Senin, 12 Desember 2011

Menulis Cerita Lucu Yuk!

Menulis cerita humor untuk anak memang tidak mudah. Hal ini harus saya akui sepenuhnya. Meski saya sudah menulis dan menerbitkan beberapa novel komedi remaja, saya tetap merasa kesulitan saat harus membuat cerita yang bisa mengajak anak-anak untuk tertawa. Sampai saat ini belum sekalipun saya sukses membuat novel komedi untuk anak. Banyak hal yang harus dipertimbangkan agar cerita yang kita tulis, bahkan humor yang kita angkat, memang sesuai untuk anak.


Berkaitan dengan proyek antologi PBA ~ Jejak Kasih, yang sudah berlangsung beberapa waktu lalu, saya salah satu moderator yang dipercaya untuk membaca dan menyeleksi naskah-naskah humor yang masuk. Saat itu target saya tidak muluk-muluk, asal memiliki ide yang lucu, atau sekadar bisa memancing senyum, naskah tersebut bisa masuk dalam nominasi [versi saya, sebelum dirembukan dengan tim penyeleksi lainnya]. Hanya saja, dari [kurang lebih] 17 naskah humor yang saya baca, hanya sedikit sekali yang masuk dalam kriteria yang saya tetapkan. Sebagian besar naskah yang saya baca justru lebih cocok ke dalam genre Misteri, Petualangan, dan [mayoritas] realistis kontemporer.

Agar tidak terbentur dalam genre ‘Humor’ yang nantinya mungkin disematkan dalam cover buku, dan menimbulkan pertanyaan “kok cerita-ceritanya nggak lucu?”, akhirnya panitia sepakat bahwa genre humor dihilangkan. Naskah-naskah ‘humor’ yang layak muat dialihkan ke genre yang lebih pas. Karena itu pula, kenapa genre Realistis Kontemporer akhirnya dibuat dalam 2 gerbong, untuk mewadahi naskah PaBers yang memang bagus-bagus dari segi tema dan penceritaan.

Kalau saya harus mereview [halah, gaya amat ya?] kelemahan yang banyak terjadi dalam cerpen-cerpen humor yang masuk, rata-rata karena semua penulisnya hanya menyorot ‘lucu’ di satu bagian saja. Pada dasarnya, unsur lucu yang terdapat dalam satu poin/bagian saja tidak lantas menjadikan sebuah cerpen menjadi cerpen humor. Cerpen humor harus merupakan kesatuan dari awal sampai akhir, sehingga unsur-unsur kelucuannya harus terbaca di awal, tengah, dan terutama akhir, serta tidak pada bagian tertentu saja.

Sebagai contoh, ada cerita tentang anak yang makan sate. Karena alot, saat dimakan, daging sate itu mencelat dan jatuh gelutukan [cerpen siapa hayo? Maaf saya pinjam temanya ya, semoga berkenan]. Lucu? Pada bagian itu ya! Tapi apakah kisah yang dituturkan dari awal juga lucu? Ternyata tidak. Secara keseluruhan, kisah dalam cerpen ini lebih tepat sebagai cerita realitas biasa. Cerpen-cerpen lainnya pun sebagian besar mengambil tipe seperti ini.


Gara-gara ditunjuk sebagai penyeleksi cerita humor [yang dengan terpaksa genre ini harus dilebur ke genre lainnya], tiba-tiba saja saya ditodong Bunda Peri untuk membuat kiat-kiat menulis cerita humor. Haduh ampuuuun .... jujur saja, saya kalau ditanya tips-tips menulis cerita komedi selalu mati kata. Saya tidak punya kiat tersendiri dalam menulis kelucuan-kelucuan yang biasa saya tulis dalam novel-novel saya. Semuanya mengalir begitu saja. Saya percaya, setiap penulis pasti bisa membuat cerita lucu dengan gaya masing-masing. Setiap orang punya sense of humor masing-masing kok. Lihat saja komen-komen di grup ini, selalu memancing tawa dan kelucuan tersendiri [meski kemudian berujung rusuh. Hehehe]. Sebenarnya, hal-hal seperti itu bisa menjadi modal dalam menulis kalimat-kalimat lucu dalam cerpen humor. Perhatikan juga status-status FB PaBers, pernahkah disadari kalau kalimat itu sudah lucu dan bisa membuat orang yang baca ngakak-ngikik? Kenapa kemudian kita tidak menuangkan gaya kelucuan itu ke dalam sebuah cerita yang lebih panjang? Pantang menyerah sebelum dicoba kan?

Alih-alih memberikan kiat-kiat menulis cerpen humor, mungkin saya ingin memberikan contoh saja. Mohon maaf, bukan merasa sok pinter dan sok lucu ya, karena saya juga sedang mencoba keras untuk bisa menulis cerita lucu buat anak-anak. Insya Allah, penggalan cerita di bawah ini akan segera terangkum dalam sebuah buku yang diterbitkan Dar!Mizan. Kapan terbitnya Kang? *sekalian colek Kang Dadan Ramadhan* hehehe. Ini adalah usaha saya yang pertama dalam menulis cerita-cerita anak dalam balutan komedi.


Mudah-mudahan disukai dan dapat diterima.

Alif, Hisyam, dan Arza adalah tiga sahabat. Mereka bersekolah di Sekolah Dasar yang sama, dan kelas yang sama. Sayangnya mereka tidak duduk di satu meja yang sama juga, soalnya dalam satu meja hanya ada dua kursi. Memangnya kayak di angkot bisa dempet-dempetan? Karena itu, hanya Alif dan Hisyam yang duduk dalam satu meja, sedangkan Arza duduk di luar. Hihihi..., duduk dengan Fauzi, maksudnya.

Siang itu mereka bertiga sedang belajar bersama di rumah Hisyam. Ada PR Matematika yang harus dikumpulkan besok. Kalau sampai tidak mengerjakan PR, bahaya banget. Pak Ramdani, guru Matematika yang terkenal galak itu, akan memberikan hukuman. Anak yang enggak ngumpulin PR harus jalan engklek sambil tepuk tangan keliling kelas. Hiiy..., malu, kan?

Karena itu, Alif, Hisyam, dan Azra semangat sekali mengerjakan PR mereka. Tugas mereka selesai bertepatan dengan suara adzan yang berkumandang.

“Adzan!” teriak Arza seraya melompat berdiri.

“Lapar!”teriak Alif sambil mencomot pisang goreng di atas piring. Pisang goreng itu disediakan Mamanya Hisyam untuk menemani mereka belajar. Wih, sedap sekali.

“Hus!” Hisyam melotot. “Makanan saja yang dipikirin. Salat dulu, tahu!”

Alif nyengir, tapi pisang goreng itu sudah masuk ke mulutnya. Mulutnya masih penuh saat dia mengikuti Hisyam dan Arza ke kamar mandi. Mereka mau mandi bareng-bareng? Yeee... kok mandi? Untuk berwudhu dong. Bukannya sekarang sudah masuk waktu salat ashar?

“Sudah belajarnya?” senyum Mama Hisyam begitu mereka melewati dapur. Mama masih menggoreng pisang di atas wajan. Wanginya langsung tercium.

“Sudah habis tante, pisang gorengnya enak,” jawab Alif sambil membaui wangi pisang goreng itu dalam-dalam. Ah sedaaap.

Arza melotot. “Kok pisang goreng sih? Mamanya Hisyam nanya tentang belajar!”

“Eh, belajar ngegoreng pisang?” tanya Alif bingung.

Arza menepuk jidat, sementara Hisyam dan Mamanya tertawa lebar.

“Makanya otaknya jangan dipakai mikirin makanan melulu, Lif, dengerin kalau orang ngomong.”

Alif menatap Arza masih dengan wajah bingung.

“Sudah, kalian salat ashar dulu. Setelah itu boleh makan pisang goreng lagi.” Mama Hisyam tersenyum.

“Asyiiiik...” Alif bersorak. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu berlari lagi ke kamar Hisyam. “Aku salat duluan ya, biar bisa makan pisang goreng lagi!” teriaknya.

“Hey, salatnya jangan di kamar!” teguran Mama Hisyam menghentikan langkah Alif di pintu kamar.

“Lho, jadi di mana dong, Tante? Masa di teras?”

Kepala Arza nyembul dari kamar mandi. Matanya melotot ke arah Alif.

“Kamu kenapa sih, Za, dari tadi senangnya melotot terus?” cibir Alif.

Arza semakin melotot. “Kamu tuh, dari tadi ngaco terus ngomongnya,” balas Arza.

Mama Hisyam terkikik-kikik.

“Maksud Tante, laki-laki salatnya jangan di rumah, tapi di dapur.” Mama Hisyam langsung kaget sendiri dengan ucapannya. “Haduuh..., tuh kan, Tante jadi kebawa ngaco ngomongnya.”

Alif, Hisyam serta Arza yang baru keluar dari kamar mandi terkikik geli.

Bersambung .... :D

Sebagai orang non-teoritis, saya tidak tahu jenis komedi saya ini disebut apa. Terkadang saya tidak peduli, karena yang saya lakukan hanyalah menulis dan berusaha menciptakan kelucuan [yang mudah-mudahan memang lucu]. Saya hanya berharap tulisan saya ini tidak menyimpang dari kaidah-kaidah dan norma penulisan yang ada [hadeuuh serius banget nih].

Tapi, kalau sudah berbicara tips, mungkin yang berikut ini bisa sedikit membantu.

  • Sebelum menulis cerita lucu, usahakan feel kita pun sudah ada di genre itu. Usahakan baca buku-buku komedi sebelumnya. Bukan untuk meniru gaya penulisannya, tapi semata-mata agar mood kita pun ada di sana. Ini akan lebih memudahkan kita dalam menulis cerita lucu. Setidaknya, itulah yang biasa saya lakukan. Pada saat sedang mengerjakan naskah jenis petualangan atau misteri [misalnya], maka saya akan banyak-banyak membaca jenis buku serupa dan sedapat mungkin menghindari membaca genre lain. Hal ini untuk menghindarkan konsentrasi saya bertabrakan lintas genre. J
  • Menulis cerita lucu harus dalam kondisi riang dan ceria. Tulisan yang dikerjakan pada kondisi sedang sedih, marah, atau banyak pikiran biasanya hasilnya tidak begitu bagus. Jangan heran kalau pas dibaca ulang hasilnya akan; “kok bodornya garing, sih?” mood pada saat menulis sangat berpengaruh. Coba saja bandingkan tulisan yang dibuat pada saat gembira dengan tulisan saat kita sedih, pasti berbeda.
  • Biasanya, kita selalu berpikir keras untuk menciptakan adegan kelucuan. Padahal kalau kita perhatikan, kelucuan anak-anak itu dari celetukannya, lho. Biasanya anak-anak asal ceplos saja kalau ngomong, tanpa dipikir dulu, tapi ujungnya malah jadi lucu. Karena itu, cobalah membuat dialog-dialog spontan. Contohnya seperti yang dilakukan tokoh Alif di bawah ini;

“Kenapa laki-laki harus salat di masjid, hayo?” tanya Mama Hisyam.

“Supaya masjid banyak pengunjungnya!” jawab Alif ngaco.

“Yeee... kok gitu?” toleh Arza.

“Supaya salatnya bisa berjamaah dan pahalanya lebih besar!” jawab Hisyam tanpa memedulikan Alif dan Arza.

“Seratus! Ditambah pisang goreng sebagai bonusnya.” Mama Hisyam terkikik. “Rasulullah Saw. sudah mencontohkan agar selalu mendirikan salat di masjid. Beliau tidak pernah ketinggalan untuk salat berjamaah di masjid sepanjang hidupnya.”

“Kalau masjidnya jauh, Tante? Seratus kilometer dari rumah misalnya, kita tetap harus ke masjid?” tanya Alif.

“HAH? Seratus kilometer? Masjid kan banyak, Alif! Dijitak lagi nih?” Arza mengacungkan jarinya yang terkepal.

“Ini misalnya lho, Zaa...” cengir Alif. “Terus Tante, kalau misalnya kita lagi sakit, atau lagi hujan gedeee... banget, ditambah petir menyambar-nyambar, kita harus tetap ke masjid? Gimana kalau di tengah jalan tersambar petir?”

“Kalau disambar petir ya mati, Lif,” timpal Arza memberengut. Heran deh, Alif kok nanyanya aneh-aneh gitu.



Hihihi... Mamanya Hisyam tertawa.

  • Anak-anak tetap sumber inspirasi hebat. Ingat-ingat dan catatlah setiap celotehan atau guyonan lucu mereka. Selipkan dalam cerita yang sesuai. Hal ini akan membuat cerita kita lebih menganak dan lebih bisa diterima anak, karena toh dialog-dialog tersebut memang datangnya dari mulut anak-anak.
  • Hindarkan gaya penulisan slapstik atau komedi yang menggunakan unsur kekerasan untuk menciptakan kelucuan. Misalnya, orang yang terpeleset kulit pisang lalu menabrak tiang listrik sampai jidatnya benjol. Komedi seperti ini dulu sering dilakukan dalam film-film/sinetronnya Warkop, dan sekarang trend kembali melalui Opera Van Java dan tayangan komedi lainnya. Main gebuk dan pentung [meski menggunakan stereofoam yang aman] pastinya bukan sesuatu yang pas untuk konsumsi anak. Karena itu, dalam penulisan kisah humor pun, unsur-unsur kekerasan yang digunakan untuk memancing kelucuan sebaiknya dihindari.
  • Hindarkan menggunakan kekurangan seseorang [fisik/non fisik] sebagai bahan lawakan. Tentu tidak sepantasnya kalau hal itu kita jadikan poin-poin agar cerita kita bisa mengundang tawa. Selain tidak etis, bisa menyinggung, terlebih hal itu bukan contoh yang baik bagi anak-anak. Yakinlah masih banyak hal lain yang bisa kita gali untuk mengundang kelucuan daripada mengeksplorasi kekurangan seseorang.
  • Banyak cara menciptakan kelucuan lain yang justru akan datang sendirinya pada saat menulis. Tiap orang pasti akan memiliki gaya dan cara berbeda dalam menciptakan kelucuan tersebut. Apakah PaBers memiliki tips tersendiri? Ayo share juga di sini.



Semoga berkenan, dan selamat menulis :)

Salam,

Iwok Abqary

Info Penerimaan Naskah & Ilustrasi Cerpen Anak

Iwok Abqary Full


Seorang teman di Batam saat ini mengelola Majalah Internal Lembaga Zakat bulanan, dan bermaksud memasukkan cerpen anak di dalam majalahnya. Karena itu, beliau meminta bantuan untuk menyampaikan informas mengenai penerimaan naskah cerpen anak dan ilustrasii ini.

Hanya saja, karena keterbatasan tenaga pengelola majalah tersebut, Beliau meminta cerpen yang sudah dilengkapi dengan ilustrasinya. Mungkin ini kesempatan Pabers Penulis dan Pabers ilustrator berkolaborasi ya?

Syarat dan Ketentuannya sebagai berikut :

Cerpen :

  1. Panjang Cerpen maksimal 500 kata
  2. Cerita (tentu saja) bernafaskan cerita islami
  3. Honor : Rp. 100.000,- / cerpen

Ilustrasi :

  1. Tidak perlu ilustrasi hebat, asal cukup nyambung/sesuai dengan ceritanya. Jadi, ilustrator baru pun mendapatkan kesempatan sama besarnya.
  2. Ilustrasi harus berwarna
  3. Honor : Rp. 100.000,- / ilustrasi

Ketika saya singgung tentang kesempatan mengirimkan cerpen tanpa ilustrasi, disampaikan bahwa bisa saja. Hanya saja kalau lebih banyak cerpen yang dikirim lengkap dengan ilustrasi, maka yang naskah lengkap dengan ilustrasi itu yang lebih diprioritaskan. (begitu informasi yang beliau sampaikan).

Semua naskah dan ilustrasi dikirimkan via email ke : fikomist@yahoo.com up. Putut Ariyotejo

berhubung saya hanya penyampai informasi saja, kalau ada pertanyaan yang mengganjal, bisa disampaikan langsung ke email di atas ya. Mudah-mudahan kesempatan ini bisa menambah peluang Paber untuk berkarya.

Salam,

NB. Kalau ada informasi tambahan, nanti saya sampaikan di sini. Terima kasih.

Mission Impossible: Menulis Novel dalam 2 Minggu

  • Menulis novel 150 halaman dalam 2 minggu, sanggupkah?

    Kalau pernah menulis novel anak 50 halaman dalam 10 hari, kenapa tidak?

    Kalau pernah menulis apa saja 5 halaman sehari, kenapa tidak?

    Push harder, bisa kok.

    Dari 5 ke 10 kan nggak banyak nambahnya.

    April lalu, aku menulis novak 80 halaman 10 hari. Jadi kenapa tidak 150 dalam 15 hari. Nambah dua lagi saja per harinya.

    Lha, memangnya nggak punya kerjaan lain? Bagaimana membagi diri untuk tugas lain sebagai ibu atau istri?

    Ini yang kulakukan sebelum mulai menulis:

    1. Mengukur kekuatan. Biasanya kuat berapa halaman sehari? Akan lebih mudah kalau kita rutin menulis setiap harinya, berapa pun dapatnya. Satu-dua halaman rutin tiap hari lebih baik ketimbang 7 halaman seminggu yang nggak jelas perincian waktunya, alias ngikuti mood.
    2. Memperhitungkan target. Kapan deadline-nya, ada berapa hari kerja efektif, berapa jumlah halaman yang harus ditulis. Misalnya kita cuma punya 15 hari, target 45 halaman. Artinya per hari minimal 3 halaman.
    3. Aim high. Push harder. Setiap kali membuat target baru, tambahkan halamannya melebih target kerja sebelumnya. Dengan demikian, kita akan selalu tertantang. Sedikit under pressure, ada manfaatnya kok. Kalau kebiasaan cuma 1 hlm/hari tapi target menuntut 3 hlm/hari, berarti kita harus mencari cara untuk bisa bekerja lebih keras. Kreativitas orang terdesak biasanya meningkat. Hehehe.
    4. Apa yang harus kita tambahkan, jam kerja atau tenaga? Kalau kita menambah jam kerja, mungkin bisa deh sehari 3 halaman. Bangunlah lebih pagi, tambah jam kerja di malam hari. Kalau perlu tambahan tenaga, delegasikan beberapa pekerjaan kepada orang lain, agar kita bisa mengalihkan energi untuk projek di tangan.
    5. Bicarakan dengan keluarga. Tunjukkan kesungguhan dan keinginan menyelesaikan projek ini. Bicarakan jam kerja yang realistis. Mintalah dukungan penuh dari keluarga. Anak-anak bisa mengerti kalau diberi penjelasan, apalagi kalau kebutuhan mereka sendiri sudah terpenuhi.

    Memulai menulis:

    1. Singkirkan gangguan, termasuk FB lho ya. Berfokuslah. Kegiatan yang tidak berkaitan dan bisa ditunda, tunda saja dulu. Jangan bela-belain ke bank, kalau memang nggak perlu sekarang. Percayakan anak atau pasangan mengurus tugas mereka sendiri.
    2. Buatlah jurnal harian. Hari ini, target berapa, tercapai berapa. Upayakan pencapaian melebihi atau mendekati target. Kalau kurang banyak, berarti ada yang salah dengan perhitungan kita.
    3. Soulmate, seperti suami/istri, sahabat, keluarga, bisa dimintai tolong untuk menyemangati. Silakan pasang status progress, karena dukungan teman-teman bisa membantu, tapi jangan berlama-lama mereply, nanti akhirnya jadi mengobrol.
    4. Jam kerja diperpanjang. Dalam kasusku, aku bangun pk.03.00, karena dini hari paling nyaman dan ampuh untuk menulis.
    5. Gunakan musik, kalau suka. Ngemil dikit, sekadar menghilangkan kantuk, bukan untuk menambah berat badan, kopi atau teh kalau biasa.
    6. Selagi menulis, sesekali berjalan-jalan keluar, hirup udara segar, gerakan badan.
    7. Telepon teman, mengobrol dengan manusia, kalau lagi stuck. (dengan peliharaan pun boleh kok. Membicarakan ide dengan siapa pun apa pun bisa membantu kita mengurai kekusutan. Walaupun yang diajak berbicara nggak bisa jawab)

    Bekal yang membuat Mission Impossible ini menjadi possible:

    1. Kita sudah punya gambaran besar ide, tidak blank saat mulai menulis. Tapi tidak harus mendetail, karena dengan ide-ide dasar, karakter yang sudah dipikir masak-masak, cerita biasanya mengalir sendiri.
    2. Kita sudah melakukan riset kecil, seperlunya. Kalau waktunya panjang, riset bisa intensif dan ekstensif. Tetapi dengan waktu terbatas, riset tidak perlu berlebihan karena bahan terlalu banyak justru membingungkan. Dengan bahan riset seadanya, sambil jalan akan muncul apa yang kurang.
    3. Gunakan waktu luang (duduk di angkot, menyetir dan macet, atau mencuci, mengepel, bikin kue dll.) untuk memikirkan percakapan, karakter, plot dsb. Jadi waktu duduk lagi, sudah ada yang akan dituliskan.
    4. Sudah membiasakan menulis rutin dan memiliki target harian, bukan mengikuti mood. Kalau punya 1 jam, menulislah 1 jam/hari, kalau punya 20 menit, ya rutinkan. Bahkan 5 menit pun bisa menulis 2-3 kalimat. Ini akan lebih mudah untuk dipush.
    5. Banyak membaca. Sangat melancarkan menulis.
    6. Apa lagi? Hmm, usulan teman-teman untuk memberikan reward kepada diri sendiri setelah target tercapai, bagus sekali. Aku sendiri biasanya menghadiahi diriku dengan makan-makan dan jalan-jalan bareng keluarga. :)

    Sementara ini saja dulu.

    Silakan kalau ada yang mau menambahkan.

    Salam kreatif.

Kalimat Efektif

by Ary Nilandari


Bisakah isi bacaan itu sampai kepada pembaca, kalau ia tidak diantarkan oleh kalimat-kalimatnya? Dari mana pembaca tahu tentang bagusnya isi itu sebelum membaca kalimat yang ada di sana? Dan mungkinkah isi karangan itu sampai kepada pembaca kalau disajikan dalam kalimat yang menyusahkan, kalimat yang maksudnya sukar ditangkap? (Abdul Razak, Kalimat Efektif)

Efektifkan kalimatmu, agar menghasilkan keterbacaan tinggi, cita rasa, dan kekuatan.


Contoh 1 (cukup sehari satu ya)

Tidak efektif: Walaupun hujan badai mendera, tetapi ia berjalan terus mencari putranya.

Efektif: Hujan badai mendera tetapi ia berjalan terus mencari putranya.

Efektif: Walaupun hujan badai mendera, ia berjalan terus mencari putranya.

Kalimat efektif mengandung kesatuan gagasan.


Contoh 2. Subjek/predikat eksplisit

Tidak efektif: Dengan memahami teori saja belum tentu melahirkan seorang penulis.

Efektif: Dengan memahami teori saja belum tentu lahir seorang penulis.

Efektif: Memahami teori saja belum tentu melahirkan seorang penulis.


Contoh 3. Keterangan harus ditempatkan dengan tepat.

Tidak efektif: Tahun ini royalti penulis baru saja dinaikkan. (ambigu)

Efektif: Royalti penulis tahun ini baru saja dinaikkan.

Efektif: Tahun ini royalti penulis-baru saja yang dinaikkan.

Kritislah terhadap pemakaian kata depan untuk menghasilkan kalimat efektif.


Contoh 4:

Tidak efektif: Dia menceritakan tentang pengalaman masa kecilnya.

Efektif: Dia menceritakan pengalaman masa kecilnya.

Efektif: Dia bercerita tentang pengalaman masa kecilnya.

Berlaku juga untuk membicarakan/berbicara.

Kalimat efektif diwarnai kehematan. Hindari pemborosan kata berupa pleonasme, tautologi, dan prolixe.

Pleonasme: menggunakan kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata sebelumnya.

Contoh 5

Tidak efektif: Ia menggelengkan kepala. "Bukan aku."

Efektif: Ia menggeleng. "Bukan aku." Pleonasme lainnya: menganggukkan kepala, naik ke atas, turun ke bawah, sejarah masa lalu. Ada lagi?

Tautologi: pengulangan gagasan yang sama dengan kata berlainan.


Contoh 6:

Tidak efektif: Ratu di negeri itu memerintah dengan arif lagi bijaksana.

Efektif: Ratu di negeri itu memerintah dengan arif.

Efektif: Ratu di negeri itu memerintah dengan bijaksana.

Prolixe: bertutur panjang lanjut. Ini sebenarnya bukan masalah terlampau banyak menggunakan kata, melainkan terlampau banyak mengutarakan perkara yang kecil-kecil sehingga mengaburkan pokok pembicaraan.


Contoh 7


Tidak efektif: Ia, selagi kami berdua berdiri di atas jembatan, bercakap-cakap tentang banyak hal dari soal makanan tradisional sampai acara festival, dan memandang perahu-perahu meluncur di bawah, melemparkan sesuatu ke dalam sungai.

Efektif: Selagi kami berdua berdiri di atas jembatan, bercakap-cakap dan memandang perahu-perahu meluncur di bawah, ia melemparkan sesuatu ke dalam sungai.


(Isi percakapan tentang makanan tradisional sampai acara festival bisa disampaikan pada kesempatan lain)

Beberapa kata pengganti KATANYA

Buat teman-teman yang sedang belajar menulis cerita anak. Ini boleh dijadikan bahan belajar loh :) Aku copas dari kelas Komunitas Penulis Bacaan Anak. Semoga bermanfaat ya :)




Oleh Evi Z. Indriani dan Yudith Fabiola


Mencoba merekap hasil postingan Dian Kristiani.
Pembaca kecil kita, Syafiq - yang juga putranya Aan Diha :), bosen baca buku yang hanya pakaikatanya. CONTOH:
  1. "Aku nggak suka keju," katanya.
  2. Setelah ditambah, berikut kata alternatif yang bisa teman-teman gunakan untuk melengkapi kalimat ujaran (kalimat yang dilisankan):
  3. ujarnya pancing usul sahut
  4. celotehku sentak sembur gerrutu
  5. ucap harap tolak umpat
  6. tukas gagap erang cibir
  7. keluh seru teriak dengus
  8. bisik isak tutur sapa
  9. pamit sorak protes lirik
  10. teriak tampik celetuk
  11. gumam hibur sergah
  12. omel tanya bentak
  13. cetus simpul sela
  14. cegah decak jelas
  15. ulang ejek ringkas
  16. ungkap olok papar
  17. desah sambar *goda
  18. seru elak sela
  19. tandas kilah bantah
  20. tegas himbau tambah
  21. desis imbuh sambung
  22. cetus potong timpal
Selain ditambah NYA, bisa divariasikan pula menjadi Subjek + Kata Kerja:
  1. dia menyergah
  2. aku tergagap
  3. bibi mengomel
  4. subjek + merutuk
  5. subjek + menggerutu
  6. subjek + tergeragap
  7. subjek + terkesiap
Bisa juga penulis menuliskan tindak tanduk tokoh dg jelas:
  1. "Aku tak suka keju," Lisa menggerutu.
  2. "Aku tak suka keju," Lisa berbisik malas.
  3. "Aku tak suka keju," dia menggeleng.
Ada kalanya tidak perlu dituliskan lagi siapa yang berbicara, kalau dari urutan percakapan sudah jelas siapa pembicaranya.
Silakan koreksi atau tambah doc ini :)

Lapanta: Mengkaji Trend dan Gaya Ilustrasi Buku Anak

Gramedia Jl. Merdeka, Rabu 23 November, Pk.10.00-12.00
O

Untuk pertama kalinya, FPBA mengadakan acara ini. Penulis dan ilustrator jalan-jalan bareng, menjelajahi toko buku sambil mengkaji desain dan ilustrasi buku anak. Kenapa harus di toko buku, kenapa tidak di sebuah ruang diskusi dengan kopi/teh dan camilan? Alasannya sederhana. Toko buku adalah rimba, berisi ribuan buku anak. Hamparan display memberikan kesan berbeda terhadap satu buku tertentu, dibandingkan jika kita memegang buku itu di luar rimba.

Ada buku-buku yang "standing out", ada buku-buku yang tenggelam, dalam display. Jauh sebelum isi/cerita di dalamnya punya kesempatan membuktikan diri, perwajahan bukulah yang dituntut untuk berdaya menarik perhatian pembaca.

Untuk bacaan anak, ilustrasi dan desain cover sangat menentukan. Judul, sinopsis (blurb), dan nama penulis mungkin menjadi pertimbangan kedua. Karena itu, bagi penulis, membuka wawasan tentang seni ilustrasi dan desain menjadi sangat penting. Tugas penulis belum selesai dengan menulis saja. Sayang sekali naskah yang bagus jika terpuruk di toko buku karena kalah bersaing dari segi tampilannya.

Kerja sama penulis, ilustrator, desainer, yang difasilitasi penerbit menjadi keharusan jika ingin buku kita "standing out".

Peserta dipersilakan mengambil satu buku yang "klik", bisa karena bagusnya, bisa juga sebaliknya, untuk dikaji. Ada sekitar 10 judul, sebagian karya lokal, sebagian lagi terjemahan, dibedah tuntas oleh lima orang seniman kita: ilustrator, komikus, dan desainer (terima kasih Pandu Sotya, Wing, Mukhlis, Paula Rosalina, dan Harlia Hasjim)

PaBers, terus terang, aku sulit menceritakan lagi apa saja yang kami dapatkan kemarin. Pembicaraan membanjir cepat tentang

  • tata letak yang dinamis, antara teks, ilustrasi, dan ruang kosong. Bagaimana teks menjadi bagian dari sebuah halaman, bukan cuma tempelan. Bagaimana ilustrasi harus ada fokus, sudut pandang yang dinamis, dll. Pada satu halaman, tidak semua ilustrasi harus "berteriak", perlu ada yang mengalah.
  • komposisi warna, bukan masalah soft atau genjreng yang cocok untuk anak, melainkan harmoni di dalamnya.
  • tipografi, bagaimana teks di cover dan di dalam buku perlu diperhatikan. Kita belajar tentang grid, pemilihan font, shadowing, dll.
  • bagaimana ilustrasi yang bagus bisa rusak karena pemotongan ceroboh dari percetakan, atau tumpang tindih teks yang menunjukkan tidak ada perencanaan dan pembicaraan lebih dulu antara semua pihak yang terlibat.
  • bagaimana respons anak terhadap efek tertentu ilustrasi dan desain buku. Anak itu ingin tahu, suka mencoba, bereksperimen, dan aktif. Ilustrasi dan desain yang mengabaikan karakter anak, akan membuat buku itu hanya dilihat sekali, lalu dilupakan.
  • dll.

Ok, aku tahu, penggambaran di atas tidak memberikan penjelasan konkret, mana yang lebih baik, atau bagaimana seharusnya, ilustrasi dan desain buku anak. Karena perlu pakarnya untuk menjelaskan hal ini.

Tetapi kalau teman-teman hadir kemarin, pastilah akan memahami penjelasan para ilustrator ini, karena disertai contoh langsung dari buku-buku anak. Maaf membuat Anda menyesal tidak hadir :(

Mungkin lain kali akan diadakan lagi acara semacam ini. Yang jelas, yang hadir kemarin merasa perlu ada followup diskusi. Dan dua jam berdiri bergerombol di selasar toko buku, dipandangi dengan heran dan waspada oleh pramuniaga dan pengunjung lain, sangat layak dilakoni. :)

Kalau ada yang ingin menambahkan, silakan edit saja doc ini :)

Salam kreatif

Ary Nilandari

Lapanta: Mengkaji Trend dan Gaya Ilustrasi Buku Anak

Gramedia Jl. Merdeka, Rabu 23 November, Pk.10.00-12.00
O

Untuk pertama kalinya, FPBA mengadakan acara ini. Penulis dan ilustrator jalan-jalan bareng, menjelajahi toko buku sambil mengkaji desain dan ilustrasi buku anak. Kenapa harus di toko buku, kenapa tidak di sebuah ruang diskusi dengan kopi/teh dan camilan? Alasannya sederhana. Toko buku adalah rimba, berisi ribuan buku anak. Hamparan display memberikan kesan berbeda terhadap satu buku tertentu, dibandingkan jika kita memegang buku itu di luar rimba.

Ada buku-buku yang "standing out", ada buku-buku yang tenggelam, dalam display. Jauh sebelum isi/cerita di dalamnya punya kesempatan membuktikan diri, perwajahan bukulah yang dituntut untuk berdaya menarik perhatian pembaca.

Untuk bacaan anak, ilustrasi dan desain cover sangat menentukan. Judul, sinopsis (blurb), dan nama penulis mungkin menjadi pertimbangan kedua. Karena itu, bagi penulis, membuka wawasan tentang seni ilustrasi dan desain menjadi sangat penting. Tugas penulis belum selesai dengan menulis saja. Sayang sekali naskah yang bagus jika terpuruk di toko buku karena kalah bersaing dari segi tampilannya.

Kerja sama penulis, ilustrator, desainer, yang difasilitasi penerbit menjadi keharusan jika ingin buku kita "standing out".

Peserta dipersilakan mengambil satu buku yang "klik", bisa karena bagusnya, bisa juga sebaliknya, untuk dikaji. Ada sekitar 10 judul, sebagian karya lokal, sebagian lagi terjemahan, dibedah tuntas oleh lima orang seniman kita: ilustrator, komikus, dan desainer (terima kasih Pandu Sotya, Wing, Mukhlis, Paula Rosalina, dan Harlia Hasjim)

PaBers, terus terang, aku sulit menceritakan lagi apa saja yang kami dapatkan kemarin. Pembicaraan membanjir cepat tentang

  • tata letak yang dinamis, antara teks, ilustrasi, dan ruang kosong. Bagaimana teks menjadi bagian dari sebuah halaman, bukan cuma tempelan. Bagaimana ilustrasi harus ada fokus, sudut pandang yang dinamis, dll. Pada satu halaman, tidak semua ilustrasi harus "berteriak", perlu ada yang mengalah.
  • komposisi warna, bukan masalah soft atau genjreng yang cocok untuk anak, melainkan harmoni di dalamnya.
  • tipografi, bagaimana teks di cover dan di dalam buku perlu diperhatikan. Kita belajar tentang grid, pemilihan font, shadowing, dll.
  • bagaimana ilustrasi yang bagus bisa rusak karena pemotongan ceroboh dari percetakan, atau tumpang tindih teks yang menunjukkan tidak ada perencanaan dan pembicaraan lebih dulu antara semua pihak yang terlibat.
  • bagaimana respons anak terhadap efek tertentu ilustrasi dan desain buku. Anak itu ingin tahu, suka mencoba, bereksperimen, dan aktif. Ilustrasi dan desain yang mengabaikan karakter anak, akan membuat buku itu hanya dilihat sekali, lalu dilupakan.
  • dll.

Ok, aku tahu, penggambaran di atas tidak memberikan penjelasan konkret, mana yang lebih baik, atau bagaimana seharusnya, ilustrasi dan desain buku anak. Karena perlu pakarnya untuk menjelaskan hal ini.

Tetapi kalau teman-teman hadir kemarin, pastilah akan memahami penjelasan para ilustrator ini, karena disertai contoh langsung dari buku-buku anak. Maaf membuat Anda menyesal tidak hadir :(

Mungkin lain kali akan diadakan lagi acara semacam ini. Yang jelas, yang hadir kemarin merasa perlu ada followup diskusi. Dan dua jam berdiri bergerombol di selasar toko buku, dipandangi dengan heran dan waspada oleh pramuniaga dan pengunjung lain, sangat layak dilakoni. :)

Kalau ada yang ingin menambahkan, silakan edit saja doc ini :)

Salam kreatif

Ary Nilandari

Menulis (Cerpen) Untuk Media Cetak

Oleh:

RF.Dhonna

Saya mencoba menulis cerpen untuk dikirim ke media cetak sejak tahun 2000. Majalah Annida (majalah Islami untuk remaja yang sekarang berformat on-line) adalah satu dari sekian media yang memotivasi saya untuk menulis cerpen. Saya suka membaca rubrik galeri cerpen (lalu berganti nama Bengkel Cerpen Nida/BCN) yang saat itu diasuh bergantian oleh Helvy Tiana Rossa, Harris Effendi Thahar, Hamsad Rangkuti, Gola Gong, dan Joni Ariadinata. Rubrik itu mengulas satu dari beberapa cerpen yang dimuat dalam satu edisi, serta mengupas bagaimana trik-trik menulis cerpen yang oke. Saya begitu terobsesi ‘menembus’ majalah itu.

Dengan meminjam mesin ketik jadul milik saudara, saya tulis beberapa cerpen bernafaskan Islam. Setelah itu, saya kirim semua ke Annida.

Tiga bulan menunggu nggak ada kabar, saya anggap karya itu nggak layak muat. Akhirnya saya ‘lempar’ naskah-naskah itu ke majalah Mahameru, majalah lokal di kota saya. Akhir 2001, salah satu naskah itu dimuat! Meski honornya cuma sepuluh ribu, rasanya seneeeeeng banget. Jadilah cerpen itu cerpen pertama saya yang nampang di media.

Kepercayaan diri saya tumbuh. Saya makin rajin nulis, dengan sasaran media yang beragam. Selanjutnya, satu per satu cerpen saya mejeng di media seperti harian Surya, Malang Pos, Deteksi Jawa Pos, dll.

Suatu hari saya ngobrol tentang dongeng dengan Ika Maya Susanti, seorang teman se-komunitas menulis di kampus. Kebetulan waktu itu ada lomba menulis dongeng di Bobo. Tertarik ikut, saya pun mencoba menulis dongeng. Sayang, saya lupa tanggal deadline. Terlewatlah kesempatan itu.

Iseng, dongeng itu saya kirim ke majalah Mentari, dan dimuat! Dongeng itu menjadi cerita anak pertama yang dimuat media. Ini sekaligus membuktikan, ternyata saya nggak cuma bisa bikin cerpen remaja dan cerpen serius aja, cerita anak pun bisa ^_^.

Naskah cerpen saya juga sering ditolak media. Salah satunya majalah Kawanku. Kalau dikumpulkan, mungkin ada puluhan surat pengembalian naskah yang saya terima. Tapi saya suka, karena pihak redaksi memberi tahu, apa kelemahan cerpen saya.

Ditolak, awalnya kesal. Tapi lama-lama saya jadi kebal. Justru saya semakin tertantang untuk terus mengirim naskah. Satu lagi, saya semakin terlatih bersabar ;).

Selain Kawanku, yang rajin mengembalikan naskah saya adalah Kompas Anak. Ikut-ikutan para Paberland, saya menyebut surat pengembalian naskah itu sebagai surat cinta (saking seringnya nerima ^_^). Bertahun-tahun saya berjuang kirim naskah ke Kompas Anak. Entah itu artikel pendek, resensi buku, atau cerpen. Perjuangan saya menuai hasil di tahun ke sepuluh. Meski yang ‘tembus’ bukan cerpen (tapi resensi buku), bagi saya, itu tetap ‘sesuatu’ ;). Jadi, meski sering ditolak, jangan pernah patah semangat!

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika akan mengirim cerpen (termasuk jenis tulisan yang lain juga) ke media cetak.

(1) Kenali karakter media yang kita tuju. Misalnya kita punya cerpen tentang kisah cinta remaja. Trus, kita kirim ke Bobo. Ya sudah pasti ditolak. Majalah buat anak-anak kita kirimi cerpen cinta-cintaan, ya nggak nyambung.

(2) Catat alamat pengiriman naskah berbagai media dan tata cara pengirimannya. Awal saya menulis untuk media cetak, saya hobi berkunjung ke perpus untuk membaca majalah/koran, lalu saya catat alamat redaksinya beserta syarat-syarat penulisan dan pengiriman naskah ke media tersebut. Saya juga langganan ngintip alamat redaksi majalah/koran yang baru lahir di lapak dekat tempat kos semasa kuliah. Kakek yang punya lapak sampai hafal dengan kebiasaan saya (untung si kakek pengertian dengan kondisi mahasiswa berkantong pas-pasan seperti saya, hehe…).

(3) Penuhi syarat penulisan dan pengiriman naskah. Misalnya, patuhi jika media yang kita tuju mengharuskan tulisan kita nggak lebih dari 5200 karakter. Atau jika syarat pengiriman naskah harus via pos dan berbentuk print-out, sebaiknya jangan kirim via email. Meski aturan/kebijakan yang ditetapkan masing-masing media cetak berbeda, percayalah, itu pasti ada maksudnya.

(4) Jika naskah cerpen kita ditolak/dikembalikan, jangan sakit hati. Justru itu pembelajaran buat kita. Ada banyak kemungkinan, kenapa naskah kita ditolak. Bisa jadi karena cerpen kita terlalu panjang lebar, tema kurang menarik, EYD belepotan, ceritanya terlalu mengada-ada, ceritanya nggak cocok dengan visi misi media, dsb. Pengalaman saya, ditolak media satu, belum tentu media lain juga menolak. Contoh, saya pernah mengirim satu cerpen saya ke Kawanku. Nggak lama, naskah itu kembali. Saya perbaiki sesuai catatan dari redaksi Kawanku, lalu saya kirim ke Deteksi Jawa Pos. Eh, dimuat! Beberapa tahun kemudian cerpen itu malah muncul di buku pelajaran untuk SMU, trus diambil untuk teks soal UNAS pula. So, ditolak? Lempar ke media lain ;)

(5) Ketika mengirim naskah ke media cetak, sertakan surat pengantar. Nggak perlu panjang-panjang. Misalnya:

Yth. Redaktur Fiksi Kompas Anak

Saya mengirim naskah dongeng untuk Kompas Anak, judulnya Todi Si Belalang Kerdil. Dongeng ini benar-benar karya saya, bukan jiplakan atau saduran. Apabila pihak redaksi hendak mengedit isi dongeng ini, saya tidak keberatan. Terimakasih.

Salam,

RF.Dhonna

Sertakan pula identitas penulis. Biasanya terdiri dari nama lengkap, alamat, nomor handphone/telpon, nomor rekening (ada juga media cetak yang nggak minta nomor rekening), bisa juga ditambah dengan pengalaman di bidang tulis menulis.

(6) Kirim dan lupakan. Ini juga dilakukan oleh kebanyakan paberland. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti malah nggak produktif. Kalau sambil menunggu kabar, sambil menulis lagi, itu lebih baik. Ada kisah menarik dari seorang penulis yang luar biasa produktif. Setiap minggu dia mewajibkan dirinya menulis 2-5 cerpen. Uniknya, setiap minggu media bidikannya selalu berbeda. Misalnya minggu ini dia nulis cerpen buat dikirim ke Bobo dan Sekar. Minggu depannya dia membidik Kompas Anak dan Bravo.

Menulis untuk koran/majalah, kalau dimuat honornya lumayan lho. Di media cetak terkemuka, berkisar antara 250 ribu—1 juta (coba intip lagi bocoran dari mbak Widya Rosanti di dokumen). Ada juga sih, koran terkemuka yang nggak ngasih honor (maaf nggak bisa saya sebutkan koran apa itu). Tapi itu berpulang ke pribadi masing-masing penulis. Kalau niatnya nggak pure nambah penghasilan (misalnya untuk kepuasan batin, mengasah keterampilan menulis, dan berbagi), mungkin si penulis nggak terlalu mempermasalahkan. Tetapi kalau menulis cerpen untuk menyambung hidup, sebaiknya kirim naskah ke media cetak yang jelas ada honornya.

Sumber: www.bundarayya.multiply.com