Jumat, 22 April 2011

Blogger Return Kontes

Kehadiran facebook, twitter, dan situs jejaring sosial lainnya mulai mengurangi keriuhan di dunia blog. Blog yang dahulu ramai dengan interaksi gagasan dan ajang menjalin pertemanan tampak mengalami penurunan peminat. Kemudahan berinteraksi secara instan yang ditawarkan situs jejaring sosial ternyata lebih disukai oleh para penggiat dunia maya. Gejala penurunan minat ini setidaknya mulai terlihat dalam satu tahun terakhir. Senjakala dunia blogging, demikian kata beberapa pengamat IT.

Penelitian di atas boleh jadi terburu-buru. Blog harus diakui punya beberapa keunggulan yang belum terggantikan oleh kehadiran situs jejaring sosial, diantaranya:
  1. Mampu mewadahi gagasan dengan sebuah karangan, bukan sekedar satu kalimat saja.
  2. Sebagai rujukan informasi, berita dan opini yang terpercaya melalui mesin pencari.
  3. M emiliki proses interaksi yang lebih mendalam.
  4. Sebagai simbol kebebasan dalam menyatakan pendapat dan argumentasi.
  5. Sebagai sarana berbagi pengetahuan dan informasi secara lebih detil dan mendalam.
  6. Sebagai sarana mencari penghasilan di dunia maya.

Mengingat semua karakteristik di atas, maka aktifitas blogging tetap perlu dipertahankan. Upaya ini mesti harus berasal dari para blogger itu sendiri. Khususnya yang lebih dahulu memasuki dunia blogging.

Kegelisahan ini memunculkan gagasan bagi kami untuk menggelar kontes menulis artikel. Dibutuhkan masukan dari teman-teman blogger demi kelangsungan masa depan dunia blogging. Kami berharap, artikel-artikel yang diikutkan dalam kontes tersebut kelak dapat memunculkan gagasan dan cara praktis untuk mengembalikan kejayaan dunia blog.

Jadi, tunggu apa lagi? mari utarakan keprihatian dan solusi Anda terhadap gejala menurunnya minat blogging, melalui “Blogger Return Contest”.


BENTUK KONTES

Blogger Return Contest adalah kegiatan berbentuk lomba penulisan artikel dengan tema “Blogger Nggak Cuma Ngeblog”

  1. Peserta wajib memiliki blog
  2. Terbuka kepada semua blog, termasuk blogspot, multiply, wordpress, maupun domain sendiri.
  3. Peserta membuat posting sesuai dengan tema
  4. Postingan adalah asli, belum pernah dipublikasikan, bukan terjemahan, dan bukan saduran.
  5. Memberitahukan kepada kami link postingan yang diikutkan lomba, yaitu dengan mencantumkannya sebagai komentar di artikel ini.
  6. Memasang banner lomba
  7. Panjang karangan bebas
  8. Mencantumkan link sponsor (denaihati)
  9. Lomba dilaksanakan pada tanggal 18 April 2011-18 Mei 2011
  10. Pemenang diumumkan dua minggu setelah lomba berakhir


HADIAH
Dengan disponsori oleh Denaihati dan beberapa teman dekat yang tidak bisa disebut identitasnya, Blogger Return Contest menyediakan hadiah sebagai berikut:

  1. Satu pemenang Pertama: Uang senilai Rp.500.000
  2. Satu pemenang Kedua: Uang senilai Rp.300.000
  3. Satu pemenang Ketiga: Uang senilai Rp.200.000

Selain itu terdapat hadiah kaos untuk lima peserta yang tulisannya terpilih dan buku hasil karya para blogger kepada lima peserta lainnya.


JURI

Juri terdiri dari beberapa teman-teman blogger:

Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.



Silakan copy paste code banner di bawah ini

http://anazkia.blogspot.com/2011/04/blogger-return-kontes.html" target="_blank" title="Blogger Return Contest">http://images.anazkia.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/Tax-zQooCIAAAD2i8cw1/blogger-return-contest.jpg?key=anazkia%3Ajournal%3A615&nmid=426218424" alt="Blogger Return Contest" width="125" height="125">

MORINGA UNTUK DIDA PANDA

MORINGA UNTUK DIDA PANDA

Yudith Fabiola


“Mama, aku mau main ke rumah Dida, ya.”

“Bukankah tadi sudah bertemu di sekolah?”

“Sudah tiga hari Dida tak sekolah, Ma.”

“Lho, kenapa?”

“Itulah, tak ada yang tahu penyebab Dida tak sekolah. Bu Guru pun tak tahu.”

“Tidak biasanya Dida begitu,” gumam Mama, “baik, kau boleh ke sana. Tapi, hati-hati, ya!”

Reti Merpati segera mengepakkan sayapnya kuat-kuat setelah mendapat izin dari mamanya. Ia terbang tinggi melintasi hutan menuju rumah Dida Panda. Dida Panda tinggal di desa Ayunda, desanya para panda. Cukup jauh dari rumah Reti Merpati.

Tiba di sana, Reti Merpati bertengger di pohon di depan teras rumah Dida. Ia bersiul-siul memanggil Dida. Tak lama, pintu rumah Dida terbuka.

“Reti!”

“Dida!”

Dida terkejut melihat Reti berada di teras rumahnya. Sedangkan Reti kaget menyaksikan Dida.

“Ke-kenapa dengan bulumu, Dida?” tanya Reti heran. “Me-mengapa bulu putihmu menjadi kuning kecokelatan?”

Dida Panda menunduk sedih, “Semua panda di sini bulu putihnya berubah warna.”

“Kok bisa?”

“Aku pun tak tahu,” ujar Dida. “Tapi, Ayah bilang, mungkin air penyebabnya.”

“Maksudmu, air di desamu kotor? Warnanya kuning kecokelatan?” Dida mengangguk.

“Terus, kenapa kamu tak ke sekolah tiga hari ini?”

“Aku malu,” jawab Dida. “Bagaimana mungkin aku ke sekolah dengan bulu kotor seperti ini?”

“Tapi, sampai kapan kamu akan terus bersembunyi di rumah?” protes Reti. “Kamu tak mau ketinggalan pelajaran di sekolah, kan?”

“Tentu saja. Tapi, apa yang bisa kulakukan agar buluku putih lagi? Agar air di sini jernih lagi?”

Reti Merpati terbang rendah. Berpikir keras mencari solusi. Begitu juga Dida panda, mondar-mandir di teras rumahnya.

“AHA!” seru Reti tiba-tiba, “kita datangi saja Profesor Cling Kelinci!”

“Cerdas!” puji Dida Panda. “Tapi, kita pergi ke sana malam-malam, ya!” mohon Dida.

“Kamu pasti tak ingin ada yang memergokimu dengan bulu kuning kecokelatan, kan?” duga Reti.

“Pintar!” puji Dida lagi.

Malam hari, mereka segera berangkat menemui profesor Cling Kelinci di kota Wortelu. Beruntung Profesor tengah ada di laboratoriumnya. Mereka menceritakan kondisi Dida dan air kotor di desanya.

“Hmm...” Profesor Cling Kelinci tampak berpikir. “Baik, datanglah kembali tiga hari lagi sambil membawa air kotor dari desamu.”


Tiga hari kemudian, Reti dan Dida berada di laboratorium Profesor Cling Kelinci.

“WOOOW!” pekik keduanya takjub. Air kotor yang mereka bawa, satu jam kemudian menjadi jernih kembali setelah Profesor memasukkan larutan ke dalamnya.

“Larutan ajaib apakah ini, Prof?” tanya Dida.

“Ini bukan larutan ajaib, Dida,” jawab Profesor. “Ini adalah larutan biji Moringa. “

“Biji Moringa?” tanya Reti heran.

“Pernah lihat pohon Moringa?” Profesor bertanya lagi. “Daunnya kecil-kecil dan bentuk polong buahnya memanjang.”

“Sebentar,” Reti tampak mengingat-ingat sesuatu, “Hey, bukankah itu pohon tempatku bertengger di depan rumahmu?”

“Ya, ya, ya, aku ingat!” ujar Dida girang. “Itu sih pohon yang banyak tumbuh di desa Ayunda!” lanjut Dida riang. “Tapi, kami menyebutnya pohon Kelor, Prof.”

“Sama!” tegas Profesor. “Kelor sama dengan Moringa, Kelo, Keloro, Kawano dan ada beberapa nama lagi.”

“Jadi, bagaimana membuat larutan penjernih air ini, Prof?” tanya Dida tak sabar.

Profesor Cling Kelinci pun memperlihatkan cara membuat larutan biji Moringa pada Dida dan Reti.

“Biji moringa yang sudah kering dipanen. Buang kulit bijinya sehingga tampak biji yang putih. Biji ini ditumbuk sampai halus hingga menjadi bubuk biji moringa. Tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji hingga menjadi pasta.”

“Di desaku tak ada air bersih, Prof.” Dida memotong penjelasan Profesor.

“Minta sebotol dua botol pada Reti,” saran Profesor. “Air di desamu tak kotor kan, Reti?” Reti menjawab dengan senyum.

“Kemudian, masukkan pasta ke dalam botol dan tambahkan air segelas. Kocok hingga tercampur sempurna lalu disaring. Larutan yang tersaring dimasukkan ke air kotor. Diaduk selama 10 sampai 15 menit. Nanti, kotoran-kotoran akan mengendap. Satu jam kemudian air menjadi bersih dan bisa dipakai untuk keperluan keluarga.”

“WHIII!” Reti dan Dida kembali takjub. “Gampang sekali, Prof!”

“Nah, tunggu apalagi?” tegur Profesor. “ Kabarkan berita gembira ini pada orang tua dan warga desa Ayunda!”

Dida Panda pamit dengan tergesa lalu melesat bagai kilat. Reti Merpati sampai terengah-engah mengepakkan sayapnya demi mengejar Dida.

“Oooiii Didaaa, tunggu aku!” teriak Reti.

Rupanya, Dida tak mau membuang waktu. Ia ingin segera sampai ke desanya. Memberi tahu orang tua dan mengajak seluruh panda bergotong royong membuat bubuk biji Moringa. Reti geleng-geleng kepala melihatnya.

“Didaaa, semangat nian kau!” Dida menoleh dan mengacungkan ibu jari pada Reti.

Reti tersenyum. Dida pasti akan segera kembali ke sekolah. Bulu kotornya akan putih lagi berkat larutan biji Moringa temuan Profesor Cling Kelinci.


Sumber: http://fefabiola.multiply.com/journal/item/133?mark_read=fefabiola:journal:133&replies_read=1

Kotoran Ajaib di Negeri Hijau

Kotoran Ajaib di Negeri Hijau

Dongeng tentang Biogas

Gbr: http://thumbs.dreamstime.com/thumblarge_398/12420616186wK0UQ.jpg

Alkisah terdapat dua negeri yang hidup berdampingan, negeri Wala Wolo dan negeri Manjo Binjo. Negeri Wala Wolo dipimpin seorang Ratu yang sangat cantik dan rendah hati. Wala Wolo juga dikenal dengan sebutan negeri hijau. Para kurcaci yang tinggal di negeri ini memanfaatkan hasil bumi untuk kehidupan mereka. Ada yang bertani, beternak, dan melaut. Wala Wolo adalah negeri yang kaya akan hasil bumi dan laut.

Sedangkan negeri Manjo Binjo dipimpin seorang Raja yang sombong dan serakah. Kurcaci di negeri Wala Wolo biasa menyebutnya sebagai negeri besi, karena banyak sekali pabrik dengan cerobong asap yang membumbung. Mereka membuat apa saja, mulai dari alat masak sampai kendaraan terbang untuk dijual ke negeri tetangga dan mendapatkan uang. Manjo Binjo adalah negeri yang kaya dengan uang dan emas. Tapi mereka tidak memiliki lahan sedikitpun untuk bercocok tanam, maka dari itu mereka membeli hasil bumi dan laut dari negeri Wala Wolo.

“Pengawal, cepat kau beli hasil bumi dan laut dari negeri sebelah dengan uang ini!” perintah Raja sambil melempar dua karung berisi uang pada pengawal.

“Apa yang akan kita beli, Raja?” tanya pengawal.

“Beli apa saja yang ada di sana! Kalau uang ini tak cukup, berikan mereka emas, kalau masih kurang, suruh mereka memilih satu pabrikku untuk mereka ambil. Negeri ini adalah negeri kaya, tidak seperti mereka yang hanya bisa memanen sayuran. Hahaha..”

Pengawal segera pergi ke negeri Wala Wolo untuk membeli keperluan pangan. Tak lama ia kembali dengan belasan kendaraan terbang yang berisi bahan-bahan makanan.

“Raja.. Raja.. Gawat, Raja! Gawat! Wala Wolo.. Wala Wolo..” teriak pengawal sambil terbata-bata.

“Wala Wolo.. Wala Wolo.. Apa yang kau bicarakan? Jangan membuatku bingung!” kata Raja.

“Orang-orang di sana sudah tidak memasak dengan kayu bakar! Mereka menggunakan kompor!” jelas pengawal.

“Hahaha.. Lalu kenapa? Kita kan juga punya kompor. Kau mau aku membeli kompor mereka?”

“Bukan, Raja. Kompor mereka berbeda. Mereka tidak menggunakan minyak tanah atau tabung gas seperti kita. Mereka hanya menggunakan pipa yang menjulur untuk menyalakan api.”

Dahi Raja berkerut, ia berpikir sejenak. “Ah, pasti pipa itu menyalurkan gas dari tabung yang disembunyikan.”

“Tidak, Raja! Hamba sudah memeriksanya, tidak ada satu pun tabung di rumah mereka. Ini pasti sihir, ya, pasti sihir!”

Mendengar hal ini, Raja segera memerintahkan pengawal dan pasukan keamanan kerajaan untuk meneliti apa yang terjadi di negeri Wala Wolo. Setelah mendapat laporan dari pasukannya, Raja memutuskan untuk melihat sendiri ke negeri Wala Wolo.

“Di mana tabung besar itu, pengawal?” tanya Raja.

“Di sebelah sana, Raja!” bisik pengawal sambil menunjuk ke arah ladang kosong.

“Kau mau menipuku? Tidak ada tabung besar di sana!” teriak Raja.

“Tabung itu memang tidak begitu terlihat karena ditanam di tanah, Raja.”

Raja Manjo Binjo dan pengawal berjalan mengendap-endap ke ladang kosong itu. Belum sampai di ladang, pengawal menghentikan langkah Raja.

“Awas, Raja! Ada peri-peri penyihir!” cegah pengawal sambil menarik tangan Raja.

Pengawal menunjuk seorang kurcaci petani yang membawa ember-ember besar, di sekelilingnya ada makhluk-makhluk kecil yang beterbangan.

“Itu pasti ramuan yang akan disihir oleh peri-peri itu,” kata Raja.

Petani itu pergi setelah meninggalkan ember-ember berisi ramuan di dekat tutup tabung. Raja dan pengawal kembali mengendap-endap untuk memeriksa ramuan dan tabung ajaib. Di sekeliling tabung itu terdapat banyak sekali pipa yang menjulur.

Raja melepas topi kesayangannya, ia bermaksud menangkap peri-peri penyihir dengan topinya. Pengawal juga tak mau kalah, ia melepas bajunya.

“Hehe.. kau tak bisa ke mana-mana, peri kecil! Tangkaaaappp..!!!” seru Raja bersemangat.

Raja Manjo Binjo dan pengawal berlarian menangkap peri-peri sihir dengan topi dan bajunya. Tapi mereka kalah gesit, peri-peri itu terbang melesat dengan cepat, mengecoh Sang Raja dan pengawal, sehingga mereka berdua bertabrakan.

“Hei, kenapa kau tabrak aku? Perinya di sana, bukan di sini!!” maki Raja pada pengawal.

Saat akan mengayunkan topi, kaki Raja tersangkut kaki kiri pengawal. Bruukkk..!! Mereka tersandung dan jatuh terjerembab. Kaki kanan pengawal tak sengaja menendang ember-ember berisi ramuan. Ember-ember itu terlempar ke atas, terbalik, dan.. byurrr… ramuan-ramuannya pun tumpah, mengenai Raja dan pengawal.

“Pengawaaalll!!!! Apa yang kau lakukan??? Topikuuuu!!!” teriak Raja.

“Ampun, Raja.. Ampun.. Hamba tidak sengaja.”

Hidung Raja mengendus-endus. “Pengawal, kau kentut, ya?”

“Ampun, Raja, tidak.. Hamba tidak kentut,” jawab pengawal.

“Lalu bau apa ini?” tanya Raja sambil mengendus-endus sekitarnya.

Pengawal membau pakaiannya yang basah karena ramuan. Hoeekk… baunya menyengat sekali. Ia lalu membau topi dan pakaian Raja. Hoeekk… baunya juga tidak kalah menyengat.

“Raja, baunya berasal dari ramuan ini,” kata pengawal.

Raja Manjo Binjo membau pakaian dan topinya. Ia menjulurkan lidah karena tak tahan dengan baunya.

“Kenapa baunya seperti kotoran sapi? Hoeekkk..” ujar Raja.

Pengawal mengambil sisa ramuan dalam ember dengan tangannya.

“Raja… Ini memang kotoran sapi,” kata pengawal.

“Aaaaahhh…” Raja segera bangkit sambil berlarian mencari air.

“Kotoran sapi ajaib!” seru pengawal.

Tiba-tiba datanglah Ratu Wala Wolo bersama seorang kurcaci petani yang tadi meletakkan ember berisi ramuan ajaib. Alangkah terkejutnya saat ia melihat Raja Manjo Binjo beserta pengawal yang penuh kotoran sapi.

“Oh, Raja Manjo Binjo, sungguh terhormat sekali bisa melihat Paduka di negeri kami,” ujar Sang Ratu.

Raja terkejut, ia berusaha bersikap tenang.

“Apa yang membuat Raja singgah ke mari? Mm.. kotoran sapi itu…??” tanya Ratu.

“Kau curang, Ratu! Kalian menggunakan sihir untuk membuat kompor ajaib!” tuduh Raja.

“Apa maksud Raja? Kami tidak menggunakan sihir sedikitpun. Raja pasti salah mengerti,” jawab Ratu.

“Ahh.. bohong! Aku sudah tahu semua! Kalian membuat ramuan dari kotoran sapi lalu menyihirnya dan menyalurkannya lewat pipa-pipa itu untuk memasak,” sanggah Raja.

Ratu Wala Wolo dan kurcaci petani di sampingnya tersenyum mendengar ucapan Raja.

“Oh, itu.. Semua itu tidak ada hubungannya dengan sihir, Raja. Mari, kami tunjukkan!” ajak Ratu pada Raja.

“Ini adalah tabung yang menampung campuran kotoran sapi segar dan air. Tabung di bagian bawah untuk tempat kotoran, dan tabung bagian atas untuk menampung gas,” kata Ratu sambil menunjuk tabung yang sebagian tertanam di tanah.

“Jika didiamkan selama beberapa lama, campuran kotoran itu akan menghasilkan biogas. Biogas ini adalah jenis bahan bakar yang dihasilkan dari bahan-bahan organik seperti kotoran hewan,” lanjut kurcaci petani.

“Biogas ini kami salurkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa, bisa digunakan untuk memasak dan penerangan listrik, ampasnya juga bisa untuk pupuk kandang,” kata Ratu.

“Haha.. jangan becanda denganku! Mana mungkin kotoran sapi bisa menghasilkan gas? Dari mana datangnya gas itu?” seloroh Raja.

“Kotoran sapi segar mengandung bakteri yang akan memprosesnya menjadi gas,” jawab Ratu.

“Bohong! Aku tadi melihat peri-peri penyihir yang mengelilingi ember ini,” kata Raja.

“Peri penyihir? Tidak ada peri penyihir di negeri kami. Mungkin maksud Raja adalah peri hutan,” ujar Ratu.

“Bukan! Aku tahu peri hutan, ini lebih kecil dari peri hutan, warnanya hitam dan hijau,” sahut Raja.

“Oh.. haha.. itu.. Hahaha.. itu pasti lalat!” kata kurcaci petani.

“Benar, kan, Raja? Kami tidak menggunakan sihir untuk menghasilkan gas, ini murni proses alami. Kalau tidak percaya, Raja bisa mencobanya sendiri.” Ratu meyakinkan Raja.

“Ah.. untuk apa aku mencoba hal yang menjijikkan seperti ini? Aku bisa menghasilkan alat yang lebih canggih,” elak Raja.

“Menjijikkan tapi bermanfaat, Raja. Hehe..” kata kurcaci petani.

“Aku masih bisa memasak dengan kayu bakar dan gas asli dari bumi, bukan dari kotoran hewan!” kata Raja.

“Tapi kayu bakar dan gas bumi lama-lama akan habis, sedangkan kotoran sapi tidak akan habis selama sapi itu masih ada. Bukan begitu, Ratu?” ujar kurcaci petani.

“Aaahh… sudah-sudah.. aku mau mandi! Negeri aneh ini membuatku sial saja!” seru Raja sambil beranjak pergi.

Ratu Wala Wolo dan kurcaci petani hanya tersenyum melihat tingkah Raja Manjo Binjo dari negeri besi.


Sumber: http://kocomripat.wordpress.com/2011/03/25/kotoran-ajaib-di-negeri-hijau/#more-377

Contoh Dongeng : Air untuk Negeri Angin

Air untuk Negeri Angin

Sudah hampir 5 tahun tidak turun hujan di Negeri Angin. Tumbuhan banyak yang mati kekeringan, hewan ternak pun semakin kurus karena kekurangan makanan dan minuman. Air sangat sulit didapat, kalaupun ada hanya sedikit dan tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Negeri Angin.

Kerap kali Bunga, adik kecil Bayu yang baru berumur 3 tahun, menangis karena kehausan. Ketika air matanya yang asin menetes masuk ke dalam mulutnya tangisannya mulai berhenti. Bayu tidak tega melihat keadaan ini, maklum saja, Raja Negeri Angin menjatahkan jumlah pemakaian air minum sesuai dengan jumlah masing-masing anggota keluarga agar persediaan air yang tersisa tidak cepat habis.

Bayu merebahkan tubuhnya di atas tanah sambil memandang ke langit. Langit begitu cerah dan tak tampak tanda-tanda mendung akan turun hujan, berlawanan sekali dengan perasaan penduduk Negeri Angin yang selalu mendung mengharapkan hujan turun.

“Ya Tuhan, sampai kapan keadaan seperti ini akan berakhir?” tanya Bayu dalam hati. Tapi kemudian Bayu ingat sebuah hal yang selalu ayahnya katakan padanya,Tuhan tidak akan memberikan ujian yang kita tidak sanggup untuk memikulnya.


Sejenak kemudian Bayu berpikir. “Laut! Ya, laut! Air laut sangat banyak tapi mengapa air laut tak dapat diminum? Apa karena rasanya yang asin? Seandainya air laut tidak asin dan dapat diminum tentu seluruh penduduk Negeri Angin tidak akan kehausan.” Berbagai macam pertanyaan muncul dari otak cerdas Bayu. Ya, Bayu adalah seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang cerdas. Bayu selalu bertanya tentang banyak hal yang baru dilihatnya kepada kedua orang tuanya. Namun sayang ia tak bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah karena orang tuanya hanyalah rakyat jelata yang miskin. Hanya anak-anak para raja dan bangsawan saja yang dapat bersekolah.

* * *


Hari itu alun-alun kota ramai dipadati penduduk yang melihat pengumuman dari sang Raja. Sang Raja mengadakan sayembara :
Barang siapa yang dapat menemukan sumber air yang dapat diminum akan mendapatkan hadiah 100 keping emas dari sang Raja.

Penduduk Negeri Angin kasak kusuk membicarakan sayembara itu, ada yang berniat ikut, ada pula yang sudah pasrah dengan nasib mereka selanjutnya. Bayu ingin ikut sayembara itu, bukan karena ia menginginkan hadiahnya tapi karena ia sadar air adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh seluruh penduduk sekarang ini.

Bayu terus berpikir bagaimana caranya agar air laut tidak asin dan dapat diminum sambil terus berjalan menuju pantai. Setibanya di pantai ia duduk di atas pasir sambil menatap ke lautan. Tiba-tiba Bayu teringat dengan proses pembuatan garam, ia sering membantu ayahnya membuat garam dari air laut.


“Ya, garam! Itulah yang membuat air laut menjadi asin.” Seru Bayu. Ayah Bayu pernah mengatakan padanya kalau garam bisa dipisahkan dari air laut dengan cara membiarkan air laut yang telah di tuang ke dalam tambak terkena panas matahari sampai airnya menguap dan tinggallah garamnya.

“Kalau begitu uap air yang dihasilkan tidak asin lagi. Aku harus menahan air yang menguap itu agar tidak terbang ke langit!” Seru Bayu sambil berlari ke rumahnya hendak mengambil sebuah baskom dan selembar plastik bening yang cukup lebar. Plastik ini sering digunakan ayahnya untuk membungkus garam-garam yang akan dijual.

Bayu segera kembali ke pantai, menuangkan air laut ke dalam baskom kemudian menutupnya dengan plastik. Bayu membiarkannya terkena panas matahari sampai tersisa garamnya. Bayu menunggu di tengah teriknya panas matahari. Tapi tiba-tiba angin berhembus dan menerbangkan plastik penutup baskom.

“Waa.. plastiknya terbang!” seru bayu Bayu sambil berlari mengejar plastik itu, Bayu jatuh bangun menangkap plastik itu, celananya sampai kedodoran! Hihi. Akhirnya plastik itu berhasil Bayu tangkap.

“Sebaiknya aku ikat saja deh plastik ini agar tidak terbang lagi.” Ujar Bayu sambil mengikat plastik itu di baskom dengan tali.


Bosan menunggu Bayu melihat sekeliling, ia melihat sebuah batu yang berukuran bulat seperti bola bekel.

“Bagus sekali bentuknya, bulat seperti bola!” Bayu memainkannya, menggelindingkan, dan melempar-lempar kecil batu itu. Tak sengaja batu itu jatuh di atas penutup plastik baskom, berputar dan berhenti ditengah, sehingga bagian tengahnya jadi cekung.

Bayu melihat batu itu, batu itu membuat air yang ada di bagian pinggir plastik penutup baskom mengalir ke tengah dan menetes. Tes..tes..tes.. tapi tidak ada wadah yang menampung air yang menetes itu. Biasanya kalau rumahnya bocor Ibu menyuruhnya mengambil baskom atau ember untuk menampung tetesan airnya. Itulah yang harus dilakukan Bayu. Bayu berlari lagi ke rumahnya dan mengambil baskom yang lebih kecil. Karena di rumahnya tidak ada baskom yang lebih kecil, maka ia menggantinya dengan mangkuk beling.

Bayu meletakkan mangkuk di dalam baskom yang telah terisi air laut, menutupnya dengan plastik dan mengikatnya. tak lupa Bayu meletakkan sebuah batu diatasnya. Bayu menunggu lagi. Kali ini dengan harapan yang begitu besar. Akhirnya lama kelamaan air di dalam baskom habis dan tersisa garamnya saja, sedangkan di dalam mangkuk terisi penuh oleh air laut yang tidak asin lagi. Bayu mencicipi air yang berada di dalam mangkuk.


“Hmm.. tidak asin! Horee.. aku berhasil!” Bayu berteriak kegirangan. Dengan hati yang gembira tidak terkira, Bayu membawa air tersebut ke rumahnya.

“Ayah, Ibu, Bunga... Ini adalah air laut yang tidak asin, kalian dapat meminumnya.” Seru Bayu seraya menuangkannya ke dalam gelas dan memberikannya kepada ayah, ibu, dan Bunga. Dengan raut wajah yang ragu-ragu mereka semua meminumnya.

“Airnya tidak asin, Kak..” seru Bunga dengan wajah gembira.

Ayah dan Ibu sangat bangga pada Bayu, mereka memeluk Bayu penuh haru.

* * *


Bayu membawa sebagian air itu ke istana dan memberikannya pada sang Raja. Sang Raja meminumnya.

“Darimana kau peroleh air ini, Nak?” tanya sang Raja.

“Hamba memperolehnya dari laut, Baginda.” Jawab Bayu.

Sang Raja tak percaya, kemudian Bayu menjelaskan bagaimana ia memperoleh air itu. Sang Raja memerintahkan seluruh rakyat agar bahu membahu merangkai benda-benda yang diperlukan untuk mengubah air laut menjadi air tawar seperti apa yang Bayu katakan.

“Nah, Bayu , kau berhak mengambil hadiahmu” ujar sang Raja.

“Terima kasih, Baginda, tapi maaf, saya tidak menginginkan hadiah itu, bolehkah saya meminta hadiah lain?” tanya Bayu.

“Baiklah, kalau aku bisa berikan itu pasti akan kuberikan padamu. Apa itu, Nak?” tanya Raja.

“Hamba ingin sekolah, Baginda, hamba juga ingin agar semua anak-anak seperti hamba dapat sekolah. Hamba ingin tahu lebih banyak hal-hal lain yang belum hamba ketahui.” Pinta Bayu.

“Hmm.. baiklah, akan kupenuhi permintaanmu. Ternyata selama ini peraturan itu tidak adil, anak cerdas sepertimu telah kusia-siakan. Sekarang semua anak di negeri ini boleh bersekolah, tak pandang bulu apakah dia anak raja, bangsawan, maupun rakyat jelata. Terima kasih Bayu, kau telah menyadarkanku.” Ujar Raja.

Akhirnya sekarang Bayu bisa bersekolah begitu pula anak-anak yang lainnya. Beberapa tahun kemudian setelah cukup menempuh pendidikan di Negeri Angin, Bayu pergi ke Negeri Seberang untuk memperluas pengetahuannya. Setelah itu ia kembali ke Negeri Angin dan mengembangkan teknologi untuk mengubah air laut menjadi air tawar yang kita kenal sebagai ‘destilasi air laut’. Kini hujan telah turun di Negeri Angin. Bila kemudian musim kemarau datang, Negeri Angin tidak akan kekurangan air minum lagi.

T A M A T