Selasa, 30 Juli 2013

Rahasia Penulis Bisa Kaya dari Ali Muakhir Bersama FLP Wilayah Lampung

Bertemu dengan Mas Ali Muakhir 
Siapa yang tidak kenal dengan Mas Ali Muakhir? Lelaki ramah ini pernah mendapat penghargaan sebagai penulis paling produktif. Alhamdulillah pernah bertemu dan mendapatkan ilmu secara langsung. Sahabat Smart Mom, ingin tahu rahasia produktif Mas Ali Muakhir? Simak yuuk...


Mas Ali Muakhir atau biasa disebut Alee mempunyai jam menulis setiap hari pukul 00.00 WIB sampai subuh. Jika anak-anak bangun, maka menulis dihentikan. Ini demi menghargai anak dan tugas sebagai Ayah (aduuh yang ini aku masih kedodoran, suka ngetik kalo ngejar DL walau saat bersama  anak-anak).


Rahasia menulis cerita anak :

1. Jika ingin menjadi penulis, rutinlah menulis setiap hari selama 25 hari dalam waktu yang sama. Misal setiap pukul 09.00 WIB-11.00 WIB atau jam berapa yang bisa disesuaikan. Maka, ini akan menjadi habit, badan juga akan terasa lebih enak. Kebiasaan ini menjadikan terbiasa menulis secara rutin. Menulis apa saja, tak harus cernak, konsep buku, resensi, diary dan lainnya. Jangan putus,cobalah selama 25 hari.

2. Bisa tidak hidup dari menulis? Sangat bisa. Selain menulis cerita anak. Mas Alee juga menulis untuk para tokoh politik atau untuk kampanye. Misal, ada tokoh yang ingin menjadi caleg, cagub, atau capres. Membutuhkan branding, kita buat proposal untuk menuliskan si tokoh. Contoh judul : 101 tentang Yusuf Kalla. Honor untuk buku seperti ini sangat besar. Kadang dicetak 5000 eksemplar dihargai puluhan bahkan ratusan jutaan rupiah.


3. Penulis juga dapat mencoba menulis untuk promo produk. Misal menulis cerita tentang isi produk tertentu lalu di link-kan dengan website produk. Jika tulisan kita bagus, pas, kita akan dikontak bagian promonya untuk menuliskan produknya dan akhirnya dapat honor juga :) contoh: tulisan bersambung Mas Alee tentang Mentari yang langsung dilinknya dengan website Mentari.

4. Menulis cerita anak, khususnya yang berseri tema tak jauh-jauh dari nilai keislaman satu tema. Misal tentang cerita balita : aku cinta Allah, atau buku lainnya tentang Asmaul Husna, semua berkisar 1 tema balik-balik sekitar aku cinta Allah, Rasul dan ibadah. Jadi 1 tema dapat dipecah-pecah dengan berbagai konsep buku. Tinggal kita kemas saja.

5. Mas Alee mempunyai anak yang juga gemar menulis. Sebelumnya ia menerapkan bila mau  uang Rp. 5 ribu, anaknya harus membaca buku sebanyak 24 halaman. Terkesan mengancam, tapi hasilnya anaknya terbiasa membaca dan kini dapat menulis.

6. Gemar mengikuti lomba menulis. Jadikan sebagai ajang uji kemampuan. Ikuti lomba-lomba baik menulis cerita anak, resensi dan lainnya.

7. Coba menulis apa saja, seperti kisah perjalanan, resensi, artikel, tokoh (buku kampanye yang dibagikan gratis), kerjasama dengan intansi, dll yang dibukukan ada logo mereka di cover. Biasanya dapat dana yang cukup lumayan.

Nah, itu dulu yang dapat kushare ya, kalo kuingat entar kutulis lagi. Untuk itu, aku setelah resign ini, aku pengen punya jam menulis tetap dan mencoba konsiten menulis 25 hari, semoga dapat 1 buku heheh, amin ^__^ doakan bisa kaya dengan menulis, ya ^__^



FLP Lampung bersama Mas Ali Muakhir

Demundang Biniak (Di Muat di Majalah Gizone)

Demundang Biniak
Naqiyyah Syam*)

            Dewi Sri (Nyang Serai) murka!
            Begitu berita yang menggemparkan desaku. Semua penduduk saling menyalahkan dan ketakutan. Padi-padi rusak berat dari sawah-sawah yang sudah ditanami. Kian bertambah jumlah kerusakan, betambah pula resah. Panen gagal. Musim paceklik datang. Kini semua petani tertunduk dalam kalut. Satu hal yang menurut mereka segera ditunaikan hanyalah : upacara demundang biniak! Upacara membujuk agar  Dewi Sri atau Nyang Serai tak murka lagi.
            “Kita harus cepat mengadakan upacara itu Pak RT, kalau tidak kita pasti kena kutukan!”
            “Iya, saya dan keluarga sudah tak tahan dengan kondisi seperti ini. Kami butuh uang dan makanan.”
            “Kita harus membujuk kemurkaan Dewi Sri dengan upacara!”
            “Pokoknya Pak RT harus segera bertindak!”
            “Setuju?”
            “Setujuuu….”


Aku terdiam lama. Pembicaraan di balai-balai rumahku terdengar samar. Benarkah karena Dewi Sri murka sawah menjadi rusak parah? Apa karena dia tak sayang lagi pada bumi Rejang Lebong ini? Jika semua aset desaku hancur dalam hitungan hari. Adakah kesalahan yang tertuai dari prilaku yang tak sengaja? Kenapa harus Dewi Sri yang dipercayai? Benarkah gara-gara Dewi Sri? Sungguh, ku ingin tahu!


Ciri-ciri Resensi di Lampung Post


Temans, kemarin aku ke Lampung Post, ngobrol dengan Udo Z Karzi redaktur yang menangani rubrik Resensi dan Opini. Nah, aku nanya mengapa resensi teman-temanku enggak dimuat-muat. Maka inilah penjelasan beliau:

1. Email yang masuk banyak, sehari bisa 5-10 email. Artinya persaingan banyak, bukan tulisan teman-teman tidak bagus.


2. Subjektifitas. Ini masih bermain. beliau menyadari, lebih memilih resensi buku-buku berbau sastra, sejarah dan bukan novel-novel dan menurut beliau sudah menjadi over promo (aiih greget dengan istilahnya, tapi tiap koran khas sendiri, ya?).


3. Saran beliau, jika resensi dikrim ke Lampung Post, akan banyak peluang dimuat jika kekinian (buku baru), tema sejarah, sastra politik dan bukan novel-novel remaja.

Demikian sekilas info, semoga bermanfaat ^__^


Aku dan Mbak Rosita Sihombing di Lampung Post