Sabtu, 27 Desember 2014

Berdamai dengan Bahasa Indonesia Menuju Sukses UN

SDIT Baitul Muslim Tahun 2010

 Tahun 2010 yang lalu menjadi sebuah pengalaman indah bagiku. Saat aku dipercaya kepala sekolah untuk menjadi guru Bahasa Indonesia di kelas 5 dan 6. Otomatis aku menjadi pembimbing murid kelas 6 mempersiapkan Ujian Nasional (UN), khususnya pelajaran Bahasa Indonesia.
Awalnya menjadi tantangan besar untuk memulai mengajar Bahasa Indonesia. Biasanya aku hanya sebagai guru kelas I dan II, tapi tahun ini aku menjadi guru bidang study Bahasa Indonesia saja.  Tentu bukan yang mudah untuk berdamai dengan Pelajaran Bahasa Indonesia. Latar pendidikanku bukanlah dari FKIP atau Bahasa Indonesia, tapi dari S1 Kehutanan. Kepala sekolah memilihku karena aku dianggap layak.
“Kan sudah menjadi ketua FLP Lampung Timur, pasti jago menulis. Apalagi sudah menang lomba, kan?” tantang Kepsekku.
Bismillah aku menerima amanah ini dengan terus mencari cara agar aku lebih menjiwai Bahasa Indonesia. Pelajaran yang paling kusukai sejak SD. Alhamdulillah, aku tak menemukan banyak kesulitan. Bahkan, aku terbantu sekali. Aku  kembali belajar tentang drama, puisi, kalimat utama, anonim, antonim dan materi lainnya yang sangat berguna dengan hobi menulisku.
Saat yang dinantikan tiba. Aku belajar lagi mengenal karakter murid kelas 6 dan metode pendekatannya. Ya, ternyata tak semua murid yang menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal, pelajaran Bahasa Indonesia menjadi pelajaran wajib Ujian Nasional (UN).
“Duuu, bagaimana mengajak mereka berdamai dengan Bahasa Indonesia, ya?”
Akupun menyiasatinya dengan berbagai metode. Dari permainan, tebak-tebakan, pantun, Mading, drama, nonton film, dan lainnya menjadi ‘senjata’ pendekatanku. Semua agar murid kelas 6 menyukai Pelajaran Bahasa Indonesia yang kesannya ‘gampang’.
“Alah, Bu, Bahasa Indonesia nggak perlu belajar serius, kan bahasa kita sehari-hari,”
“Males, loh Bu, banyak bacaannya!”
“Bahasa Indonesia, mah, keciiil…”
            Begitulah komentar sebagian muridku. Mereka masih menganggap pelajaran Bahasa Indonesia bukan pelajaran yang patut dipelajari secara serius. Sedangkan aku semakin tertantang! Apalagi tahun sebelumnya nilai UN Bahasa Indonesia dari sekolahku, ada 3 siswa yang dapat nilai 10. Bagaimana dengan tahun ini? Aku berharap minimal ada 1 siswa yang berhasil mendapat nilai 10.
            Semester 1, aku benar-benar mempelajari karakter mereka, sehingga mereka makin enjoy. Naik ke semester 2, suasana mualai cair. Mereka sudah terlihat banyak kemajuan. Ternyata karakter murid kelas 6, banyak yang belajar sambil bermain. Inilah menjadikanku harus kreatif menciptakan suasana belajar yang fun.
            Jelang UN semakin dekat, les dari sekolah diadakan setiap hari Sabtu. Akupun semakin intensif memberikan bimbingan dengan mengulang materi yang telah dipelajari dari kelas 1-6.
Latihan try-out pun semakin sering digelar, baik dari pihak sekolah, maupun Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Pelan-pelan kemajuan sudah terlihat. Walau masih ada satu, dua murid yang masih menjadi PR besar bagiku agar nilainya semakin baik.
            Tak cukup dengan les di sekolah, aku mewajibkan anak-anak yang nilainya masih di bawah rata-rata untuk belajar di rumahku setiap malam Minggu. Sekitar 10 orang kuwajibkan untuk mengikuti bimbingan tambahan. Ternyata antusias yang datang cukup banyak. Tak cuma yang memiliki nilai di bawah rata-rata versiku, tapi yang sudah kuanggap ‘lulus’ juga hadir.
Alhasil, belajar tidak maksimal. Mereka malah belajar sambil bermain hp. Wih, Hp-nya canggih-cangih deh, kalah ama gurunya. Dasar ABG, ringtone merekapun mengikuti lagu-lagu tren zaman sekarang. Dari Wali Band, ST-12, Ungu dan lainnya. Membuat aku semakin cenat-cenut dengan pola muridku. Olala, PR-ku tak cuma mengantarkan mereka sukses di pelajaran Bahasa Indonesia saja,  tapi juga mengingatkan pola pikir mereka agar tak terlalu jauh dengan perangkap Ghozul Fikri, khususnya musik. Akupun mengambil tindakan tegas. Selama les berlangsung hp mereka disita dan tak boleh kirim SMS-an atau mengaktifkan earphone.
            Ujian Nasional semakin di depan mata. Aku semakin dag dig dug dengan hasilnya. Sekolahku memegang erat prinsip untuk tidak membocorkan soal UN kepada murid-muridnya. Apalagi membocorkan jawaban. Kami murni mengandalkan kemampuan anak-anak dengan bimbingan yang telah kami berikan selama ini. Agar semakin memperkuat kepercayaan diri murid kelas 6 kami adakan Mabit bersama dengan beberapa kegiatan motivasi.  Kami mengajak mereka untuk berserah diri kepada Allah SWT terhadap hasil akhir.
            Pagi menyambut UN. Anak-anak berdatangan ke sekolah dengan sambutan yang tegang!
            “Bu, doakan saya ya,”
            “Bu, aku takut!”
            “Bu, aku tak mau kalo nggak lulus!”
            Bermacam-macam curhat mereka. Aku dan beberapa guru kelas 6 berusaha menenangkan mereka. Kami membimbing  mereka untuk berdoa dan mempersiapkan kondisi ruhiyah mereka sebelum pengawas masuk ke ruangan.
            Keluar ruangan mereka riuh kembali.
            “Bu, ada banyak soal yang tak ada jawabannya!” seorang siswa mengeluh.
Kucek ulang soal yang ada dari pengawas. Astaga! Memang ada sekitar 3-4 soal yang susah ditebak jawabannya. Bahkan analisaku, jawabannya tidak ada alias soal yang salah.
“Wah, ini alamat anak-anak tak ada yang nilai 10, nih!” batinku. Kucek ulang soal Bahasa Indonesia dengan teman sejawatku. Sama! Mereka juga tak menemukan jawaban. Akupun pasrah, tahun ini kemungkinan dari sekolahku tak ada yang mendapat nilai 10 pada pelajaran Bahasa Indonesia.
Waktu berlalu hingga sampai dengan hari penentuan kelulusan. Jerih payah murid dan guru kelas 6, terutama yang diamanahkan pelajaran UN terjawab sudah. Kepala sekolah telah mengirimkan SMS tentang kelulusan murid-murid kami. Alhamdulillah, mereka lulus 100% dan ada yang mendapat nilai 9 lebih untuk pelajaran Bahasa Indonesia.
            Kabar gembira ini kami kunci rapat sebelum diumumkan langsung dengan murid kelas 6. Seperti tahun sebelumnya, tradisi pengumuman kelulusan akan dilakukan. Kami mengumpulkan murid kelas 6 di Masjid dan guru-guru kelas 6 memberikan nasehat.
Satu per satu guru memberikan nasehat agar mereka tetap tenang dengan berbagai kemungkinan.
            “Hasil kelulusan telah ada. Apakah kalian lulus semua?”
            “Jangan besar hati, jika kalian dinyatakan lulus, dan jangan pula kecil hati jika kalian tidak lulus,”
            “Coba, pejamkan mata! Bayangkan kedua oarng tua kalian yang menyambut dengan sedih ketika mengetahui kalian tidak lulus Ujian Nasional! Semua karena kalian malas belajar! Karena menyepelekan salah satu pelajaran! Bayangkan bagaimana hancurnya perasaan orang tua kalian! Mereka telah bersusah payah membiayai kalian sekolah, tapi apa balasan kalian? Kalian tidak lulus!”
            Suara tangis mulai terdengar. Murid kelas 6 sudah bertangisan.
            “Apakah kalian merasa lulus semua?”
Mereka masih menggeleng lemah dengan mata sembab.
            “Kini bayangkan wajah kedua orang tua kalian yang menyambut dengan gembira ketika kalian semua lulus Ujian Nasional. Bayangkan wajah ayah, ibu, kakak, adik dan keluarga kalian. Mereka sangat gembira dengan keberhasilan kerja keras kalian selama ini!”
            Kembali senyum optimis terpancar di wajah-wajah mereka.
            “Kelulusan bukanlah suatu akhir dari perjalanan kalian. Tidak luluspun bukan berarti kiamat dalam hidup kalian. Untuk itu, kami dewan guru berharap kalian semua tetap  optimis dengan hasil yang kalian lihat nanti. Sekarang bersiaplah, nilai sudah ditempel di depan kantor di lantai 2, silakan kalian melihat sendiri dengan tertib!”
            Usai sudah tradisi ‘wejangan kelulusan’ khas sekolahku. Kami menyimpan senyum geli dan rasa haru. Tak lama teriakan Allahu Akbar bergema dan tangis haru mereka kian pecah.
            “Subhanallah aku, lulus!”’ teriak mereka.
            “Aku juga!” teriak yang lain.
            “Kita semua lulus!”
            Mereka meluapkan kebahagian dengan terkontrol. Mereka semakin bersyukur tanpa ada coretan di baju seragam, teriak yang histeris, tapi semua penuh dengan memuji asma Allah semata.
Alhamdulillah Tahun 2010 murid kelas 6 semua lulus UN dengan nilai yang cukup memuaskan. Akupun lega telah menjadi bagian persiapan UN.  Aku berharap pelajaran Bahasa Indonesia tetap menjadi pelajaran yang mereka sukai, walau telah menjadi murid SMP dan UN yang berlalu.

            Way Jepara, 27 Maret 2011
                         

            

Jumat, 26 Desember 2014

Asiknya Bahasa Minang

Dua hari lalu, mati lampu, kami mendongeng di kamar. Fatih minta didongeng pada zaman dahulu. Pengen dongeng singa yang besar. Maka, Ummi mulai bercerita...
Pada zaman dahulu, hiduplah 2 ekor singa bernama Leo dan Tiger. Suatu hari mereka kelaparan. Bahan makanan habis. Mereka ingin belanja di Warung Daun.
Ummi : "Gimana tuh ngomongnya mau belanja apa ya di Warung Daun?"
Faris :"Daging Ummi, bukan daun."
Ummi : "Eh iya, beli daging. Gimana tuh si singa mau belanja? Beli...iiii..." Sesuai nada kayak anak-anak belanja ke warung. Tiba-tiba Faris nyeletuk, "Bara ko ciek daging rusa, Da."
Hahahha... Aku yang dengar teryawa terbahak-bahak. Faris udah bisa bahasa Padang  sukses deh Mas Faris.

Ya, Mas Faris sudah bisa bahasa Padang, baru pindah dulu malah nangis-nangis nggak mau maen karena takut diajak temannya bahasa Padang. Ya, anak-anak di sekitar rumah banyak menggunakan bahasa Minang (bahasa Padang). Jika pas dulu Faris kalo bicara menggunakan bahasa Indonesia, bahkan kadang ngomol pake EYD hihihi....sangking jarang salahnya :) pas TK malah ditegur gurunya, "Aiih anaknya Bahasa Indonesia bangeeeeet..."

Sebenarnya, nggak memaksa Faris menggunakan bahasa Indonesia, tapi kami di rumah emang ngggak menggunakan bahasa daerah. Baik bahasa Bengkulu atau Palembang (daerahku) atau bahasa Jawa (suamiku). Selain itu buat memudahkan aja kalo acara kumpul keluarga, karena semua keponakan menggunakan bahasa indonesia. 

Faris, Fatih dan Aisyah

Sabtu, 20 Desember 2014

Resensi Bahagia Ketika Ikhlas : Ibu Bahagia, Ciptakan Keluarga Sukses


Judul             : Bahagia Ketika Ikhlas
Penulis          : Rena Puspa
Penerbit        : Elex Media
Jenis              : Non fiksi     
Hal                : 186 hal
Tahun           : 2014
ISBN            : 978-602-02-4557-7

Menjadi ibu adalah sebuah kebahagian itu sendiri. Memiliki sensasi rasa yang berganti-ganti. Dimulai saat mengetahui kehadiran sang janin di dalam rahim. Lalu, perjuangan hidup dan mati saat persalinan hingga mendidik anak menuju kesuksesan. Namun, menjadi ibu bahagia itu tidak mudah, bahkan tidak semua ibu menjadi bahagia. Ada beberapa kasus seorang ibu tega membuang anak kandungnya sendiri, menjual anaknya hingga membunuh anaknya. Apa itu ibu-ibu yang bertindak kejam itu tidak bahagia? Sulitkah mendapatkan kebahagiaan?

Jika tahun 1967, Warner Wilson membuat alat ukur kebahagian yang bernama Subjective Well Being. Menurutnya, kebahagian bernilai sangat subyektif. Lalu tahun 1990, Carol Ryff, mengembangkan alat ukur bahagia dengan n.ama Pyschological Well Being (PWB). Lalu, jika kita diukur dengan alat ukur tersebut, apakah artinya kita tidak bahagia?

Buku non fiksi karya Rena Puspa setebal 186 halaman ini mengupas tentang lika-liku mencapai bahagia dalam menjalankan tugas sebagai ibu.  Buku ini terdiri dari 6 bab dengan tiap bab dilengkapi pengalaman pribadi penulis yang kini tinggal di Malaysia dan tiap bab saling berkaitan menuju ibu yang  bahagia.

Pada Bab pertama, pembaca diajak untuk memahami konsep bahagia. “Dengan hati bahagia proses pemenuhan kewajiban seorang ibu dapat lebih optimal, dan dengan ikhlas bahagia mudah diraih.” (Hal 1).

Selanjutnya, di Bab kedua, dijelaskan mengenai pemicu stres pada ibu, salah satunya adalah hormonal, baik ketika hamil maupun paska melahirkan dan menyusui atau sering dikenal dengan Baby Blues Sydrome. Pada kasus yang berat, jika tidak ditangani dengan baik, maka penderita akan mengalami depresi yang berkepanjangan, seperti pada kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ibu (Hal 25).

Pada Bab ketiga, dikenalkan beberapa sebab eksteral yang menjadikan ibu stres. Penulis juga mengajak para ibu untuk mengajarkan pada suaminya memahami dam mencintai istrinya dengan sepenuh hati. Hal ini akan berdampak pada ibu dalam menjalankan perannya sebagai istri dan ibu (Hal 58).

Pada Bab keempat,  pembaca diajak untuk menjadi ibu yang apa adanya.  Dalam menjalankan  perannya,  baik sebagai full time mom, working mim, atau working at home mom dapat terjadi apabila memahami potensi kelebihan dan kekurangan. Penulis mengajak untuk melakukan pertanyaan dan jawaban dengan jujur, jangan patok  kebahagiaan berdasarkan orang lain karena belum tentu sesuatu yang bisa membuat orang lain tampak terlihat bahagia akan sama yang kita rasakan  (Hal 85).

Pada bab kelima, penulis mengajak pembaca meraih bahagia dengan memahami ikhlas dengan konsep yang benar. Sikap ikhlas identik dengan menekan rasa ingin dihargai, merelakan diri untuk tidak berharga, seolah-olah pengorbanan itulah dianggap sudah menjadi sebuah keikhlasan. "Padahal, konsep ikhlas yang benar, rasa ingin dihargai itu tetap bisa disalurkan namun langsung kita pinta pada sang pencipta kita, yaitu Allah. "(Hal 111).

Buku ini juga berisi kisah nyata. Seperti yang dialami penulis saat baru pindah ke Malaysia. Dengan menggunakan Quantum Ikhlas, penulis sukses membuat anaknya lebih percaya diri dan berhasil dengan nilai yang sangat memuaskan (Hal 138). Penulis juga mengajak untuk memperbaiki sikap berdoa. "Doa kita sebagai orang tua untuk ana-anaknya dijanjikan mustajab, maka kita harus terus memperbaiki kualitas doa kita. Karena doa menjadi salah satu senjata utama kita agar sukses mendidik anak." (Hal 146).

Di bab keenam, ada kisah yang sangat manis dengan mengharu biru. Tentang betapa dasyatnya berprasangka baik kepada Allah. Kisah seorang gadis tanpa tangan yang mendapat jodoh dengan lelaki yang sempurna. Mau menerima ia apa adanya (Hal 178).

Hati ikhlas, berprasangka baik, optimis akan melahirkan kebahagian dan kesuksesan dunia dan akhirat. Itulah pesan dari buku yang bercover menarik, seorang ibu dengan bergembira mengasuh anaknya, lengkap dengan celemeknya. Menarik dan mengelitik dan terdapat pesan tersirat, bahwa ibu dengan begitu banyak tugasnya berhak mendapatkan kebahagian. Beberapa kalimat menggunakan huruf merah juga menjadi pemanis dalam buku ini. Buku yang layak dan direkomendasikan untuk para ibu yang ingin meraih kebahagian.


Selasa, 16 Desember 2014

Rambut Bayinya Kok Dicukur?

Aisyah saat usia 1 minggu
Aisyah putriku, anak ke-3 lahir dengan rambut yang lebat. Dulu kedua kakaknya, Faris dan Fatih juga lahir dengann rambut yang lebat loh, tapi Aisyah memang berbeda. Rambutnya hingga menutupi telinga dan gaya rambutnya kayak abis ke salon aja, gaya shagy gitu hihihi....

Nah, waktu hamil suka makan apa kok rambutnya lebat gitu? Nggak ada apa-apa sih, kalo suka bubur kacang ijo sih emang iya, tapi lebih ke genetik kayaknya ya, soalnya rambut Abinya emang lebih tebal dibanding rambut Umminya hehehe...

Waktu di-upload di FB pun foto Aisyah langsung menarik perhatian. Komen rame banget karena rambutnya emang mencuri perhatian. Lucu kan ya bayi cewek rambutnya gondrong gitu, kalo dikuncir udah bisa kali ya hahahaha...

Sempat galau juga, mau dicukur kapan ya? Kan sunah Rasulullah SAW, bayi dicukur diusia 7 hari. Ya, saat 7 hari disunahkan aqikahan, mencukur rambut (ditimbang lalu disedekahkan sesuai berat rambut tersebut, jika mampu setara emas, jika tidak setara perak) dan mencukur rambut bayi.

Kok galau? Soalnya unyu-unyu deh kalo bayi rambutnya panjang. Halah, alasan yang nggak syar'i banget ya? Dan suamiku langsung menolak ketika aku bilang, "Ntar aja Bi, nunggu 21 hari." Hahha emaknya piye iki pengen dijitak *pletaaaaak*

Akhirnya usia 7 hari, Aisyah dicukur rambutnya. Waktu Faris dulu mencukur rambutnya ada dukun bayi. Maklum anak pertama, belum berani pegang kepala bayi. Pas Fatih, sudah mulai berani cukur sendiri. Tinggal beli gunting dan alat cukur kumis (apas ih namanya?), terus pelan-pelan dicukur deh.

Dan taraaaaa...rambut Aisyah gundul deh :)

Rambut Aisyah belum plontos tapi udah dicukur
Karena belum berani ngerok sendiri soalnya kepala Aisyah banyak kerak-kerak gitu, beda dengan Fatih dulu pas dicukur diam aja, ini masih suka bangun. Jadi, karena kasihan kami cukurnya segini dulu aja deh. Alhamdulillah pas usia sebulan, Kepala Aisyah sudah bersih dari kerak-kerak, tapiii tetap gak mau diam dicukur, selalu kegelian. Abinya jadi nggak tega. Kami akhirnya ke tukang cukur. Ke tempat cukur pertama ditolak, takut mencukur rambut bayi. Kami cari lagi tukang cukurr lebih jauh, syukur diterima, dan sepertinya dia biasa mencukur rambut anak-anak, terlihat yang ngantri anak-anak semua, dan Aisyah selama dicukur, tidur lelap, Subhanallah....

dicukur di tempat cukur
Aisyah udah plontos deh hehehe
Usai digundul alias plontos, tetanggaku pada nanyain, "Kok dicukur sih? Nggak sayang rambutnya bagus, lebat gitu." Lah aku balik nanya, "Emang kenapa? Kan sunahnya begitu, rambut bayi dicukur," Aku sempat heran, kok pada kaget ya aku mencukur rambut bayiku, bukannya lumrah ya? Di Lampung, Bengkulu, Jambi, Palembang bahkan pakai adat acara cukuran rambut bayi. Kok di Padang, malah heran?

Selidik punya selidik, mereka meyakini adanya Pelasik, mitos sebagian orang Padang, kalo bayi nggak boleh dicukur habis rambutnya, bahkan tidak dicukur sama sekali. Waduh, serem juga tuh, Alhamdulillah Aisyah sehat aja setelah dicukur, sekarang rambutnya udah tumbuh lagi kok dan siap-siap aja dikuncir, hihihi...emaknya udah gak tahan mau dandani hahhaha...


Minggu, 14 Desember 2014

Serunya Buat Coklat Sendiri


coklat yang dicampur kacang
Bikin coklat sendiri gimana caranya? Itulah yang sering ingin kuketahui ketika teman meng-upload coklat bikinannya. Nah, jadilah aku belajar buat coklat. Soalnya, emang suka makan coklat sih :)

Bahan dan alat :

1. Beli coklat batangan, di super market ada loh :)
2. Cetakan coklat, bisa bentuk hewan atau benda lucu-lucu
3.  Wadah tupperware (tahan panas)

Cara membuat :
1. Lumerkan coklat batangan dengan cara masukan ke wadah tupperware, lalu masukan ke dalam magic com sekitar 5-10 menit (dikira-kira aja lumernya berapa lama).

2. Tuang ke dalam cetak.

3. Setelah agak dingin, masukkan ke dalam freezer.

4. Sekitar 3 jam. Taraaaaa...jadilah coklat buatan sendiri.

5. Mau penyimpanan agak lama simpan dalam plastik khusus kue dan susun dalam toples.

Nah, jadi deh coklatnya, oh ya kalo kamu suka kacang atau kurma, silakan dicampur setelah dituangkan ke dalam cetakan. Selamat mencoba ya :)



cetakan coklatku

Kamis, 11 Desember 2014

Enaknya Bakso Malang di Padang


Bakso Malang di Padang
Enaknya Bakso Malang di Padang. Aku suka banget makan bakso. Sejak kecil sekeluarga di Bengkulu biasa jajan bakso. Nah, pas nikah ketemu suami yang nggak doyan makan bakso. Suamiku lebih suka makan pecel, aduuuh susah deh menghilangkan kebiasaan makan bakso. Emang sih selain bakso, aku juga suka makan tekwan. Nah, pilihan dua makanan ituah membuat mood-ku makin bagus. Bakso juga nih kadang jadi bahan "sogokan" kalo aku ngambeek berat, suami belikan bakso aku pasti tersipu-sipu meong hahhaha... muka baksoan :p


Pas pindah ke Padang, sempat susah euy nyari bakso yang enak. Soalnya, di sini lebih banyak Miso alias mirip-mirip bakso,tapi mienya banyaaaak terus pentolannya nggak banyak daging sapinya. Jadi lebih berasa kayak makan mie plus pentolan terigu doang, tapi lumayan sih kalo kuahnya enak. Ini jadi alternatif kalo bakso belum ketemu hahhaa..soalnya miso keliling lewat depan rumah bisa beli 3 ribu doang :)

Pilihan Menu
Bakso Malang di Padang
Kami pindah ke Padang jelang Ramadhan. Ternyata banyak penjual tutup, eh mungkin bukanya malam kali ya, tapi kami nggak keluar kalo malam, sibuk ama kegiatan ibadah lainnya, makanya pas ketemu bakso ini setelah lebaran, itu pun udah muter-muter....


Senang banget akhirnya menemukan enaknya bakso Malang di Padang yang letaknya di depan RS M.Jamil. Wow, langsung deh menjadi langganan tetap :D Apalagi pas nemu lokasi ini lagi hamil gede, puas-puasin deh makan bakso :)
pengunjung



Baca Juga : Cara Mudah Beli Tekwan Tidak pakai Repot

Oh ya, nggak cuma bakso dijual di sini. Menunya macam-macam loh. Ada mie ayam, nasi goreng, bihun, dan lainnya. Favorite keluargaku adalah aku pesan bakso, Faris mie goreng, Fatih mie ayam dan suaminya pesan nasi goreng, lain waktu Abi pesan nasi rawon. Kalo minuman, pilih es teh atau jus jeruk. Mantap dah, apalagi makannya bareng keluarga kayak gini asik, seru. 

Ternyata pas kami datang malam Minggu. Pantes saja penuh banget rame dengan pembeli. Semua tempat duduk sudah penuh. Waktu kami datang sih masih lumayan sepi, eeeh jelang Maghrib makin ramai, alhamdulillah sudah dapat tempat duduk, tinggal menunggu pesanan datang saja.

Dan taraaaaa...pesanan datang langsung nyam-nyam...

Baksoku udah mau habis

Fatih pilih Mie Ayam

Mas Faris makan mie goreng

Abi pilih nasi goreng

Baca Juga :  Sarapan Ketupek Pitalah

Akhirnya jelang Maghrib kami usai makan dan bersiap sholat Maghrib di masjid terdekat. Alhamdulillah senangnya bisa makan bareng keluarga, terutama makan bakso kesukaanku, mantaaaap :) harga bersahabat cukup, perut kenyang deh, hanya 12 ribu loh :) Bagi kamu yang suka bakso, kalo ke Padang, mampir deh ke bakso Mas Pepen, dijamin ketagihan merasakan enaknya bakso Malang di Padang :) traktir aku ya, hihihihi....

menjelang pulang

Senin, 08 Desember 2014

5 Tips Mengajarkan Menulis Untuk Anak SD

Peserta Ekskul Jurnalistik SDIT Baitul Muslim



Ini pengalamanku saat menjadi guru ekskul jurnalistik. Waktu itu aku masih mengajar di SDIT Baitul Muslim Lampung Timur. Kelompok jurnalistik belajar menulis puisi dan cerita anak atau cerpen anak. 

Sebelum belajar biasanya kami berdoa dulu, lalu games, bernyanyi atau lainnya agar suasana tidak kaku. 

Lalu, anak-anak mengeluarkan buku catatan eksul mereka dan kami mulai belajar menulis. Bagaimana memulainya?

Cara 1

Ajak anak-anak menulis dengan memulai tulisan diawali dengan nama panggilan.
Contoh : Aisyah namaku. Aku siswa kelas 2 SDIT Baitul Muslim. Aku suka makan sate ayam.......

Cara 2
Ajak anak-anak memulai menulis dari rasa buah-buahan. Minta anak-anak membawa buah yang disukainya atau guru yang menyiapkan. Satu persatu merasakan buah tersebut dan menceritakan rasanya.
Contoh : Aku suka makan buah jeruk. Rasanya manis. Buah jeruk ada juga yang rasanya asam. Aku juga suka jus jeruk.

Cara 3
Ajak anak-anak memulai menulis dari pengalaman. Bisa cerita pengalaman selama liburan, pengalaman hari ini atau pengalaman selama ekskul.
Contoh : Hari ini aku hampir saja telat ke sekolah. Gara-gara aku terlambat bangun.


Cara 4
Ajak anak-anak memulai menulis dengan menonton film. Tayangkan film kartun atau apa saja film yang baik untuk anak-anak (usahakan filmnya singkat) atau potongan film. Lalu ajak anak-anak menceritakan film dari versi mereka.

Cara 5
Ajak anak-anak jalan-jalan ke lingkungan sekolah. Usai jalan-jalan dan mengamati lingkungan sekolah, anak-anak dapat menuliskan apa yang menarik yang mereka temui.


Sebenarnya masih banyak cara lain, tapi coba deh 5 tips di atas semoga ekskul jurnalistiknya semakin menarik. Selamat mencoba.

Minggu, 07 Desember 2014

Cara Mengirim Resensi ke Koran Singgalang Padang


Teman-teman ada yang menanyakan cara mengirimkan resensi ke Koran Singgalang Padang, nah berdasarkan info teman-teman yang rajin mengirimkan resensi ke sana dan membaca korannya, berikut ketetuannya.

1. Tulis resensi sebanyak 4000 karakter. Tapi pernah lihat resensi di Koran Singgalang ada yang kurang dari 4000 karakter.
2. Diketik A4, 1,5 spasi, Times Roman.
3. Kirim ke email : hariansinggalang@yahoo.co.id, cc a2rizal@yahoo.co.id
4. Lampirkan cover buku dan biodata.
5. Tidak ada pemberitahuan akan diterbitkan, jadi jika lewat dari sebulan silakan teman-teman tarik resensinya dengan membuat surat/email penarikan naskah.
6. Berdasarkan resensi yang pernah aku baca, resensi bisa dari buku terbitan lebih dari 1 tahun dan bisa buku anak.


Nah, selamat mencoba ya teman-teman. Semoga berhasil, ini aku kasih contoh resensi yang pernah dimuat  oleh Mbk Tri Wahyuni Zuhri.




Judul : La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu  
Penulis : Naqiyyah Syam 
Tebal : 145 
halaman Terbit : Agustus 2014 
ISBN : 978-602-03-0739-8 
Penerbit : Kalil (Imprint PT Gramedia Pustaka Utama) 



Ibu adalah sosok perempuan yang lembut dan penuh kasih sayang kepada keluarganya. Begitu banyak tugas yang di jalankan seorang ibu dalam keseharian. Tetapi hal itu tidak mampu menurunkan semangat dan keinginannya untuk melakukan hal yang terbaik untuk keluarga dan orang lain sekitarnya. 



Dalam buku La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu, karya Naqiyyah Syam ini menjelaskan, seorang ummahat atau seorang perempuan yang sudah menikah, berarti melangkah kejenjang kehidupan selanjutnya. Bisa jadi kehidupan pernikahan akan jauh berbeda saat perempuan masih belum menikah. Saat belum menikah, tentu banyak aktifitas positif yang dilakukan. Ia tidak perlu kuatir ada yang melarang karena kesibukannya. Selagi kegiatan tersebut bernilai positif, tentu dengan penuh semangat di jalani. 

Namun setelah perempuan tersebut menikah, tentu akan namyak hal berbeda. Ia harus berperan sebagi istri untuk duaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Ibu pun harus bisa pintar-pintar mengatur waktu untuk menjalani berbagai aktifitas rumah tangga dan mendidik anak. Semua butuh kesabaran dan rasa toleransi yang besar. Tidak jarang ibu harus mendahulukan kepentingan keluarganya sendiri, dan menunda keinginannya sendiri. Semua itu ibu lakukan demi kebahagiaan dan ketentraman keluarga. Belum lagi dengan ibu yang tetap harus bekerja atau memiliki aktifitas di luar rumah selain mengurus rumah tangga. Sehingga tidak mudah membagi waktu agar semua perhatian bisa termonitor dengan naik. 

Namun begitu, hal ini tidak membuat para ibu menyerah dalam keadaan. Dengan berbagai hambatan dan masalah yang kerap menghadang di tengah jalan proses kehidupan, mereka tetap kuat dan teguh melangkah maju Mereka sadar, semua proses. yang dijalani dalam sebuah pernikahan adalah fase belajar terus menerus. Sehingga tidak salah bila kehidupan dalam berumah tangga kerap di sebut dengan universitas kehidupan. 

Buku Kekuatan Itu Bernama Ibu ini memang disajikan lebih berbeda dari buku-buku lainnya. Buku ini menjelaskan bagaimana peranan seorang perempuan setelah menikah, juga membagi tips dan cara untuk menjadi seorang ummahat yang kuat dan smart. Sehingga perempuan tidak hanya mampu menjadi istri dan ibu yang baik, ia pun bisa menghadapi berbagai cobaan dan rintangan dalam kehidupan rumah tangganya. Bahkan ada pula yang tetap bisa membagi aktfititas untuk memberikan manfaat dan inspirasi pada orang lain. 

Buku ini memuat 6 Bab yang dipadu dengan kisah-kisah inspiratif para ummahat, yang mengajarkan pembaca untuk lebih merenungi kasih sayang seorang ibu yang penuh 
perjuangan, kesabaran serta keiklasan untuk menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Penulis cukup jeli memilih kisah-kisah inspiratif para ummahat yang bisa membuka mata pembaca tentang berbagai sisi kehidupan yang dijalankan para ummahat ini. 

Dalam bab pertama, Kenalkan Aku Ummahat, bercerita tentang bagaimana kisah para ibu dalam menghadapi universitas kehidupannya pasca menikah. Kehidupan pernikahan ternyata jauh berbeda dengan sebelum menikah, membuat mereka terus belajar untuk menjalaninya. Di ceritakan pula lika-liku kisah para ibu yang tetap beraktifitas dakwah ataupun bekerja setelah menikah. Namun, semua akhirnya tetap bisa dijalani dengan terus belajar dan berusaha. Tentu saja dengan dukungan dari keluarga, khususnya suami dan anak-anak. 

Kehidupan rumah tangga tidak selamanya damai dan tentram, bahkan ada kalanya di terpa badai yang tidak terduka. Di bagian Ketika Badai Itu Datang, berceritakan kisah-kisah inspiratif para ibu yang tetap teguh dan kuat dalam menghadapi badai cobaan dalam kehidupannya. Kisah perjuangan seorang ibu yang menanti kehadiran anak selama 8 tahun pernikahan, menjadi salah satu kisah yang mengharukan di buku ini. Memiliki seorang Anak merupakan harapan setiap pasangan yang sudah menikah. Apa jadinya bila anak yang di harapkan tidak kunjung hadir? Dengan kesabaran dan terus ikhtiar, akhirnya ia dan suami bisa melewati semuanya. Hingga Allah memberikan keturunan pada nya.


Ada pula cerita tentang si Mbok yang rela membanting tulang untuk menghidupi anak hingga cucunya. Semua dijalani dengan terus bersabar dan terus berusaha. Anak-anaknya pun beranjak dewasa dan bisa mandiri, merupakan kebahagiaan bagi si Mbok. 

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) ternyata sering terjadi pada kehidupan rumah tangga yang terlihat normal. Dalam bagian Moms, Bangkitlah! Penulis menguraikan kisah beberapa ummahat yang mengalami KDRT dalam rumah tangganya . KDRT bisa saja terjadi dalam bentuk penyiksaan secara fisik ataupun mental kepada ibu. Ada berbagai cerita terjadinya KDRT, dari sifat suami yang emosian, adanya pihak ketiga, hingga anak yang harus dipisahkan suami dari istri dengan paksa. Para Ummahat ini menjalani dengan sabar dan kuat. Namun ada pula yang akhirnya memilih untuk berpisah karena menyadari tidak mungkin sang suami akan berubah. 

Pada bagian lain buku ini berkisah tentang para ummahat dengan kegiatan bisnisnya. Walaupun tetap melakoni peran sebagai seorang ibu dan istri, mereka tetap mengaktualisasi dalam kegiatan berbisnis. Yang menarik lagi, kegiatan bisnis ini dilakukan sembari mengurus kewajibannya berumah tangga. Indari Mastuti salah satunya, seorang ibu yang terjun dalam bidang bisnis agensi naskah dan branding. Kegiatan bisnisnya banyak dilakukan dari rumah dan menghasilkan pendapatan membantu perekonomian keluarga. 

Bagian penutup, penulis mengajak para Ummahat untuk selalu bisa move on dalam berbagai masalah yang di hadapi. Setiap manusia memang memiliki masalah, namun tidak baik meratapinya terus menerus. Bangkitlah, dan lupakan masa lalu. Allah akan mendengar setiap doa-doa yang diajukan hambanya yang selalu berusaha dan bersyukur. 

Buku ini memang sangat menarik untuk di baca dan mengambil hikmah di dari setiap cerita di dalamnya. Menjadi Ummahat yang teguh dan smart memang tidaklah mudah, namun hal itu bisa terwujud bila diiringi dengan proses belajar, iklas dan semangat untuk menjalaninya.  

Jumat, 05 Desember 2014

Ikhtiar Demi Cucu yang Ditinggal Ibunya Sejak Usia 7 Hari

Saat suami telah pergi, rasanya ada pegangan hidup yang terlepas. Sedih dan sakit rasanya. Namun, hal itu tak bisa dilakukan berlama-lama. Ada anak-anak yang menangis kelaparan. Ada mata-mata yang menanti senyuman. Mereka belum mengerti arti sebuah kehilangan. Aku terus berjuang demi cita-cita mereka, pun ketika aku harus merawat bocah kecil yang ditinggalkan oleh ibu kandungnya sendiri yang tak lain adalah anakku, ya cucuku sendiri. Demi mereka, aku rela tak kenyang, tak nyenyak tidur, demi melihat senyuman dan

sinar mata mereka yang bagiku lebih berharga. 


Si Mbok Namanya

Si Mbok, begitu orang memanggilnya. Entah siapa nama aslinya, tidak banyak orang yang tahu. Ia hidup sebagai janda dengan lima anak yang masih kecilkecil saat itu. Suaminya meninggal karena sakit. Hartanya habis karena terpakai untuk biaya berobat suaminya. 

Tapi, ia terus tersenyum menghadapi kehidupan yang penuh cobaan ini. Dalam kondisi serba kekurangan ia terus melangkah. Ia berjuang demi anakanaknya. Saat suaminya meninggal, ia bahkan memiliki seorang anak yang masih bayi. Sedangkan kakak-kakaknya juga belum mengerti kalau mereka telah ditinggal sang ayah untuk selama-lamanya. 

Si Mbok dan keluarganya tinggal di sebuah rumah kecil. Rumah sangat sederhana yang terbuat dari anyaman bambu (geribik). Rumah itu berada di sepetak tanah yang disewanya setiap bulan. Di dalamnya ada ruang duduk, satu kamar tidur, dan dapur. Ruang duduk menjadi ruang serbaguna karena saat malam tiba berfungsi sebagai kamar tidur. 

Dalam ruang tersebut digelar kasur yang dipasangi kelambu agar terhindar dari nyamuk. Kamar tidur di rumah si Mbok juga bukan kamar tidur yang layak. Hanya ada tempat tidur dan satu lemari kecil untuk menyimpan pakaian sekadarnya. Bila hujan deras, rumah akan bocor. Dan yang sangat mengkhawatirkan adalah pohon besar di samping rumah. Saat musim hujan tiba, si Mbok akan memeriksa kondisi pohon secara rutin untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Ketika anak bungsunya masih memerlukan ASI, ia tidak bisa memberikannya secara penuh. Bukannya ia tidak paham akan pentingnya ASI bagi bayi di bawah usia 2 tahun. Si Mbok cukup mengerti tentang pentingnya makanan sehat untuk bayi, tapi keadaan memaksanya untuk meninggalkan bayinya dan bekerja. Sebelum bekerja menjadi pembantu rumah tangga di sekitar rumahnya, ia menyiapkan air tajin (air hasil dari menanak nasi) untuk bayinya, dan memberikan pisang rebus yang telah dilumat halus. Dengan telaten, disuapinya bayi kecilnya. 

Setelah bayinya kenyang, si Mbok akan memandikan lalu menidurkannya terlebih dahulu di ayunan. Anak yang lebih besar kemudian diberi tugas untuk menjaga sang adik selama ia bekerja. Usia si kakak tidaklah terlalu jauh dengan si adik. Tapi berkat didikannya, si kakak mulai terampil menjaga adik. 

Mengumpulkan Rupiah

Menjelang siang, ia pulang ke rumah memeriksa bayinya yang masih terlelap di ayunan. Diberinya ASI dan makanan, lalu bekerja lagi. Paling sedikit ia bekerja di dua rumah. Sore hari ia pulang, begitulah rutinitas si Mbok. 

Menjelang malam, ia tidak langsung istirahat. Si Mbok punya keahlian memijat—yang entah diperolehnya secara turun-temurun atau tiba-tiba muncul karena keterdesakan—yang bisa menambah pemasukan untuk keluarganya. Setiap hari ada saja yang memerlukan jasa pijatnya. Ia bersyukur karena semakin lama ia semakin dikenal sebagai si Mbok tukang pijat. 

Langganan si Mbok datang dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan yang ekonominya pas-pasan yang kebanyakan adalah tetangganya sendiri, sampai orang berpunya. Bagi yang kurang mampu, si Mbok tidak mematok tarif khusus, cukup semampunya saja. Namun, tetangganya cukup paham, biasanya mereka membayar jasa pijatnya sekitar 15 ribu untuk pijat bayi dan 25 ribu untuk pijat orang dewasa. Jika langganan yang berkendaraan roda empat menjemput, si Mbok bisa mendapatkan 100 ribu atau lebih. 

Begitulah si Mbok, bertahan hidup dengan anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa. Saat anaknya akan menikah, si Mbok tidak berpangku tangan, ia berusaha mencari pinjaman untuk biaya pernikahan anak lakilakinya. Ia meminta tolong majikannya untuk meminjamkan uang. Beruntung si Mbok memiliki majikan yang baik, ia diberi pinjaman lunak yang sangat meringankan bebannya. Gaji satu tahunnya dibayar sekaligus, sementara pembayaran pinjaman dicicil setiap bulan. Jadi, si Mbok masih mendapatkan sisa gajinya setiap bulan.

Mengasuh Cucu

Ujian ternyata terus menghampiri si Mbok yang pantang menyerah ini, bahkan setelah anaknya mulai besar dan bekerja. Suatu hari anak perempuannya yang bekerja di sebuah pabrik di Jakarta pulang dengan perut membuncit. Rupanya ia tengah hamil tua. Memang
selama ini anak perempuannya itu telah berumah tangga dan memiliki dua
anak di Jakarta.
“Ada apa ini, kok tiba-tiba pulang?”
“Aku rindu, Mbok. Aku mau melahirkan di sini saja,” jawab anak perempuannya.

Si Mbok jelas menyambutnya dengan suka cita tanpa ada rasa curiga. Ia pun melepas rindu yang selama ini ditahannya. Ya, jarak dan biaya menjadi penghalang antara si Mbok dengan anak-anaknya. Ia tak mungkin mengunjungi anak perempuannya di Jakarta karena ongkos bus ke Jakarta cukup mahal bagi si Mbok.

Tak lama anak perempuannya itu melahirkan bayi yang lucu dan sehat.  Keluarga si Mbok pun menyambutnya dengan suka cita. Saat itu anak si Mbok  yang bungsu sudah mulai sekolah, sementara kakaknya sudah duduk di kelas  tiga SD. 

Kejadian tragis terjadi seminggu setelah persalinan cucunya. Sepulang kerja, dilihatnya kedua anaknya yang masih SD berpelukan dan menangis. Kaget bercampur geram, si Mbok melihat kedua anaknya memberikan sepucuk  surat padanya.
“Mbok..., Adik ditinggal!” tangis kedua putrinya sambil menunjuk bayi tak 
berdosa yang sedang tidur di kasur kecil di ruang tamu mereka.

Dadanya terasa panas saat membaca surat dari anak perempuannya itu. Isi  surat itu kurang lebih mengatakan bahwa anak perempuan si Mbok menitipkan  anak yang baru dilahirkannya. 

Maafkan aku Mbok, aku titip Tole ya. Aku tak bisa membawa Tole ke Jakarta. 
Jika Tole tetap kuajak, bagaimana aku bekerja? Anakku sudah dua, sementara 
hidup di Jakarta tidak mudah. Pihak pabrik akan memecatku jika aku terlalu 
lama cuti. 

Sambil berurai air mata si Mbok memeluk sang cucu, ibunya bahkan belum  memberikan nama untuk anaknya. Kini, ibunya telah meninggalkannya tepat  saat usianya masih seminggu.

Demi Adik

Si Mbok patut bangga dengan ketulusan salah satu anaknya yang mengalah  demi masa depan kakak dan adiknya. Ya, anak perempuannya itu dulu telah  mengalah untuk menunda sekolahnya demi menjaga adiknya yang masih bayi  saat si Mbok bekerja. Kini, mengalah lagi demi menjaga keponakannya, anak  kakaknya yang kerja di Jakarta.
“Biar aku di rumah saja, Mbok. Aku akan mengasuh Tole.” 

Episode kehidupan si Mbok kembali berjalan. Anak bungsunya bisa bersekolah  hingga SMA berkat kerja kerasnya dan pengorbanan kakaknya. Cucunya sehat  karena dijaga oleh bibinya. Walau cukup banyak lelaki ingin meminang anak  perempuan si Mbok itu, tapi ia belum berani meninggalkan Tole. 

“Mungkin nanti Mbok, tunggu adik lulus SMA.” 
Si Mbok tidak memaksa, ia hanya berharap yang terbaik untuk anakanaknya. Ia percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Tidak pernah ada  guratan gelisah atas rahmat Allah di wajah si Mbok. Si Mbok selalu riang  memahami situasi, walau masalah datang silih berganti.