Kamis, 30 Juni 2016

Sekolah Menulis Anak (SMA) Smart Melaju Bersama Asus Zen AiO Pro

Ketika awal menikah, aku sudah diminta suamiku untuk di rumah saja, biarkan saja suami yang bekerja. Saat itu aku belum sarjana. Kami menikah ketika aku belum wisuda dan suami baru saja satu bulan menjadi sarjana. Kami memulai rumah tangga dari nol. Suami masih merintis usahanya, menjual ikan betutu atau disebut ikan malas.


Tiap hari, suamiku akan mengumpulkan ikan dari nelayan. Ikan tersebut dikumpulkan dalam bak besar. Setelah terkumpul cukup banyak, ikan tersebut dikemas dan dikirim melalui pesawat ke Jakarta. Tak lama, bisnis kami mulai berkembang, suami mempunyai investor seorang Cina-Malaysia. Ia menanamkan modal ditambak ikan betutu kami. Lambat laun, bisnis berkembang pesat. Kami dapat mengumpulkan uang untuk DP mobil. Sayang, dua bulan menjelang panen, ikan tersebut mati karena diterjang limbah pabrik tapioka. Gagal panen, gagal punya mobil.

Tahun berikutnya, kami memulai bisnis ikan mas. Dibeli dari Cirata. Ikan satu truk kami pindahkan ke kolam ikan yang kami buat. Sayang, belum ada pengalaman mengurus ikan mas, apalagi kami baru saja membuat sumur bor, ikan tersebut banyak mati. Hasilnya rugi besar. Hutang mulai menumpuk.

Indahnya Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat
Sore itu kami sekeluarga sengaja datang ke Masjid Raya Sumatera Barat (Sumbar). Sudah hampir dua tahun kami tinggal di Padang. Masjid ini menjadi magnet tersendiri untuk terus kami kunjungi. Tempatnya yang luas, indah, bersih dan arsitekturnya indah sekali. Kenapa bentuknya lebih tinggi dan banyak besinya? Ternyata, masjid ini belum selesai dibangun. Dua tahun lalu malah masih belum ada tamannya. Sekarang jauh lebih cantik dan ada lampu yang terang di atas kata Masjid Raya Sumatera Barat. 

Masjid ini juga disiapkan untuk jaga-jaga sebagai tempat pengungsi. Sudah tahukan kalau Sumbar rawan dengan bencana alam, seperti gempa, angin kencang, hinga tsunami. Nah, untuk itu masjid ini dibangun dengan kokoh dan sangat luas.

Satu yang perlu teman-teman ketahui, di Sumbar, masjid menjadi tempat yang akrab dengan anak-anak. Setiap seminggu sekali anak-anak wajib mengikuti didikan subuh. Setiap anak SD belajar mengaji setelah subuh hingga matahari meninggi, sedangkan untuk remaja setiap malam Jum'at. Mereka diajarkan berpidato, membawa acara (MC), mengaji, dan lainnya.

Berdasarkan pengamatan, pengalaman dan mencermati itu, membuat aku tidak percaya kalau Kota Padang menjadi kota peringkat kedua terendah sebagai kota tidak Islami versi penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute tentang Indeks Kota islami (IKI). Melalui tulisan ini, aku ingin mengatakan bahwa di Sumbar atau di Padang khususnya adalah kota Islami dan sangat menghidupkan masjid.

210 kata


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid