Kamis, 05 Desember 2013

Peran Ibu Mencetak Generasi Anti Korupsi




“Enak ya jadi PNS, kerja santai, uang mengalir, makan gaji buta! Peluang korupsinya banyak!”

Jdeeer..!

Obrolan ibu-ibu itu membuat saya ‘meradang’  bukan karena kata PNS-nya saja, tapi seolah-olah peluang korupsi enak saja dinikmati. Keluarga saya rata-rata sebagai PNS. Keempat kakak perempuan saya memilki jabatan disetiap instansinya, bahkan memiliki jabatan sebagai Lurah. Suami saya baru empat tahun ini sebagai PNS. Suka-duka menjadi abdi negara yang baik saya akui cukup sulit.

Jika ke luar daerah, suami pernah disodori amplop sebagai ‘hadiah’ oleh petani yang dikunjungi. Apakah uangnya diambil? Pernah seorang teman saya bilang, “Ambil saja uang itu belikan AC, bukan untuk makan, uang halal kok,”
Ups...benarkah halal?

Selamatkan Generasi, Tolak Pekan Kondom Nasional


Saya tak habis pikir mengapa Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH  membagi-bagikan kondom secara gratis. Alasan untuk mengurangi penularan virus HIV melalui perilaku seks beresiko tidaklah masuk akal. Mengapa membagikan kondom? Seolah-olah ingin mengatakan, “Boleh berzina (berhubungan badan), asal pakai kondom! Dijamin bebas virus HIV!” Ooh dangkal sekali pemikiran itu.




Taukah Anda, penderita HIV-AIDS setiap tahunnya meningkat tajam. Dari sumber Dirjen PP dan PL kemenkes RI 6 September 2013 terhimpun penderita HIV dilaporkan sampai Juni 2013 sebanyak 108.600 orang dan penderita AIDS sebanyak sebanyak 43.667 orang. Penularan AIDS paling banyak terjadi karena hubungan sek beresiko pada heteroseksual (45,6%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (10,6%), dan LSL (Lelaki Seks Lelaki) (10,3%). Sedangkan pada kasus AIDS terjangkit karena hubungan seks berisiko pada heteroseksual (78,4%), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (14,1%), dari ibu positif HIV ke anak (4,1%) dan LSL (Lelaki Seks Lelaki) (2,5%).

Nah, coba kita cerna data-data di atas. Penularan virus HIV-AIDS terjadi tajam karena hubungan seksual secara heteroseksual, bukan dengan setia pada pasangan. Lalu, sangat disayangkan penderita ODHA (Orang  dengan HIV-AIDS) adalah yang berusia produktif, yakni usia 20-29 tahun sebanyak 15305 orang.
Para ODHA berusia produktif itu kebanyakan terjangkit karena gonta-ganti pasangan dalam hubungan sex diluar nikah. Ada juga melakukan aborsi tidak aman, penggunaan jarum suntik tidak steril, pelacuran dan lainnya.



Jika program Mentri Kesehatan RI bagi-bagi kondom untuk mengerem laju HIV-AIDS tidaklah relevan dengan budaya timur Indonesia. Berbeda jika itu dikampanyekan di dunia barat. Apalagi dibagikan di kampus untuk mahasiswa dan pelajar. Ironis sekali. Bagi yang belum tahu penggunaan kondom akan penasaran bagaimana  sensasi penggunaanya. Jangankan ada program bagi-bagi kondom, tanpa itu saja laju seksual anak muda yang sudah tidak perawan sudah meningkat tajam. Catat, tidak perawan lagi. Mereka sudah bebas melakukan sex di luar nikah. Saya sangat menyayangkan program mentri kesehatan ini lolos menjadi program nasional. Apakah generasi kita ingin di bodohi dengan silakan berzina tapi awas jangan hamil!

bagi kondom di kampus

bis bagi-bagi kondom


Cobalah berpikir lebih cerdas, usia pernikahan sekarang semakin naik.  Usia ideal direm oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN). Usia ideal menurut BKKBN adalah usia 20-21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Sedangkan, kebutuhan seksual rata-rata terjadi di usia remaja ketika mengalami puberitas. Bahkan beberapa kasus terjadi puberitas terjadi pada anak SD. Jadikan Berita perkosaan yang dilakukan 5 siswa murid kelas IV dan V  SD Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi selatan memperkosa teman sekelasnya jadilah sebagai pelajaran bagi kita (Sindonews.com,  2/4/2013). Artinya, kebutuhan dasar saat ini adalah pendidikan seksual yang tepat sasaran dan sistematis. Bukan seperti membagikan kondom di areal kampus.

Usia pernikahan ideal menurut BKKBN, perempuan 21 tahun, laki-laki 25 tahun

Saya sarankan Mentri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH bekerjasama dengan Rukun Tetangga (RT) melakukan sekolah Pra nikah. Para remaja di sekitar lingkungan diberi ilmu pengetahuan mengenai alat reproduksi dan tanggungjawabnya. Sedangkan pada anak usia SD, sebaiknya kerjasama dengan pihak sekolah melakukan pelatihan secara berkala mengenalkan aku dan diriku, sebab dan akibatnya terhadap sentuhan orang asing pada dirinya. Hal ini lebih efektif untuk mengurangi laju penyebaran HIV-AIDS. Apalagi diimbangi dengan pendekatan agama. Agama apapun tidak ada yang mengajurkan sek bebas. Untuk itu, mari tolak Pekan Kondom Nasional, selamatkan generasi dari zina massal.


Siapkan generasi yang berakhlak mulia


Mengenalkan keluarga inti

otak akan kotor kalo banyak pengaruh jelek

selamatkan generasi


Tulisan ini dimuat di Surat Pembaca Lampung Post, 5 Desember 2013.