Senin, 26 Januari 2015

BBM Naik, Berkebun Yuuuuk...

Pernah aku upload foto di fb, kalo di Padang itu beli bumbu dapur aja mahaaaaaaal. Cuma dapat seuprit seribu, maaaaah. Kaget waktu pertama kali beli. Beda kalo di Lampung, seribu dapat seplastik xixiix...ini seribu, serehnya cuma 1 biji! hadeeeh (eh, namanya sebiji atau seruas ya? *tepok jidat).

Baiklah, pas di upload, teman-teman pada komentar, kenapa gak berkebun aja? Menanam bumbu yang sering digunakan? Hadeeh, ini nih masalahnya, dari dulu suka susah diajak berkebun. Padahal kuliah di Kehutanan? Suami, kuliah di Pertanian? Wkwkwkwk...daripada pegang cangkul, menanam atau berkebun, aku lebih suka ngetik xixiix.... tapi, baiklah..sekarang zaman apa-apa mahal, BBM naik-turun-naik-turun-cantik aja kayak tren Syahrini aja. 

Lalu, lihatlah di halamanku sekarang ada yang bersemi )

pohon pepaya

cempokak/rimbang

Jadilah ini buat masak, kalo ujung bulan lagi kantong kempis, bolehlah dipetik, irit dong :) Yuk, berkebun! :)

Senin, 19 Januari 2015

Tinggalkan Anak Sendiri di Rumah, 3 Rumah Terbakar

Mobil Pemadam Kebakaran di Depan Rumahku
Sore itu, hari nan cerah mendadak sendu. Usai Asar, terlihat di langit yang cerah asap api mengelung-gelung hitam. 

"Ummi ada rumah kebakaran!" teriak Faris.
"Rumah siapa ya, Nak. Sepertinya dekat." Aku mengira-ngira, rumah siapa ya? Sepertinya gang di depan gang rumah kami.

Abi yang baru pulang dari beli pulsa di warung segera datang.

"Ummi, ada yang kebakaran. Abi ke sana ya!" Abi segera berlari dengan membawa ember merah.

 Aku masih sibuk  ingin memandikan Aisyah. Tak lama Abi kembali lagi. 

"Cepat buka internet, cari nomer Pemadam Kebakaran Padang!"

Kebetulan laptop lagi on dengan internet, segera kucek dan kusampaikan. Abi segera menelpon.

"Sibuk. Tidak diangkat.Sepertinya sudah ada yang nelpon. Abi ke sana lagi ya!"

"Faris ikuuut.." Faris teriak.

"Mau ikuut juga!" Kali ini Fatih merengek.

Anak-anak dan Abinya ikut serta. 

Tak lama, gang di depan rumah sudah padat dengan orang-orang yang mau melihat lokasi rumah yang terbakar. Tapi, karena mobil Pemadam Kebakaran akan datang, mereka hanya nonton dari jauh. Gangnya kecil dan ada yang pesta di depang gang rumah yang naas itu.


Dari jauh melihat rumah yang terbakar
Tak lama mobil Pemadam Kebakaran datang. Ada 4 tau lebih yang datang. Ngebuuut sekali. Buat yang dekat dengan lokasi kebakaran atau melihat, sebaiknya jangan parkir kendaraan di sekitar lokasi, akan menyulitkan Pemadam Kebakaran lewat, bahkan cerita seorang ibu ada anak yang tertabrak saat mobil lewat, tapi bukan di sini, dulu si Steba. Iiiih seremkan?

Desas-desus penyebab kebakaran 3 rumah itu beredar. Kabarnya pemilik rumah tidak di tempat. Hanya ada 2 anaknya seusia SD di rumah. Dua anak tersebut bermain korek di kamar dan kena tempat tidur. Api melahap semua dengan cepat, dua rumah di sini kanan dan kiri ikut terbakar. Innalillahi....

Kabarnya lagi, kedua anak tersebut kerap ditinggal di rumahnya, bahkan dikunci dari luar. Ibunya bermain bad minton (bulu tangkis) dan ayahnya entah ke mana. Catat ya, jangan tinggalkan anak di rumah tanpa pengawasan orang dewasa. Untungnya, kedua anak tersebut selamat, tapi apa daya, 3 rumah terbakar. Bahkan ludes tanpa sisa. Yuk, ayah bunda, waspada! 

Sabtu, 17 Januari 2015

Sekilas Tentang Isi Buku La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu


Alhamdulillah terbit juga buku soloku ini. Diterbitkan oleh agensi naskah, Indiscript. Prosesnya cukup lama juga loh, 2 tahun. Lama ya? Hihihi...ngantri bo! Gimana prosesnya? Jadi, aku mengajukan outline via Indiscript, setelah di acc baru deh aku nulis. Dikasih waktu hanya 1 bulan, eeeh...aku molor, hahhaha....waktu itu aku masih ngajar, jelang resign buku ini selesai. Sempat beberapa kali revisi dan akhirnya kelar juga, legaaaaaaa....
Deg-degan waktu buku ini mau cetak. Disuruh editor buat sinopsis untuk cover belakang. Aiih....ini pengalaman pertama buat sinopsis bukuku. Jadillah aku baca-baca cover buku koleksiku dan taraaaaa...akhirnya jadi juga :) 
Pas lihat covernya, aiih imutnya. Sempat juga sih pengen milih cover lain, tapi ini udah naik cetak, ooow...makin nggak sabar buku ini ditangan. Alhamdulillah Agustus 2014 buku ini datang ke rumah. Uhuy... sekarang sudah punya buku solo :)
Nah, bagi yang penasaran isinya (beli ya nanti..., hihihihi....) ini sekelumit isinya :) Ada juga beberapa resensinya di sini dan di sini
Duajurai.com, Bandar Lampung - Terbitnya buku “La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu” telah menghapus julukan “Ratu Antologi” yang tersemat pada Naqiyyah Syam, mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Lampung. Maklum, penulis buku itu telah menghasilkan 30-an buku antologi yang dikerjakan secara “keroyokan”. Buku yang diterbitkan Penerbit Khalil, Imprint PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, ini berisi seputar kehidupan ibu.
“Ada perjuangan ibu yang super sekali, kesabaran menanti datangnya buah hati yang bertahun-tahun ditunggu, cara menghadapi anak yang istimewa atau berkebutuhan khusus, menghadapi kekerasan dalam rumah tangga, dan sebagainya. Intinya sih cerita faktual kondisi yang dihadapi ibu dalam berumah tangga,” kata penulis bernama asli Sri Rahayu ini kepada duajurai.com, Senin, 12 Januari 2015 via telepon. Naqiyyah sendiri kini berdomisili di Padang, Sumatera Barat, mengikuti suaminya, Ahmad Suryanto, yang sedang mengambil magister di Universitas Andalas.
Naqiyyah menuturkan, buku setebal 145 halaman ini sudah tersedia di Toko Buku Gramedia di seluruh Indonesia sejak pertama kali rilis Agustus 2014. Sebagian narasumber buku ini, kata dia, adalah orang-orang terdekat yang mempunya kisah hidup inspiratif. “Harapannya, buku ini bermanfaat untuk semua ibu di Indonesia. Juga untuk suami dan anak-anak mereka. Ketegaran, kesungguhan, optimisme, dan segala hal yang positif, termaktub dalam buku ini,” ujarnya.
Ini adalah buku pertama Naqiyyah yang ditulis sendirian (solo). Sebelumnya, ia bersama penulis lain menghasilkan 30-an antologi atau kumpulan karya bersama

Pecah Telur Terbitkan Buku Solo, Hapus Julukan "Ratu Antologi"

Duajurai.com, 12 januari 2015
Tanggal 12 Januari 2015 lalu, aku diwawancara wartawan Duajurai.com. Ini hasilnya :) Bisa juga baca di sini.


Duajurai.com, Bandar Lampung - Mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Lampung, Naqiyyah Syam, menghapus julukan “Ratu Antologi” yang sempat ditahbiskan sesama rekan penulis di Lampung. Kepada duajurai.com, via ponsel, Senin, 12 Januari 2015, penulis bernama asli Sri Rahayu ini mengatakan, buku solonya berjudul “La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu” menjadi bukti ia bisa menulis secara sendirian.

“Maklumlah, Bang, selama ini kan aku lebih banyak nulis buku keroyokan, antologi gitu. Hampir 30-an buku antologi yang aku ikuti. Wajar kalau kawan-kawan di FLP Lampung dulu menjuluki aku ‘Ratu Antologi’,” kata dia.

Istri dari Ahmad Suryanto ini menuturkan, menulis solo memang lebih berat ketimbang bersama penulis lain. Sebab, semua ide digali dan dicari sendiri oleh penulis. “Belum lagi soal menulisnya. Kalau antologi kan lebih sederhana, setiap penulis diberi jatah satu atau dua tulisan. kalau solo kan mesti semua aku kerjakan,” ujarnya.

Alumnus Universitas Bengkulu ini menambahkan, ia butuh waktu 1,5 bulan untuk menuntaskan semua naskah dalam buku ini. “Tadinya antara yakin dan enggak, bisa tidak aku nulis solo. Ternyata alhamdulillah bisa. Buatku yang pendatang baru di buku solo, waktu 1,5 bulan itu cukup pendek. Syukurnya selesai,” kata dia.

Buku ini sendiri diterbitkan Penerbit Khalil, Imprint PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, akhir 2014 lalu, dan sudah tersedia di Toko Buku Gramedia di seluruh Indonesia

x

Piala Tahfidz Untuk Faris

Faris ketika kelas 2 SDIT Permata Bunda
Faris sejak kecil suka bermain di halaman. Melihat laba-laba, keong, memancing ikan, nangkap kodok, hingga ngoleksi batu. Susah diam deh kalo di ruangan. Bahkan ketika TK dapat predikat prestasi natural. 


Kalau pelajaran, Faris suka pelajaran IPA, pelajaran PAI juga suka sih, MTK kadang suka, kadang ngambek, PR-nya banyak. Ini sejak di SDIT Permata Padang aja nggak ada PR, dulunya sih enggak (SDIT PB Lampung). 



Kalo dari tes Iq, Faris nyaris seimbang kemampuannya. Jadi, kami belum mengarahkan kemana2. Di rumah, Faris suka menggambar. Gambar komik, apa saja yang dibaca atau ditontonnya dijadikan tokoh menggambarnya.



Suatu hari, di sekolahnya akan dibagikan piala prestasi anak setiap siswa (rata sekelas). Acara sudah dimulai dari pagi, nama Faris belum dipanggil-panggil. dari berperestasi Matematika, Sains dan lainnya. Faris ngambe pulang, maklu, rumah dengan sekolah dekaaaat bisa lari aja hihihi ...(rumah di Lampung ya, kalo rumah di Padang jauuuuh...). Nah, tinggal Abi sendirian di sekolah nungguin piala Faris.



Faris sedih, takut nggak dapat piala, teman-temannya sudah semua. Dan ternyataaaaaaa... Faris dapat  piala loh, pialanya prestasi tahfidz, alhamdulillah....