Minggu, 24 Oktober 2010

Awas Narkoba!

Mencermati maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan masyarakat Indonesia terutama generasi mudanya amatlah memprihatinkan. Perkiraan UNODC (United Nation Office on Drugs & Crime) bahwa jumlah korban penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sekitar 1 % dari jumlah penduduk Indonesia dengan kisaraan antara 2,6 hingga 3,2 juta jiwa. Adapun studi tentang biaya ekonomi & sosial akibat penyalahgunaan narkoba pada 10 kota besar di Indonesia (Penelitian BNN & PUSLITKES UI, 2004) menunjukkan bahwa biaya ekonomi & sosial penyalahgunaan narkoba yang terjadi diperkirakan sebesar Rp 23,6 triliun. Adapun angka kematian pecandu 1,5 % per tahun atau 15.000 orang di Indonesia setiap tahun meninggal sia-sia akibat penyalahgunaan narkoba.

Mengingat dahsyatnya dampak buruk yang diakibatkan, berbagai pihak harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dalam menangani masalah penyalahgunaan narkoba ini. Adapun upaya pencegahan amatlah strategis agar dampak buruknya tidak semakin meluas. Peranan masyarakat dalam hal ini menjadi penting, terutama para orang tua hendaknya berperan sebagai benteng yang kokoh dalam upaya mencegah anaknya dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang cara asuh yang baik (parenting skill) dapat mencegah serta merupakan harapan besar untuk jaminan anak bebas dari pengaruh narkoba.

Kenyataannya, selama ini kebanyakan dari kita belajar seni mengasuh anak melalui pengalaman kita sendiri atau kadang dari insting. Kalau insting kita tepat, tentu kita akan sukses sebagai orang tua. Tapi bagaimana kalau insting kita salah? Ada juga yang mengasuh anaknya berdasarkan ingatan mengenai bagaimana orang tua kita mengasuh kita. Seorang pakar megatakan pola asuh yang positif seperti menerapkan nurturing family, yakni pola asuh yang menghormati pertumbuhan anggota keluarga diyakini dapat membantu pencegahan pengaruh narkoba.

Untuk itu diperlukan ilmu agar anak yang merupakan amanah dari Allah SWT dapat terhindar dari bahaya narkoba sehingga memiliki semangat untuk mengisi kemerdekaan RI tercinta. Semangaaaaaaaaat ^_^

Beni yang Sombong

Beni yang Sombong
Oleh : Awang Bayu Arirang, siswa SDIT Baitul Muslim, Way Jepara.


DI sebuah hutan belantara hiduplah berbagai jenis binatang. Ada Beni si kancil, Ani si anjing, Sipi si siput, Tigor si harimau, Jepi si jerapah dan lain-lain.
Suatu hari, Pak Burhan si burung hantu mengadakan lomba lari. Undangan pun disebarkan. Banyak yang ikut serta dalam kejuaraan lari ini. Di tempat lain, Pak Burhan sedang mengumpulkan para peserta.

“Apa hadiahnya?” tiba-tiba Beni bertanya.
“Hadiahnya bagi siapa yang menang akan mendapatkan lahan yang luas di padang safana sebelah utara,” jawab Pak Burhan.
“Oh!” teriak semuanya.

Saat pulang, Beni sempat mengejek yang lain,
“Eh kalian semua itu tidak akan sanggup melawanku! Sipi, kau kecil dan lamban! Tigor, kau kerjanya hanya makan saja! Ani, kakimu pendek, tidak bisa lari cepat!” ejek Beni.
“Hei! Kau jangan mengejek orang!” teriak Tigor.
“Memang kenyataannya begitu!” kata Beni.
“Akan kuhajar kau!” teriak Tigor seraya ingin menghajarnya.
“Hei, sudah! Kita buktikan di lomba nanti!” teriak Pak Burhan seraya menghentikan Tigor.
Keesokan harinya peserta sudah berkumpul di arena. Dengan pistolnya Pak Otan si Orang Hutan yag menjadi juri segera menghitung mundur.
Bersiap, siap! 3,2,1.......dooor!

Semua peserta berlari dengan kencang. Tetapi Beni hanya berjalan sambil jingkrak-jingkrak. Beni berada di posisi pertama, dikejar oleh Tigor, ternyata Sipi jatuh ke sungai. Lalu Sipi dibantu oleh Pak Aya dan Bu Aya si buaya. Mereka berenang cepat dalam air sehingga menyalip Tigor dan Ani.

Wah! Ternyata Beni tadi tersandung batu saat berjingkrak-jingkrak dan posisinya diambil alih oleh Sipi. Di belakang ada Tigor dan Ani, dan Sipi dilemparkan menuju garis finish. Akhirnya Sipi menjadi juara pertama, diikuti Ani juara kedua, dan Tigor juara ketiga. Mereka semua mendapat hadiah, yakni padang safana yang luas. Sedangkan Beni, ia hanya menangis karena tidak menang dan kakinya sakit akibat tersandung batu.

Cerita Anak ini di muat di http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010060600305838

Tamasya ke Dufan

Tamasya ke Dufan

SUNGGUH senang hatiku. Besok sepupu dari Jambi, Bengkulu, dan Lampung berkumpul di rumahku. Jarang-jarang kumpul keluarga besar ibu. Biasanya setiap dua tahun sekali kumpul di kota asal ibu, Bengkulu. Tapi tahun ini istimewa. Karena Mbak Ririn, sepupu yang dari Jambi, wisuda. Mbak Ririn sekarang sudah menjadi sarjana pertanian di Universitas IPB. Sebagai rasa syukur, Bunda (ibunya mbak Ririn, kakak ibu) mengadakan syukuran keluarga bertamasya ke Dufan. Emmm...sungguh indahnya pertemuan esok ya?

“Wah, rumah kita nanti ramai ya, Mbak,” ujarku pada Mbak Wulan.
“Iya, tapi kita harus belajar menjadi tuan rumah yang baik. Kita harus rela jika barang kita dipinjam bersama, seperti guling, bantal atau selimut,” jawab Mbak Wulan.
“Etss...tapi yang ini gak boleh, Mbak. Ini guling kesayanganku,” rajukku.
“Duu dah gede, udah kelas lima SD masih aja manja! Ya udah, simpan di kamar Ibu sana! Nggak enak nanti kalo sepupu kita datang,” ujar Mbak Wulan.

Esok pagi Adik Faris dari Lampung datang. Adik Faris yang baru tiga tahun sungguh lucu! Adik Faris suka sekali menggambar dan main kejar-kejaran. Adik Faris langsung akrab. Padahal terakhir bertemu, umurnya masih dua tahunan. Mungkin karena mereka rajin telepon, jadi walau jarang berjumpa, terasa sudah sangat akrab. Adik Faris datang ditemani umi dan abinya.
Sorenya, Dang Acon dan Ayuk Siti yang datang dari Bengkulu. Mereka cuma ditemani Bunga (ibunya Dang Acon dan Ayuk Siti). Ayahnya tak ikut serta karena ada tugas. Malamnya, Mbak Ririn, Mbak Dayu, Mbak Nita tiba dari Jambi. Mereka datang bersama Bunda (sebutan kami untuk mamanya) dan papanya. Kini lengkaplah keluarga besar ibu. Sayang Oma dan Opa telah tiada, tidak ikut serta berkumpul bersama kami.

Hari yang dinantinya tiba. Esok hari pagi-pagi sekali keluarga yang sudah kumpul berkemas-kemas. Para ibu-ibu masak di dapur mempersiapkan bekal makan siang, sedangkan yang laki-laki mempersiapkan mobil dan lainnya.
***

Pukul delapan pagi, kami bergerak menuju Ancol. Sepanjang jalan kami bertukar cerita. Rasanya sungguh bahagia dapat berkumpul seperti ini. Tiba di Ancol pukul 10.00.
“Kita mau ke mana nih?” tanya Bunga.
“Ke Dufan aja!” jawab Bunda.

“Kemana aja, yang penting maen en gratis!” ujar Dang Acon yang disambut tawa kami semua.
Akhirnya Kami memilih untuk bermain di Dufan saja.
Ternyata harga karcis cukup mahal, yakni Rp150 ribu untuk 1 orang, bahkan Adik Faris yang tingginya belum 100 cm ikut membayar setengahnya.
Usai membeli karcis, kami semua menuju antrean panjang. Sambil menunggu antrean panjang, kami melihat badut yang lucu-lucu. Ada yang seperti kodok, boneka, bebek dan lainnya. Kulihat Adik Faris menangis ketika uminya mendekati badut berbaju kodok. Lucu sekali! Ketika hendak masuk, tangan kami di beri cap sebagai tanda masuk. Karena aku sudah pernah ke Dufan dengan ibu dan bapak, maka aku sering menjadi petunjuk bagi sepupuku yang lainnya.
Setelah sampai di dalam, kami sekeluarga besar mencari tempat untuk istirahat. Kami memilih suatu tempat duduk yang panjang menghadap ke kolam. Tak lama Adik Faris langsung mengajak umi dan abinya naik perahu di atas kolam, sedangkan kami mencoba bermain kora-kora.

Dang Acon dan Mbak Nita memilih bermain tornado. Wah kami yang melihat dari bawah saja sungguh tegang! Aku tak berani melihatnya!
“Ayo, Mbak Tia!” ajak Dang Acon.
“Nggak ah, kami milih di bawah saja,”ujar Mbak Tia.
Tak lama Dang Acon dan Mbak Nita menaiki tornado. Tubuh mereka berayun-ayun dan berputar-putar, jeritan peserta membahana.
“Ngeri tapi mendebarkan!” kata Dang Acon usai main tornado.

“Nggak mau naek itu!!! Huhuhuhu.....” Adik Faris mulai menangis melihat permainan tornado.
Selanjutnya kami mencoba permainan istana boneka. Kami naik semacam perahu yang bergerak di dalam air. Istana boneka ini terletak di dalam gua, tempatnya agak gelap. Awalnya Adik Faris ketakutan, lama-lama Adik Faris semakin asik melihat boneka-boneka yang ada. Boneka-boneka itu menggenakan busana daerah. Berbagai macam daerah, baik dari Aceh sampai Papua. Selain provinsi di Indonesia, ada juga boneka dari beberapa daerah,seperti India, Amerika, Jepang, Malaysia, dan lainnya. Wah sungguh menarik!

Menjelang asar kami sekeluarga berkumpul kembali dan bersiap-siap untuk pulang. Sungguh pertemuan ini sangat menyenangkan. Tapi setiap pertemuan, ada perpisahan. Dan besok, siap-siap rumahku sepi kembali.

Cerita Anak ini di muat di http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010071100313343

Puisi-puisi Siswa SDIT Baitul Muslim

Buku

Karya : Luthfi


Buku
Kau meembantu aku belajar’
Kau selalu kubuka
Saat-saat ulangan,
Aku tahu


Buku
Jika kau tidak kubuka
Tubuhmu berlumur debu
Aku bisa membaca
Dan menulis
Karenamu’


Buku
Kau selalu kubawa ke sekolah
Aku selalu semangat membacamu


Buku
Jika kau selalu kubuka
Kau akan bersinar terang
Di otakku


Oh buku
Kau selalu ada ditatapan mataku
Aku selalu kagum dengan warnamu
├Łang indah itu

Buku
Dan aku ingin menjadi guru
Jika menjadi guru
Aku harus sering memegangmu

Oh buku
Terima kasih
Sahabatku


Nenekku
Oleh Mutiara

Nenekku
Kenapa kau pergi
Jauh tak bisa lagi kujemput



Nenekku
Maaf, aku belum sempat minta maaf padamu
Nenekku, aku sayang padamu
Sehidup semati, oh nenekku...

Aku sangat kangen padamu
Selamat jalan nenekku
Tercinta....


Bintang
Karya Ismi Noer Azizah

Bintang
Kau yang berkelap-kelip di langit
Kau sangat indah di langit
Kutatap matamu untuk melihat dimalam hari


Oh bintang
Kau menghiasi langit dimalam hari
Jumlahmu sangat banyak
Hingga tak terhitung


Bintang kau disebut rasi bintang
Karena bentukmu bermacam-macam

Bintang
Sewaktu-waktu awan gelap menutupimu
Dan kau tak terlihat lagi
Tetapi aku masih melihatmu lagi dimalam yang indah

*) Puisi-puisi Peserta eksul jurnalistik SDIT

Sertifikasi Guru dan Cerpen Anak

Saya adalah salah seorang penikmat cerita anak yang ada di setiap Minggu di Koran kesayangan kita, Lampung Post. Sejak Tahun 2006 saya rajin mengamati cerita anak yang ditampil. Tak jarang saya kliping untuk menjadi bahan bacaan. Menariknya, sejak sertifikasi guru Tahun 2007 mulai digulirkan, cerpen anak yang ditampilkan mulai beragam temanya juga para penulisnya. Yakni, sudah mulai banyak dari para pendidik. Baik dari kalangan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),SD, SMP maupun SMA.

Menulis cerita anak sebenarnya tidaklah susah. Apalagi para guru yang setiap hari bertemu dengan muridnya. Kejadian di sekitar kelas, sekolah ataupun pergaulan anak dapat menjadi tema cerpen yang menarik. Apalagi sejak adanya sertifikasi, poin menulis cukup tinggi di portofolio. Walaupun itu belum menjadi poin tertinggi kelulusan, tapi cukup mendongkrak nilai portofolio, karena nilai setiap karya tulis (tulisan) yang dipublikasikan cukup besar sebagai karya pengembangan profesi.

Sayangnya, masih banyak guru yang bingung untuk memulai menulis. Contoh saja dalam mengisi rapor. Ada bebarapa guru yang masih bertanya,”Aduh bangaimana ya menuliskan komentarnya?” saat ada kolom komentar guru tentang kepribadian anak. Menulis bukanlah kegiatan asing bagi guru. Setiap hari tentu guru ikut menulis, minimal membuat Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau dokumentasi tentang kepribadian anak didiknya (terutama menjadiwali kelas).

Suatu hari saya pernah ditanya oleh seorang guru SMA bagaimana cara saya mengajarkan Bahasa Indonesia kepada anak didik saya agar suka menulis. Menurut saya, anak didik kita akan mencontoh gurunya yang suka menulis. Jadi, anak-anak akan terpacu semangatnya jika melihat gurunya juga suka menulis. Apalagi karya gurunya pernah terbit di media massa. Menulis tidaklah terlalu susah, tapi juga bukan pekerjaan mudah! Menulis adalah sebuah keterampilan. Belajar menulis sama seperti kita belajar menjahit, berenang, mengendarai sepeda atau jenis keterampilan lainnya. Mula-mula akan tersa berat dan banyak rintangannya. Namun, semakin sering berlatih, maka dengan mudah kita akan menguasainya.

Ada beberapa tips menulis cerita anak yang saya dapat dari berbagai penulis anak yang pernah saya baca dan saya ikuti. Pertama : Utamakan cerita-cerita yang memberikan penghargaan bukan hukuman. Contohnya Si Ani lupa membuat PR, lalu dihukum berdiri di depan kelas oleh gurunya. Ini kan kisah sudah tidak zaman lagi. Kedua: Pilihlah bahasa yang pendek dan mudah dimengerti anak-anak. Jangan lupa setting (tempat) kejadian yang mudah dikenal anak-anak. Ketiga : kirimlah, jangan tunda esok lagi!

Untuk memulai agar anak-anak didik mencintai pelajaran Bahasa Indonesia, terutama mengarang, awali pelajaran dengan permainan kosa kata, padanan kata atau tebak kata. Selain itu bisa mengajak anak-anak untuk mendengarkan dongeng atau cerita rakyat tanpa buku atau teks. Jadi guru total memerankan tokoh yang ada di depan kelas. Anggaplah kelas menjadi panggung dan guru adalah bintangnya. Dapat juga ajak murid berjalan-jalan di sekitar sekolah dan beri kesempatan untuk mengamati daerah sekitar lalu beri tugas membuat sebuah puisi dari hasilpengamatan mereka, tentunya setelah diajarkan teori membuat puisi. Saya berharap pelajaran Bahasa Indonesia menjadi salah satu pelajaran pavorit murid-murid saya, mengingat Bahasa Indonesia menjadi momok ketika UN, terkadang ironis sekali, pelajaran ini dianggap sepele dan nilainya terkadang anjlok. Nah, semoga para guru Bahasa Indonesia dapat berbenah dan teruslah belajar menulis!


Sri Rahayu, S.Hut

Guru SDIT Baitul Muslim Way Jepara Lampung Timur
dan Ketua FLP Cabang Lampung Timur