Selasa, 31 Desember 2013

Menepis Gundah, Mematangkan Langkah






Resensi Buku

Judul Buku      : Sebelum Aku Menjadi Istrimu
Penulis             : Deasylawati P.
Penerbit           : Indiva
Tebal               : 224 hal;, 20 cm
Cetakan           : I/ Februari  2013
ISBN               : 978-602-8277-71-6
Harga              : Rp. 28.000,-
Peresensi         : Naqiyyah Syam

Hidup ini adalah pilihan. Penuh risiko. Ketika lajang, banyak sekali  penuh risikonya karena godaan yang datang. Tinggal memilih untuk menjadi taat atau bermaksiat. Gempuran pornografi dan pergaulan bebas di sana-sini menjadi sebuah tantangan. Apakah Anda bertahan atau terkena imbas? Begitupun saat memasuki gerbang rumah tangga. Anda akan menghadapi berbagai risiko kehidupan.

Menikah adalah sunah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan. Tak ada yang mampu menggantikan sunah ini dengan cara lain. Mengapa? Menikah adalah fitrah manusia. Dengan menikah, setan yang selama ini menggodapun akan menangis! Karena tak mampu lagi menggoda Anda untuk membayangkan hal-hal yang tidak halal. Dengan menikah akan menimbulkan rasa nyaman dalam mencurahkan cinta kasih. Seberapa jauh persiapan Anda menghadapi pernikahan? Apakah bayangan Anda yang indah-indah saja?

Kuatir menikah? Stres jika disuruh masak karena belum bisa masak? Stres jika langsung diberi momongan karena muntah-muntah? Stres menghadapi anak yang rewel? Untuk itu, Deasylawati Prasetyaningtyas mengupas habis dalam buku Sebelum Aku Menjadi Istrimu yang diterbitkan Penerbit Indiva. Dalam buku non fiksi setebal 224 halaman ini pembaca disuguhkan berbagai informasi persiapan sebelum menjadi istri. Mengapa perlu persiapan? Menjadi istri itu berat. Istri yang bijak, mampu mengatur rumah tangga dengan penuh cinta, perkataannya indah, membantu menanggung beban suami, menyiapkan makanan, amanah terhadap harta suaminya, patner suami  dan lainnya (hal 47).

Agar tidak menjadi beban, buku ini memberi langkah-langkah cerdas. Dituturkan dengan bahasa yang ringan dan aplikatif. Layaknya mengobrol, buku ini enak dibaca. Pembaca seakan sedang mengikuti kursus pra-nikah tanpa merasa digurui.

Dimulai dengan manis pada bab pemanasan, tidak seperti buku lainnya yang memulai dari bab pendahuluan. Di sini pembaca akan ditantang untuk tidak menjadi cewek cemen, minder dan takut menghadapi pernikahan. Langkah pertama yang ditawarkan adalah bersaing dengan bidadari. Makhluk cantik yang tidak eksis di dunia ini akan menjadi saingan berat untuk memiliki suami Anda kelak di akhirat. Pembaca diajak merenung hakikat sebagai istri yang shalihah. Kenapa harus bersaing? Kelak di syurga, Bidadari itu tidak segan-segan merebut suami shalih di sisi Anda (hal 13). Tapi, bagaimana mungkin makhluk dunia bersaing dengan bidadari yang memiliki sejuta pesona? Kuncinya satu, menjadi wanita shalihah. Ketika Anda berazzam menjadi wanita shalihah dan setelah menikah menjadi istri shalihah, maka Anda akan menang dari bidadari syurga.

Lalu, bagaimana jodoh dapat dicari? Perlukah mengejar-ngejar? Langkah yang tepat adalah memantapkan hati. Yakinkan jika Anda telah berusaha menjadi wanita yang baik-baik, maka laki-laki baik akan menjadi jodoh Anda (hal 29).

Langkah ketiga yang perlu Anda persiapkan adalah mencari ilmu menjadi istri. Ilmu persiapan sebelum hari H. Di buku ini akan memaparkan ilmu tentang pernikahan baik dari pengertian akad nikah sebagai mistaqun ghalizah (janji yang berat) dalam Al-Quran disebut sebanyak tiga kali, yakni untuk akad pernikahan, perjanjian antara para Nabi dan Tuhan dan janji Bani Israil terhadap Allah SWT dalam mengemban tauhid di dunia (hal 46). Selanjutnya ilmu manajemen keuangan, baik dalam membuat portofolio keuangan keluarga, menyusun rencana keuangan, menghindari hutang hingga meminimalkan belanja konsumtif.

Ada juga ilmu psikologi kepribadian pasangan. Pembaca akan diajak memahami perbedaan bahasa Laki-laki dengan Wanita seperti dalam buku Men are from Mars Women are from Venus karangan Dr. John Gray Ph.D. Pembaca akan memahami perbedaan sisi Wanita yang lebih unggul menguraikan makna kata-kata lisan daripada laki-laki. Sedangkan laki-laki, lebih unggul dalam kemampuan membayangkan. Pembaca juga diajak mempersiapkan ilmu tentang kehamilan, persalinan dan menyusui. Dibahas juga mengenai tips  untuk hamil, seperti frekuensi hubungan seksual, posisi hubungan seksual hingga tips agar cepat dan lancar bersalin. Suatu yang jarang dibahas di buku persiapan persalinan lainnya, penulis memberikan informasi salah satu cara agar persalinan dapat berlangsung cepat dengan menstimulasi puting (nipple stimulasion). Selain itu informasi proses persalinan tahap demi tahap ditulis dengan apik dan memperkaya pengetahuan. Pembaca diajak belajar menghadapi berbagai kemungkinan baik soal perut, duit sampai anak.

Sebagai sebuah karya, buku ini tak lepas dari kekurangan. Menurut peresensi, pertama, buku ini kurang mendalam mengupas persiapan malam pertama (malam zafaf). Kenyataannya, banyak calon mempelai wanita menjadi takut menjelang malam zafaf. Berbeda dengan Muhammad Fauzul Adhim di dalam bukunya Kado Pernikahan Untuk Istriku, Ia secara khusus membahas bab persiapan memasuki malam zafaf. Penulis masih malu-malu mengupas hal sensitif ini. Penulis lebih memilih mengupas panjang lebar tentang ilmu gizi seperti mengenal makanan sehat yang mengandung karbohidrat, protein, mineral, vitamin, dan sedikit lemak tak jenuh atau pola makanan seimbang (Hal 131). Entahlah apakah ini berkaitan dengan latar penulis, Deasylawati Prasetyaningtyas sebagai lulusan Poltekkes Surakarta angkatan 2006, sehingga penulis lebih leluasa mengupas materi yang dikuasainya. Sebelumnya penulis juga membahas bertema kesehatan seperti Novel Livor Mortis (Indiva, 2008) dan buku anak berjudul Tubuhku Sehat karena Makanan Halal (Era Intermedia, 2007).

Kedua, buku ini diperuntukan untuk wanita yang sedang mempersiapkan diri menjadi seorang istri.  Jika mematok ukuran peraturan BKKBN, usia ideal pernikahan adalah 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk laki-laki, maka buku ini diperuntukkan untuk wanita sekitar usia 21 tahun. Sangat disayangkan penulis memakai contoh seorang istri amatiran pada novel Izzatul Jannah (Intan Savitri) berjudul Setitik Noda Selaksa Cinta (Era Intermedia Solo, 2001) dalam menggambarkan istri yang tidak pandai memasak. Padahal buku itu terbit tahun 2001. Terlalu jauh rentang waktu pada pembaca. Ketika pembaca diusia 21 tahun di tahun 2001, maka saat membaca buku ini telah berusia 33 tahun. Novel yang menjadi contoh sudah sulit didapatkan atau tidak beredar lagi.

Ketiga, buku ini tidak membahas cara komunikasi dengan mertua, ipar dan tetangga. Dalam pernikahan, tidak hanya mampu memahami psikologi pasangan semata, tapi juga pandai membawa sikap kepada mertua, ipar dan tetangga. Istri diharapkan luwes dalam berbagai keadaan.

Terlepas semua itu, buku ini sangat rekomendasi bagi yang ingin sukses menjadi istri. Tak hanya cantik luar secara fisik, tapi dari jiwa yang paling dalam. Tak sekedar menjadi bidadari dunia bagi suaminya, tapi menjadi ratu bidadari di syurga kelak. Buku ini sangat hati-hati disajikan untuk wanita shalihah, cetakannya rapi dari salah ketik, cover yang ceria dan judul buku dilingkari seakan menjadi  simbol sebuah percakapan, menandakan buku ini layak diperbincangkan. Sayang, saya baru membaca buku ini ketika telah menjadi ibu beranak dua. Jika saja di usia 21 tahun saya telah membacanya, mungkin saya lebih cepat menjadi istri yang terampil dan cekatan.  

*Resensi ini untuk lomba menulis resensi buku Penerbit Indiva


Bermain di Goodreads Resep Yanti

Ini copas dari Blog Yanti


Akun goodreads mencatat saya pertama kali bergabung di sana di bulan April tahun 2010. Wah, sudah lebih dari 3 tahun ternyata. Awalnya bikin akun di sana adalah karena saya suka baca dan suka buku. Sebagai seseorang yang menggemari buku dan bacaan, saya merasa punya kewajiban buat bikin akun di sana. Wkwkwk….

Dan saya tidak kecewa sedikit pun punya akun di Goodreads. Banyak hal yang bisa saya dapat. Dapat teman salah satunya. Hal lain, saya senang banget baca review-review di Goodreads. Satu buku yang sama, dibaca oleh orang yang berbeda akan menghasilkan ulasan yang beda-beda. Seru banget baca review-review di sana.
Saya biasa membaca review sebelum memutuskan membeli sebuah buku. Terkadang saya bisa tertarik dengan sebuah buku karena review dari Goodreads. Dan pernah juga saya membatalkan membeli sebuah buku karena membaca review di Goodreads.
Setelah selesai membaca buku, saya juga kerap membaca ulasan-ulasan yang ada di Goodreads. Ingin membandingkan apa yang saya dapatkan dari buku itu dengan apa yang orang lain dapatkan.
Kemarin ada pengumuman lomba resensi dari sebuah penerbit, yang mensyaratkan kalau resensi tersebut juga di posting di Goodreads. Ada beberapa teman yang bilang kalau masih belum bisa memainkan Goodreads. Saya coba menuliskan bagaimana biasanya saya bermain Goodreads.
Pertama, tentu saja harus mengunjungi http://www.goodreads.com
Halaman awal masuk goodreads
Halaman awal masuk goodreads
Kalau belum daftar, mesti daftar dulu dong. Caranya isi aja nama, email dan password (lihat tanda panah hijau yang mengarah ke bawah). Ntar ada beberapa lagi yang diisi. Sama lah dengan kita daftar akun media sosial yang lain.
Yang sudah daftar tinggal masukkan email dan password (lihat tanda panah hijau yang mengarah ke kanan). Belakangan saya menghubungkan akun Goodreads saya dengan facebook (lihat tanda panah biru). Jadinya saya tinggal klik sign in using facebook. Beberapa kali saya juga lupa password Goodreads saya. Dengan cara sign in using facebook itu, saya tinggal klik itu dan tradaaaa…. terbuka deh halaman Goodreads saya.
Kalau sudah berhasil masuk maka kita akan ketemu halaman seperti ini.
GR 2 newKeterangan Gambar :
Lingkaran Merah adalah kolom pencari. Masukkan nama penulis, judul buku atau ISBN di sana untuk mencari buku atau nama penulisnya.
Lingkaran Biru adalah notifikasi dari Goodreads. Seperti FB lah, jika ada pesan baru, yang mau berteman sama kita atau yang ngasih komentar atau like di review kita ada di bagian notifikasi.
Lingkaran Hijau adalah kolom ‘currently reading’, bagian yang menunjukkan apa yang kita baca sekarang.
Bagaimana memasukkan buku yang sedang kita baca supaya tampil di bagian Currently Reading itu?
Kita search dulu judul atau nama penulisnya di kolom search di bagian atas. Misal kita masukin nama penulis Afifah Afra. Maka akan muncul hasil seperti ini :
GR3
Arahkan kursor ke buku yang kita tuju.
Gr4Misalkan buku yang kita ambil adalah Bulan Mati di Javasche Oranje. Ketika kita arahkan kursor ke bagian Want to Read maka ada 3 pilihan yang muncul. Read kalau kita sudah membaca buku itu, Currently Reading jika kita sedang membaca buku itu, Want to Read jika kita akan membaca buku itu. Anggaplah kita sudah membaca buku itu maka kita klik read dan akan muncul … jeng… jeng… jeng…
GR5Akan muncul kolom buat kita ngerating tuh buku, dari bintang 1 sampai 5, dan kolom review buat masukin review kita di sana. Di bagian bawah ada kolom buat mencatat tanggal berapa kita selesaikan buku ini (Date I finished this book), jika sudah selesai ngasih bintang dan masukin review, serta nulis tanggal selesai, tinggal save aja. Tradaaa… Review kita akan muncul.
GR7Kalau mau update status tentang sejauh mana kita membaca sebuah buku yang sudah kita masukin ke kolom currently reading, maka tinggal klik di sana. Dan masukin sampai halaman berapa yang sudah kita baca bisa juga kita masukin sepatah dua patah kata di progress kita tentang bacaan itu.
Kalau ingin membaca review tentang buku tertentu, tinggal seacrh aja judul buku atau nama penulisnya. Untuk judul buku yang rada pasaran memang akan muncul beragam buku dari seluruh dunia. Dalam hal ini bisa kita siasati dengan search nama penulisnya. Nanti akan muncul buku-buku yang ditulis oleh penulis tersebut. Tinggal kita klik buku yang kita pilih dan akan muncul beragam review dari para goodreaders. Seru lho baca review-review di goodreads :D
Kalau bukunya ternyata nggak ada juga setelah di search gimana? Bisa jadi bukunya belum didaftarkan di sana. Pilihannya kita bisa mendaftarkan buku tersebut sendiri. Caranya? Saya nggak tahu. Hahahaha…. Karena saya menulis ini dari segi pembaca saja ya. Saya nggak ngerti kalau dari penulis yang ingin masukin bukunya ke deret goodreads :D
Untuk memberi komentar dan ngelike review di sana, prosedurnya sama kok dengan kita kasih jempol dan komentar di facebook. Udah pada jago kan kalau main di facebook? Hehehehe….
Sebenarnya banyak hal lagi yang bisa kita mainkan di Goodreads, apa yang saya ceritakan di atas adalah cara bermain saya yang hanya sebatas seperti itu saja ^_^
Sampai di sini dulu ya. Moga bisa dipahami. Gaptek kalau soal urusan nampilin foto jadi gambarnya pecah gitu. Hohoho… Moga ntar bisa rajin jadi bisa diperbaiki gambarnya dengan yang lebih tajam :D
Yang mau lihat akun saya di goodreads bisa berkunjung ke sini :https://www.goodreads.com/user/show/3578456-hairi

Sabtu, 21 Desember 2013

Behind The Scene : Buku Dosa-dosa Istri Kepada Suami Yang Diremehkan Wanita



Buku Dosa-dosa Istri Kepada Suami Yang Diremehkan Wanita


Edisi kali ini saya mau berbagi kisah bagaimana meramu buku duet kami. Ya, buku non fiksi ini buku duet saya pertama kali :) Mau tau dong kisahnya? (mau aja ya, xixixi...maksa.com).

Adalah Oci Ym yang pertama kali meminangku untuk menulis duet. Saat itu aku masih liburan panjang sekitar bulan Juni tahun 2012. Aku mengenal Oci di facebook. Sudah lama kenal namun belum pernah pertemu secara nyata. Kami semakin akrab sejak satu group BAW. Awalnya aku yang terbiasa manggil "Mbak" pada semua yang kukenal, setelah kenalan lebih lanjut en
usia kami agak jauhan, Oci menolak dipanggil Mbk hehehe...

Singkat cerita, aku menerima pinangan duetnya. Wow, aku dikasih waktu 7 hari untuk menulis 40 halaman. Sempat bingung juga sih, apa bisa ya aku nulis sebanyak itu?  Selama ini belum pernah menulis dengan deadline ketat begitu. Bahannya darimana? Tuing-tuing, berasap deh kepala.

Minggu, 15 Desember 2013

Meraih Berkah Harta Melalui Zakat






“Loh, uangnya kok cuma segini?” tanyaku pada suami.  Cukup terkejut dengan uang bulanan yang diberikan plus THR yang jumlahnya tidak seperti yang dibayangkan saat ramadhan 2 tahun yang lalu.
“Iya, Mi. Uangnya segitu sudah dipotong untuk bayar zakat,” jawab suamiku. Aku memberengut.

 Awalnya cukup kesal dengan sikap suami yang tanpa memberitahuku akan ada potongan zakat. Maklum, menjelang lebaran sebuah harga menjadi naik. Jika dicek, sebenarnya kami belumlah kena wajib zakat. Harta yang tersimpan belum memenuhi syarat wajib. Apalagi setiap bulan, suami sudah mengeluarkan zakat dari gajinya  atau zakat profesi, tapi suamiku ingin tetap ‘menjaga’ harta kami dengan mengeluarkan zakat.
“Sudah, jangan sedih, nanti ada lagi rezekinya,” begitu hibur suami.

Jumat, 13 Desember 2013

Gila! Istri Tawarkan Suami Poligami

Poligami Itu ...

Kemarin saya membuat status di facebook, begini:

Menawarkan suami untuk poligami dianggap gila? Aku dulu sebelum nikah pernah ditawari seorang istri untuk poligami sama suaminya. Setelah nikah, perah nawari juga. Seperti dalam bukuku gado-gado poligami bareng Mbk Linda Satibi dan MbkLeyla Hana dkk. Poligami adalah pilihan. Bagi yang siap silakan, yang tidak jangan mencela.

Jum'at berkah semoga keluarga kita semua dilindungi Allah SWT. 

#BanyakDoa


Beragam komentar atas status saya itu. Bahasan poligami selalu sensitif dikalangan ibu-ibu. Walau paham tidak dilarang oleh agama Islam, tetap saja ibu-ibu akan ‘meradang’ bila menyenggol kasus poligami. Bak singa baru bangun dari tidur, keluar taring siap menerkam.

Kenyataannya, kasus poligami di sekitar kita sering tak beruntung. Kenapa? Kehidupan Rasulullah SAW yang memiliki lebih dari dua istri yang berlaku adil tak diteladani. Akhirnya, kata poligami menjadi sangat menakutkan.

Seorang teman bercerita, jika Ia memperbolehkan suaminya berpoligami dengan catatan Ia saja yang memilihkan calonnya, “Kalo saya sih memperbolehkan suami saya, asal calonnya taat ibadah (sholehah).” Lain lagi komentar teman saya, “Saya dulu mempersilakan suami saya berpoligami dengan wanita masa lalunya (mantan pacar), kalo dia masih cinta ya silakan saja, saya tak mau dia munafik !” (loh, kesannya marah ya? Hehhe...).

Rabu, 11 Desember 2013

Alamat Media

1. Republikasekretariat@republika.co.id, aliredov@yahoo.com

Tidak ada pemberitahuan dari redaksi terkait pemuatan cerpen. Sudah lama tidak memuat puisi. Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), tetapi—pengalaman beberapa rekan penulis, harus sabar menagih ke redaksi beberapa kali agar segera cair.

2. Kompasopini@kompas.co.id, opini@kompas.com

Ada konfirmasi pemuatan cerpen/puisi dari redaksi via email. Honor cerpen Rp. 1.100.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), seminggu setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

3. Koran Tempoktminggu@tempo.co.id

Biasanya Nirwan Dewanto—penjaga gawang rubrik Cerpen Koran Tempo, meng-sms penulis terkait pemuatan cepen/puisi jika penulis mencantumkan nomer hp di email pengiriman. Honor cerpen tergantung panjang pendek cerita, biasanya Rp. 700.000,-  honor puisi Rp. 600.000,- (pernah Rp. 250.000,- s/d Rp. 700.000, referensi Esha Tegar Putra), ditransfer seminggu setelah pemuatan.

4. Jawa Possastra@jawapos.co.id

Jawa Pos menerima karya-karya pembaca berupa cerpen dan puisi atau sajak. Cerpen bertema bebas dengan gaya penceritaan bebas pula. Panjang cerpen adalah sekitar 10 ribu karakter. Honor cerpen Rp. 900.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (referensi Isbedy Stiawan Zs), ditransfer seminggu setelah cerpen/puisi dimuat.

5. Suara Merdekaswarasastra@gmail.com

Kirimkan cerpen, puisi, esai sastra, biodata, dan foto close up Anda. Cerpen maksimal 9.000 karakter termasuk spasi. Honor cerpen Rp. 350.000,- (potong pajak), honor puisi Rp. 190.000,- (tanpa potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, jangan lupa tanggal pemuatan cerpen. Bisa diambil langsung ke kantor redaksi atau kantor perwakilan redaksi di kota Anda—jika ada.

6. Suara Pembaruankoransp@suarapembaruan.com

Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak), hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.

Sabtu, 07 Desember 2013

Resep Sayur Singkong dan Petai

Ada yang suka petai. Nah, jika suka bingung mengelolanya, saya punya resep nihJ resep ini ala saya sendiri. Nyoba-nyoba campur-campur dan alhamdulillah enak hehhe...

Bahan :
  •  Petai 1 papan
  •   Daun singkong 2 ikat
  • Ikan teri
  •  Jamur kayu
  •  Santan (kalo saya pakai santan kara)

Kamis, 05 Desember 2013

Peran Ibu Mencetak Generasi Anti Korupsi




“Enak ya jadi PNS, kerja santai, uang mengalir, makan gaji buta! Peluang korupsinya banyak!”

Jdeeer..!

Obrolan ibu-ibu itu membuat saya ‘meradang’  bukan karena kata PNS-nya saja, tapi seolah-olah peluang korupsi enak saja dinikmati. Keluarga saya rata-rata sebagai PNS. Keempat kakak perempuan saya memilki jabatan disetiap instansinya, bahkan memiliki jabatan sebagai Lurah. Suami saya baru empat tahun ini sebagai PNS. Suka-duka menjadi abdi negara yang baik saya akui cukup sulit.

Jika ke luar daerah, suami pernah disodori amplop sebagai ‘hadiah’ oleh petani yang dikunjungi. Apakah uangnya diambil? Pernah seorang teman saya bilang, “Ambil saja uang itu belikan AC, bukan untuk makan, uang halal kok,”
Ups...benarkah halal?

Selamatkan Generasi, Tolak Pekan Kondom Nasional


Saya tak habis pikir mengapa Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH  membagi-bagikan kondom secara gratis. Alasan untuk mengurangi penularan virus HIV melalui perilaku seks beresiko tidaklah masuk akal. Mengapa membagikan kondom? Seolah-olah ingin mengatakan, “Boleh berzina (berhubungan badan), asal pakai kondom! Dijamin bebas virus HIV!” Ooh dangkal sekali pemikiran itu.




Taukah Anda, penderita HIV-AIDS setiap tahunnya meningkat tajam. Dari sumber Dirjen PP dan PL kemenkes RI 6 September 2013 terhimpun penderita HIV dilaporkan sampai Juni 2013 sebanyak 108.600 orang dan penderita AIDS sebanyak sebanyak 43.667 orang. Penularan AIDS paling banyak terjadi karena hubungan sek beresiko pada heteroseksual (45,6%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (10,6%), dan LSL (Lelaki Seks Lelaki) (10,3%). Sedangkan pada kasus AIDS terjangkit karena hubungan seks berisiko pada heteroseksual (78,4%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (14,1%), dari ibu positif HIV ke anak (4,1%) dan LSL (Lelaki Seks Lelaki) (2,5%).

Nah, coba kita cerna data-data di atas. Penularan virus HIV-AIDS terjadi tajam karena hubungan seksual secara heteroseksual, bukan dengan setia pada pasangan. Lalu, sangat disayangkan penderita ODHA (Orang  dengan HIV-AIDS) adalah yang berusia produktif, yakni usia 20-29 tahun sebanyak 15305 orang.
Para ODHA berusia produktif itu kebanyakan terjangkit karena gonta-ganti pasangan dalam hubungan sex diluar nikah. Ada juga melakukan aborsi tidak aman, penggunaan jarum suntik tidak steril, pelacuran dan lainnya.



Jika program Mentri Kesehatan RI bagi-bagi kondom untuk mengerem laju HIV-AIDS tidaklah relevan dengan budaya timur Indonesia. Berbeda jika itu dikampanyekan di dunia barat. Apalagi dibagikan di kampus untuk mahasiswa dan pelajar. Ironis sekali. Bagi yang belum tahu penggunaan kondom akan penasaran bagaimana  sensasi penggunaanya. Jangankan ada program bagi-bagi kondom, tanpa itu saja laju seksual anak muda yang sudah tidak perawan sudah meningkat tajam. Catat, tidak perawan lagi. Mereka sudah bebas melakukan sex di luar nikah. Saya sangat menyayangkan program mentri kesehatan ini lolos menjadi program nasional. Apakah generasi kita ingin di bodohi dengan silakan berzina tapi awas jangan hamil!

bagi kondom di kampus

bis bagi-bagi kondom


Cobalah berpikir lebih cerdas, usia pernikahan sekarang semakin naik.  Usia ideal direm oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN). Usia ideal menurut BKKBN adalah usia 20-21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Sedangkan, kebutuhan seksual rata-rata terjadi di usia remaja ketika mengalami puberitas. Bahkan beberapa kasus terjadi puberitas terjadi pada anak SD. Jadikan Berita perkosaan yang dilakukan 5 siswa murid kelas IV dan V  SD Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi selatan memperkosa teman sekelasnya jadilah sebagai pelajaran bagi kita (Sindonews.com,  2/4/2013). Artinya, kebutuhan dasar saat ini adalah pendidikan seksual yang tepat sasaran dan sistematis. Bukan seperti membagikan kondom di areal kampus.

Usia pernikahan ideal menurut BKKBN, perempuan 21 tahun, laki-laki 25 tahun

Saya sarankan Mentri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH bekerjasama dengan Rukun Tetangga (RT) melakukan sekolah Pra nikah. Para remaja di sekitar lingkungan diberi ilmu pengetahuan mengenai alat reproduksi dan tanggungjawabnya. Sedangkan pada anak usia SD, sebaiknya kerjasama dengan pihak sekolah melakukan pelatihan secara berkala mengenalkan aku dan diriku, sebab dan akibatnya terhadap sentuhan orang asing pada dirinya. Hal ini lebih efektif untuk mengurangi laju penyebaran HIV-AIDS. Apalagi diimbangi dengan pendekatan agama. Agama apapun tidak ada yang mengajurkan sek bebas. Untuk itu, mari tolak Pekan Kondom Nasional, selamatkan generasi dari zina massal.


Siapkan generasi yang berakhlak mulia


Mengenalkan keluarga inti

otak akan kotor kalo banyak pengaruh jelek

selamatkan generasi


Tulisan ini dimuat di Surat Pembaca Lampung Post, 5 Desember 2013.

Rabu, 20 November 2013

Bedah Buku Online : Cinta & Harapan di Masa Tua

aku dan buku Cinta & Harapan di Masa Tua
Judul : Cinta & Harapan di Masa Tua 
Penerbit : Jendela (Lini Zikrul Hakim)
Genre : Kisah Inspirasi
ISBN : 978-979-063-814-3
Harga : Rp. 59.500

Penyusun: Naqiyyah Syam 
Penulis: 
Indah IP, Haya Aliya Zaki, Murti Yuliastuti, Vanda Nur Arieyani, Aprilina Prastari, Anisa Widiyarti, Anita Triana, Shinta Handini, Lia Herliana, Tati Amalia, Nunung Yuni A, Indah Juli, Fita Chakra, Ella Sofa, Binta Al Mamba, Wylvera W, Dhanietha Nugroho, Nunik Utami, dan Linda Satibi. 


Bedah buku online? Rasanya aneh ya? Bedah buku kok online? Biasanya temu langsung penulisnya? Ups, zaman digital begini, apa sih yang tidak mungkin digunakan untuk mempermudah? Nah, termasuk bedah buku. Jadilah,  Tanggal 11 November lalu, dilakukan bedah buku Cinta & Harapan di Masa Tua bersama Sekolah Menulis FLP Lampung (Online). 

Eits...apa pula itu? 

Baik aku ceritakan ya, kalo di FLP Lampung ada Sekolah Menulisnya secara online, ada jadwal rutinnya juga loh. Rugi abis kalo jarang ikutan kelas. Balik ke bedah buku tadi ya, ini rangkuman dari pertanyaan yang telah diajukan oleh anggota FLP Lampung, sengaja nama penanya disembunyikan hehhe... :)

Kita mulai bedah buku ya...


Mbak Naqiy, proses kreatifnya bagaimana sih sehingga jadi buku nonfiksi? Bagaimana cara pengoordinasian dan proses penerbit?

Buku ini diwali tawaran oleh seorang editor. Beliau memintaku mengajak teman-teman menulis kisah inspirasi mengenai Lansia. Tak lama aku mengajak teman-teman via inbox bukan audisi untuk ikutan menulis. Adda yang menolak, ada yang langsung oke. Aku sendiri sibuk ngajar waktu itu enggak sempat nulis kisah ini hehhe..

Cara pengkoordinasiannya, ya buat woro-woro standarlah, cara kirim naskah, ke emailku, lalu buat group khusus anggota menulis. Koordinasi di sana lalu disusun naskahnya.

Buku dengan judul percintaan dan juga mimpi sangat banyak sekali beredar, nah apa sih yang membedakan karya dalam buku itu yang akan menarik pembaca? Kira-kira berapa lama buku ini dapat diselesaikan?

 Buku tema Lansia, jarang ada bukunya. Dulu, sama waktunya dengan penulisan buku Lansia milik seorang penulis lainnya. Beruntungnya bukunya cepat cetaknya, berbeda dengan buku kami yang awalnya berjudul Merajut Cinta Lansia diganti menjadi Cinta dan Harapan di Masa Tua. Cover juga diganti. Dari pengiriman naskah sekitar 6 bulan acc naskah, tapi terbit selama 2 tahun.

Aku nanya ya Mbak Naqi?*kedipkedip*
1. Ide dasar penulisan buku ini apa?
2. Sudut pandang spesialnya seperti apa?
3. Proses hunting amunisinya gimana?
4. Sasaran buku ini untuk siapa?

Baik, dijawab ya :
 1. Ide dasar : Tentang Lansia, berhubungan dengan Lansia yang sakit, ada yang kembali lagi seperti anak kecil,ada juga mudah marah-marah. Jadi, kisahnya all about lansia. Ada juga tips merawat Lansia yang sakit, stroke, dll.
2. Spesialnya, karena jarang buku yang kisah inspiratif digabung tips-tips.
3. Amunisi, karena ini antologi ya ajak teman2 saja menulisnya. Aku sendiri sebagai penyusun buku ini.
4. Umum. Boleh Lansia itu sendiri, tapi lebih tepat yang merawat keluarganya yang lansia.



Waduh, pertanyaannya diborong ama penanya di atas. Gimana nih, padahal pengen nanya juga. Apa kelebihan buku ini sehingga bisa membuat orang 'wajib beli' (siap juga yang ngewajibin ya?) Siapa tahu jawabannya bisa bantu promosiin buku ini gitu loh mbak maksudnya hehehe...

Buku ini berdasarkan kisah nyata. mungkin kita akan menghadapi sebuah hidup bersama ayah, ibu, mertua, yang sudah lansia. ini menjadi tantangan buat orang2 di sekitarnya, apakah akan mencoba meraup pahala syurga atau melepasnya, ini ada 2 pilihan. Terserah kita mau ambil yang mana. Buku ini membuka wawasan kita mengenai perasaan lansia, tingkah laku lansia, sehinga kita bisa menyikapi dengan benar terhadap lansia. Lansia akan mengalami perasaan yang berbeda saat usia muda. Ketika lansia, mereka akan lebih pemarah, mudah sedih, dll. Tapi, ada yang juga yang ringan tangan, smart dan tidak mengeluh. Nah, penasaran? beli ya bukunya :)

Apa manfaat buku ini?
(tanpa melihat pertanyaan sebelumnya)

Manfaatnya :
1. Orang melek siapa sih yang dimaksud Lansia? Bagaimana merawat orang Lansia?
2. Menjadikan orang untuk mempersiapkan diri untuk bila tiba waktunya kelak menjadi Lansia juga
3. Lebih peduli dengan lansia di sekitar kita

Kalo kritik boleh mbak? Bukan pertanyaan. Hehehe
 hehe, saya merasa coverny kurang pas Mbk. Masa tua gak selalu identik dengan kursi roda loh.

Rasanya jauh banget dengan lansia di desa-desa yang masih kuat berkebun, bertani dan bawa motor. Tapi, itulah suka dan dukanya enjadi penulis. Cover telah ditentukan penerbit setelah sebelumnya direvisi.

Cover Versi lama sebelum cetak

Mbk Naqiyyah Syam, berarti ada kisah saat Lansia itu sendiri menghadapi sakit dan masa akhir hidupnya ya?adakah di dalam buku ini tips perawatan lansia yang bisa dilakukan oleh keluarganya sendiri? Semoga buku ini meng-ilhami para anak dewasa di Indonesia yang sudah sibuk mencari uang, untuk menolak memberikan orangtua nya di rawat di panti jompo. Nudzubillah :')

Betul, dalam buku ini ada kisah nyata Lansia yang menghadapi sakitnya, disayangi keluarganya, bahkan ada yang meningal dengan cara bahagia setelah melewati fase 'pensiun' yang kadang membuat senewen. Ada berbagai tips di buku ini menjadi panduan bagi yang merawatnya. Betul banget buku ini diharapkan mengilhami orang lain ternyata dekat-dekat dengan lansia itu bisa juga 'bahagia' bisa juga 'enjoy' nah....tipsnya itu perlu diterapkan :)

Cover yang ini malah lebih oke ya Mbk Naqi. Mbak, ada kalanya ortu merasa gagal mensejahterakan anak2 krna keterbatasan materi. Di masa tuanya, beliau justru menjadi minder dan menarik diri dari pergaulan. Adakah tips2 menhadapi ortu yg seperti ini dlm buku ini? Bagaimana pula cara menghadapi lansia yg tingkah lakunya kekanakan?

 Nah, tipsnya ada di buku ini. Memang masa lansia itu orang tua akan seperti anak2 lagi. Beberapa contoh  tipsnya :
1. Tanamkan niat bahwa merawat dan berbuat baik pada lansia adalah ibadah.
2. Bersabar adalah bekal utama, sebab seringkali semakin tua lansia menjadi makin manja dan rewel. Ingatkan selalu dalam diri bahwa itu adalah ibadah dan peluang meraih surga-Nya.
3. Membantu lansia mengatur cara hidupnya dengan baik. Misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang. Karena pada usia lanjut mereka akan mengalami penurunan kondisi fisik, psikologik, maupun sosial.
4. Lansia sering merasa terasing. Ajaklah mereka melakukan aktivitas, selama ia masih sanggup. Ajak mereka beraktivitas positif atau bernilai ibadah semisal pengajian, olah raga, berkebun, dan sebagainya agar tidak bosan, tentu disesuaikan situasi dan kondisinya.
5. Bahagiakan dan senangkan lansia dengan perhatian dan kasih sayang. Untuk itu, sangat diperlukan keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam merawat mereka.





Nah, teman, jika berminat langsung saja cari buku ini di Gramedia atau toko buku di kotamu ya :)

NB: Semua hasil pertanyaan dari Bedah Buku Online di Sekolah Menulis FLP Lampung (Online)

Senin, 11 November 2013

Tere Liye, Penulis Novel Best Seller Dari Sumatera (bagian 2)

Buku-buku Tere Liye

Menurut Tere Liye, penulis yang baik adalah terus menulis. Simpel, melakukan yang terbaik, maka sukses akan menghampirinya. Bila ditanya bagaimana perasaan Tere Liye setelah bukunya sukses bahkan difilmkan, denga kalem dia menjawab : kosong saja. Artinya dia tidak menganggap itu terlalu berlebihan. Bahkan dia suka menulis di fan page dia. Penerbit saja yang mau menerbitkannya. 
Novel yang ditulis di fan page

Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini sebelumnya adalah tulisan yang ditulisnya di fan page. Lalu karena kesibukan Ia tidak bisa melanjutkannya lagi dan memberi pengumuman bahwa Ia tidak menulis lagi tentang ini. Lalu, tak lama Ia dikejutkan dengan sebuah email. Email itu berasal dari TKW Hongkong. Ia sudah 15 tahun di sana, sudah fasih bicara bahasa saja. Ia mengirimkan email kepada Tere Liye dengan tulisan di atasnya : Penting!

Tere Liye tidak menduga jika tulisannya bergaung hingga ke Hongkong. Ternyata TKW tersebut bekerja sebagai Nenek Sitter (hihi...ini julukan dari Tere Liye), menjaga seorang nenek yang sudah jompo. Setiap hari Ia membacakan tulisan dari fan page Tere Liye, sehingga ketika ada pengumuman diberhentikan ceritanya. Si Nenek itu galau luar biasa. ia ingin sekali mengetahui apa akhir dari cerita itu. Si Nenek Sitter bingung bukan alang kepalang, Ia akhirnya mengirimkan email tersebut. Akhirnya, Tere Liye menyelesaikan novel tersebut.


Menulis bagi Tere Liye minimal dapat memenuhi unsur menemani dan menghibur. Ada 3 level dalam menulis novel, yakni :
1. Menemani dan menghibur
2. Bermanfaat
3. Menginspirasi

Tulislah novel dengan syarat level pertama, syukur-syukur naik ke level dua, bahkan ketiga. Asal tidak bertentangan dengan 3 aspek negatif berikut, yakni :

1. Sia-sia
2. Merusak dengan level tengah
3. Merusak dengan besar-besaran (menjadi inspirasi orang lain berbuat salah).

Lalu, sesi tanya jawab dibuka. Beberapa pertanyaan diajukan oleh penanya, seperti :

 Bila menulis novel, Bang Tere mengunaka referensi tidak? Dituliskan di buku atau sebagai daftar pustaka atau tidak?

Ehem, seperti ciri khasnya Tere menjawab dengan santai. Referensi tetap diperlukan, beberapa novel yang memerlukan setting di daerah lain, Ia membaca beberapa buku mengenai daerah tersebut, tapi tak perlu dituliskan di daftarr pustaka.

Kesempatan pertanyaan tidak kulewatkan untuk bertanya, apalagi sebelum acara dimulai, aku sempat melihat rak buku Tere Liye yang dijual sponsor. 

"Salut ya, bukunya cepat banget terbit."
"Ah, jelas saja banyak. Pasti ada tim kreatifnya!" ujar seseorang di sampingku.

Aduh, aku penasaran, benarkah?

Kesempatan itu datang, lalu aku bertanya, "Tere Liye cepat sekali menerbitkan buku dengan jarak berdekatan. Bagaimana tanggapan Tere Liye bila ada yang mengatakan, wajar kok karena ada Ghost Writer atau tim kreatifnya, benarkah?"

Tanya dulu ah, foto by Maya Upasari



Dan Tere Liye menjawab, Ia tidak menggunakan GW atau tim kreatif. Setiap hari Ia hanya menyisikan waktunya selama setengah jam untuk menulis. Selebihnya Ia bekerja sebagai akuntan. Ia menulis novel dalam setahun hanya 3 novel, tidak terlalu cepat sih. Bagaimana caranya? Ya, seperti tips di atas ^_^


"Lalu, mengapa menggunakan nama Tere Liye, apa artinya?" Tanya penanya yang lain.

Mau jawaban yang sebenarnya atau yang dibuat-buat?

1. Jawaban yang sebenarnya : Tere Liye diambil dari nama lagu disebuah film India. Ia asal comot saja. Setelah banyak orang bertanya artinya, barulah Ia mencari artinya, alhamdulillah artinya bagus, yakni Tere Liye = Untukmu. Kini, bila ditanya, Ia ada jawaban yang lebih baik.

2. Tere Liye = Untukmu.
Jawaban kedua yang dibuatnya adalah ingin menulis untuk istri, anak, kucing kesayangan dan utama menulis untuk Allah SWT. Nah, jika masih bertanya, pilih yang mana? Silakan pilih jawabannya ya :)



TL action, foto by  Rinta
Diakhir acara setiap Tere  Liye memilih closing dengan seragam. Buat yang protes, salah siapa ikutan acara Tere Liye acara dia hehhe...ini pesan tersebut :)


 Waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun.  Jika menanam pohon 20 tahun hasilnya akan tumbuh pohon yang besar, daun yang rimbun dan ranting yang banyak. Analoginya begini, jika saja seorang Tere belajar menulis sejak usia 8 tahun, sangat wajar jika sekarang usia 34 tahun Ia sudah menjadi penulis karena rentang 20 tahun telah dilewatinya. Tapi.... kamu belum terlambat.

Jika selama 20 tahun yang lalu kamu belum mulai menanam pohon (baca belajar menulis). Ada satu resep lagi. Yakni, menanam pohon sekarang juga. Nah, setelah itu tidak ada kesempatan lagi. Camkan nasehat ini dan jangan sampai terlambat. Wiiih.... 20 tahun? Memetik hasil dari kegiatan menulis.

Hayya, jadi ingat zaman aku SD aku suka menulis surat kepada para artis. Minta post cardnya, minta fotonya dan mengirimkan puisi-puisike Majalah Bobo dan sahabat pena. Aduuuh...beneran ya, nulis itu karena dibiasakan menjadi bisa:)

Usai acara. Seperti biasa Tere Liye tidak menerima sesi foto bersama. Ia langsung menghilang. Ups, buku-buku yang ingin ditandatangi disatukan disatu tempat. Wah, tak mau kehilangan kesempatan, aku mengikuti kemana Tere Liye menandatagani buku tersebut. Alhamdulillah bisa masuk ruangan. Kebetulan kenal ama panitia anak-anak Polinela. Makasih ya udah diberi kesempatan foto-foto.

Memulai dialog, aku menyampaikan salam dari Mas Ali Muakhir (pesan Mas Alee di Whats App). Nah, pas lagi tanda tangan Tere Liye bilang, "Mas Ali Muakhir pernah ke Lampung? Beliau juga sangat produktif, buku anaknya banyak banget," 

Dan akhirnya aku bisa SKSD minta foto-foto. "Oke, silakan foto-foto tapi saya enggak mau pose, ya!" Jiaaaaaaaah...gak papa deh :) Pasukan FLP kuajak masuk, xixiix....

Sibuk foto, Bang TL cuek aja... :)


Tak lama Tere Liye mulai sibuk menandatangani buku-buku peserta yang membeli bukunya. Ada sekitar 3 kardus. Wiih, keren euy!  Bukunya dibeli peserta. Mantaaaaaaaap. Keren juga panitia mendesign acaranya. Walau peserta tidak diwajibkan membeli buku, tapi mereka menyiapkan bazar bukunya kerjasama denggan toko buku Bandung Center. Keren loh. FLP Lampung juga dapat rezeki. Toko buku tersebut menghampiri kami.

"Silakan pilih buku yang di bawah Bu, pilih apa saja, kami akan menyumbang untuk Taman Baca FLP, kami tahu infonya dari twitter." 

Subhanallah...jadi ngetweet selama ini bisa buat promo taman baca ya? Hihihi... Terima kasih Pak Eko atas bantuannya, semoga FLP Lampung bisa kerjasama. No hpnya sudah kusave, besok-besok kalo aku launching buku, mau juga ah kerjasama xixixi (azas manfaat).

Pak Eko memberikan sumbangan buku untuk Taman Baca FLP Lampung

Alhamdulillah ikut acara ini semakin memberikan semangat bagiku dan teman-teman FLP Lampung. Bahwa menulis itu tidak bisa instan. Penulis yang baik harus memulai dari sekarang juga. Tak ada kata terlambat, ayo asa semangatmu dan buktikan 20 tahun mendatang ^_^

Semoga ceritaku bermanfaat ya :)


Baca Juga :