Jumat, 03 Februari 2017

Ukhuwah Yang Kering



Assalamualaikum, mohon maaf sebelumnya ini cerita fiktif semata, kalau pun ada hikmahnya alhamdulillah. Saya mendengar kisah ini dari pengajian kemarin sore. Seorang teman menceritakan dengan penuh ekspresi, mebuat saya hanyut dan ingin berbagi. Semoga bermanfaat!

***
Dikisahkan seekor tikus yang tinggal di sebuah rumah pasangan suami istri. Tikus senang sekali tinggal di rumah itu karena banyak makanan. Suatu hari, kedua pemilik rumah menyadari kehadiran tikus, maka mereka sepakat akan membeli perangkap tikus.

Mendengar pemilik rumah ingin membeli perangkap, tikus gusar dan gelisah. Ia sangat panik dan menceritakan keluh kisahnya pada ular. Tikus pun menceritakan pada ular. Namun betapa kecewanya ia  ketika ular berkata, "Itu bukan urusanku!"


Tikus kembali berjalan dan bertemu ayam. Ia menceritakan bahwa pemilik rumah akan membeli perangkap dan ia ketakutan akan tertangkap dan mati. Ayam berlalu dengan cuek dan berkata, "Itu bukan urusanku!"

Tikus kembali menelan kepedihan. Ia kembali berjalan mencari sahabat lainnya. Ia bertemu dengan kambing. Tikus bercerita tentang sedihnya ia kalau nanti akan tertangkap oleh perangkap yang dibeli pemilik rumah. Kambing dengan ringan berkata, "Maaf, itu bukan urusanku!"

Tikus sedih sekali, temannya tak ada yang merasakan deritanya. Ia kembali mencoba berjalan menemui sahabatnya yang lain. Tikus menemui sapi dan menceritakan perihal pasangan suami istri pemilik rumah yang akan membeli perangkap tikus dan ia akan musnah. Namun seperti lainnya, sapi juga mengatakan, "Itu bukan urusanku!"

Tikus kembali dengan gontai. Hatinya bersebar. Malam ini adalah malam terakhir ia hidup. Lelah membawanya lelap dan terbangun ketika mendengar suara ribut.  Istri pemilik rumah pun terbangun dan langsung melihat perangkap tikus yang pasangnya. 

Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat ular di dalamnya. Ular pun marah mengapa ia yang tertangkap. Ular mengigit istri pemilik rumah. Suaminya terbangun mendengar teriakan istrinya dan membunuh ular. Istri pemilik rumah dilarikan ke rumah sakit. Banyak yang membesuk. Agar sehat, ia harus makan yang sehat dan bergizi. Istri pemilik rumah minta dibuatkan sayur ayam. Maka, ayam pun dipotong. 

Namun, hari berlalu, istri pemilik rumah belum banyak perkembangan. Ada seorang penjenguk menyarankan masak hati kambing, maka ia pun meminta suaminya memotong kambing. Namun sayang, luka bisa dari ular itu sangat mematikan, nyawa istri pemilik rumah tidak tertolong. Ia meninggal dunia. Saat acara doa banyak yang hadir,  pemilik rumah pun memotong sapi untuk menjamu tamu.

"Mengapa aku menjadi penyebab kematian sahabat-sahabatku? Padahal perangkap itu disiapkan untukku?" kata tikus.

***
Apa hikmah cerita di atas? Kita ambil saja sarinya. Sering kali saya atau mungkin pembaca juga merasakan, jika ada teman bercerita mengenai deritanya, kita tidak menanggapi dengan baik. Bahkan merasa sudah terwakili dengan ucapan di WA saja. Misal, ada yang sakit, kita sudah merasa cukup mendoakan, "syafakallah, syafakillah atau lekas sembuh ya!" hanya lewat WA. Kita tidak datang untuk menjenguk. Kita tidak menyempatkan diri untuk bertemu langsung. Kita sibuk dengan diri kita sendiri. Kita sudah merasa cukup terwakili dengan ucapan  lewat media sosial saja! Di mana ukhuwah kita selama ini? Apakah kita akan menyadari setelah seperti ular, ayam, kambing atau sapi? Nauzubilah Minzalik. Diceritakan kembali oleh Naqiyyah Syam

Sumber Foto : https://menanam-tanaman.blogspot.co.id

4 komentar:

  1. Aku sedih bacanya, MBak. Sedih dengan jalan ceritanya dan juga sedih, ketika teknologi mendekatkan semuanya, tapi bukan untuk kedetan fisik seperti contoh di atas.

    BalasHapus
  2. Aku kok sedih bacanya? Perasaan tikus bikin nge jleb. :( Hikmah cerita ini begitu luar biasa. Bagus untuk anak2.

    BalasHapus
  3. acuh tak acuh berujung hal yang menyakitkan

    BalasHapus
  4. duh sedih dan tersindir bacanya mbak
    jadi rindu masa-masa organisasi, ukhuwah hangat banget

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^