Selasa, 30 Juli 2013

Rahasia Penulis Bisa Kaya dari Ali Muakhir Bersama FLP Wilayah Lampung

Bertemu dengan Mas Ali Muakhir 
Siapa yang tidak kenal dengan Mas Ali Muakhir? Lelaki ramah ini pernah mendapat penghargaan sebagai penulis paling produktif. Alhamdulillah pernah bertemu dan mendapatkan ilmu secara langsung. Sahabat Smart Mom, ingin tahu rahasia produktif Mas Ali Muakhir? Simak yuuk...


Mas Ali Muakhir atau biasa disebut Alee mempunyai jam menulis setiap hari pukul 00.00 WIB sampai subuh. Jika anak-anak bangun, maka menulis dihentikan. Ini demi menghargai anak dan tugas sebagai Ayah (aduuh yang ini aku masih kedodoran, suka ngetik kalo ngejar DL walau saat bersama  anak-anak).


Rahasia menulis cerita anak :

1. Jika ingin menjadi penulis, rutinlah menulis setiap hari selama 25 hari dalam waktu yang sama. Misal setiap pukul 09.00 WIB-11.00 WIB atau jam berapa yang bisa disesuaikan. Maka, ini akan menjadi habit, badan juga akan terasa lebih enak. Kebiasaan ini menjadikan terbiasa menulis secara rutin. Menulis apa saja, tak harus cernak, konsep buku, resensi, diary dan lainnya. Jangan putus,cobalah selama 25 hari.

2. Bisa tidak hidup dari menulis? Sangat bisa. Selain menulis cerita anak. Mas Alee juga menulis untuk para tokoh politik atau untuk kampanye. Misal, ada tokoh yang ingin menjadi caleg, cagub, atau capres. Membutuhkan branding, kita buat proposal untuk menuliskan si tokoh. Contoh judul : 101 tentang Yusuf Kalla. Honor untuk buku seperti ini sangat besar. Kadang dicetak 5000 eksemplar dihargai puluhan bahkan ratusan jutaan rupiah.


3. Penulis juga dapat mencoba menulis untuk promo produk. Misal menulis cerita tentang isi produk tertentu lalu di link-kan dengan website produk. Jika tulisan kita bagus, pas, kita akan dikontak bagian promonya untuk menuliskan produknya dan akhirnya dapat honor juga :) contoh: tulisan bersambung Mas Alee tentang Mentari yang langsung dilinknya dengan website Mentari.

4. Menulis cerita anak, khususnya yang berseri tema tak jauh-jauh dari nilai keislaman satu tema. Misal tentang cerita balita : aku cinta Allah, atau buku lainnya tentang Asmaul Husna, semua berkisar 1 tema balik-balik sekitar aku cinta Allah, Rasul dan ibadah. Jadi 1 tema dapat dipecah-pecah dengan berbagai konsep buku. Tinggal kita kemas saja.

5. Mas Alee mempunyai anak yang juga gemar menulis. Sebelumnya ia menerapkan bila mau  uang Rp. 5 ribu, anaknya harus membaca buku sebanyak 24 halaman. Terkesan mengancam, tapi hasilnya anaknya terbiasa membaca dan kini dapat menulis.

6. Gemar mengikuti lomba menulis. Jadikan sebagai ajang uji kemampuan. Ikuti lomba-lomba baik menulis cerita anak, resensi dan lainnya.

7. Coba menulis apa saja, seperti kisah perjalanan, resensi, artikel, tokoh (buku kampanye yang dibagikan gratis), kerjasama dengan intansi, dll yang dibukukan ada logo mereka di cover. Biasanya dapat dana yang cukup lumayan.

Nah, itu dulu yang dapat kushare ya, kalo kuingat entar kutulis lagi. Untuk itu, aku setelah resign ini, aku pengen punya jam menulis tetap dan mencoba konsiten menulis 25 hari, semoga dapat 1 buku heheh, amin ^__^ doakan bisa kaya dengan menulis, ya ^__^



FLP Lampung bersama Mas Ali Muakhir

Demundang Biniak (Di Muat di Majalah Gizone)

Demundang Biniak
Naqiyyah Syam*)

            Dewi Sri (Nyang Serai) murka!
            Begitu berita yang menggemparkan desaku. Semua penduduk saling menyalahkan dan ketakutan. Padi-padi rusak berat dari sawah-sawah yang sudah ditanami. Kian bertambah jumlah kerusakan, betambah pula resah. Panen gagal. Musim paceklik datang. Kini semua petani tertunduk dalam kalut. Satu hal yang menurut mereka segera ditunaikan hanyalah : upacara demundang biniak! Upacara membujuk agar  Dewi Sri atau Nyang Serai tak murka lagi.
            “Kita harus cepat mengadakan upacara itu Pak RT, kalau tidak kita pasti kena kutukan!”
            “Iya, saya dan keluarga sudah tak tahan dengan kondisi seperti ini. Kami butuh uang dan makanan.”
            “Kita harus membujuk kemurkaan Dewi Sri dengan upacara!”
            “Pokoknya Pak RT harus segera bertindak!”
            “Setuju?”
            “Setujuuu….”


Aku terdiam lama. Pembicaraan di balai-balai rumahku terdengar samar. Benarkah karena Dewi Sri murka sawah menjadi rusak parah? Apa karena dia tak sayang lagi pada bumi Rejang Lebong ini? Jika semua aset desaku hancur dalam hitungan hari. Adakah kesalahan yang tertuai dari prilaku yang tak sengaja? Kenapa harus Dewi Sri yang dipercayai? Benarkah gara-gara Dewi Sri? Sungguh, ku ingin tahu!


Ciri-ciri Resensi di Lampung Post


Temans, kemarin aku ke Lampung Post, ngobrol dengan Udo Z Karzi redaktur yang menangani rubrik Resensi dan Opini. Nah, aku nanya mengapa resensi teman-temanku enggak dimuat-muat. Maka inilah penjelasan beliau:

1. Email yang masuk banyak, sehari bisa 5-10 email. Artinya persaingan banyak, bukan tulisan teman-teman tidak bagus.


2. Subjektifitas. Ini masih bermain. beliau menyadari, lebih memilih resensi buku-buku berbau sastra, sejarah dan bukan novel-novel dan menurut beliau sudah menjadi over promo (aiih greget dengan istilahnya, tapi tiap koran khas sendiri, ya?).


3. Saran beliau, jika resensi dikrim ke Lampung Post, akan banyak peluang dimuat jika kekinian (buku baru), tema sejarah, sastra politik dan bukan novel-novel remaja.

Demikian sekilas info, semoga bermanfaat ^__^


Aku dan Mbak Rosita Sihombing di Lampung Post


Minggu, 28 Juli 2013

Karakter Anak Usia 5-14 Tahun

Oleh Ika Maya Susanti di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak 

Kemarin, saya memposting link http://hayaqu.wordpress.com/2009/08/31/x-manusia-terbaik/ yang isinya berupa karakter anak-anak di usia-usia tertentu. Sayangnya, saya dapat laporan kalau situs itu susah dilihat tampilannya jika menggunakan komputer. Mungkin karena saya membukanya dengan hp, jadi saya bisa membacanya dalam bentuk wordpress tampilan seluler.
            Isi situs tersebut berupa karakter-karakter anak bila dilihat dalam ilmu psikologi anak terutama dari sudut pandang Islam. Jadi, sekarang saya bagi saja deh bentuk teksnya di sini namun secara ringkas.
            Semoga meski tidak sedetail seperti yang ada di situs tersebut, catatan ini tetap bisa bermanfaat untuk teman-teman dalam menulis cerita anak.

Anak di usia 5 tahun:
-         Mempunyai keinginan untuk menguasai dan mengendalikan apapun yang ada di sekitarnya.
-         Egonya sangat tinggi
-         Sudah dapat bekerja sama dan bermain secara kelompok
-         Belum bisa berpikir secara logis
-         Sudah bisa menentukan pilihan walaupun berdasarkan perasaan tanpa pertimbangan lain
-         Sangat suka meniru tingkah laku berdasarkan apa yang dilihatnya
-         Jika melibatkan anak-anak di usia ini dalam sebuah perlombaan yang membuat mereka saling bersaing, ada baiknya tiap anak dijadikan pemenang dengan masing-masing pemenang berdasarkan kelebihan dari setiap anak yang ada. Ini akan sangat bagus membentuk kepercayaan diri pada anak.


[Contoh sinopsis] WorkShop First Novel

Oleh Ali Muakhir di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak 

Contoh Sinopsis
First Novel

Baju Seragam Pemulung
By Ali Muakhir

Sinopsis Global
Ada dua orang kakak adik yang merantau karena di daerah sudah tidak punya keluarga lagi. Mereka tinggal bersama nenek mereka di daerah kumuh, daerah para pemulung. Pagi-pagi mereke berdua jualan koran dan anterin koran langganan, sorenya mencari rongsokan. Atau kalau kebetulan sekolahnya sore, pagi-pagi setelah jual koran mereka mencari rongsokan.
Mereka ingin sekali terus sekolah walaupun mereka hanya mempunyai baju seragam Cuma 1 biji karena baju seragam sang adik sudah sobek. Beruntung, mereka sekolah bergantian. Sang kakak sekolahnya pagi, sang adik sekolahnya sore.
Hingga suatu kali mereka harus mengikuti sebuah acara yang mengharuskan mereka hadir. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, akhirnya mereka diketahui pihak sekolah kalau mereka hanya mempunyai baju seragam.
Akhirnya, teman-teman sekolahnya memberikan mereka seragam. Seragam yang mereka punya sekarang berlebihan. Supaya tidak mubazir, mereka memberikan seragam mereka kepada teman-teman pemulung lainnya di sekolah penampungan.

Sinopsis Perbab

Bab I
Anisa dan Igo datang ke Bandung diantar salah seorang warga kampungnya, seorang Bapak-bapak yang mengetahui keberadaan nenek mereka. Anisa dan Igo baru saja kehilangan orangtuanya karena kecelakaan lalu lintas.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya mereka ketemu dengan neneknya di sebuah rumah mungil yang keadaannya sangat menghawatirkan. Nenek tidak mau pulang kampung karena menunggu suaminya (kakek) pulang. Suaminya telah bertahun-tahun tidak pulang (tapi bukan Bang Toyib, lho, ya).
Nenek senang sekali melihat cucu-nya, tapi juga sedih mendengar cerita anak satu-satunya sekarang sudah kembali ke alam baka.


Mitos Seputar Penulisan Buku Anak

Kukumpulkan dari yang terserak ditinggalkan pengalaman. Pengalaman teman-teman mungkin membuktikan sebaliknya, tak apa. Ini cuma soal apa yang kita percayai masing-masing. Aku hanya ingin membebaskan diri dari premis yang membatasi ruang gerak dalam menulis.

A. Menulis untuk anak itu mudah.
Anggapan itu keliru jika didasari alasan bahwa buku anak hanya membutuhkan sedikit teks dan tema sederhana. Keunikan dunia dan cara pandang anak justru membuat bidang garapan ini begitu luas untuk diekplorasi.

B. Menulis untuk anak itu sulit.
Anggapan ini juga keliru jika hanya didasari alasan bahwa perlu tanggung jawab moral lebih besar dalam menulis untuk anak. Setiap penulis yang bermoral tentunya akan menghasilkan karya bermoral tanpa memaksakan diri menyelipkan pesan moral.

C. Buku anak harus ditulis dengan kosa kata terbatas.
Tidak seperti itu. Menurutku, buku anak ditulis dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami, tetapi kosa kata baru justru perlu ditambahkan untuk mengayakan perbendaharaan anak. Mungkin yang perlu dibatasi adalah kerumitan tema dan konsep (serta plot, terutama bagi pembaca di bawah 10 tahun).

D. Harus ada pesan moral yang jelas atau kental dalam cerita anak.
Tidak selalu. Ada kalanya anak-anak perlu membaca untuk kesenangan saja. Kalaupun dirasa perlu menyisipkan pesan moral, sebaiknya dibuat samar melalui perubahan sikap logis tokoh cerita.

E. Harus ada tokoh panutan (orangtua/guru) yang selalu benar dan dijadikan rujukan.
Jika mau jujur, orangtua dan guru juga bisa salah, dan anak-anak ada kalanya menemukan sendiri jawabannya. Pengakuan kelemahan dan kekurangan orang dewasa memberikan pelajaran bagus tanpa harus berceramah.

F. Anak-anak tidak tahu apa-apa.
Kita akan terkejut melihat faktanya.

G. Anak-anak perlu dibuatkan inti sari moral cerita.
Salah besar. Mereka belajar banyak justru dari menarik kesimpulan sendiri.


Trend Bacaan Anak

Oleh Indah Julianti Sibarani di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak 

Trend Bacaan Anak 2011 oleh Benny Rhamdani


Dalam acara Gathering PBA di Salam Books House, Chief Editor Mizan, Benny Rhamdani menyampaikan ulasan tentang Trend Bacaan Anak 2011.
Penulis cerita anak yang akrab disapa Bhai ini tak segan berbagi kepada teman-teman penulis. Berikut sedikit catatan yang berhasil dikumpulkan.

Menurut Benny Rhamdani, di awal tahun 2011, ini 'Sudahkah Kita mengunjungi Toko Buku? Untuk apa ?
a.    Melihat-lihat buku lama yang masih menonjol displaynya
b.    Melihat buku bagus tapi kurang menonjol displaynya
c.    Melihat buku baru.
Ketiga hal tersebut diperlukan penulis untuk mengetahui keunggulan buku lama yang terpajang di display (best seller), kekurangan buku baru, atau dengan melihat buku baru, saat menawarkan konsep cerita ke editor, tidak sama dengan yang sudah ada.

Sebelum menulis, penulis juga diwajibkan
- Mengunjungi official website penerbit Lokal dan international.
Untuk mengetahui karakter buku yang diterbitkan. Hampir seluruh penerbit memiliki website.
Bhai juga menyebutkan beberapa website yang bisa dijadikan acuan para penulis seperti :
www.amazon.com (traffik penjualan online tinggi)
http://www.publishersweekly.com/pw/home/index.html (setiap tahun mengeluarkan trend bacaan anak)
Disney.com (gencar promosinya)


(Tips Nulis) Menulis dengan Hati

Oleh LinePro-nya Ali Muakhir di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak

Materi Arleen untuk Talk Show Menulis dengan Hati (Gramedia Book Fair 26 Feb 2011)

Dear all,

Ini summary materi talk show kemarin. Kemarin karena keasikan ngobrol sana sini, mungkin yang kubicarakan tidak terlalu sama dengan yang di bawah ini.. tapi ini garis besarnya. 

Mengapa harus menulis dengan hati?
Segala profesi harus digeluti dengan hati. Setiap profesi itu punya tantangan masing-masing. Jika hati kita tidak di sana, tidak mungkin kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan itu. Hanya jika kita menggunakan hati, kita bisa punya 4P dalam menulis :
Passion : Jika hati kita di sana, berarti interest kita memang di sana dan kita akan punya semangat yang cukup untuk menulis
Patience : Jika hati kita di sana, kita akan punya kesabaran yang cukup yang akan tetap ada walaupun diuji berkali-kali (koleksi surat penolakan termasuk salah satu bukti kesabaran)
Persistence : JIka hati kita di sana, kita tidak akan punya kekuatan untuk mencoba lagi dan mencoba lagi
Perseverance : JIka hati kita tidak di sana, kita tidak akan bertahan lama dalam dunia tulis menulis.

Hatiku sendiri memang tertambat pada picture book. Mengapa? Karena picture book sangatlah penting di dalam dunia perbukuan.

Empat sebab pentingnya picture book:

Bagaimana Buku-Anak yang Baik menurut Orangtua?



Teman-teman,
Waktu talkshow di Landmark tgl.14 Februari kemarin, aku kebagian jatah
membicarakan buku-anak yang baik dari sudut pandang orangtua. Aku mencari
referensi, mengadakan riset kecil, mengumpulkan pengalaman, dan akhirnya membuat
daftar kriteria. Di Landmark, karena waktu berbicara terbatas, aku menyebutkan
garis-garis besarnya saja. Tapi kalau untuk dishare di milis dan di grup,
tentunya perlu lengkap. Nah, ini dia. Semoga menjadi bahan pertimbangan dan
bermanfaat bagi semuanya.


Kriteria Buku-Anak yang Baik versi Orangtua.

Untuk menentukan kriteria buku-anak yang baik, paling mudah adalah dengan
membuat daftar keluhan. Buku anak yang baik, menurut orangtua, adalah yang
lolos saringan empat kriteria di bawah ini. Kriteria ini disusun subjektif
berdasarkan pengalaman saya sebagai penikmat buku anak dan ibu dari tiga putra
yang semuanya suka buku, ditambah masukan dari teman-teman FPBA. Karena
subjektif, bisa saja ada pendapat dan pertimbangan yang berbeda. Silakan.

1.Fisik

a.Jenis kertas dan penjilidan
Untuk mengejar harga murah sering penerbit menggunakan kertas berkualitas rendah
(tipis dan mudah robek). Padahal anak-anak adalah pembaca yang bersemangat,
membuka halaman dengan sekuat tenaga, berebut buku dengan saudara, membawanya
tidur bareng, bahkan secara harfiah memakan buku. Buku anak tipis umumnya
distaple, sementara yang tebal dilem atau dijahit. Sering bahkan tanpa perlakuan
"kasar" anak pun, jilidan mudah terlepas karena lem tidak kuat atau kertas robek
pada jahitannya. Buku anak seharusnya dirancang tahanbanting, tahanludah, tahan-
dibaca- setidaknya-puluhan-kali.

b.Target pembaca
Pencantuman target pembaca di cover belakang sudah dilakukan beberapa penerbit
pada beberapa jenis buku. Tapi masih banyak buku yang tidak berlabel. Ditambah
kemasan plastik segel, semakin sulitlah orangtua memilihkan buku bagi anak
dengan usia berbeda-beda apalagi membebaskan anak memilih sendiri. Idealnya,
untuk mengembangkan keterampilan membuat keputusan, anak-anak dibiarkan memilih
sendiri buku dan menghadapi konsekuensinya. Di luar negeri, anak memilih buku
sendiri, sudah biasa. Tapi di Indonesia, hal ini belum membudaya. Urusan belanja
masih jadi wewenang sepenuhnya kebanyakan orangtua. Dari sisi penerbit, keadaan
ini menyebabkan buku anak dibuat semenarik mungkin dari sudut pandang orangtua
juga. Bagi orangtua yang sudah memberikan hak memilih kepada anak, tidak adanya
label usia pada buku ini justru membuat frustrasi. Banjir buku di toko buku yang
tidak semuanya aman bagi anak membuat mereka lagi-lagi harus "merecoki" pilihan
anak. Menurut saya, kalau penerbit dan toko buku bekerja sama membuat zona buku
aman untuk anak, atau melabeli semua buku anak dengan target usia spesifik, akan
semakin banyak orangtua menyerahkan keputusan memilih buku kepada anak mereka.

c.Warna
Daya tarik buku anak terutama terletak pada ilustrasi dan warna. Untuk mengejar
harga murah, lagi-lagi, dikorbankanlah daya tarik visual ini. Cover buku bisa
jadi colorful, tapi isi di dalamnya hitam putih dan membuat anak kecewa.

d.Harga
Buku bagus identik dengan harga yang relatif mahal. Bisa dimaklumi. Tapi untuk
buku anak, ini menyedihkan. Nasib bangsa kita di masa depan terletak di
tangan-tangan mungil ini. Penulis dan orangtua bekerja keras menyediakan bahan
bacaan bermutu bagi mereka. Sebagian penerbit mungkin sudah mengurangi
keuntungan untuk menekan harga buku. Bagaimana dengan distributor? Atau lebih ke
hulu lagi, bagaimana dengan produsen kertas dan tinta? Dan yang lebih penting
lagi, bagaimana dengan pihak yang berwenang mengeluarkan kebijakan dalam dunia
pendidikan? Dan bagaimana dengan pembebasan pajak dari hulu ke hilir dalam
pengadaan bacaan bermutu untuk anak, agar terjangkau segala kalangan?

Selasa, 16 Juli 2013

Lomba Gado-Gado Femina Lebaran

Punya pengalaman lucu, tak terlupakan, berkesan atau bahkan menyebalkan yang berhubungan dengan Lebaran? Seperti kisah seputar mudik, puasa, silaturahmi, menyiapkan masakan Lebaran, Anda bisa mengikuti lomba menulis Gado-Gado Femina bertema Lebaran. 

Syarat dan Ketentuan Lomba Menulis Gado-gado Lebaran. 

1. Bukan fiksi, tulisan adalah sketsa kejadian sehari-hari dan nama karakter boleh dibuat fiktif.
2. Tulisan mengandung unsur Human Interest.
3. Karya orisinal dan belum pernah dipublikasikan di media lain (termasuk blog pribadi).
4. Tulisan maksimal sepanjang 3 halaman folio, 2 spasi, 3735 karakter.
5. Upload tulisan Anda di kolom yang tersedia. Gunakan format .doc (BUKAN .docx) 
6. Pengiriman dimulai dari tanggal 11 Juli dan ditutup tgl 23 Juli pukul 24.00 WIB.

3 tulisan terbaik akan mendapatkan hadiah menarik dari femina. Untuk pemenang pertama, karyanya akan dimuat di majalah femina dan mendapatkan honor.


Audisi Cerpen Roman Majalah Annida

Sobat Nidaaa... siapa nih yang suka sama cerpen romantissss??? Nah, ada kesempatan emas perak tembaga nih buat kamu, Sob!

Jadi buat majalah Annida edisi tiga yang insya Allah terbit September, Nida bakal buka audisi khusus buat rubrik cerpen Roman. Pengen dooonk cerpenmu nangkring di Majalah Annida? Ini dia syarat en ketentuannya! Cekiprooot! ^__^
Persyaratan umum:
- Cerpen belum pernah dipublikasikan di media manapun (termasuk Blog)
- Tema cerpen tentang cinta
- Cerpen mengandung nilai kebaikan, inspiratif untuk pembaca
- Cerpen tidak dikirimkan berbarengan untuk media lain atau diikutsertakan dalam perlombaan
- Cerpen berbahasa Indonesia, kalaupun ada bahasa daerah/asing, sertakan arti pada footnote
- Cerpen tidak menyinggung SARA dan tidak cabul.

Persyaratan khusus:
- Cerpen diketik format A4, font Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5
- Panjang cerpen 6.000-10.000 karakter
-Cerpen dikirimkan selambatnya 21 Juli 2013 melalui email majalah_annida@yahoo.com dengan subjek: Audisi Cerpen Roman Majalah Annida_Judul Cerpen
Contoh: Audisi Cerpen Roman Majalah Annida_Meninggalkan Hati
- Cantumkan profil singkat penulis di akhir cerpen, cantumkan no. telp/ hp, alamat lengkap, no. rekening
- Lampirkan foto penulis dalam format .jpeg

Cuma satu cerpen roman yang akan Nida muat di majalah Annida edisi tiga, Sob. Sooo... cuma best of the best aja gitu loh yang bisa lolos. Yeayyy!

Nida akan mengonfirmasi penulis cerpen yang naskahnya lolos di majalah. Cerpen-cerpen yang tidak lolos di Majalah tapi memiliki kualitas yang wokeh, bakal dimuat di rubrik cerpen web annida-online.com.
Naskah yang lolos redaksi akan mendapat honor + 1 eks majalah Annida edisi tiga 2013.
Ayo Sob, tunggu apa lagi... kirimkan cerpen roman terbaikmu! Nida memilih setia untuk menunggu! *Fatin mode ^___^

Minggu, 14 Juli 2013

Cara Menentukan Jumlah Halaman Buku

Assalalamaualaikum sahabat Smart Mom, pengen bisa nulis buku? Penasaran berapa banyak sih jumlah halaman buku itu? Bagaimana menentukannya? Yuk, baca ini sharing dari penulis beken deh! Pasti kamu bisa nulis!



“Eh, Dy, kok bisa sih jumlah halaman bukunya kita yang menentukan? Bukannya terserah penerbit?”
Giliran saya yang bingung, wong sama-sama pemula! Hihihi…       

Bergurulah saya pada sang master yang sudah terkenal di jagad perbukuan. Hujan, badai, dan teriknya panas tak menghalangi saya untuk mengenal istilah KATERAN. Sekali lagi, KATERAN, bukan kateter!

Well, jumlah halaman buku tidak sembaranagn ditentukan. Tentu saja, perhitungannya ada;ah perhitungan ekonomis pemakaian kertas. Lalu, kenapa berpengaruh terhadap outline? Toh, baru outline saja kan?

Penulis mestinya punya gambaran atau deskripsi mengenai buku yang akan ditulisnya. Diterbitkan atau tidak. Entah itu kaver depannya, penampakan bagian dalam ataupun tebal jumlah halaman. Kalau penulisnya saja tidak punya gambaran tentang bukunya sendiri, bagaimana kita mau menyakinkan penerbit?

Masalah apakah nantinya itu disetujui oleh penerbit, itu belakangan. Yang penting NARSIS tapi ya ga kebangetan juga :p

Kembali ke jumlah halaman buku. Ukuran buku harus dioptimasi menyesuaikan ukuran kertas yang dipakai. Lembaran kertas tersebut dilipat-lipat mengikuti aturan 16. Selembar kertas dilipat tiga kali, maka kita akan mendapatkan 16 halaman. Ini dia yang disebut 1 kateran.

Buku akan lebih ekonomis kalau berjumlah halaman kelipatan 16. Karena itu umumnya buku berhalaman 24, 32, 48, 64, 160, dst.

Naskah dari penulis akan diolah sedemikian rupa agar memenuhi jumlah halaman terdekat dari sekian kateran. Apa saja yang mempengaruhi ukuran buku? Jenis buku, font, ukuran buku hingga tata letak isinya.

Pernah menemukan buku dengan iklan di belakangnya? Atau malah dibiarkan kosong melompong. Itu karena halaman berlebih yang tidak sengaja dilebihkan (karena setelah lay out buku kita mentok cuma 30 halaman, misalnya), dan tidak bisa dibuang. Artinya, naskah kita kurang pas memenuhi kuota. Dengan mengetahui aturan ini, kita bisa merencanakan naskah dengan lebih efektif.

Lalu, bagaimana menentukan perkiraan halaman naskah yang kita buat dengan halaman buku jadi? Buat saja halaman yang akan kita tulis dengan jumlah sesuai kateran tadi. Biasanya tidak terlalu jauh berbeda.
Contoh:
Tebal halaman: 112 halaman
Tebal halaman asli: 132 halaman

Sekali lagi, ini sekedar SHARING. Yang punya pengalaman lebih, monggo ditambahkan. Jangan sungkan-sungkan, biar sama-sama belajar.  :)



Bagaimana Mengejar Deadline diantara Setumpuk Pekerjaan Rumah dan Kantor?


Haiiii, jumpa lagi dengan saya

Deadline adalah salah satu kata favorit bagi semua penulis hehehe. Favorit atau menakutkan ya?:)
Yang jelas dengan adanya deadline andrenalin Anda seharusnya terpacu untuk menyelesaikan berbagai proyek menulis. Adanya berjubel deadline di kepala Anda, bagaimana mengejarnya ya, padahal pekerjaan rumah dan kantor pun tidak bisa kompromi J

1. Buatkan jadwal penulisan Anda.
Banyak diantara kita merasa ketika menulis, rasanya kok sudah kehabisan nafas saking banyaknya pekerjaan rumah atau kantor yang harus dilakukan. Mau ngerjain malam, udah kecapean. Mau ngerjain pagi, sibuk ngurus anak. Mau ngerjain siang, bagaimana mungkin itu kan di kantor? Nah, seperti halnya tugas rumah atau tugas kantor, TAMBAHKAN satu jadwal HARIAN Anda yaitu menulis. Anggaplah menulis adalah jadwal harian yang tidak kalah pentingnya dengan dua pekerjaan utama Anda. Untuk masalah waktu silakan Anda yang mengatur, sebab Anda yang tahu kapan Anda bisa lebih leluasa mengerjakan tambahan ‘job’ baru.

2. Siapkan outline terlengkap
Outline yang lengkap akan membantu Anda menulis, Anda tidak akan bingung dengan materi apa yang Anda butuhkan untuk mengemas calon naskah Anda. Mulailah dengan mengisi bab per bab dengan keterangan-keterangan yang dibutuhkan untuk penyempurnaannya. Deskripsi per bab sempurnakan dengan baik.

3.Kumpulkan data yang Anda butuhkan jauh-jauh hari
Kalau Anda sudah memiliki deskripsi per bab dengan baik. Mulai tumpuk di meja buku apa yang Anda butuhkan sebagai referensi, mulai kumpulkan dalam file hasil copas dari internet sebagai sumber bacaan, kumpulkan Koran/media yang membahas tema tersebut, pokoknya kumpulkan semua bahan yang Anda butuhkan sebagai amunisi Anda.


Selasa, 09 Juli 2013

Behind The Scene #LampungMenulis FLP Wilayah Lampung Bagian 2 : Resep Menulis Dari Mas Ali Muakhir

Baiklah ini lanjutan cerita #LampungMenulis ya ^_^ Selamat menikmati, heheh

Menjelang Maghrib, aku pamit dengan panitia. Maaf tidak bisa bantu beres-beres, pangeran biruku memanggil untuk gantian jaga anak, mau sholat Maghrib di masjid. Jadilah aku seperti seorang Cinderella, sebelum azan Maghrib sudah tiba di rumah. Uhuy, sesi foto-foto serba kilat, emak-emak kudu pulang sebelum jadi labu (lebay.com).

Akhirnya, Maghrib nyampe rumah, anak-anak aman tidak rewel, Abinya bisa langsung sholat ke masjid. Aku sudah siap-siap karena malamnya untuk diskusi bersama Mas Ali Muakhir di rumahku.

Diskusi akan di mulai ba’da Isya. Wah, Mbak Fetra, Shinja, teman Shinja siapa ya? Lupa namanya, Novi, Utami sudah hadir, tapi Jarwo dan Mas Alee mana, ya? Pas ditelpon, ternyata lagi makan malam. Okelah, kita sabar menanti. Tak lama, Mas Alee, Jarwo dan Ahmad datang. Diskusi dimulai sekitar pukul 20.00 WIB.


Sambil diskusi, Ahmad buka laptop, aiiih online juga dia :P jadilah, kami juga buka laptop sambil update status, xixii... si Novi godain Desti (Ketua Panitia Lampung Menulis) terus, abiz Desti enggak ikutan, memantau dari jarak jauh alias online untuk ikutan kelas diskusi (masih nebak enggak ya siapa admin malam itu?:D).


Peserta Diskusi

Awal diskusi teman-teman menanyakan cara mencari ide, membuat picture book (buku bergambar), dan lain-lain.


Behind The Scene #LampungMenulis FLP Wilayah Lampung

Sejak Sabtu pagi aku sudah heboh. Awalnya aku BBM-an dengan Mas Ali Muakhir. Kutanya, “Nyampe ke Lampung jam berapa, ya?” karena awalnya kata Mas Alee jam 11.00 WIB. Jadi, kami panitia sudah punya rencana mau rapat dulu jam 09.00 WIB di lokasi acara untuk Ahad. Sekitar jam 10.00 WIB baru jemput ke bandara. Lah, pas Mas Alee jawab, “Jam 8 sudah di Lampung, tapi nanti dijemput jam 9 enggak papa, nyantai saja Mbak Naqi.”

Aku panik banget, kukontak  panitia laki-laki enggak ada yang bisa jemput pagi-pagi. Si Wanda dari Metro baru bisa siang, si Jarwo juga baru bisa siang dari Kota Bumi. Alhasil, aku dan Desti (ketua panitia) berinsiatif menjemput. Kami akan bertemu di Wisma Bandar Lampung.

Pagi-pagi aku bersama kedua anakku menuju Wisma Bandar Lampung. Tunggu agak lama, eh si Desti belum nonggol, ternyata Desti salah alamat. Dikiranya Wisma Unila. Wew, nunggu dulu deh agak lama. Sambil nunggu, aku ngecek kamar dan melunasi administrasi penginapan.

Tak lama Desti datang bersama Leli. Ternyata beberapa teman lain juga menunggu di Wisma Unila. Akhirnya disepakati kami rapat di Umitra saja. Lalu, kami menuju Umitra. Di sana belum ada teman-teman. Tak enak bila Mas Alee terlalu lama menunggu, aku  dan Leli menuju bandara. Anak-anak tetap di bawa, Fatih gendong depan (gendongan kanguru) dan Faris di belakang bersama Leli. Desti tinggal biar memimpin rapat untuk persiapan acara.

Sampai di bandara, kucari taxsi. Setelah cocok harganya,  janjian lagi dengan Mas Alee dan taraaaaaa....akhirnya ketemu lagi dengan cikgu buku anak yang super keren ini. Wih, senangnya ^__^ Mas Alee-pun naik taxsi dan aku bersama Leli tetap naik motor menuju penginapan.

Mas Alee di bandara

Siangnya,kami menuju kondangan Mas Yon (Budi Kurniawan) staf pengurus Kaderisasi FLP Wilayah Lampung. Mau ngajak Mas Alee juga bingung, secara panitia laki-laki belum juga hadir. Teman-teman yang datang perempuan semua ^_ ^

Tapi, ternyata Mas Alee memilih istirahat di penginapan, jadilah kami para pejuang FLP menuju kondangan dengan wajah berdebu abis rapat hehe...

Nikahan Mas Yon

Sore menjelang Magrib, Suwanda baru sampai. Aiih ... syukurlah, senang juga Mas Alee sudah ada teman. Kami kembali ke rumahku dan mulai mempersiapkan kegiatan untuk Ahad.

Hari yang dinantikan tiba. Ahad, 30 Juni 2013. Anak-anak sudah datang dan bersiap mengikuti workshop. Ada penampilan baca puisi dan launching buku kumpulan kisah lingkingan hijau SDIT Permata Bunda III.

Peserta FLP Kids


Peserta FLP Kids
Naia dan Buku SDIT Permata Bunda III
Buku Door Prize
Mas Faris belajar menulis

Baca puisi
Latihan Menulis
Menulis
Penulis berbakat
Pemenang Menulis Cerita Anak Kategori Usia di bawah 12 tahun
Foto bersama FLP Kids

Pelatihan ini aku enggak sempat ikuti dengan konsentrasi. Anak-anakku rewel banget.  Pagi-pagi kuajak Cuma Faris, berharap Faris ikutan workhop menulis, eh malah melirik laptop yang dipakai buat ngeprint sertifikat. Bolak-balik Leli minta bujukin Faris biar laptopnya enggak di bajak main games ^_^

Tak lama Abi nelpon, Fatih rewel nangis enggak berhenti. Terpaksa aku izin pulang sebentar. Kujemput Fatih, kuajak ke acara, berhubung kata sambutan sudah maju,aku bisa sedikit leluasa bawa anak-anak. Sampai akhirnya Fatih tertidur dan acara masih aman terkendali ^_*

Siangnya, untuk acara umum, aku menunggu Abinya datang untuk sholat. Kuatir Fatih bangun saat kutinggalkan, ditunggu-tunggu kok ya lama ya? Jarwo mengusulkan diri untuk menunggu Fatih, “Sholat aja, Mbak. Biar aku yang jaga,” baik banget ya? Pengalaman kali ya jagain keponakan :P

Baru satu rakaat aku sholat, kudengar Fatih menangis meraung-raung. Menjemput aku ke Mushola. Jarwo malah kewalahan menjaga Fatih, heheh...nah loh susahkan ngurus anak:D

Lalu Abi datang dan mengajak anak-anak beli mobilan. Senanglah anak-anak main mobilan sambil  kusuap makan. Menjelang sore, kuajak anak-anak pulang, usai mandi, mereka main ke rumah tetangga. Aku pamit lagi menuju acara FLP. Ya, gini deh emak-emak rempong, mondar-mandir hehe ^_^




Peserta Umum
Pemenang Menulis Cerita Anak Tiingkat Umum
Cara mengurai ide
Dapat Door Prize dari IIDN dan Nakita
Bang Adian Saputra, Jurnalis Lampung Post
Praktek Cernak
Bu Niken dan Umi Icat

Benar-benar enggak konsen buat ikut acara. Alhamdulillah malamya, FLP mengundang khusus Mas Alee ke rumahku (sekretariat FLP Wilayah Lampung), kami berdiskusi banyak hal. Wah, terpuaskan deh! Pengen tau enggak hasil diskusinya? ^__^

Bersambung :D