Jumat, 26 Desember 2014

Asiknya Bahasa Minang

Dua hari lalu, mati lampu, kami mendongeng di kamar. Fatih minta didongeng pada zaman dahulu. Pengen dongeng singa yang besar. Maka, Ummi mulai bercerita...
Pada zaman dahulu, hiduplah 2 ekor singa bernama Leo dan Tiger. Suatu hari mereka kelaparan. Bahan makanan habis. Mereka ingin belanja di Warung Daun.
Ummi : "Gimana tuh ngomongnya mau belanja apa ya di Warung Daun?"
Faris :"Daging Ummi, bukan daun."
Ummi : "Eh iya, beli daging. Gimana tuh si singa mau belanja? Beli...iiii..." Sesuai nada kayak anak-anak belanja ke warung. Tiba-tiba Faris nyeletuk, "Bara ko ciek daging rusa, Da."
Hahahha... Aku yang dengar teryawa terbahak-bahak. Faris udah bisa bahasa Padang  sukses deh Mas Faris.

Ya, Mas Faris sudah bisa bahasa Padang, baru pindah dulu malah nangis-nangis nggak mau maen karena takut diajak temannya bahasa Padang. Ya, anak-anak di sekitar rumah banyak menggunakan bahasa Minang (bahasa Padang). Jika pas dulu Faris kalo bicara menggunakan bahasa Indonesia, bahkan kadang ngomol pake EYD hihihi....sangking jarang salahnya :) pas TK malah ditegur gurunya, "Aiih anaknya Bahasa Indonesia bangeeeeet..."

Sebenarnya, nggak memaksa Faris menggunakan bahasa Indonesia, tapi kami di rumah emang ngggak menggunakan bahasa daerah. Baik bahasa Bengkulu atau Palembang (daerahku) atau bahasa Jawa (suamiku). Selain itu buat memudahkan aja kalo acara kumpul keluarga, karena semua keponakan menggunakan bahasa indonesia. 

Faris, Fatih dan Aisyah