Senin, 31 Mei 2010

Merangkai Cinta




“Mi, kita masuk kaset aja, yuk! Kita naik perahu Nabi Nuh!” ajak Faris saat nonton CD Nabi Nuh. Aku tersenyum dan menjelaskan dengan bahasa sederhana. Aku senang sekali mendengar celotehnya. Walau terkadang unik dan mengelitik. Dibanding 2 tahun yang lalu, perkembangan kesehatan Faris kian membaik. Walaupun berat badannya belum seideal anak seusianya 4 tahunan, tapi kecerdasannya cukup bagus. Faris sudah bisa menghapal abjad, mengambar dengan garis yang sudah tegas, hapal hadist-hadist pendek, dan pandai bergaul. Sungguh bahagia melihat perkembangannya. Tak banyak orang yang tahu sejarah kesehatan Faris akan nyetuk, “Kok makin kurus sih?” walau miris aku tak bisa berbuat banyak. Karena begitulah kenyataanya. Faris tidak gemuk!
Sejak usia 8 bulan, berat badan Faris susut dan susah makan. Abinya (suamiku) dan keluarga besar sempat menyalahkan aku sebagai Umminya yang tidak bisa mengurus anak. Sedih sekali rasanya. Mereka tidak percaya jika aku sudah mengurus anakku dengan sepenuh hati. Apalagi keluarga besarku jauh (Bengkulu), aku hidup merantau di daerah asal suami (Lampung Timur), tangis kerap menjadi sahabatku. Apalagi ekonomi kami kala itu sangat terbatas! Usaha ikan betutu gulung tikar. Kala itu suami memiliki usaha ikan betutu yang kirim ke Jakarta untuk ekspor ke Malaysia dan memiliki tambak ikan betutu. Usaha ini join dengan pengusaha Cina-Malaysia. Sayang jelang kelahiran Faris, tambak ikan kena limbah Pabrik Singkong. Menyisakan hutang yang cukup banyak

Aku sempat kecil hati karena beberapa teman melontarkan kata tak sedap,”Ayah-ibunya sarjana, kok anaknya kurang gizi?” sedih, luka, tapi kutelan. Karena memang itulah kenyataan yang ada. Orang bisa melihat dari luar. Memang saat itu ekonomi kami sekarat! Jangankan untuk susu Faris, makan saja susah. Abi sering memancing untuk mencari ikan. Pernah karena tantangan kakak iparku untuk mencari uang. Telinggaku panas jika dianggap istri yang tak berusaha membantu ekonomi keluarga. Aku nekat berjualan makan bukaan puasa di depan rumah. Bermodal uang 50 ribu aku membuat onde-onde, pisang goreng, bakwan, es dan lainnya. Tapi, cuma dua hari bertahan! Modal tak kembali, wajar saja hidup di desa, pembeli tak banyak membeli makanan bukaan. Toh mereka juga hidup dengan sangat sederhana. Akhirnya makanan itu dibagikan kepada tetangga-tetanggaku.

Beberapa musibah kerap kami lalui. Termasuk kesehatan Faris. Kala itu Faris berusia 11 bulan. Suatu hari Faris batuk-batuk dan tak bisa mengeluarkan dahak. Kami mengajak Faris berobat ke bidan. Tak ada perubahan kami mengajak Faris ke dokter anak, tapi tetap tak jauh beda. Hingga hari keempat, aku memaksa Abi untuk ke Puskesmas. Tapi Abi tidak mau! Menurutnya Faris nanti akan sembuh sendiri, hanya batuk-batuk biasa. Aku menangis, kukatakan Faris perlu disedot dahaknya karena sudah kesulitan bernapas. Tapi suamiku bergeming. Setelah perdebatan panjang, akhirnya kami ke Puskesmas. Lagi-lagi aku kecewa, perawat di Puskesmas, cuma bilang, “Minum air hangat aja, Bu.Nanti anaknya akan sembuh!”duuu aku kian sedih. Ternyata tak ada yang percaya padaku! Aku nyaris berteriak karena naluri keibuanku berkata, “Faris dalam keadaan parah!”. Akhirnya kami pulang, walau aku masih menangis. Aku paham suami tak berani langsung ke dokter atau ke RSUD. Kondisi keuanganlah yang menjadi penyebabnya.
Mungkin karena kecapekan menangis, akhirnya Faris tertidur pulas dengan suara ngik-ngik napasnya. Aku tetap tak bisa tenang mendengar napas Faris. Usai sholat Asar, Faris terbangun, sedihnya airmatanya keluar tapi tak bersuara (serak banget). Aku panik sekali! Langsung kuteriak memanggil Abi di kebun belakang rumah! Tanpa kacamata, pakaian ganti, kami segera ke bidan. Kali ini bidan pilihanku. Seorang ummahat teman pengajianku. Bu Yusrini langsung merekomendasikan kami ke dokter anak Metro.
“Untung saja segera dibawa, Pak, lewat dikit sulit tertolong,” ujarnya. Kulirik Abi yang mulai merasa bersalah.
Segera kami meminta surat rekomendasi dokter umum dan langsung ke dokter spesialis anak. Hampir 50 menit naik motor kami bertemu dengan dokter spesialis anak. Dokter Firdaus menyarankan untuk rawat nginap. Sayang, rumah sakit di Metro sudah penuh karena pasien Demam Berdarah (DBD), akhirnya kami memilih ke Bandar Lampung dengan pertimbangan, Pertama : ada kakak di sana, kedua : fasilitas cukup lengkap, tapi...keuangan kami menjadi kendala. Uang ditangan hanya 300 ribu. Bagaimana dengan biaya Rumah sakit kelak? Ah, bismillah kami memutuskan ke RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, aku naik travel dan Abi naik motor.

Sepanjang jalan menuju RSUD hatiku risau. Aku yang duduk di depan, dekat supir terus berdoa untuk keselamatan Faris. Sepanjang jalan Faris tidak mau ASI, rewel dan napasnya tersengal-sengal. Sungguh kala itu doa menjadi kekuatan kami. Semua surat yang kuingat, kulafalkan sambil menenangkan Faris agar tertidur, minimal tidak menangis yang akan menganggu ketenangan penumpang lainnya. Aku terus berdoa, “Ya Allah, jika kami masih dipercaya dengan amanah merawat Faris, maka sembuhkanlah ya, Allah, “ doa itu terus kulafalkan dalam hati bercampur tangis yang kutahan. Untunglah pak supir dan penumpang lainnya pengertian, travel itu ngebut dan langsung mengantarkan kami ke depan UGD RSUD Abdul Moeloek. Setelah menanganan di UGD, ruangan ternyata penuh karena banyak pasien wabah DBD! Kami tak dapat menginap kecuali di koridor RSUD. Kami memutuskan mencari lagi rumah sakit yang kosong. Syukurlah masih ada 1 ruang kosong di Rumah Sakit Karya Husada.

Aku menangis melihat kondisi Faris yang kian lemah. Ia dioksigen dan infus. Kami berdua saja menunggu, tak ada sanak saudara lainnya. Kami bergantian menjaga Faris. Kadang aku yang berjaga, suami yang tidur, atau sebaliknya aku tidur, suami yang menjaga. Bahkan sampai hari ke-4 baru ada Mamak (panggilan untuk mertuaku), dan kakakku dari Bengkulu. Setelah di cek up ulang, hasil ronsen dan lab mengatakan Faris ternyata mengidap TBC. Hatiku lega karena selama ini orang-orang menyepelekan aku mengurus makan Faris tidak becus, tapi ternyata memang Faris ada gangguan kesehatan, bukan berarti aku yang salah, maklum tinggal di desa kadang jadi bahan omongan tetangga jika salah sedikit mengurus anak.. Bahkan setelah pulang dari RSUD kami baru tahu kalau tetangga di samping rumah kami sekeluarga mengidap TBC. Astaghfirllah.
Awalnya biaya rumah sakit menjadi momok bagi kami. Kami tak punya pegangan lagi. Biaya 4 hari di Rumah Sakit saja sudah hampir 2 juta, belum pengobatan Faris. Jujur kami cuma bermodal doa agar Allah mencari jalan keluarnya. Alhamdulillah ketika diperbolehkan pulang, biaya tertutupi dari bantuan keluarga.

Sejak itu Abi mulai belajar mempercayai keluhanku. Jika Faris sakit segera ditangani, walau tak punya uang sekalipun.Abi tahan berhutang. Faris sempat 2 kali masuk Puskesmas karena diare dan lagi-lagi karena tak percaya laporanku.

Sulitnya membuat suamiku percaya dengan keluhanku. Terutama soal penyakit. Memang di keluarga besarnya jarang mengeluh sakit. Bagi mereka, sakit harus dilawan! sedangkan di keluargaku, sakit sedikit saja, kakak-kakak langsung menghubungi. Sungguh berbeda perlakuannya. Sampai akhirnya kesadaran itu mulai muncul. Ketika kami berdua harus masuk RS karena DBD.
Awalnya hari Kamis aku demam panas, tinggi sekali dan sangat sakit, kupikir karena maag karena aku makan rambutan. Sorenya ke dokter, dokter aku cuma sakit maag. Tapi sakitnya kian terasa. Aku sampai tak kuat menahan sakit kepala, muntah-muntah, diare dan ngilu sekujur tubuh. Aku cerita betapa sakitnya! Aku minta berobat lagi ke dokter dan cek up darah. Abi cuma beranggapan demam karena maag. Tapi setelah renggekan akhirnya aku tes darah juga, namun diagnosa sakit apa belum diketahui sedangkan badanku sudah sangat lemas. Aku menawarkan untuk rawat inap ke Puskesmas saja, tapi Abi belum setuju.

Minggu siang giliran Abi yang panas tinggi dan sakit kepala! Abi berteriak menahan sakitnya! Aku cukup kesulitan merawatnya karena badanku sendiri belum kuat. Kusarankan kami dirawat di Puskes saja. Cukup lama membujuk Abi. Soalnya Abi takut dengan suntik. Tak menunggu setujunya, langsung kupanggil becak menuju Puskesmas. Berdua akhirnya kami dirawat. Tak lama Mamak (mertuaku) datang merawat suamiku.

Di Puskesmas, kami di cek ulang. Ternyata berdua kami mengidap DBD. Para perawat langsung menanyakan alamat rumah kami dan dilakukan penyemprotan. Ternyata lingkungan kami endemik DBD. Memang rumah kontrakan kami sangat sederhana. Di Puskesmas juga aku baru tahu kalau suamiku sangat manja pada Mamak. Abi mengeluh sakit kepala, mencret dan ngilu di sekujur tubuhnya. Aku yang terbaring di sampingpun tersenyum. Ternyata kalo Abi sakit lucu juga ya? Selama ini aku mengeluh sakit kepala, maag, lemes, tapi mengapa Abi cuek saja? Tapi saat giliran Abi sakit? Kok cengeng gitu ya? Aku mulai bertanya-tanya. Diam-diam aku cemburu! Kenapa jika aku sakit tak boleh mengeluh dan menuntut cepat ditanggani! Ahh... diam-diam aku berdoa, “Ya Allah, bukakanlah pintu hati suamiku agar lebih perhatian atas sakitku.”

Tiga hati tanpa perubahan berarti, kami di rekomendasi ke RSUD Ahmad Yani, Metro. Berdua kami naik mobil Ambulans, tidur berdampingan. Teman-teman yang melihat bahkan mengabadikan foto kami di atas ambulans. Lucu sekali! Sakit kok kompakkan? Tapi itulah jalan kami untuk mengenal sifat-sifat kami masing-masing. Perlahan Abi mulai mempercayai keluhan-keluhanku jika sakit. Tak lagi cuek bebek atau cuma berkata,” Ah, nanti juga sembuh!” tapi sekarang cukup berubah. Minimal segera memijit refleksi di kedua telapak kakiku, membuatkan segelas teh hangat atau bertanya, “sakit apa, Mi?” sungguh perkembangan yang mengembirakan. Ternyata cukup mahal “membeli” kepercayaan Abi! Harus masuk RSUD berdua dulu! Harus Abi merasakan sakit yang sama aku rasakan juga! Sama-sama DBD, sama-sama mengalami fase DBD yang sangat menyakitkan. Pusing, mual, mencret,ngilu dan lainnya. Aku harus “membayar” jutaan rupiah dulu untuk biaya RS yang tanpa askes. Sungguh pengorbanan yang tak sedikit. Bahkan setelah sakit, Abi langsung setuju pindah rumah kontrakan.

Diluar karena waktu yang menjawab sehingga kami menjadi suami-istri yang belajar saling memahami itu, aku percaya semua juga karena doa-doa yang ku lafalkan dan juga doa-doa orang-orang di sekitar kamilah, kami sekarang seperti ini. Dari dulu aku memiliki kebiasaan untuk melist doa-doaku pada sebuah kertas dan terus kupinta saat usai sholat. Baik sholat wajib maupun sunah. Ketika ramadhanpun semakin banyak list doaku. Hari pertama sampai malam takbiran. Alhamdulillah pelan-pelan doa yang kulist selama ramadhan dikabulkan oleh Allah. Suamipun sekarang kuajak untuk melist doa-doa yang akan dipinta. Aku yakin semua doaku akan dikabulkan Allah. Hanya saja Allah lebih tahu kapan akan mewujudkan doa kita dan Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita dibandingkan apa yang kita minta. Alhamdulillah sekarang Faris sudah mau masuk TK, Abi lulus CPNS Deptan dan aku sekarang mengajar di SDIT Baitul Muslim. Masa-masa sulit ekonomi sudah kami lalui, dan Allah-lah sebaik-baiknya penjaga hingga kami kuat dan bertahan.


dalam rangka kontes blong disponsori oleh http://denaihati.com/

Sabtu, 29 Mei 2010

Sertifikasi Oh Sertifikasi



-->
Badanku terasa mengecil, mengkerut, dan hampa seakan tanpa nadi. Aku sendiri terpaku dalam tanya. Sungguh, semua ini menjadi ‘momok’ dalam pekan terakhir. Kenyataan tak seindah bayangan. Bodohnya aku terlalu bergantung pada kelulusan. Rasanya kepala dipukul dengan palu besar. Ah, aku terlalu berlebihan. Tenang, tenang, sabar, sabar, bisik hatiku yang lain.
“Pengumuman sudah keluar, aku dan Mbak Uning, nama mbak tidak ada,” ujar Kibty, teman satu profesiku di SDIT Baitul Muslim ini . Usianya memang di bawahku. Terpaut 2 tahun, itu sebabnya ia memanggilku mbak bukan bu.
“Tau dari mana?” tanyaku penasaran.
“Koordinator kelas yang nelpon tadi malam,” ujarnya lagi. Set! Akhir mataku mendesak untuk jebol. Kakiku gemetar. Astaga maagku seakan demo minta diurus. Aku shock. Benarkah tidak lulus kenapa? Berkali-kali kutanya pada hatiku. Apa yang salah? Keaktifankah? Kurasa tidak, aku selalu aktif bertanya, berdiskusi, mengerjakan tugas, setiap sesi materi yang disampaikan dosen-dosen FKIP itu. Apakah nilai? Kurasa juga bukan itu. Saat peer teaching, penampilanku dinilai terbaik oleh dosen pembimbing. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kubuat tak ada perbaikan, artikulasi, metode mengajar, media, dan cara penyampaian kurasa sudah lebih dari standar. Lalu apa? Kucari-cari dalam bilik hati yang teriris dengan berita kegagalanku. Apakah karena harapanku yang kian besar untuk lulus?Apa salah? Setiap orang punya harapan dan keinginan, bukan? Ah…
Sejak makhluk bernama sertifikasi guru lahir. Sebenarnya aku sudah sadar diri. Kuakui masa mengajarku belumlah 2 tahun. Aku tak pantas mendaftar! Tapi, menurut Kepala Sekolah dan pihak Kantor Cabang Dinas Pendidikan, kouta SD swasta masih kurang.
“Sayang kalau tidak ikut, kouta yang kosong akan diambil oleh kabupaten lain. Ikut saja, toh kalau tidak lulus ada diklat. Ambil ilmunya saja dulu.” Begitu pesan seorang bapak yang menjadi koordinator sertifikasi di tempatku tinggal. Dan akhirnya aku punya nomor sertifikasi.
“Kamu lulus portofolio bukan karena KKN, tapi memang kouta untuk SD Swasta kurang,” kata pengurus Yayasan Baitul Muslim menenangkan hati.
Aku masih penasaran, kuingat ucapan seorang dosen yang tajam dan mematahkan.
“Kalau saya jadi kepala sekolah Anda, saya tidak akan mengizinkan Anda mengikuti sertifikasi, wong belum memenuhi syarat masa mengajar kok,” ujar Pak Syamsul.
“Pasti portofolio Anda dimanipulasikan?” tanyanya tajam. Suasana kelas senyap. Seluruh mata memandang ke arahku yang duduk di tengah-tengah dari 28 peserta. Aku terpojok.
“Saya tidak manipulasi, Pak. Saya hanya mengikuti himbauan dari dinas untuk ikut mendaftar, karena kouta masih kurang dan kepala sekolah saya mengizinkan dan beliau yang mendaftarkan seluruh guru yang S1, saya dapat panggilan, bukan merekayasa! Apalagi menyogok!” jelasku membela diri. Aku tersulut emosi.
Ia tertawa kecil diikuti peserta yang lain. Mungkin mengejek atau juga geli melihatku yang terpancing emosi.
“Jelas saja Anda mau ikut, wong buat ngejar duit. Siapa sih nggak mau duit?!” ujarnya. Beberapa peserta tertawa ngakak. Ulu hatiku tertohok. Sakit sekali. Peserta yang lain ada yang ikut tertawa, ada yang senyum-senyum, ada juga yang merasa iba padaku.
“Lah Pak, kalo saya tidak layak lulus, kenapa saya dipanggil diklat?’ tanya saya lagi.
“Ya..itulah kesalahan sistem. Tapi saya juga tak menyalahkan Anda. Mungkin untuk perbaikan ke depan. Dinas perlu selektif lagi. Tapi kalo saya jadi kepala dinas, saya tidak akan meluluskan orang seperti Anda, karena pasti akan terjadi gejolak pada sekolah lainnya atau bahkan pada ribuan guru yang lainnya yang tidak lulus portofolio.” ujarnya menutup pembicaraan, walau sudah dibantu Mbak Uning menjelaskan, bahwa memang banyak sekolah swasta yang tidak ikut diklat. Tapi bukan karena mereka tidak lulus portofolio, tapi karena mereka memang tidak mendaftar akibat kurangnya informasi atau sosialisasi tentang portofolio, atau karena guru SD swasta di kabupaten kami masih jarang yang memenuhi jenjang S1. Tapi, tetap saja Pak Syamsul bersekukuh dengan pendapatnya. Bahkan dengan nada sedikit mengertak Ia tidak akan meluluskan peserta sepertiku. Baginya, aku korban kesalahan sistem. Ah, aku capek!
Sembilan hari kulalui hari-hari mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG). Meninggalkan buah hatiku Ismail. Salah satu motivasiku mengikuti sertifikasi guru adalah untuk kesejahteraan anakku Ismail. Dari bayi, Ismail tak hentinya sakit. Lahir sungsang dengan berat 2,8 Kg. Dua minggu kemudian, ditemui kelenjar sebesar telur ayam kampung di leher sebelah kirinya. Akhirnya diperlukan terapi. Syukurlah 5 kali terapi kelenjar itu mengempis dan kepalanya normal mengeleng ke kanan dan ke kiri. Padahal umurnya waktu itu baru usia 1,5 bulan tapi harus dibawa mengendarai motor berjarak sekian kilo untuk terapi. Kubungkus rapat tubuhnya dengan selimut hangat. Berangkat jam 10, mulai terapi setelah sholat dzhur dan pulang ke rumah yang ditempuh selama 1 jam setelah asar, bahkan ketika antrian pasien lebih banyak kami baru bisa pulang selepas magrib. Pastilah cukup melelahkan bagi bayi merah seusia Ismail. Tapi kala itu, tak ada pilihan lain. Menyewa mobil mahal. Belum biaya bensin, rokok supir, makan di jalan, parkir dan lainnya. Membengkak. Lebih hemat menggunakan motor.
Ismail harus kuat. Begitu yang kuharapkan pada namanya. Seperti Nabi Ismail yang kuat, shaleh, taat perintah Allah dan orang tuanya. Harapan standar bagi semua orang tua. Usia 8 bulan Ismail diare dan harus di opname. Ia mengalami dehidrasi. Akibat tak punya biaya berobat, saat itu, kami hanya memberikan obat dari Bidan yang tak kunjung ada perubahan setelah 4 hari. Hari ke-5 Ismail harus di opname di Balai Pengobatan (BP). Badannya sangat kurus karena kekurangan cairan. Bahkan menangis pun tak keluar air matanya. Kian hari badannya semakin menyusut hingga usia 11 bulan, dokter menyatakan Ismail menderita TBC. Bagai disengat listrik, aku terkulai dengan kenyataan. Anakku kena TBC? Kok bisa?
Diusia 1 th bobot Ismail hanya 7,0 Kg. Ia sulit sekali makan, apalagi buah-buahan. Ismail selalu mudah sariawan, panas dan rewel. Saat itu aku tak punya pilihan untuk terus mendampinginya di rumah. Menjadi ibu rumah tangga saja, meninggalkan aktivitasku selama ini. Hingga 6 bulan Ismail mengkonsumsi obat TBC dari Puskesmas, berat badannya mulai meningkat. Walau hanya 1-2 ons, tak stabil hingga usianya menjelang 2 tahun tetap dibawah 8,5 Kg. Tak beranjak. Kata dokter spesialis anak, Ismail harus ganti merk susu formula. Ia memang tak ASI lagi sejak usia 1,5 tahun. Tak ada paksaan, hanya kebetulan saja terpaksa disapih. Saat itu badanku panas tinggi dan muntah-muntah. Esoknya Ismail menolak minum ASI. Sejak itu Ismail tergantung dengan susu formula. Biasanya Ismail mengkonsumsi susu formula termurah, merk standar saja. Tapi saran dokter harus diganti karena tubuh Ismail yang sangat kekurangan gizi.
Sebenarnya aku tak sedap mendengar anakku kurang gizi. Tapi apa mau dikata, begitulah kenyataannya. Ia susah makan, baik sayuran apalagi buah-buahan. Kata dokter, kalo mau tubuh Ismail bobotnya naik, susunya diganti dengan susu Chil Mil yang harganya sangat mahal bagi kantong kami. Untuk berat 800 kg seharga Rp.145.000,- ini hanya cukup untuk 7 hari. Jadi jatah 30 hari atau 1 bulan bisa menghabiskan 4 kaleng ukuran 800 Kg atau sekurang-kurangnya menghabiskan dana Rp. 580.000. Sangat kontras dengan pendapatan kami yang digabung berdua 1 bulan yang hanya Rp. 1.300.000,-. Bila dihabiskan untuk susu saja, sisanya hanya Rp. 720.000. Dipotong sewa rumah, listrik, beras, sayuran, ongkos dan sebagainya sungguh melilit tali pinggang.
Itulah sebabnya aku ingin sekali lulus sertifikasi. Paling tidak beban di pundak suamiku yang bekerja swasta berkurang. Kesehatan Ismail terjamin dan asap dapur tetap ngepul. Tapi kini harapan itu menipis. Memang dijanjikan bagi yang tidak lulus diklat pada ujian pertama, akan diberi kesempatan untuk ujian kedua dan ketiga. Tapi apa menjamin? Toh janji muluk yang diberikan dosen koordinator kelas dulu bagai busa sabun yang ditiup angin. Hilang tak berbekas.
“Tak usah ngoyo ikut diklat, santai saja, tapi juga jangan main-main. Peserta yang sudah ikut sekarang, saya jamin 99% akan lulus.”
“Apa digabung dengan nilai portofolio, Pak? Tanya salah seorang peserta.
“Tidak. Semua nol. Yang diambil hanya nilai ketika diklat. ” begitu penjelasannya. Kini, kira-kira aku tidak lulus karena apa ya?
“Takdir, sayang. Mungkin semua ada hikmahnya,” ujar suamiku menghibur. Kurasa, ia menutupi kejujuran hatinya. Kalo boleh kutebak hatinya pasti risau. Harapan uang lulus sertifikasi akan membantu biaya kehidupan kami. Menyambung kontrak rumah yang sebentar lagi habis, biaya cicilan motor, dan yang paling urgen adalah biaya kesehatan Ismail.
“Terus berjuang, Dek Ayu,” pesan Bu Siti via sms ketika tahu aku tidak lulus.
“Ayu, kabarnya tes ulang itu setelah selesai diklat semuanya. Nanti ada pengumuman lanjutan, sabar ya, Ayu.” sms Bu Tini. Beliau teman sekamarku.
Ya, walau pun aku sedih, aku sudah bahagia mendapat ilmu ketika PLPG.
“Bersabar ya, ini mungkin kesalahan komunikasi dengan pihak panitia. Anda ikut diklat bukan KKN kok, dinas sudah melakukan sesuai prosedur,“ ujar seorang Bapak yang telah lulus.
“Mungkin kamu lupa jawab soal tentang deklinasi,” ujar kepala sekolahku berkelakar. Mengingung soal ujian Fisika. Aku tersenyum getir, teringat beban di hadapanku. Tagihan yang mengejar dan kontrakan yang harus diperpanjang.
* * *
Itulah kisahku. Dua tahun yang lalu. Setelah tes kedua kalinya. Aku akhirnya lulus sertifikasi dan Alhamdulillah kini Ismail tumbuh sehat dan jarang sakit lagi. Suamiku sudah lulus CPNS di Deptan. Allah memang Maha Mendengar pinta hamba-Nya. Aku telah mencobanya dengan doa-doa panjangku. Melewati masa krisis pernikahanku dan melewati kisah suka-duka sebagai guru swasta. Semoga ada hikmahnya!
Lampung Timur, 14 Januari 2008-2010

dalam rangka kontes blong disponsori oleh http://denaihati.com/