Kamis, 23 Juli 2015

Kado Milad ke-35


Milad ke-35
Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan kepadaku usia yang k-35 tahun. Pas milad, pas Idul Fitri 1436 H. Masya Allah bahagianya karena tahun ini keempat kakakku berkumpul di Bengkulu. Kota tempat kelahiran ayahku. Aku dibesarkan di Bengkulu setelah usia 1 tahun di kota kelahiranku, Jambi.

Pulang ke Bengkulu membawa sejuta bahagia. Aku bisa menghirup udara Bengkulu setelah 3 tahun tidak mudik. Setelah 10 tahun merantau sejak aku menikah tahun 2005. Bengkulu membawa sejuta makna. Di mana kenangan bersama Ayah dan Ibu. Juga kenangan bersama kedua pamanku, Pakwan dan Datuk Ambon.

Milad ke-35 ini awalnya kakak-kakakku mau buat acara khusus, berasa kayak anak ABG aja ultah dirayakan ya? Eh, emang sih ada yang berpikir ini acara seremonial mubazir, tapi... aku ngambil sisi positifnya aja. Milad menjadi penanda usia telah bertambah tapi sejujurnya telah berkurang.

Dapat kado apa Milad ke-35?


"Ummi, Abi enggak bisa ngasih kado apa-apa, tapi anggaplah apa yang telah diberikan selama ini adalah kado terindah dari Abi." 



Begitulah suamiku memberikan ucapan saat hari miladku tiba. Oiya, emang selama aku ultah, suamiku enggak pernah ngasih kado yang khusus. Tapi, Abi sudah memberikan banyak pada kami. Tak perlulah dihitung, walau kalo dikasih kado spesial enggak nolak sih ya, hahahha...


Lebaran kedua kakak-kakak mulai berdatangan. Dari Jambi datang pukul 20.00 WIB, dari Jakarta delay melulu, baru datang jam 23.00 WIB. Saat itu aku tertidur karena sejak 3 hari sebelum lebaran, asmaku kambuh. Untunglah suami keponakan sesama penderita asma bawa obat, setelah makan obat baru sedikit lega.

Tak ada persiapan khusus, tetiba keponakan membuka donat dan menyalakan lilin, semua berkumpul dan kami berdoa bersama dipimpin oleh Abi. Ada kado dari kakak tertua, sebuah dompet berwarna kuning keemasan, alhamdulillah dompet buat angpao hahahah....

Terharu banget karena milad kali ini keempat kakak ada, keponakan, keluarga ngumpul dan makin haru saat kami ziarah ke makam Ayah dan Ibu.

Milad kali ini aku berharap semoga usiaku berkah, dapat menjadi ibu yang baik dan menjalankan amanah yang baik pula sebagai istri. Semoga kelak kami berkumpul di Jannah-Nya, amin.

Kamis, 16 Juli 2015

Menulis Resensi Buku Anak di Kompas

Alhamdulillah, berkah Ramadhan, berkah doa emak rempong, resensiku dimuat di media nasional, Kompas. Atas buku Mbk Nelfi Syafrina pada Ahad, 5 Juli 2015.


Resensi Buku Teka-teki Ceria Islam, Ramadhan di Kompas


Aku kirim resensi ini tanggal 11 Juni 2015, wiih termasuk cepat ya dimuat? Alhamdulillah rezekiku sesuai tema dan momennya. Ini resensi yang ke-3 aku kirim tapi baru 1 jebolnya hihihi.... obat galau suralau setelah maju-mundur cantik pengen narik resensi yang pernah dikirim.

Nah, buat kamu yang enggak pengen galau, yuk kirim naskahnya ke Kompas, berikut syarat-syaratnya :

Pertama
Pilih buku yang menarik, unik dan menurutmu sangat direkomendasikan untuk anak. Usahakan buku baru, min 6 bulan setelah terbit. Semakin baru, peluang akan semakin besar. Apalagi kalau tema tematik. Contoh, 3 bulan ke depan akan Bulan Ramadhan, segera tulis resensi buku yang bertema Ramadhan. Kenapa 3 bulan? Biasanya ngantri mau diterbitkan. Jarang banget yang 1 bulan atau 2 minggu diterbitkan :)

Kedua
Ketik naskahmu maksimal 200 kata. Wow, sedikitkan ya? Jadi jangan panjang kali lebar. Pilih kata-kata yang efektif. Bingung? Baca dulu sinopsis buku yang kamu punya, lalu ramu dengan hasil bacaanmu. Beri tanda dengan stabilo atau tulis ulang di kertas atau langsung ketik kata-kata yang menarik menurutmu.

Ketiga
Kirim resensinya ke kompas@kompas.co.id / kompas@kompas.com / opini@kompas.co.id / opini@kompas.com (semuanya dikirim pake cc, soalnya biar nyampe, kalo redaktur nyampe ke email satunya belliau akan cc ke admin email lainnya).

Keempat
Lengkapi biodatanya. Kirim dengan subjek email Kompas Anak_Resensi Buku (judul buku)_nama, di lampirkan 2 naskah. Satu naskah resensi yang telah lengkap dengan cover buku yang sudah discan (boleh dari google) dan lampiran kedua khusus foto/scan cover buku saja.

Kelima
Lengkapi naskahmu dengan biodata lengkap. Nama, alamat, no hp, no NPWP (jika ada), no rekening, dan scan KTP.

Keenam
Lengkapi resensimu dengan keterangan buku yang lengkap. Seperti judul buku, penulis, cetakan, ISBN, penerbit dan harga buku (jika ada).

Ketujuh
Kirim segera, jangan tunggu lama-lama. Iringi dengan doa dan harap kepada Allah, semoga resensimu dimuat, lumayan loh honornya 200 ribu. Tidak ada pemberitahuan naskah dimuat atau ditolak. Jadi, jika lebih dari 6 bulan kamu bisa tarik naskahmu dengan cara mengirimkan email penarikan. Silakan cek setiap minggu Koran Kompas, semoga naskahmu dimuat ya :)

Berikut contoh resensiku yang dikirim :)

Judul buku : Teka-teki Ceria Islam, Ramadhan
Penulis         : Nelfi Syafrina
Cetakan         : Januari 2015
ISBN : 978-979-045-818-5
Penerbit         : Tiga Ananda, Imprint Tiga Serangkai
Hal : 16 halaman

Ramadhan adalah bulan suci penuh berkah dan agung. Bulan istimewa bagi seluruh umat Islam, termasuk Naufal dan Ica. Di hari pertama Ramadhan, Naufal dan adiknya Ica melakukan banyak kegiatan yang bernilai ibadah. 

Usai makan sahur, Naufal ingin tidur lagi. Tapi, Ia ingat, pahala sholat ke masjid sangat besar. Apalagi saat bulan Ramadhan. Lalu, Naufal berangkat sholat ke masjid bersama Ayah. Pulang dari masjid, Naufal mendengar Ayah dan Bunda melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Naufal ingat pahala membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan sangat besar, maka Naufal pun segera membaca Al-Qur'an. 

Naufal dan Ica juga mengurangi nonton TV. Ica juga membantu ibu di dapur. Sorenya, Naufal dan Ica mengaji ke surau. Usai berbuka, Naufal sekeluarga menunaikan shalat Tarawih di masjid. 

Buku ini mengajak kita melakukan kegiatan yang bernilai ibadah. Ilustrasi buku ini sangat menarik. Ditambah teka-teki yang seru pada setiap halamannya. Teman-teman akan mendapatkan bonus diorama yang cantik. Buku ini menjadikann Ramadhanmu semakin asyik (Naqiyyah Syam).



Buku Teka-teki Ceria Islam, Ramadhan

Cek, apakah ada diedit editornya? Baca di sini :)




Selamat mencoba, semoga berhasil :)

Rabu, 15 Juli 2015

Yuk, Sambut Lebaran Tanpa Stres

Alhamdulillah sampai juga kita diakhir Ramadhan. Tak terasa ya Ramadhan akan segera berakhir. Lalu, ada perasaan sedih atau bahagia menyambut hari kemenangan? Biasanya jelang Idul Fitri banyak toko-toko dikunjungi pembeli untuk membeli baju baru. Kurang lengkap rasanya jika belum punya baju baru, sepatu baru, sendal baru, sarung baru, makanan enak-enak dan lainnya. Semua itu sudah tradisi. Seakan lebaran tanpa yang “baru-baru” jadi basi. Padahal taukah makna lebaran itu? Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya bulan puasa. Kata Lebaran dari lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Jadi, lebaran bukan identik dengan serba baru dan makanan enak aja dong?  Tapi, cek juga apakah ampunan dari Allah Swt telah terbuka lebar untuk kita? Sudahkan amalan ibadah selama Ramadhan sukses kita jalani? Puasa dengan ikhlas sholat terawih, tilawah, sedekah, zakat dan lainnya. Jika belum, pantaskah iku lebaran?

Seorang pernah curhat pada saya, jika tahun ini adalah lebaran yang paling “menyedihkan”. Tak ada jabatan, tak ada fee, sehingga sulit sekali membeli baju baru, makanan enak untuk lebaran. Alhasil stres jika nanti tamu datang. Biasanya di rumah lengkap ketupar, rendang dan opor ayam. Tahun ini mau disajikan apa? “Aduh, stres deh!” katanya.

Lalu, saya teringat lebaran pertama saya menikah tahun 2006. Saat itu, kami tinggal di Lampung Timur. Saat lebaran, saya mengajak anak tetangga makan-makan di rumah. Mereka tidak terbiasa lebaran pertama ada ketupat, mereka terbiasa lebaran kupat, setelah 6 hari puasa sunah syawal. Nah, ketika selesai makan ketupat, mereka ke dapur dan melihat teh celup di rak makan. Salah seorang anak berteriak. “Wah, ini ya teh celup? saya boleh nyoba, tante?” saya kaget luar biasa. Masih ada anak yang belum pernah mencoba teh celup.  Saya merasa tertampar, perih di sudut hati saya. Ternyata saya kurang empati terhadap lingkungan. Sibuk mempersiapkan lebaran dengan serba enak dan baru, tapi melupakan lingkungan.

Sejak itu saya berjanji dalam hati. Ketika lebaran tak perlu ngoyo punya baju baru, makanan enak atau rumah kinclong dengan perabutan serba dipermak. Lebaran bagi saya dan suami saling memperbaiki kualitas diri. Lebaran tak perlu stres mempersiapkan ini-itu. Jika memang ada kelebihan rezeki, siapkan jauh-jauh hari. Mencicil membeli kue dan baju baru. Hindari berdesak-desakan, hingga lelah mencari persiapan lebaran. Sambut lebaran dengan senyuman kemenangan. Cukup bersihkan hati dengan saling memaafkan dan menyambung silaturahmi. So, lebaran itu stres? No way!


Senin, 13 Juli 2015

Menulis Cerita Humor Untuk Majalah Reader's Digest

Alhamdulillah karyaku dimuat di Majalah  Reader's Digest edisi April 2015

Bukti terbit, Karyaku di  Majalah  Reader's Digest

 Nah, buat yang penasaran cara mengirimnya. Berikut informasinya :)

Pertama
Ketik cerita lucumu sebanyak 100 kata. Tak usah panjang-panjang. Jangan lebih dari itu. Jika bingung. Tulis saja dulu ceritamu sampai selesai, setelah itu baru diedit menjadi 100 kata. Ohya rubrik cerita lucu di  Majalah  Reader's Digest cukup banyak loh, ada tema anak (kisah kamu dengan anak-anak), kisah lucu umum dan kisah lucu di kantor (saat bekerja). 

Kedua
Belum pernah dipublikasi di media mana pun.
Nah, jika pernah dimuat di status fb atau blog, coba kamu hapus atau setting pribadi. Usahakan tidak sama persis. Tentu saja lebih baik jika belum pernah dipublikasikan sama sekali.

Ketiga
Tulis data lengkapmu. Nama, alamat, email, no hp, no rekening, no NPWP dan sebagainya.

Keempat
Kirim ke alamat sebagai berikut : Redaksi Reader's Digest Indonesia - Jk. HR. Rasuna Said Kav. B 32-22 Jakarta 12910 atau via email ke : editor.rd@feminagroup.com

Kelima
Honor 150 ribu belum dipotong pajak dan biaya transfer. Maksimal 2 minggu sudah ditransfer. Jika bermasalah, kamu bisa email redaksi, pelayanannya ramah loh. Aku pernah, karena redaksi lupa, jadi tak lama aku email, langsung diproses dan kirim bukti terbit.

Keenam
Penulis dapat bukti terbit, lumayan kan dapat Majalah seharga 25 ribuan :)



Cover Majalah  Reader's Digest Edisi April 2015

Nah, sebagai contoh ini kisahku yang pernah dimuat sebelum diedit oleh editornya :) aku kirim 1 Maret 2015, Bulan April telah terbit, alhamdulillah :)

Demam Batu Akik

Suatu hari bersama anak sulungku, Faris (9 tahun).
Faris : “Ummi, punya cincin enggak?” Ia melirik ke jari manisku.
Aku :”Dulu punya.” menjawab dengan cuek karena sambil ngasuh adiknya, Aisyah.
Faris :”Kok enggak pernah lihat?”
Aku :” Ada kok.” Mulai gregetan, masa sih nggak percaya Umminya pernah punya cincin? Cincin kawin udah kejual.
Faris :”Mana?”
Aku :”Lihat aja difoto Ummi dan Abi nikah, Ummi pakai cincin.”.
Faris :”Oh, jadi Ummi pernah punya cincin batu akik?”

Oala..demam batu akik!

Dan ini penampakan setelah diedit :) Nah, selamat mencoba ya!

Karyaku di Majalah  Reader's Digest