Selasa, 30 Juni 2015

Toples-toples Ibu

Toples-toples Ibu

"Bu, sudah malam, tidur yuk!" ajakku. Rasa ngantuk sudah menggodaku untuk segera merebahkan diri. Tapi, ibu masih sibuk dengan toples-toples itu.

"Sabar, sebentar lagi."

Ah, rasanya malas banget menemani ibu merapikan toples-toples itu. Ya, toples-toples jadul itu sejak masuk Bulan Ramadhan, sudah dicuci bersih. Dikeringkan dengan diletakkan terbalik pada selembar koran. Agar airnya kering. Lalu, dilap bersih dan siap diisi kue. Kenapa toples jadul? Atau tepatnya kami sering menyebutnya gelok. Gimana enggak jadul, bentulnya enggak kece seperti toples sekarang yang bening, menarik dan jreng.

Nah, untuk itulah, ibu sampai begadang. Toplesnya mau dipakaikan baju! Ya, ibu punya kebiasaan baru, toples lama yang jadul atau bahkan tutupnya yang sompel itu disulap. Toplesnya dipakai manik-manik atau renda bekas,  dilem dengan lem tembak. Dan... tara...jadi cantik sekali.

"Jadi, toples itu buat diisi kue semua, Bu?" tanyaku. Ibu mengangguk-angguk. Hah? Banyak banget! Tapi, itulah ibuku, toples-toples itu akan diisi dengan kue bikinannya sendiri. Bahkan, kue dari lebaran Idul Fitri hingga ke lebaran Idul Adha masih ada. Kebayangkan banyaknya isi toples itu. Memang sih ada yang bukan buatan sendiri. Ada dibeli kakak-kakakku, ada yang dikasih saudaraku tapi lebih banyak dibuat sendiri. Hadeeeh, alamat begadang euy!

"Kalau tidak ada kuliah, temani buat kue ya!" ajak Ibu. 

Begini-nih yang bikin hati luruh. Maklum, keempat kakakku sudah menikah, aku sebagai anak bungsu menemani ibu, termasuk ikut buat kue. Saat lebaran kue andalan ibu cukup banyak seperti nastar dan kue kastagel. Dua kue ini primadona deh. Aku paling suka nemani ibu membuat kue nastar isi nanas. Biasanya aku kebagian mengoles dengan kuning telurnya. Lalu memasukkan ke oven. Kue nastar dan kastagel dua-duanya diberi toping taburan keju sebelum di panggang. Ibu memilih Keju kraft , membuat kue primadona keluarga semakin nikmat. 

Senin, 22 Juni 2015

Awas, Pencuri di Bulan Ramadhan!


Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Bulan penuh pahala. Jika tidak pandai mengelola waktu, maka kita akan tergilas. Sungguh, tidak akan mendapat apa-apa kecuali hanya lapar dahaga. Untuk itu, segera sadari hal-hal yang menganggu konsentrasi ibadah kita. Kenali bahaya disekitar kita, agar tidak ada pencuri masuk di Bulan Ramadhan ini. Pencuri apakah itu? Yuk, simak!

1. Televisi
Di Bulan Ramadhan, banyak tayangan sinetron yang bagus-bagus. Ada juga hafidz, AKSI, dan kartun Islami. Nah, tayangan itu boleh-boleh saja ditonton, tapi eh tapinya ya, tetap juga dikontrol. Jangan sampai terlena. Hati tertaut dengan kelanjutan sinetron, sedangkan tilawah tidak dilanjutkan. Mentok hanya 3 lembar. Kalo begitu, kita sudah "kecurian" waktu kita sudah habis untuk nonton TV saja. 

Saya punya pengalaman saat kuliah. Saya berlomba-lomba dengan teman untuk mencatat ceramah atau kultum di TV. Jadilah kami punya buku catatan kultum loh. Nah, kalo nonton TV yang bermanfaat hasilnya juga bagus. Apalagi kalo hasil kultum/ceramah itu disalin ulang dengan bahasa sendiri, ditulis di blog, di share akan bermanfaat bagi orang banyak.


2. Pasar
Siapa yang suka belanja ke pasar? Saya juga suka dong! Tapi, hati-hati. Terkadang banyak ibu-ibu pengennya belanja sayur A, tapi pas lihat baju B eh kepengen beli juga. Belum kalau kantong enggak pas, gimana tuh? Hihihi... entar lama muter-muter keliling pasar biar dapat harga yang murah. Waktunya habis buat belanja doang. Mending ditulis dulu apa saja yang akan dibeli, sesuaikan dengan kebutuhan. Jangan lapar mata. Beli bukaan banyaaak banget.

Eiya, dulu ada kejadian di Lampung, menjelang ramadhan, seorang ibu membawa bayinya berusia di bawah 3 bulan. Bayinya meninggal karena kurang oksigen. Belanja jelang ramadhan kan berdesak-desakan, ramai banget. Na'uzubillahimindzalik, semoga kita terhindar dari seperti itu ya? Berarti amannya gimana? Belanja online kali ya? Hihihi....

3. Begadang
Ada yang suka begadang? Ups, suami saya suka begadang bikin tugas kuliah. Capek banget katanya. Badan jadi mudah lemes. Nah, kalo tidak diimbangi dengan makanan bergizi, efeknya beribadah kurang semangat. Untuk itu, bagi yang begadang tanpa ada tugas darurat. Hindari ya! Begadang akan mencuri waktu sepertiga malammu. Padahal, itu waktu yang pas banget buat tahajud memohon ampunan bagi Allah. So, jaga waktu jangan begadang ya!

4. Dapur
Saat Bulan Ramadhan, banyak banget ibu-ibu sibuk di dapur. Mau masak sayur A, masak sayur B, kue C, cemilan D, es E, wiiih segudang deh mau dimasakin (lebay dot com). Boleh aja masak ini itu tapi jangan lupa sedekah kiri kanan ya, hihihi.... memberi ta'jil bukaan bagi oran berpuasa samaloh pahalanya dengan orang berpuasa itu. Kalo masak juga ingat waktu, entar kecapekan eh malah enggak terawih kan sayaaaaang...

5. Hp
Aiih kemana-mana bawa hp, tidur juga dengan hp, lagi buka, sahur, terawih, hp selalu bersamamu. Gunakan hp dengan bijak. Ada saatnya hp diletakkan dulu. Gunakan waktu untuk lebih dengan dengan keluarga. Hp pencuri yang pintar banget. Mau cari resep langsung buka hp, mau cari alamat buka saja hp tapi..... hp juga suka menghipnotis, buka fb, buka WA buka twitter...terlenaaaaaa lupa tilawah. Eh, tapi ya, hp juga ada aplikasi Al Quran ya? Okelah kalo gitu, boleh deh pegang hp untuk hal bermanfaat tapi tetap berhati-hati.

6. Kikir
Sikap kikir akan menjadikanmu sombong. Padahal ya hanya Allah yang boleh memakai pakaian kesombongan. Makhluk seperti kita tidak boleh sombong. Apa coba yang mau disombongkan? Menghirup oksigen gratis itu anugrah Allah, semua karena kasih kayang-Nya. So jangan kikir. Bersedekahlah kepada orang yang membutuhkan. Apalagi di Bulan Ramadhan. Pahalanya gede loh!

7. Majelis yang Kosong Dari Mengingat Allah
Pencuri ini lihat sekali. Dibungkus dengan kegiatan ngabuburit atau menunggu azan maghrib saat berbuka dengan acara yang tidak bermanfaat. Duduk-duduk di tempat pariwisata atau ngobrol haha-hihi tanpa ujung pangkal. Ow, kasihan sekali, waktumu sudah dicuri. Segera benari, mumpung ramadhan baru 5 hari! Yuk, sayangi dirimu agar pencuri tidak masuk di Bulan Ramadhan ini.

Itulah beberapa hal yang dapat saya share dari hasil pengajian saya di sebuah senja hari. Semoga bermanfaat dan Ramadhan kita berkah. 


Rabu, 17 Juni 2015

Target Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Di mana banyak sekali pahala yang Allah berikan untuk umatnya. Nah, jika amalan lainnya bisa 10 kali, 700 kali nilainya, tapi kalo puasa di bulan ramadhan, hanya Allah yang akan menilainya.

Allah Swt berfirman (yang artinya, "Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Ahmad).

So, jangan siakan amalan di bulan suci ramadhan.

Ini contoh menuliskan target ibadah di bulan Ramadhan. Bisa seperti ini atau lebih juga akan sangat bagus :)


1. Sholat wajib tepat waktu.
2. Puasa Ramadhan
3. Sholat Terawih
4. Sholat Dhuha
5. Sholat Tahajud 
6. Sholat witir
7. Membaca Al Qur'an 
8. Menghafal
9. Sedekah
10. Mendengarkan pengajian/ceramah
11. Baca buku islami
12. Silaturahi


Nah. Moms, bisa lebih detail lagi membuat target ibadah di bulan ramadhan-nya seperti ini :

1.  Tilawah Qur'an  : khatam min 1,5 kali
2.  Qiyamul lail (tahajud) :  tiap malam
3. Sholat dhuha : setiap hari
4. Al matsurat kubro : min 1 x /hari
5. Hapalan Al Qur'an : juz 29 surat Al Muzzamil 
6. Memberi Ta'jil : min 5 x
7. Terawih : tiap malam


Nah, bagaimana target ramadhanmu?



sambut ramadhan 



Senin, 15 Juni 2015

Ibu Cerdas, Pilih Mi Instan Sehat, Mi Tropicana Slim Dong!

Sejak dulu aku suka makan mie. Makanan yang ada mie-nya, rata-rata aku suka. Dari mie ayam, mie celor, mie tek-tek, hingga mie instan. Dulu, rumahku ramai. Orang tuaku punya beberapa anak angkat. Kalau beli mie instan, bisa sekardus. Itu stok untuk satu bulan. Wow, bisa puas dong makan mie? Banget!

Tapi, setelah menikah, aku dilarang makan mie instan oleh suamiku. Bukan karena suami enggak doyan makan mie. Doi juga menerangkan bahaya makan mie instan. Jadilah aku ngumpet-ngumpet kalau "sakau" mie instan, hahaha...

Sampai suatu hari, anak keduaku yang berusia 2,5 tahun kala itu, nangis terus menerus minta mie.

"Mau makan mie! Mau makan mie!"

Dibujuk makan yang lainnya, tetap menolak. Aduh, pusing deh tujuh keliling! Apalagi di rumah jarang makan mie, kenapa anakku jadi kayak ketagihan begini? Padahal, aku sangat menjaga makanan MPASI Homemade loh, walau kala itu, aku masih menjadi ibu bekerja.

Usut punya usut, ternyata anakku ketagihan karena ART ak Asisten Rumah Tanggaku sering masak mie instan. Anakku sering dikasih. Dia masak saat aku bekerja. Hingga saat dia berhenti (aku sudah resign dari bekerja) baruah ketahukan. Olala... nasi sudah menjadi bubur, anakku jadi doyan banget makan mie instan. Akhirnya dibuat kesepakatan, boleh makan mie instan asal 1 bulan sekali saja. Jiaah, lama juga ya? Hehehe...

Berburu Mie Instan Tropicana Slim

Suatu hari, aku melihat iklan di facebook mengenai mie instan yang sehat. Aku langsung memberitahu suamiku, "Bi, boleh ya, nyoba makan mie instan, kabarnya loh, Mi Kering Tropicana Silm itu beda loh, plis...plis...boleh ya," rayuku.

Setelah di acc suami, aku dan kedua anakku meluncur berburu Mi Kering Tropicana Slim di sebuah mall terbesar di Padang, Basko. Jauh loh perjuanganku membeli Mi Kering  Tropicana Slim, tapi demi anak-anak aku siap bawa motor sekitar 50 menit dari rumah menuju Mall Basko.

Faris dan Fatih bersama  mi kering  tropicana slim
Betapa senangnya aku mendapatkan mie yang dicari. Harganya memang lebih tinggi dari harga mie instan lainnya, sebungkus 9 ribu. Kalau mie instan biasa hanya 2500 rupiah. Bedakan ya? Tapi, kualitasnya jelas beda loh. Mau tau kenapa?

Nah, pas aku masak, emang beda banget dengan mie instan biasanya.

siap masak mi kering  tropicana slim
Mula-mula, siapkan air, setelah mendidih, masukan Mi Kering Tropicana Slim. Tak lama aduk-aduk. Lihat deh airnya tetap jernih loh, beda banget dengan mie  instan biasanya. Lalu, ditiriskan hingga airnya mentes-tes... setalah itu campurkan bumbu-bumbunya.

Jika di mie instan biasanya, aku harus merebus dengan cara dua kali. Jika masak mie rebus, setelah air mendidih, aku masukan mie rebus setelah lembut, aku ganti air yang baru lalu masukkan bumbunya. Tau kan kenapa harus ganti air? Karena banyak sekali zat kimianya en bahan pengawetnya. Apalagi kata temanku yang perawat, ada zat lilinnya. Iiih seremkan?

Beda banget dengan Mi Kering Tropicana Slim, air rebusannya tetap jernih. Enggak berubah, kenapa berbeda? Karena Mi Kering Tropicana Slim dibuat dengan cara dipanggang, bukan digoreng loh, sehingga kandungan lemaknya jadi rendah. Ini menjadikan Mi Kering Tropicana Slim mengandung rendah kalori dan rendah kandungan garam. 

Buat kamu yang takut ndut, enggak masalah dong makan Mi Kering Tropicana Slim, hehehe... seperti suamiku xixixi....perutnya yang ndut :p

Jika masih ragu, bandingkan deh mi instan kering Tropicana slim dengan mi lainnya :) Kamu pasti enggak akan ragu lagi :) 



Nah, kalau sudah tercampur bumbu, siap disajikan dong Mi Kering Tropicana Slim rasa ayam bakarnya? Nyam-nyam...anak sulungku Faris suka banget deh. Suamiku sampai bilang,, "Asyik nih ada mi instan sehat, Ummi emang cerdas!" Hohoho.... istri mana yang enggak senang dipujikan? Hehehe....


Mi Kering Tropicana Slim rasa ayam bakar

Faris dan Mi Kering Tropicana Slim rasa ayam bakar


Kamu mau mencoba? Yuk, makan Mi Kering Tropicana Slim, enggak pake takut lagikan? Ibu cerdas pasti pilih Mi Kering Tropicana Slim :)


Sumber :
http://www.tropicanaslim.com/makan-mi-gak-masalah-dong-blog-competition/
http://www.tropicanaslim.com/tropicana-slim-noodles-saat-makan-mie-instant-gak-jadi-masalah-lagi/



Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba "MAKAN MI, GAK MASALAH DONG!" 

Minggu, 14 Juni 2015

Resensi Buku Kekuatan Itu Bernama Ibu di Lampung Post

Alhamdulillah ada bukuku La Taias for Ummat, Kekuatan Itu Bernama Ibu diresensi apik oleh Mbk Fitri Restiana di Lampung Post. Terima kasih Mbk, semoga berkah bagi yang menulis resensi ini dan bagi yang membacanya. Penampakan menyusul ya. Yang mau baca ada epaper Lampung Post.



Bagi yang mau ngirim resensi ke Lampung Post caranya :  ketik sejumlah 4.000 karakter. 

Kirim ke email :    lampostminggu@yahoo.com  atau redaksilampost@yahoo.com




Resensi Buku La Taias for Ummat, Kekuatan Itu Bernama Ibu di Lampung Post 

Ketika Anak Belajar Dagang

Sudah tiga hari ini Faris belajar dagang. Sebenarnya, bukan disuruh loh. Ini inisiatif Faris sendiri. Kartu Boboiboy-nya di plastik lalu di tempel di sebuah kardus. Ini kartu yang sudah dibelinya jadi bukan baru-baru banget. "Loh kok dijual? Emang laku?" Aku sendiri sempat bertanya-tanya. Apa ada yang mau membelinya?

Ternyata cukup rame loh. Sehari bisa laku 6-8 ribu. Yang beli, selain anak-anak tetangga, pelangan setianya ada adiknya sendiri alias Fatih hahahha....si Fatih nangis minta dibelikan kartu jualan Mamas-nya.

"Mau beli kartu Mamas...." rengeknya.

Lucukan? Masa kakaknya jualan, adiknya yang beli terus yang bayar Abinya, tekooor hahhaha....

Tapi, aku biarkan saja, sejauh mana Faris belajar jualan. Sampai suatu malam Mas Faris minta dibuatkan telur dadar. Aku bilang telurnya habis. "Ya udah Mi, pakai uang Mamas aja." Tak lama, Faris pulang dengan 3 telur dari warung. Haruuu deh. Mas Faris peduli banget, enggak pelit uangnya dipake buat beli telur.

Hari ini,Faris jualan lagi. Tapi mulai sepi, sebabnya sudah ada beberapa anak-anak tetangga yang berjualan juga seperti Faris. Lebih kerennya, mereka berkeliling dari rumah kerumah. Ada 4-6 anak yang berdagang sama persis, hahahha....aku lucu deh, kayaknya cuma anak-anak di Padang berani jualan begini. Di Lampung, enggak ada yang langsung berani jualan kalau lihat temannya berjualan :)

Nah, tadi Faris mulai nanya, "Besok, jualan apalagi ya, Mi?"

Tuing-tuing :D


Kartu Boboiboy


Jualan Boboiboy


Kamis, 11 Juni 2015

Alhamdulillah, Faris Hapal Juz 'Amma

Piagam Faris Hapal Juz 'Amma


Alhamdulillah hari ini Faris bagi rapor, naik kelas 4 dan lulus tahfidz Juz 'Amma. 

Kamis, 04 Juni 2015

Aisyah Delapan Bulan

Sebenarnya udah lama mau cerita tentang usia Aisyah yang sudah 8 bulan. Alhamdulillah Aisyah sudah banyak kepintaran, hohoho... tapi di usia 8 bulan ini banyak banget kisahnya.

Pertama, Aisyah kena alergi. Huhuhu.... ini belum ketahuan penyebab utamanya. Sorenya Aisyah aku beri Oetmal. Malamnya sih enggak apa-apa. Paginya, sarapan dengan buah aja. Lalu, udah mandi mau tidur, rewel, mendadak mukanya merah. Terus badannya jadi panas. Seharian aku menyusuinya agar panasnya turun. Alhamdulillah siangnya udah hilang merah-merah di pipinya. 




Pas pagi, aku sempat mengira bukan alergi, rapi kena campak. Soalnya, seorenya ketemu anak tetangga yang maen di depan rumah. Ia di gendong ibunya. Usianya lebih 3 bulan dari Aisyah. Katanya, baru demam semingguan ini karena campak. Badannya merah-merah dan sekarang agak kehitaman. Dari sana aku mulai berpikir, Aduh, apa Aisyah keba campak juga ya? Sedikit yang aku ketahui, campak menular dari udara. Hohoho.....baru nyadar, ini kali ya penyebab orang tua suka melarang anak bayi dibawa keluar rumah. Anak bayi rentan dengan udara, banyak penyakit menular dengan udara aja. Huaaah bisa juga karena udara sekarang enggak sejernih kayak dulu zaman kita kecil hihihi...dulu mah gak ada enyakit aneh-aneh. Lagian di kampung, anak-anak bayi pada mandi air sungai enggak pake mandi air hangat :) anak di kota aja yang terlalu disayang-sayang ya, termasuk aku hihihi...belum tega ngasih Aisyah mandi air dingin :) 


Nah, balik cerita usia Aisyah yang 8 bulan. Aisyah sudah mau makan teksur agak keras (biasanya bubur saring agak encer), terus pernah 1 minggu demam panas. Huhuhu...aku ampe drop, ampe panik ini anakku kenapa ya? Kena DBDkah? Jadi ceritanya, pulang jalan-jalan ke Basko, malamnya Aisyah rewel luar biasa. Dia enggak mau tidur di kasur, maunya gendongan aja. Kukira demam masuk angin, aku pijatin seluruh tubuhnya. Eh, enggak mempan juga. Kukasih daun jarak yang udah dilayur pake api kecil plus dikasih minyak telon (pas Maghrib minta ama tetangga), eeh enggak juga mau. Jadilah aku begadang deh gendongin Aisyah. Dan itu terjadi 3 malam berturut-turut enggak mau lepas gendongan. Aku tepar banget :( tapi demi anak gitu ya. 

Lalu, kami membawa Aisyah ke dokter. Dokter umum dekat rumah. Dokter ini rekomendasi dari tetanggaku. Sampai di sana, ngantrii panjang, eh ternyata pas mau masuk, dokternya enggak ada yang di dalam dokter pengganti. Aduh, aku sempat ngedomel, "Yaa mending ke bidan aja deh," rajukku pada suami. 

Tak lama nama kami dipanggil, baru duduk eh ada ibu hamil nyelonong masuk, minta diperiksa duluan. Makin sebel. Lah, si ibu enggak pake ngantri, maen masuk aja. Enggak juga darurat. Wong dia sendirian pake baju tidur gitu. Jiaah, makin enggak nyaman deh.

Pulangnya dikasih obat paracetamol dan anti muntah yang sudah digerus. Malamnya Aisyah udah enggak panas, tapi masih digendongan. Besoknya, aku enggak tahan gendongan terus, dari pesan teman, dia ngingatkan, apa Aisyah perlu dipijat? Aku jadi ingat beberapa kali Aisyah jatuh dari tempat tidur dan belum aku pijat. Aisyah aku pijat sendiri aja. Jadilah paginya aku ke tukang pijat dekat rumah. Setelah dipijat alhamdulillah Aisyah mau tidur di kasur.


manyun
Aisyah sakit tumbuh gigi
Tapi masih gelisah, panas-turun eh panas lagi. Huhuhu... aku sempat senewen. Aisyah kenapa ya? Ngeri juga kalo DBD, tapi eh tapi DBD cirinya enggak gini. Cirinya kayak mau tumbuh gigi en masuk angin aja. Kalo mik ASI suka ditolak. Dikenyot eh dilepas lagi, kagak ngilu kalo kena giginya. Terus...kalo makan susah, dikemut-kemut, dilepeh tapi tekstur maunya agak keras. Nah, kedua Mamasnya dulu enggak ampe kayak gini. Jadilah ini pengalaman pertama.

Setelah 7 hari, Alhamdulillah nonggol gigi yang di bawah. Huaaah senangnya, terus Aisyah udah mau ketawa, terus lincah lagi, makan udah mau walau belum selahap sebelum sakit.Wah, selamat tumbuh gigi ya sayang :)


Tumbuh gigi pertama 


Alhamdulillah sekarang Aisyah sudah 9 bulan. Bagaimana kisah di bulan 9 ini? semoga Aisyah sehat ya, amin.