Jumat, 20 Januari 2017

Kisah Seru Berbagi Tugas dengan Suami


Assalamualaikum sahabat Smart Mom,

Sebenarnya kemarin adalah jadwal post ngobrol bareng duo Ummi  antara aku dan Oci Ym. Tapi, aku beneran lupa, hihi... padahal ingat sih itu Hari Kamis, tapi jadwal sempat terlewati, duduh... emang udah tuir ini atau manajemenku belum rapi? Terasa banget sejak semingguan ini aku lebih mudah capek dan banyak lupa :)

Btw, hari ini aku mau ngajak ngobrol soal berbagi tugas dengan suami. Suatu hari aku bertemu dengan teman-teman admin Tapis Blogger. Salah satu ada yang bertanya, "Aisyah mana?" nah, iya anak-anak selalu bareng aku. Jarang banget anak-anak ditinggal di rumah karena kami enggak pakai jasa pengasuh atau ART. Ya, kadang-kadang, anak-anak aku tinggalkan bareng suamiku. 


"Wah, telaten juga Abinya ya!"
"Wih, mau juga nyuapin makan!" puji kakakku saat kami ke Pahawang.

Aku mendengarnya tersenyum bahagia. Yup, setelah melewati 11 tahun pernikahan, suamiku bisa dijadikan patner berbagi tugas mengasuh anak. Loh, emangnya pas baru nikah gimana? 

Abi ikutan bantu momong anak :)


Oke, aku ajak flash back dikit ya. Saat baru nikah, kami berdua masih unyu-unyu dan minim banget pengalaman mengurus rumah. Tugas domestik masih berantakan. Tinggal di kampung suami dengan dikelilingi orang-orang berpikiran, "Tak baik laki-laki mengerjakan pekerjaan istri," yup! Bahkan sekedar suami bantu angkat jemuran, besoknya jadi omongan. Saat itu aku juga merasa aneh melihat teman-teman kok bisa ya banyak anak, apa enggak repot? Kulihat ada suaminya membawa anak mabit ke masjid. Sedangkan aku? Pengajian rutin yang seminggu sekali saja, aku harus membawa Faris. Abinya menolak mengasuh di rumah karena Faris sangat aktif.

Faris kecil dan Abi :)

Faris dan Abi pegang ikan betutu :)

Apalagi saat itu aku masih bekerja, pekerjaan domestik cukup menyita waktu. Akhirnya aku pakai jasa ART. Keasyikan ada pengasuh anak-anak inilah sepertinya membuat kami belum jadi tim yang kompak. Lalu, lahir anak kedua semakin membuat kami harus berbagi tugas. Pagi-pagi aku harus ke sekolah membawa Fatih bayi dan mengantarkan ke day care. Sedangkan Faris masuk TK, berangkatnya dengan ojek dekat rumah, orang yang kami kenal. Masuk TK kan pukul 07.30 WIB, untuk itu tugas memakaikan baju seragam dan menyuap Faris adalah tugas suami. Sejak itu pelan-pelan suami belajar berbagi tugas. Apalagi rutinitas menjelang tidur. Biasanya Faris ditemani Abinya, diajak ngobrol dan mendongeng. Aku masih sibuk memberi ASI Fatih bayi. Itulah awal kami berbegai tugas dalam mengasuh anak.


Ayo, Bi tiup balon yang besar! 

Saat mau melahirkan anak ketiga, aku juga sempat kuatir, "Gimana nih nanti kalau anak lahir, apakah suami mau berbagi tugas?" apalagi saat itu kami merantau ke Padang. Tidak ada sanak saudara. Ada saudara angkat, tapi jauh dari rumah. Sampai menjelang hari H melahirkan, belum juga ketemu ART untuk membantu pekerjaan RT. 
Aisyah sedang belajar jalan di Pantai Panjang bersama Abi :)

Lalu, Aisyah lahir. Hari ketiga aku dibangunkan suamiku, "Mi, bangun Mi, masak nasi ya!" tuing, begitulah tugas ibu. Mau udah melahirkan tetap memerhatikan anggota keluarga lainnya. Aku yang masih lelah baru melahirkan harus ke dapur dan masak buat sarapan anak-anak. Abinya ikut memasak telur dadar buat Faris dan Fatih. Sampai sekarang anak-anak ketagihan telur dadar buatan Abinya. Sudah diajarkan suami resepnya, tetap saja anak-anak bilang, "Maunya telur dadar bauatan Abi!" uhuy.

Memang banyak banget perubahan suamiku sejak anak ketiga lahir. Abi sudah mau dititipkan Aisyah jika aku ke pasar. Sekitar 1-2 jam aku ke pasar dengan leluasa, hihi... (anggap me time lah ya!). Kalau Fatih kecil dulu, suami belum bisa ditinggal dua anak saat aku ke pasar. Suami malah memilih mengantarkan aku ke pasar dan tahan menggendong Fatih dibanding menjaga kedua anak selama aku ke pasar, xixix....Entahlah mungkin juga karena Aisyah cewek ya, jadi enggak seaktif kakak-kakaknya. Aisyah kalau dengan Abi maunya nempel aja. Digendong di dada Abi, diayun-ayun terus tidur. 

Kompak dong dengan Abi :)
Itu soal mengasuh anak. Memang tidak ada pembagian secara tertulis, Faris dengan Abi atau Fatih dengan Abinya. Tapi memang saat ini Faris lebih banyak dekat dengan Abinya. Fatih dan Aisyah masih suka nempel denganku. Namun, kami saat ini tidak memakai jasa ART, jadi mau enggak mau tugas domestik jadi harus berbagi tugas. Soal masak dan belanja memang masih urusanku. Suami lebih sering membantu mencuci, menjemur dan membuang sampah. Soal mencuci, Abinya suka banget berlama-lama. Kalau membilas bisa berkali-kali. Bahkan tidak mau membilas di mesin cuci, "Kurang bersih!" jadilah harus manual membilas di dua ember besar! 

Bersyukur juga suami mau membantu mencuci celana yang kena ompol atau BAB kalau anak-anak kena diare. Sampah juga jadi rapi karena menjelang tidur, sampah di dalam rumah sudah dikeluarkan dan ditaruh di kotak sampah. Usai subuh, biasanya tukang sampah datang. Suami juga menaruh piring khusus sisa makanan untuk kucing liar yang sering mampir ke rumah kami.

Kalau aku ada acara khusus, misal mengisi sebuah acara, maka aku jauh-jauh hari harus janjian dengan suami buat menjaga anak. Acara pun tak bisa lama. Paling lama maksimal 3 jam. Pernah suatu hari, aku izin dengan suami mengajak Aisyah ikut talkshow bedah buku di Gramedia Lampung. Pulangnya aku dan Aisyah naik motor kehujanan di jalan. Aku sudah gemeteran bawa motor karena hujannya deras banget dan Aisyah awalnya berontak ditutupi mantel. Mana di dalam mantel Aisyah enggak begerak, entah tidur atau gimana, aku sempat rada parno. Hujan deras banget dan menjelang maghrib. Mau berhenti kok tanggung kebayang suami di rumah. Sampai di rumah pas menjelang maghrib, suami sudah menunggu dan aku bilang "Maaf ya Bi, tadi udah berusaha pulang cepat, tapi hujan!" 


Berbagi tugas dengan suami itu seru loh! :)

Ternyata suamiku sudah kirim WA untuk berhati-hati di jalan karena hujan. Suami tau banget aku enggak bisa kena hujan, aku bisa mengigil kedinginan karena malariaku bisa kumat. Lebih sweet lagi karena anak-anak sudah rapi dan ternyata sudah makan telur dadar buatan Abinya. Wiih, happy-nya!

Nah, sahabat Smart Mom, itulah ceritaku dalam berbagi tugas dengan suami. Ada banyak kisah suka-duka berbagi tugas. Nanti deh aku ceritakan gimana serunya hidup tanpa ART hahaha... kalau Moms sendiri gimana pembagian tugas dengan suami? Cerita dong!


23 komentar:

  1. Serunya berbagi suami. Eh, berbagi tugas dengan suami :)

    BalasHapus
  2. Yang pasti, saya gak pernah mengalami ini. Berbagi tugas dengan suami :-D

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah saya juga punya suami pengertian. Kadang suka ngepel, nyapu, nyuci piring, jemurin cucian sama ajak anak main tanpa diminta. Yang paling berkesan itu ketika dia nemenin lahiran. Padahal saya tau dia jijik banget liat darah. Tpi dibela2in nemenin saya sampe selesai lahiran. Ah terharu kalau inget itu

    BalasHapus
  4. Wow banget. Berbagi tugas yang maksimal dikerjakan. Dan semua urusan pun kelar. Kerjaan tak terbengkalai, anak tetap dalam belaian. Keren dan inspiratif.

    BalasHapus
  5. Sweet banget mbak suaminya :) bersyukur banget ya dapat suami yang pengertian kayak begitu :)

    BalasHapus
  6. Wahhh seru yaa mak... sejak menikah kami sudah punya ART di rumah. Tp urusan anak aku posesif... meski sempat pakai ART dua org urusan anak tetap menjadi tugasku. Sampai skg mrk besar... anak2 tetap jd tanggung jwbku untuk urusan mrk sehari2. Suamiku tipe ayah yg hny mau menemani main hahhaha. Riweuh2nya urusan ibuknya mak 😢😢😢

    BalasHapus
  7. kata orang-orang, anak cewek memang lebih dekat sama papanya Mbaa :)

    suamiku juga lebih suka nganterin saya ke pasar dari pada ditinggal berdua bareng anak di rumah, hihihi :D

    BalasHapus
  8. Wah ciyus ada yang komentar suami gak pantas mengerjakan pekerjaan RT? Tenggelamkan mbaaaak hahahaah padahal rumah tangga itu kan lebih mirip dg teamwork, ga ada yang lebih dihormati dan menghormati, tapi berkolaborasi ya :)

    BalasHapus
  9. Bisa pingsan mak kalo gak berbagi, atau naik darah

    BalasHapus
  10. Sekarang ini memang banyak suami yang sudah bisa dan mau diajak momong anak, ya, Mba. Beberapa teman juga bercerita hal yang sama. Seneng, deh, melihatnya. :)

    Semoga Abinya anak-anak semakin telaten dan terampil ngasuh momongannya, ya. Jadi Kak Naqi juga makin banyak waktu yang bisa digunakan untuk lebih produktif maupun me time. Hehe

    BalasHapus
  11. Asyik yaa kalo suami bisa diandalin, dulu pas awal nikah suamiku juga nggak suka bantu2 tapi pas punya anak berubah sendiri

    BalasHapus
  12. Bukan seru kalau aku mah harus berbagi tugas mbak.
    Maklum aku jg kerja n art hanya pulang hari buat beres + *sertika.
    Jd mulai dr siapin sarapan + bekal n siapin anak2 berangkat harus sy lakukan sendiri. Sy ngamuk2 klo suami cuek n ga mau bantu baramg sedikit

    BalasHapus
  13. wkkw..kalau aku awal nikah gagap banget sama urusan anak, dapur. suamiku yang jago banget urusan anak. aku baru bisa mandiin anak itu pas anak ke tiga (al gibran). Entah, kenapa aku nekat mandiin saat dia bayi baru lahir, nyukur rambutnya sampai plotos (seumur-umur baru itu, Ya Allah..jadi pengen mewek). Suamiku yang jago mandiin, bedong. Sabar banget dia menunggu istrinya jadi ibu yang sesungguhnya

    BalasHapus
  14. Makin kesini para suami makin paham..urusan anak..rumah..bersih2 bukan tugas istri sepenuhnya..tapi saling bantu..

    BalasHapus
  15. Bersinergi dalam rumah tangga ya Mbak. Saling bantu, bahu membahu 😊

    BalasHapus
  16. saya salut dengan para suami yang mau berbagi tugas dengan istri, saya pernah lihat teman sendiri yang suami cuek dan nggak mau tau dengan urusan rumah, jadi kasian lihat istrinya.

    BalasHapus
  17. tak perlu kaya raya untuk medapat sebuah bahagia, rasa bahagia dapat diperoleh dengan cara di atas. bisa saling mengisi dan melengkapi antara adam dan hawa. sungguh saya cocolatos eh salut dengan kisah mbak di atas. terima kasih telah berbagi, ini manambah pengetahuan dan menginspirasi saya untuk melakukannya.

    BalasHapus
  18. aku suka berbagi tuags dg suami, daria wal pernikahan, saat anak sdh besaran dikit juga kami ajak bebagi tugas, jadi ringan dan anak terlatih mandiri. Aku kerja atpi gak punya pembantu, anak2 bisa ngurus diri sendiri

    BalasHapus
  19. Enak ya punya suami yang bisa di ajak kerja sama dalam pekerjaan rumah..
    Semoga sehat selalu ya keluarga mvak.. Aamiin..

    BalasHapus
  20. Karena suami kerjanya di rumah. Maka semua urusan rumah full dikerjakan berdua. Pokoknya siapa yg sempat ya kerjakan. Hehehe....

    BalasHapus
  21. Bapakku dan bapak mertua alhamdulillah nggak segan-segan bantu istrinya ngurusi pekerjaan rumah tangga. Bahkan ibuku bilang pas aku bayi, bapak yang nyuci baju bayiku sampai bersih. Alhamdulillahnya suamiku juga nggak segan bantu2 pekerjaan rumah. Memang ada lingkungan masyarakat yang seperti nggak membolehkan laki2 turun tangan bantu istri, Mbak. Sampai teman kantor suami pernah 'survei' tanya2 ke teman2 lain yang laki2 juga, pernah nyebokin anak habis pup atau nggak. Dan yang jawab pernah cuma dua termasuk suamiku (aku nggak tau si berapa yang ditanya he he). Ada yang mau nyebokin anaknya malah dilarang mertuanya "Itukan bukan tugas suami/bapak." tapi ada juga yang beralasan karena takut nggak bersih nyebokinnya he he.

    BalasHapus
  22. Sama dirumahku juga si Abah klo libur tukang mandiin Naqib, nyebokin Naqib, klo malem kewajibannya nyuci piring. Udah tuh tugasnya itu aja klo dirumah

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^