Kamis, 09 Agustus 2012

Pengalaman Membersihkan Komedo di Salon Muslimah : Good Bye Dungdag ^_^


Siang itu aku lagi ngajar Bahasa Indonesia di Kelas 5 A. Seorang siswa yang sangat perhatian mendekatiku.  “Wah, ibu dungdak!” serunya. “Apa?” tanyaku penasaran. “Itu loh bu, hidungnya. Hidung landak! Banyak komedonya!” jawabnya. Wedew, nih murid berani juga negur gurunya. Aih, reflek kuraba hidungku.
Huaaaaaah kasar banget. Segera kucuri pandang pada sebuah cermin kecil dari rautan pensil. OMG! Benar-benar banyak komedonya. “Pake biore pore pack aja bu, biar hilang,” sarannya lagi. Du, hari ini aku dapat saran kecantikan deh dari muridku. Alhasil pulang sekolah aku langsung berburu biore pore pack. Sampai di rumah, aku langsung mencobanya. Kulihat wajahku di cermin. Huaaah baru sadar, ternyata sudah lama banget aku tidak membersihkan muka.

 Ya, aku paling malas membersihkan muka. Paling kalo naik motor jauh, aku baru membersihkan muka dengan pembersih muka biasa, duuu pantesan hidungku jadi dungdak ya? T_T Usai pakai biore pore pack, komedo sedikit terangkat. Senang sih wajahku kembali bersih. Tapi bekasnya, kok wajahku jadi kasar ya? Aduh, tolong! Giliran wajah bekas lengketan pore pack menjadi sangat kasar. Akhirnya kutinggalkan cara menghilangkan komedo dengan biore pore pack. Kali ini kucoba dengan membersihkan dengan handuk.

Mula-mula hidungku kuolesi dengan milk cleanser lalu kubersihkan dengan handuk. Kenapa tidak dengan kapas? Kalo dengan kapas hidung jadi merah dan lecet. Pernah hidungku lecet saking kesalnya dengan komedo, jadi tomat deh hidungku T_T Hasilnya? Belum terlalu memuaskan. Hari-hari berlalu dan aku masih pe-de dengan dungdak sampai temanku menegur. “Mbok yah ke salon, mbak. Bersihan komedonya,” saran seorang teman. Sekali lagi kuperhatikan hidungnya. Aih, iri deh. Hidungnya bebas komedo. Okelah kalo begitu, aku akan ke salon. 


Esoknya, Salon Muslimah, I am Coming. Masuk ke salon aku dengan pe-denya minta di facial. Duu dah lama nggak facial, terakhir 3 hari menjelang menikah. Wajahku pun dibersihan. Sambil dipijat-pijat. Asiknya! Sampai masuk ke episode mengeluarkan komedo. “Aaaaaaa!” jeritku. “Kok sakit banget sih mbak? Emang pake apaan sih?” protesku. “Pake kawat ini lo, mbak biar komedonya keluar. Ini lihat komedonya banyak banget!” si mbak melihatkan komedo yang di atas kapas. Hah? Banyak banget? Aku kaget sendiri. 


“Huaaaaaa….” Jeritku lagi. “Duu sakit banget sih, mbak? Lebih dari mau melahirkan! Aku melahirkan aja gak segininya!” keluhku lagi. “Iya sih mbak, ini komedonya banyak banget,” si mbak merasa kasihan air mataku sudah mengalir. “Okelah aku minta handuk deh!” Maka, aku pun mengigit handuk menahan sakit mengeluarkan komedo. Ah, nasib-nasib….dungdag kok kayak melahirkan sih? Tapi, sekarang aku boleh bergembira, hidungku sudah bebas dungdag karena aku sudah rutin ke salon.

 So, good bye dungdag ^_^
 good bye dungdag

Enjoy Walau Mabuk Laut

Desember 2010 lalu, aku kangen banget dengan Miming, kakak pas di atasku. Sudah tahun kami tidak bertemu. Walau jarak usia kami 11 tahun, kami sangat dekat dan kompak. Itulah membawaku untuk liburan ke Jakarta bersama anakku, Faris. Suamiku tak mungkin ikut serta karena harus kerja. Maklum aku kan seorang guru, jadi jadwal anak liburan sekolah, aku ikutan liburan, berbeda dengan suami yang PNS, liburnya hanya Sabtu dan Minggu saja. Kebetulan suamiku ada tugas juga ke Jakarta. Jadilah kami sepakat, kami berangkat duluan dengan travel dan pulang bareng suami naik pesawat. Perjalanan liburan ini bukan yang pertama hanya berdua saja.

Sebelumnya, bulan Juli 2010, kami juga sudah pulang ke Bengkulu berdua saja. Beberapa agenda liburan sudah kusiapkan dan persiapanpun dimulai! Persiapan

  1. Travel Bag Aku mempersiapkan satu travel bag ukuran sedang. Isinya tentu beberapa pakaian rumah, bepergian, pakaian tidur dan lainnya. Tak lupa alat menggambar Faris. Maklum Faris senang sekali menggambar. Kemana-mana harus membawa buku gambar dan crayon jika ingin Faris tetap tenang. Alhasil, buku mewarnai, buku gambar, crayon lengkap disiapkan. Selanjutnya, satu tas yang dijinjing. 
  2. Tas Jinjing Kali ini beraneka ragam isinya. Ada bekal nasi dan lauknya karena siap-siap jika ada kejadian, misalnya ban mobil kempis dan jauh dari rumah makan, pas kelaparan, ya tinggal makan bekal dari rumah deh. Selain itu, aku mempersiapkan susu, botol dot yang sudah diisi bubuk susu, sehingga sewaktu-waktu Faris minta susu tinggal diseduh saja. Abon, biasanya dalam perjalanan, Faris susah makan, maka kusiapkan Abon sapi. Makanan cemilan juga tak lupa. Di perjalanan jajan ini-itu cukup mahal, maka mengantisipasinya aku sudah mempersiapkan cemilan kesukaan Faris. Biasanya susu kotak, coklat dan beberapa snack lainnya. Tas ini juga berisi mukena, dua potong pakaian ganti Faris, perlengkapan mandi, seperti sikat gigi,sabun cair, shampo, pasta gigi dan lainnya. Namun, aku menyisakan sabun cair untuk kutaruh di tas sandangku nanti, karena sering digunakan jika dijalan BAB atau sekedar cuci tangan. 
  3. Tas Gendong atau Tas Gaya Tas ini harus multi guna. Dapat bersisi hal-hal penting, namun dapat dijadikan aksesoris juga. Soalnya jika dalam perjalanan, aku tetap ingin tampil cantik euy! Aku suka sekali berpose dalam berbagai momen, sehingga aku mempersiapkan bedak dalam tasku. Nah, jika sudah berwudhu untuk sholat, tentu saja aku segera menggunakan bedak agar tampil lebih rapi. Ada juga bedak Faris lho! Jadi kalo kita berfoto berdua tetap tampil menarik! Tak ketinggalan beberapa obat, seperti antimo khusus anak, minyak kayu putih, minyak but-but dan lainnya. 



Perjalanan dimulai! Ketika travel datang, Faris sudah minum obat anti mabuk-nya, sehingga ketika di mobil sudah tak rewel lagi. Aku sengaja jika perjalanan cukup jauh, Faris kuberi obat anti mabuk. Kasihan jika Faris mabuk, muntah dan sangat lemas. Lagian, pengalamanku, jika tak minum obat anti mabuk, Faris akan rewel bertanya ini-itu, sedangkan aku juga mudah mabuk. Takutnya lagi, jika rewel akan menganggu penumpang lainnya. Maka, kupersiapkan obat anti mabuk rasa jeruk beberapa bungkus dalam tasku. Oh ya, tak ketinggal bantal panjangnya seperti guling yang bergambar spiderman ikut serta. Faris tak mau bantalnya ditinggal. Sebenarnya, bantal ini cukup menolong. Aku tak terlalu sakit memangku kepala Faris. Faris dapat duduk sendiri dan menyandarkan kepalanya di pangkuanku.

 Alhamdulillah selama Bandar Lampung dan naik Kapal Feri Faris tertidur. Akupun dapat beristirahat sejenak, ikutan tertidur. Naik Kapal Feri, Faris terbangun. Faris sangat antusias melihat kapal berlayar. Dulu ketika berangkat dengan Abinya, suasana sudah malam, Faris belum sempat melihat laut dan kapal berlayar. Usai mobil travel parkir, kami bersiap untuk naik ke lantai atas. Aku mempersiapkan mukena, makanan, dot, dan tak lupa bantal Faris. Aku mengajak Faris ke Mushola dan memintanya menunggu dengan tenang ketika aku sholat. Saat itu mushola penuh dengan ibu-ibu taklim dari Jambi yang akan ke Jakarta juga. Susahnya sholat khusu’ seperti yang diinginkan. Faris malah berlari-lari di depan orang-orang sholat. Terpaksa kusegerakan sholatku, takut menganggu jama’ah lainnya. Ternyata Faris sudah tak sabar ingin melihat ombak. Faris terus menarik-narik untuk melihat ombak. Keluar dari Musholla, kami duduk melihat ombak. Beberapa penumpang lainnya duduk lesehan menikmati angin laut. Kukenalkan pada Faris tentang laut, ombak, kapal, dan lainnya. Faris mulai bertanya macam-macam.
 “Mi, ikan pausnya mana?”
 “Mi, badan kita kok bergoyang-goyang?”
 “Mi, airnya asin, nggak?” Akupun menjawabnya dengan bahasa yang sederhana.

Lalu, kuajak Faris berfoto-foto dengan latar laut. Soal bergaya Faris tak perlu diarahkan karena sudah menurun bakat dari Umminya, hehehe…suka berfoto! Usai berfoto-foto, kuajak Faris ke kabin khusus untuk istirahat. Kami menyewa tempat dan bantal. Kebetulan saat itu ombak sedang besar. Kapal bergoyang cukup keras, sehingga jika duduk badan semakin limbung. Aku memilih untukk tiduran saja setelah makan pop mie yang kubeli sebelumnya. Faris lebih memilih ngedot dan makan snack-nya. Untunglah ada anak perempuan yang tak jauh beda usianya duduk di dekat kami. Faris pun bermain dengan riangnya. Padahalnya kapal sedang bergoyang-goyang dan aku perutku mual sekali. Apalagi, aku memang sedang hamil dua bulan. Faris tetap lincah bermain dengan teman barunya. Mereka melihat laut dari kaca dan kadang bermain lemparan mainan, mengobrol dan lainnya. Bersyukur Faris anak yang mudah bergaul, bertemu teman baru tidak menjadi masalah baginya. Lama terombang-ambing di laut, kapal yang biasanya hanya 2 jam kini sudah 3 jam masih belum menepi. Perutku sudah terasa teraduk-aduk ingin muntah. “Faris, tunggu di sini saja, ya. Ummi mau ke kamar mandi, perut Ummi sakit,” ujarku.

Untunglah Faris menurut. Aku ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku. Aduh, ini yang mabuk laut Umminya, bukan anaknya euy! Tak lama kapal menepi, kami turun menuju mobil travel. Faris minta dibuatkan susu lagi. Usai minum susu, Faris muntah-muntah cukup banyak. Segera kuganti bajunya dan melumuri minyak kayu putih disekujur tubuhnya. Kupijat-pijat badannya dan memeluknya. Alhamdulillah tak lama Faris ceria lagi, bahkan ketika berhenti di rumah makan, Faris makan nasi dan ayam goreng dengan lahap.

Akupun lega sekali. Perjalanan dilanjutkan hingga ke Jakarta. Sayang sampai di Jakarta, kami menjadi penumpang yang paling terakhir diantar. Kami ikut berputar-putar mengantarkan penumpang lain ke alamatnya. Faris mulai rewel dan tak betah di dalam mobil. Faris mulai ngambek dan mau menangis. Aku pun membujuknya sambil mengenalkan gedung-gedung yang kami lewati. Faris pun tertarik dengan lampu-lampu jalan yang berwarna-warni, hingga tak terasa kami sudah sampai dan bertemu kakak tercintaku. Farispun gembira bertemu sepupunya.

Ah, perjalanan berduapun begitu menyenangkan, walau sempat mabuk laut!

 Lampung Timur, 11 Maret 2011