunya sehat  karena dijaga oleh bibinya. Walau cukup banyak lelaki ingin meminang anak  perempuan si Mbok itu, tapi ia belum berani meninggalkan Tole. 

“Mungkin nanti Mbok, tunggu adik lulus SMA.” 
Si Mbok tidak memaksa, ia hanya berharap yang terbaik untuk anakanaknya. Ia percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Tidak pernah ada  guratan gelisah atas rahmat Allah di wajah si Mbok. Si Mbok selalu riang  memahami situasi, walau masalah datang silih berganti.


8 komentar:

  1. Subhanallah... Ini fiksi atau nyata mbak?

    BalasHapus
  2. terharu aku mba yayuk... rezeki emang gak bisa ditukar

    BalasHapus
    Balasan
    1. btul mbk, selalu ada jalan bagi yang berusaha dan tawakal :)

      Hapus
  3. Semoga si mbok selalu diberi kekuatan ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, doa yang sama aku sampaikan untuk si Mbok.

      Hapus
  4. Si Mbokdan anak perempuan yang selalu mengalah diberi kemudahan Mak

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...