Rabu, 16 Oktober 2013

Wajahku Makin Cantik Bersama Wardah

"Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan." (HR. Muslim).


"Wah, wajahmu tambah cantik sejak nikah," ujarku pada seorang teman sesama guru.
"Masa sih, bu?"
“ Ya tuh tambah bersinar, pake apa yah?" tanyaku makin penasaran.
"Ah, biasa aja kok. Aku pake bedak wardah,” jawab temanku.

Hah?
Aku kan pake bedak wardah juga, kok enggak seperti wajahnya? Pengen tanya lebih jauh tapi aku malu. Aku langsung diam. Bel berbunyi. Jadwal istirahat sudah habis.

Siangnya aku ke supermarket langgananku. Aku langsung ke bagian jualan kosmetik Wardah. Tanpa malu-malu aku sampaikan uneg-unegku.
"Mbk, aku pengen wajahku kayak Mbk loh," terus terang aja aku penasaran dengan riasan SPG Wardah yang manis, lembut, wajahnya bersih dan segar. Wajahnya terpoles make up tipis, serasi dengan baju seragamnya. Mbk SPG itu tersenyum. Dilihatnya wajahku lebih dekat.
"Rajin bersihkan wajah saja, Bu," katanya.

Duar...Gubrak dah! Ketahuan deh,  aku kan emang malas bersihkan wajah.


Rainbow, Hidup Memang Warna Warni

Judul     : Rainbow 
Penulis  : Eni Martini 
Penerbit: Elex Media Komputindo 
Jumlah halaman :201 halaman. 
Terbit : 2013
ISBN : 978-602-02-1609-6


Menikah, adalah impian setiap manusia. Memiliki pasangan yang setia, bertabur kata romantis, ekonomi mapan dan inilah gambaran syurga dunia. Di novel ini langsung dibuka dengan masalah yang dihadapi tokoh. Dikisahkan pasangan muda Akna dan Keisya akan melangsungkan ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Keisya, sang istri tercinta sudah memasakkan makanan spesial menanti suaminya pulang dari kantor. Akna, sang suami juga punya kado spesial. Rencananya Akna akan membelikan  rumah untuk kejutan pada istrinya. Jika tandernya berhasil. Sayang, rencana itu gagal. Akna menggalami kecelakaan. Kaki kanannya harus diamputasi. Kehidupan percintaan mereka pun berganti warna, kelabu.

Akna berubah sikap. Sejak kakinya cacat, jiwanya rapuh. Ia suka marah-marah, tidak menerima cobaan yang dihadapinya. Keisya harus berjuang. Selain berjuang merebut perhatian suaminya lagi yang mendadak suka menyendiri, Keisya harus berjuang mewujudkan mimpinya. Membuka play group dan baby shop. 

Beruntung Keisya memiliki sahabat yang setia. Emi sang sahabat dan juga patner-nya di Baby Shop sangat membantu membuat Keisya bertahan. Namun, sejak suaminya "memaksa" melakukan hubungan suami istri setelah beberapa bulan dingin dan tidak menyentuhnya, Keisya marah dan kabur dari rumahnya. Akankah Keisya kembali kepada Akna? Inilah kisah penuh warna dalam sebuah rumah tangga.

***

Membaca novel ini saya menikmati sekali adegan penuh adegan. Ciri khas Mbk Eni Martini, membuat novel dengan dialog yang seolah-olah kita menonton film. Kesannya, ini novel pas banget deh kalau dibuat film, hehehe... yap, sudah tergambar setting dan tokoh antagonis dan lainnya.

Ada beberapa catatan saya dalam novel ini :
1. Keisya sangat menyukai masakan Perancis, Ratattouille au Micro-Ondes dibanding masakan khas Batak tempat suaminya dilahirkan. Sedikit aneh, mengapa Keisya menyukai masakan Perancis? Padahal Ia bukanlah keturunan Perancis, tidak pernah juga kuliah di Perancis, hanya karena tidak bisa masak? Ketika saya Google, apa itu Ratattouille au Micro-Ondes? Wah, itu aneh resepnya. Berbeda jauh dengan lidah sumatera tempat si Akna dibesarkan. Padahal, Akna anak kesayangan ibunya. Rasanya sedikit aneh jika si Keisya sangat gemar masak ini, sebab musababnya tidak jelas. 


2. Proposal Keisya mendirikan Play Group dan Baby Shop, begitu mudahnya ingin turun dana pinjaman dari Romi yang nota bene bekerja di Esco. Agak aneh, jika pengajuan dana 3 hari akan langsung cair. Apalagi ini usaha baru dan pinjamannya cukup besar. Setahu saya, pinjaman sebuah usaha harus ada kunjungan dulu. Mengecek tempat usahanya, lalu pihak peminjam akan menilai berapa banyak dana yang akan dicairkan. Di Novel ini, proposalnya masih mentah. Apalagi membuat play group? Membuka play group di kota-kota ada pihak di belakang layarnya. Orang akan menilai, siapa nih psikolog-nya? Nah, di novel ini tidak ada sama sekali tokoh berlatar pendidikan atau konsen  dipsikologis anak. Agak aneh, mau membuka play group tapi backgroud tokoh berbeda jauh. Mereka juga belum punya anak. Nah, lucunya, play group akan dibuat di bawah tokoh Baby Shop kelak. Mengapa bukan Day Care? Bukankah tujuannya agak pembeli merasa nyaman dan anak-anak mereka tidak rewel? Jika Play Group, berbeda lagi perlakuan pada anak-anak kelak.

3. Tokoh Emi yang abu-abu. Berapa sih pemasukan di Baby Shop? Toko yang mereka sewa di samping rumah ibunya Emi. Saya membayangkan, tempatnya tidaklah terlalu ramai karena berdampingan dengan rumah pribadi, bukan di jalan raya atau pertokoan. Kok bisa ya Emi menghadiahkan jam mahal pada Keisya sahabatnya. Kalau dihitung-hitung, jam tangan agak 'berkelas' sedikit saja 2 juta. Bila 1 pasang, harganya 4 juta. Penjualan di Baby Shop per bulan berapa? Lalu, sikap Emi ini kadang menguatkan, kata-kata "Islami" bertabur di novel ini. Hanya, saya kaget luar biasa di hal 145. Tokoh si Emi tidur di rumah Dimas tunangannyakah? Dikisahkan ini terjadi sebelum pernikahan mereka. Jadi, si Emi dan Dimas melakukan zina? nauzubillah. Saya sedih sekali di adegan hal 145 ini. 

Terlepas dari catatan saya di atas, saya menikmati novel ini. Mbk Eni lincah bermain diksi yang mencolek hati. Berbeda dengan novel sebelumnya. Di sini juga bertabur lagu-lagu romantis. Tapi, saya kok merasa, ini novel gayanya mirip novel Mbk Ifa Avianty hehehehe...
Happy Ending membuat novel ini benar-benar sesuai judulnya, Rainbow. Kehidupann memang berwarna-warni, yaknilah selalu ada pelagi setelah hujan. Selamat Mbk Eni, semoga laris manis novelnya.


Aku dan Rainbow