Minggu, 28 Juli 2013

Karakter Anak Usia 5-14 Tahun

Oleh Ika Maya Susanti di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak 

Kemarin, saya memposting link http://hayaqu.wordpress.com/2009/08/31/x-manusia-terbaik/ yang isinya berupa karakter anak-anak di usia-usia tertentu. Sayangnya, saya dapat laporan kalau situs itu susah dilihat tampilannya jika menggunakan komputer. Mungkin karena saya membukanya dengan hp, jadi saya bisa membacanya dalam bentuk wordpress tampilan seluler.
            Isi situs tersebut berupa karakter-karakter anak bila dilihat dalam ilmu psikologi anak terutama dari sudut pandang Islam. Jadi, sekarang saya bagi saja deh bentuk teksnya di sini namun secara ringkas.
            Semoga meski tidak sedetail seperti yang ada di situs tersebut, catatan ini tetap bisa bermanfaat untuk teman-teman dalam menulis cerita anak.

Anak di usia 5 tahun:
-         Mempunyai keinginan untuk menguasai dan mengendalikan apapun yang ada di sekitarnya.
-         Egonya sangat tinggi
-         Sudah dapat bekerja sama dan bermain secara kelompok
-         Belum bisa berpikir secara logis
-         Sudah bisa menentukan pilihan walaupun berdasarkan perasaan tanpa pertimbangan lain
-         Sangat suka meniru tingkah laku berdasarkan apa yang dilihatnya
-         Jika melibatkan anak-anak di usia ini dalam sebuah perlombaan yang membuat mereka saling bersaing, ada baiknya tiap anak dijadikan pemenang dengan masing-masing pemenang berdasarkan kelebihan dari setiap anak yang ada. Ini akan sangat bagus membentuk kepercayaan diri pada anak.


[Contoh sinopsis] WorkShop First Novel

Oleh Ali Muakhir di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak 

Contoh Sinopsis
First Novel

Baju Seragam Pemulung
By Ali Muakhir

Sinopsis Global
Ada dua orang kakak adik yang merantau karena di daerah sudah tidak punya keluarga lagi. Mereka tinggal bersama nenek mereka di daerah kumuh, daerah para pemulung. Pagi-pagi mereke berdua jualan koran dan anterin koran langganan, sorenya mencari rongsokan. Atau kalau kebetulan sekolahnya sore, pagi-pagi setelah jual koran mereka mencari rongsokan.
Mereka ingin sekali terus sekolah walaupun mereka hanya mempunyai baju seragam Cuma 1 biji karena baju seragam sang adik sudah sobek. Beruntung, mereka sekolah bergantian. Sang kakak sekolahnya pagi, sang adik sekolahnya sore.
Hingga suatu kali mereka harus mengikuti sebuah acara yang mengharuskan mereka hadir. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, akhirnya mereka diketahui pihak sekolah kalau mereka hanya mempunyai baju seragam.
Akhirnya, teman-teman sekolahnya memberikan mereka seragam. Seragam yang mereka punya sekarang berlebihan. Supaya tidak mubazir, mereka memberikan seragam mereka kepada teman-teman pemulung lainnya di sekolah penampungan.

Sinopsis Perbab

Bab I
Anisa dan Igo datang ke Bandung diantar salah seorang warga kampungnya, seorang Bapak-bapak yang mengetahui keberadaan nenek mereka. Anisa dan Igo baru saja kehilangan orangtuanya karena kecelakaan lalu lintas.
Setelah cukup lama mencari, akhirnya mereka ketemu dengan neneknya di sebuah rumah mungil yang keadaannya sangat menghawatirkan. Nenek tidak mau pulang kampung karena menunggu suaminya (kakek) pulang. Suaminya telah bertahun-tahun tidak pulang (tapi bukan Bang Toyib, lho, ya).
Nenek senang sekali melihat cucu-nya, tapi juga sedih mendengar cerita anak satu-satunya sekarang sudah kembali ke alam baka.


Mitos Seputar Penulisan Buku Anak

Kukumpulkan dari yang terserak ditinggalkan pengalaman. Pengalaman teman-teman mungkin membuktikan sebaliknya, tak apa. Ini cuma soal apa yang kita percayai masing-masing. Aku hanya ingin membebaskan diri dari premis yang membatasi ruang gerak dalam menulis.

A. Menulis untuk anak itu mudah.
Anggapan itu keliru jika didasari alasan bahwa buku anak hanya membutuhkan sedikit teks dan tema sederhana. Keunikan dunia dan cara pandang anak justru membuat bidang garapan ini begitu luas untuk diekplorasi.

B. Menulis untuk anak itu sulit.
Anggapan ini juga keliru jika hanya didasari alasan bahwa perlu tanggung jawab moral lebih besar dalam menulis untuk anak. Setiap penulis yang bermoral tentunya akan menghasilkan karya bermoral tanpa memaksakan diri menyelipkan pesan moral.

C. Buku anak harus ditulis dengan kosa kata terbatas.
Tidak seperti itu. Menurutku, buku anak ditulis dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami, tetapi kosa kata baru justru perlu ditambahkan untuk mengayakan perbendaharaan anak. Mungkin yang perlu dibatasi adalah kerumitan tema dan konsep (serta plot, terutama bagi pembaca di bawah 10 tahun).

D. Harus ada pesan moral yang jelas atau kental dalam cerita anak.
Tidak selalu. Ada kalanya anak-anak perlu membaca untuk kesenangan saja. Kalaupun dirasa perlu menyisipkan pesan moral, sebaiknya dibuat samar melalui perubahan sikap logis tokoh cerita.

E. Harus ada tokoh panutan (orangtua/guru) yang selalu benar dan dijadikan rujukan.
Jika mau jujur, orangtua dan guru juga bisa salah, dan anak-anak ada kalanya menemukan sendiri jawabannya. Pengakuan kelemahan dan kekurangan orang dewasa memberikan pelajaran bagus tanpa harus berceramah.

F. Anak-anak tidak tahu apa-apa.
Kita akan terkejut melihat faktanya.

G. Anak-anak perlu dibuatkan inti sari moral cerita.
Salah besar. Mereka belajar banyak justru dari menarik kesimpulan sendiri.


Trend Bacaan Anak

Oleh Indah Julianti Sibarani di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak 

Trend Bacaan Anak 2011 oleh Benny Rhamdani


Dalam acara Gathering PBA di Salam Books House, Chief Editor Mizan, Benny Rhamdani menyampaikan ulasan tentang Trend Bacaan Anak 2011.
Penulis cerita anak yang akrab disapa Bhai ini tak segan berbagi kepada teman-teman penulis. Berikut sedikit catatan yang berhasil dikumpulkan.

Menurut Benny Rhamdani, di awal tahun 2011, ini 'Sudahkah Kita mengunjungi Toko Buku? Untuk apa ?
a.    Melihat-lihat buku lama yang masih menonjol displaynya
b.    Melihat buku bagus tapi kurang menonjol displaynya
c.    Melihat buku baru.
Ketiga hal tersebut diperlukan penulis untuk mengetahui keunggulan buku lama yang terpajang di display (best seller), kekurangan buku baru, atau dengan melihat buku baru, saat menawarkan konsep cerita ke editor, tidak sama dengan yang sudah ada.

Sebelum menulis, penulis juga diwajibkan
- Mengunjungi official website penerbit Lokal dan international.
Untuk mengetahui karakter buku yang diterbitkan. Hampir seluruh penerbit memiliki website.
Bhai juga menyebutkan beberapa website yang bisa dijadikan acuan para penulis seperti :
www.amazon.com (traffik penjualan online tinggi)
http://www.publishersweekly.com/pw/home/index.html (setiap tahun mengeluarkan trend bacaan anak)
Disney.com (gencar promosinya)


(Tips Nulis) Menulis dengan Hati

Oleh LinePro-nya Ali Muakhir di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak

Materi Arleen untuk Talk Show Menulis dengan Hati (Gramedia Book Fair 26 Feb 2011)

Dear all,

Ini summary materi talk show kemarin. Kemarin karena keasikan ngobrol sana sini, mungkin yang kubicarakan tidak terlalu sama dengan yang di bawah ini.. tapi ini garis besarnya. 

Mengapa harus menulis dengan hati?
Segala profesi harus digeluti dengan hati. Setiap profesi itu punya tantangan masing-masing. Jika hati kita tidak di sana, tidak mungkin kita akan mampu menghadapi tantangan-tantangan itu. Hanya jika kita menggunakan hati, kita bisa punya 4P dalam menulis :
Passion : Jika hati kita di sana, berarti interest kita memang di sana dan kita akan punya semangat yang cukup untuk menulis
Patience : Jika hati kita di sana, kita akan punya kesabaran yang cukup yang akan tetap ada walaupun diuji berkali-kali (koleksi surat penolakan termasuk salah satu bukti kesabaran)
Persistence : JIka hati kita di sana, kita tidak akan punya kekuatan untuk mencoba lagi dan mencoba lagi
Perseverance : JIka hati kita tidak di sana, kita tidak akan bertahan lama dalam dunia tulis menulis.

Hatiku sendiri memang tertambat pada picture book. Mengapa? Karena picture book sangatlah penting di dalam dunia perbukuan.

Empat sebab pentingnya picture book:

Bagaimana Buku-Anak yang Baik menurut Orangtua?



Teman-teman,
Waktu talkshow di Landmark tgl.14 Februari kemarin, aku kebagian jatah
membicarakan buku-anak yang baik dari sudut pandang orangtua. Aku mencari
referensi, mengadakan riset kecil, mengumpulkan pengalaman, dan akhirnya membuat
daftar kriteria. Di Landmark, karena waktu berbicara terbatas, aku menyebutkan
garis-garis besarnya saja. Tapi kalau untuk dishare di milis dan di grup,
tentunya perlu lengkap. Nah, ini dia. Semoga menjadi bahan pertimbangan dan
bermanfaat bagi semuanya.


Kriteria Buku-Anak yang Baik versi Orangtua.

Untuk menentukan kriteria buku-anak yang baik, paling mudah adalah dengan
membuat daftar keluhan. Buku anak yang baik, menurut orangtua, adalah yang
lolos saringan empat kriteria di bawah ini. Kriteria ini disusun subjektif
berdasarkan pengalaman saya sebagai penikmat buku anak dan ibu dari tiga putra
yang semuanya suka buku, ditambah masukan dari teman-teman FPBA. Karena
subjektif, bisa saja ada pendapat dan pertimbangan yang berbeda. Silakan.

1.Fisik

a.Jenis kertas dan penjilidan
Untuk mengejar harga murah sering penerbit menggunakan kertas berkualitas rendah
(tipis dan mudah robek). Padahal anak-anak adalah pembaca yang bersemangat,
membuka halaman dengan sekuat tenaga, berebut buku dengan saudara, membawanya
tidur bareng, bahkan secara harfiah memakan buku. Buku anak tipis umumnya
distaple, sementara yang tebal dilem atau dijahit. Sering bahkan tanpa perlakuan
"kasar" anak pun, jilidan mudah terlepas karena lem tidak kuat atau kertas robek
pada jahitannya. Buku anak seharusnya dirancang tahanbanting, tahanludah, tahan-
dibaca- setidaknya-puluhan-kali.

b.Target pembaca
Pencantuman target pembaca di cover belakang sudah dilakukan beberapa penerbit
pada beberapa jenis buku. Tapi masih banyak buku yang tidak berlabel. Ditambah
kemasan plastik segel, semakin sulitlah orangtua memilihkan buku bagi anak
dengan usia berbeda-beda apalagi membebaskan anak memilih sendiri. Idealnya,
untuk mengembangkan keterampilan membuat keputusan, anak-anak dibiarkan memilih
sendiri buku dan menghadapi konsekuensinya. Di luar negeri, anak memilih buku
sendiri, sudah biasa. Tapi di Indonesia, hal ini belum membudaya. Urusan belanja
masih jadi wewenang sepenuhnya kebanyakan orangtua. Dari sisi penerbit, keadaan
ini menyebabkan buku anak dibuat semenarik mungkin dari sudut pandang orangtua
juga. Bagi orangtua yang sudah memberikan hak memilih kepada anak, tidak adanya
label usia pada buku ini justru membuat frustrasi. Banjir buku di toko buku yang
tidak semuanya aman bagi anak membuat mereka lagi-lagi harus "merecoki" pilihan
anak. Menurut saya, kalau penerbit dan toko buku bekerja sama membuat zona buku
aman untuk anak, atau melabeli semua buku anak dengan target usia spesifik, akan
semakin banyak orangtua menyerahkan keputusan memilih buku kepada anak mereka.

c.Warna
Daya tarik buku anak terutama terletak pada ilustrasi dan warna. Untuk mengejar
harga murah, lagi-lagi, dikorbankanlah daya tarik visual ini. Cover buku bisa
jadi colorful, tapi isi di dalamnya hitam putih dan membuat anak kecewa.

d.Harga
Buku bagus identik dengan harga yang relatif mahal. Bisa dimaklumi. Tapi untuk
buku anak, ini menyedihkan. Nasib bangsa kita di masa depan terletak di
tangan-tangan mungil ini. Penulis dan orangtua bekerja keras menyediakan bahan
bacaan bermutu bagi mereka. Sebagian penerbit mungkin sudah mengurangi
keuntungan untuk menekan harga buku. Bagaimana dengan distributor? Atau lebih ke
hulu lagi, bagaimana dengan produsen kertas dan tinta? Dan yang lebih penting
lagi, bagaimana dengan pihak yang berwenang mengeluarkan kebijakan dalam dunia
pendidikan? Dan bagaimana dengan pembebasan pajak dari hulu ke hilir dalam
pengadaan bacaan bermutu untuk anak, agar terjangkau segala kalangan?