Selasa, 05 Juli 2016

Membangun Komunikasi Keluarga Harmonis

Ketika memutuskan resign setelah mengajar selama 6 tahun, otomatis kegiatanku banyak di rumah. Bermain bersama anak, beberes rumah, hingga menjalankan hobiku menulis. Kadang, timbul rasa jenuh. Pengen merasakan keluar rumah, kumpul dengan teman, ngobrol sesuai dengan minatku, me time deh! Namun, sejak punya anak tiga dan tanpa ART, aku harus jauh-jauh hari meminta izin dengan suami. Kalau tidak pandai-pandai menyampaikan yang dimaksud, suamiku menolak, bahkan tidak mengizinkan.


Contohnya, saat di Bulan Ramadhan, kami baru saja pindah dari Padang ke Lampung. Teman-teman FLP Bandar Lampung akan mengadakan buka puasa bersama di salah satu panti asuhan. Saat itu ketuanya menghubungiku via BBM. Mereka meminta kesediaanku mengisi diskusi kepenulisan menjelang berbuka puasa. Sayangnya, mereka meminta dalam waktu yang sangat mepet, 4 hari sebelum acara. Bahkan malam itu minta jawaban langsung. Tentu saja aku kesulitan menjawab. Aku butuh waktu berdiskusi dengan suamiku. Ketika didesak terus kesediaanku. Aku pun bertanya dengan suami. Seperti yang aku duga, suamiku menolak.