Minggu, 19 Februari 2012

Aku dan FLP




Pagi itu, Jum'at, 30 Desember 2012, aku dapat SMS dari Sujarwo mau ketemuan dengan Dika Permana ketua FLP Cabang Karawang. Dika lagi liburan ke Lampung. Kebetulan aku juga libur. Akhirnya kami janjian bertemu di sebuah cafe daerah kampus UNILA bersama Lilih Muflihah (Pjs FLP Lampung), dan pengurus FLP lainnya, yakni Sujarwo dan Ani.
Walau pertemuan perdana. Tidaklah menjadi kaku untuk mengobrol. Itulah ciri khas anak FLP. Dimanapun bertemu, walau kenal di dunia maya, akan terasa seperti saudara. Kamipun bercerita tentang kondisi FLP masing-masing.

Cukup kaget juga, ternyata FLP Wilayah Lampung biaya pendaftarannya sangat kecil, dibanding FLP Karawang atau FLP daerah lainnya. Jika daerah lain bisa 50 ribu, FLP Wilayah Lampung hanya 15 ribu.Itupun biaya untuk pertemuan-pertemuannya masih minim. Belum ada sekre dan rapat berpindah-pindah.Kadang di emperan rektorat UNILA, ada juga di depan Perpustakaan, beralaskan koran melingkar untuk pertemuan. Aku yang kadang bawa anak harus siap-siap agar anakku tidak masuk angin,hehehe

Usai diskusi singkat dengan Dika Permana, akupun mengusulkan untuk silaturahmi ke koran Lampung Post.Kebetulan aku mau mempromosikan bukuku yang terbaru, Let's Enjoy The School. Oke, akhirnya kami berjanji besok bertemu lagi di Lampung Post.


Esoknya, di Lampung Post kami bertemu dengan Bang Adian Saputra yang telah lama menjadi pembina FLP Wilayah Lampung.Obrolan hangatpun bergulir. Diantaranya:

1. Hendaknya anggota FLP lebih 'melek' media di daerahnya, memanfaatkan rubrik sastra yang ada. Kerjasana ini juga pernah aku lakukan di Bengkulu. Ketika aku menjabat sebagai ketua FLP Wilayah Bengkulu.Kala itu, Koran Rakyat Bengkulu telah lama hilang rubrik Sastra dan Budayanya. Bermodal nekat,aku menawarkan diri memegangnya. Info FLP pun tersebar dari rubrik ini, walau tak dapat honor, sekitar 1 tahun aku mencoba mengenalkan FLP lewat rubrik ini.Lumayan,cerpen,puisi dan pembahasan karya semua dikelolapenuh olehku dan tim FLP.

2.Hendaknya penulis FLP melirik tema yang lebih menantang. Tak cuma cerpen, coba juga opini, puisi atau esai. Apalagi Koran Lampung Post sangat terbuka dengan karyya-karya dari luar. Seperti cerpen, syaratnya tak banyak,cukup ketik min 6 halaman dengan 1,5 spasi, kirim ke lampostminggu@yahoo.com atau redaksilampost@yahoo.com. Honor menulis cerpenpun lumayan lho, 200 ribu. Jika menulis puisi, kirim ke email yang sama dan honornya sekitar 100-150. Opini cukup dengan maksimal 4 halaman. Menulis resensi buku juga Lampost menerima dengan jumalah 4.000 karakter. Ada juga rubrik kisah guru, cerita anak dan lainnya sebagai peluang penulis-penulis FLP.

3. Kedepan, semoga FLP semakin giat silaturahmi keberbagai tokoh masyarakat, budayawan dan penulis lokal untuk bersinergi menularkan virus membaca dan menulis kepada generasi berikutnya.

Usai diskusi, kamipun foto-foto dan membawa semangat membara untuk melakukan perubahan. I Love You FLP.

*diiukutsertakan lomba LOMBA BLOG, #FestivalMembacadanMenulis2012. Dalam rangka milad Forum Lingkar Pena (FLP) yang ke-15*

Rumah Cahaya FLP Lampung Timur

FLP Lampung Timur Dirikan Rumah Cahaya

Annida-Online— Berbekal semangat menebarkan virus membaca, Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Lampung Timur mendirikan Rumah Cahaya (Rumcay) pada Ahad (21/2) di Way Jepara, Lampung Timur. Menurut Ketua FLP Lampung Timur, Sri Rahayu, ide mendirikan Rumcay ini berawal dari pemikirannya memanfaatkan buku-buku koleksi pribadinya dan buku-buku cerita anak milik Faris, putra pertamanya, yang memang berjumlah cukup banyak, pada masyarakat sekitar.


“Selain itu, kebetulan rumah saya lokasinya cukup strategis, di belakang SDN 05 Labuhan Ratu Satu, Way Jepara, Lampung. Setiap Sabtu-Ahad, banyak anak-anak yang main ke rumah saya. Ini potensi dan peluang juga untuk mengkampanyekan gerakan literasi di sekitar rumah saya, lebih luas lagi di Lampung Timur ini,” jelas Yayuk yang karya-karyanya pernah dibukukan dalam buku antologi seperti Matahari Tak Pernah Sendiri I, Kisah Seru Aktivis FLP (LPPH, 2004), Antologi Kumcer FLP Sumbangsel Ketika Nyamuk Bicara (Zikrul Hakim, 2004), Antologi untuk Aceh Jendela Cinta (GIP, 2005) dan lain-lainnya, panjang lebar.


Yayuk, begitu ia akrab disapa, menjelaskan meskipun saat ini target utama dari kehadiran Rumcay FLP Lampung Timur adalah memperkenalkan buku-buku serta produk literasi lainnya untuk meningkatkan minat baca di sekitar masyarakat Lampung Timur, ke depannya, Rumcay ini akan dikelola sebagai rumah baca yang memberikan banyak program pemberdayaan bagi para pesertanya.


“Namanya saja Rumah Cahaya yang artinya Rumah Baca Hasilkan Karya, jadi semoga kami juga mendesain Rumcay ini bukan sekadar rumah baca, tapi rumah baca yang menghasilkan banyak karya dari para anggotanya,” imbuh Yayuk, yang saat ini membina ekskul menulis di SDIT Baitul Muslim, Lampung Timur ini.


Untuk mewujudkan hal tersebut, ke depannya, Yayuk beserta FLP Lampung Timur mengaku sudah mempersiapkan berbagai program-program edukatif yang bisa mendukung keberadaan Rumcay ini. Beberapa program seperti pelatihan penulisan bagi anak dan remaja, kegiatan bimbingan belajar, dan lain-lainnya diharapkan bisa memberdayakan Rumcay sebagai pusat belajar bagi masyarakat.


Ke depan, selain merancang program-program edukatif, perempuan kelahiran Jambi, 17 Juli 1980 ini, juga mengaku akan terus menambah koleksi-koleksi buku dengan ragam dan variasi bagi semua kalangan. Nah, di sini Sobat Nida bisa ikutan bantu loh, dengan menyumbangkan buku-buuku koleksi kalian yang mungkin bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar Rumcay FLP Lampung Timur ini. [nyimas]


Sumber :
: http://www.annida-online.com/berita-komunitas/flp-lampung-timur-dirikan-rumah-cahaya.html

FLP Cabang Lamtim Expo Sebar Virus Cinta Menulis

Annida-Online--Paling asyik kena terkena virus yang satu ini. Apalagi kalau bukan virus menulis yang dilakukan penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) di Lampung Timur (Lamtim). Bekerjasama dengan Penerbit Indiva dan Majalah Gizone, FLP Cabang Lamtim menggelar beragam acara seputar dunia tulis-menulis. Di antaranya pelatihan menulis dan launching novel karya Afifah Afra Amatullah. Acara ini yang digelar 14 Februari 2010 di Balai Desa Braja Sakti, Way Jepara ini juga disertai lomba menulis cerpen dan puisi.

Sri Rahayu, Ketua FLP Cabang Lamtim, mengungkapan acara yang bertema Pesona Cinta di Bumi Ruwa Jurai ini juga menghadirkan penulis dari Lampung seperti Naqiyyah Syam, Anfika Noer, Suwanda dan lainnya. “Pelatihan menulis disampaikan oleh tim Majalah Gizone, Asri Istiqomah dan launching novel De Liefde langsung oleh penulisnya Afifah Afra,” ujar Sri Rahayu.

FLP Cabang Lamtim Expo diikuti banyak pelajar dan anak muda lainnya di Kota Metro. Mereka berharap, bersama FLP akan banyak penulis yang giat mengisi kolom sastra di media lokal Lampung dan nasional. Dengan demikian regenerasi penulis di Lampung bisa terjaga eksistensinya. Selain pelatihan, panitia juga menyampaikan pengumuman lomba menulis cerpen dan puisi religi yang diikuti 85 peserta dari berbagai daerah di Lampung. Pemenang mendapatkan piala, uang pembinaan, sertifikat dan hadiah sponsor.

“Sangat menyenangkan karena respon yang baik dari generasi muda Lampung. Kita berharap kegiatan ini bisa menjadi kontribusi bagaimana remaja bisa berkembang dengan minat menulisnya, terutama anggota FLP sendiri,” tambahnya.

Untuk menyemangati peserta acara, kegiatan ini juga mengadakan bazaar buku dan juga open house karya-karya fiksi dan nonfiksi penulis FLP asal Lampung.

Sumber : http://www.annida-online.com/berita-komunitas/flp-cabang-lamtim-expo-sebar-virus-cinta-menulis.html

Gebyar Milad FLP Wilayah Lampung

Alhamdulillah bertemu juga dengan Mas Ali Muakhir setelah selama ini ngobrol di Facebook. Dulu sih pernah bertemu di Munas FLP 1 di Jogya.Nah,kali ini lebih dekat deh dapat ilmunya.

Subhanallah, Mas Ale berangkat jam 3 pagi dari Bandung, lalu terbang ke Bandar Lampung dari Jakarta naik maskapai Sriwijaya pukul 07.45 WIB dan tiba di lokasi acara sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu acara Launching Buku Karya Pejuang Pena FLP Wilayah Lampung sedang berlangsung yang dipandu oleh Tri Lego Indah.

Pukul 10.30 WIB acara resmi dibuka oleh seketaris Dinas, hadoh karena sibuk lupa siapa nama bapaknya:)

Acara inti Pelatihan Menulis Cerita Anak bersama Mas Ali Muakhir dimulai pukul 10.00 WIB. Peserta diajak bersenam dulu dengan menggerakan kaki dan tangan membentuk huruf T-U-L-I-S. Gerak ini diharapkan agar seorang penulis menjaga kesehatannya. Untuk menjadi penulis yang profesional haruslah menjaga keseimbangan.So,jangan kelamaan di depan komputer, gerakkan kaki dan tanganmu ya ^_^

Selanjutnya baru deh dapat materi jihuy dari Mas Ali Muakhir tentang bagaimana sih menulis cerita anak? Kita diajak bagaimana cara menggali ide baik dari kisah kenangan indah ketika SD maupun lingkungan sekitar kita. Menulis cerita anak berbeda dengan cerita remaja ataupun dewasa.Menulis cerita anak memerlukan metode tersendiri.

Pukul 12.15 WIB pesertapun ISHOMA dan dilanjutkan pukul 13.00 WIB.Para peserta diajak untuk berlatih menulis cerita anak dari teori yang telah didapat sebelumnya. Teryata dalam waktu 10 menit, ada beberapa peserta telah menulis 1 halaman. Wow, hebat! Kalo 1 tahun bisa berapa buku ya?:D Menjelang pukul 14.00 WIB Mas Ali Muakhir pamit untuk terbang kembali ke Jakarta menuju Bandung setelah sempat mengulas beberapa karya peserta yang unik.