Sabtu, 04 Juni 2011

Menulis dengan Cermat, Yuk!

Oleh: Ary Nilandari


Kenapa tidak dijuduli "Kiat Penyuntingan?" Karena, kecermatan ini nanti dianggap tugas penyunting atau editor belaka. Padahal, penulis wajib membuat tulisannya jelas, efektif, tepat, koheren, agar makna yang disampaikannya terbaca dan tidak disalahpahami.

Ketika penulis mau repot memperhatikan kaidah kebahasaan, pilihan kata, logika dan koherensi antarkalimat/antarparagraf, maka tulisannya menjadi sebuah craft, karya seni. Idenya yang bagus dan unik akan sampai kepada pembaca dengan bagus dan unik.


Bukannya tanpa maksud istilah writing craft ada dalam bahasa Inggris, kan?

Sudah lama aku ingin berbagi pengalaman selama 12 tahun menjadi editor, berbagi catatan dari telaah terhadap ratusan naskah. Tapi kadang, masalahnya sederhana, aku harus mulai dari mana? Bagaimana berbagi tanpa kesan menggurui?


Bukankah teman-teman sudah terbiasa menulis, bahkan sudah banyak yang menerbitkan buku atau memenangi lomba menulis, apa perlunya posting telaah kebahasaan? Masih adakah yang peduli dengan "berbahasa Indonesia dengan baik dan benar"?

Nah, dari tugas editing terakhir, aku mendapatkan banyak bahan untuk dianalisis. Jadi, tak perlu membongkar-bongkar file lama. Dalam tugas itu, yang terdiri atas puluhan naskah pendek, kutemukan bermacam-macam ketidakcermatan.

"Oooh, sayang sekali, ide si penulis sebetulnya bagus dan unik, tetapi keterbacaannya rendah."

"Wah, kalimat ini maksudnya apa ya?"

"Kenapa ya dia pakai kata ini padahal aku yakin maksudnya bukan begitu."

"Antarkalimat dan antarparagrafnya tidak koheren, lompat-lompat, kadang terbalik-balik logikanya..."

"Sayang, puisinya terlalu banyak dan metaforanya tidak tepat."

dst.

Kira-kira, kalau aku menganalisis ketidakcermatan itu dan mengajak teman-teman ikut membenahinya, maukah?

Oh, jangan takut nantinya jadi sulit menulis karena kepikiran kaidah terus.

Bagaimanapun, ketika pertama menulis, gunakan hati. Biarkan mengalir sebebasnya, jangan ragu. Setelah selesai, nah, baru gunakan kepala. Menulis cermat akan menjadi otomatis setelah kita sering menggunakan kepala menyunting tulisan kita sendiri.

Untuk bukti bahwa menulis cermat itu perlu, bacalah kalimat ini:

Seorang wanita berjuang melawan maut untuk mempertahankan kelahiran bayi yang ada dijaninnya.

Analisis:


Penulisan dijaninnya saja sudah salah. Mestinya di janinnya ("di" kata depan). Selain itu, karena hambur kata dan salah diksi, pesan yang sampai kepada pembaca (aku) adalah:


Wanita ini sedang berjuang antara hidup dan mati "mengabadikan" kelahiran bayi yang ada di dalam janinnya. Jadi, janin (bakal bayi/embrio) di dalam rahim wanita itu juga berisi bayi, yang proses kelahirannya terus-menerus dipertahankan.


Tentu saja aku mengerti maksud penulis sebenarnya adalah: Seorang wanita berjuang melawan maut melahirkan bayi dari rahimnya.

Atau lebih singkat lagi:


Seorang wanita tengah berjuang melawan maut dalam proses persalinan.


Beruntunglah si penulis, kali ini pembaca bisa mengerti maksudnya. Untuk kalimat lebih panjang, lebih rumit, lebih tidak jelas, risiko pembaca menangkap pesan yang keliru akan lebih besar lagi.


(Ingat wysiwyg? What you see is what you get. Ganti see dengan read.)


Boleh menulis kalimat panjang, boleh menulis kalimat indah, tapi perhatikan apakah pesan tersampaikan dengan benar. Pembaca hanya ingin membaca dengan asyik dan puas (mungkin juga dengan cepat), jangan bebani mereka dengan tugas meningkatkan keterbacaan kalimat.


Satu-dua kalimat, mereka mungkin masih bisa bersabar, menebak-nebak maksud penulis. Tapi satu-dua paragraf? Mereka akan meletakkan tulisan kita tanpa ampun.


Ya, kecermatan perlu terutama jika kita menulis untuk publik. Kecermatan dalam menulis untuk anak bahkan diperlukan berkali-kali lipat. Bukan hanya dalam aspek kebahasaan (pertimbangan dalam pemilihan kata dan pembentukan kalimat), melainkan juga isinya.

Selamat berkarya :)

Cerita Anak “Gampang Dibaca”, bukan berarti “Gampang Ditulis”

Oleh Ali Muakhir

Helen Diehl-Olds, seorang pengarang wanita yang terbiasa menulis untuk bacaan orang dewasa, setelah bersusah payah berusaha menulis cerita anak, akhirnya berhasil membuka pintu penulisan buku anak-anak.


Olds memulai menulis untuk anak-anak di majalah, tidak langsung menulis buku karena penerbit buku sudah pasti banyak perhitungan, terutama dengan mempertimbangkan pasar (market).

Apa kesimpulan Helen setelah berhasil menyelesaikan tulisan-tulisannya? Dia menyimpulkan dua hal:pertama, cerita untuk anak itu harus mengandung suatu ide yang besar, kedua ceritanya harus menyenangkan.

Ide besar misalnya, sesuatu yang mencerminkan kebutuhan anak-anak, memberinya teman, memberinya kemudahan, membantu anak untuk bisa menerima keadaan yang sudah tidak bisa diubah.


Anak, meskipun masih kecil, senang merasa dewasa karena itu mereka ingin selalu belajar sesuatu dari apa yang pernah dibacanya. Oleh karena itu, bacaan yang mengarahkan pada sesuatu yang baik, amat disarankan.


Olds suka membaca buku cerita anak-anak yang sudah diterbitkan dan membandingkan gaya tulisan buku-buku tersebut dengan gaya penulisannya, semata-mata untuk meyakinkan apa tulisannya sudah sesuai untuk anak-anak apa belum sesuai?

Olds akan memperhatikan pembukaannya, bagian tengahnya, dan penutupnya. Dia tidak jarang pula menuliskan temanya, membuat daftar tokohnya, dan mencatat cara si pengarang menampilkan tokohnya dalam adegan.

Olds mempelajari proporsi antara dialog dan teksnya, panjang kalimat, dan paragrafnya. Kemudian untuk mendapatkan gambaran jelas, Olds tidak segan pula mengutip cerita tersebut dengan mengetiknya kembali hanya untuk mengira-ira berapa banyak halaman yang harus dia tulis untuk sebuah cerita.


Melihat perjalanan Olds sungguh bukan cara yang mudah untuk menerobos dunia kecil itu. Olds bahkan kemudian membuat kesimpulan, bahwa cerita anak itu “Gampang dibaca”, tetapi bukan berarti “Gampang ditulis.”[A]

11.06

Usia berkelana

Bandung, 29 April 2011

Lomba Hate 1/2 Mati

Lomba Hate 1/2 Mati

Pernah atau masih menyimpan rasa benci pada sesuatu karena mungkin itu menjadi penghalang dalam hidup kamu untuk meraih cita-cita? Sesuatu yang membuat kamu jadi serba salah, sering ragu-ragu, dan sebagainya?

Nah, coba deh ungkapkan apa yang menjadi objek Hate ½ Mati kamu dalam sebuah tulisan kira-kira 4 halaman aja. Kamu cukup mengungkapkan 1 hal yang bener-bener kamu benci tapi usahakan tulis dengan bahasa yang elegan n enak dibaca pastinya.
Kirimkan tulisan kamu via attachment (sisipan) ke: komunitasdivapress@yahoo.co.id. Jangan lupa subject: Hate ½ Mati + Judul Tulisan.

Format tulisan: kertas A4, spasi 2, margin atas + kiri 4cm, margin kanan + bawah 3cm. font Arial. Di akhir tulisan, sertakan biodata narasi kamu juga ya J
Seperti biasa, lomba ini berlangsung selama sebulan penuh (selama bulan Juni), so, ayo pada ikutannnn!!!!! Ada 10 novel terbaru dari DIVA Press yang siap dibagikan untuk 10 pemilik tulisan yg beruntung!!!!

TIPS: MENGHITUNG KARAKTER DAN MEMANGKAS JUMLAH KARAKTER

JUMLAH KARAKTER

Oleh: Triani Retno


Majalah Story dan Penerbit Universal Nikko lagi bikin lomba cerpen. Seperti biasa, aturan main di Story bukan jumlah halaman, tapi jumlah karakter. Di lomba ini panjang naskah yang diminta adalah 5.000 character with spaces (kita singkat jadi cws ya). Untuk tahu udah berapa jumlah karakter dalam naskah kita, gampang kok. Di Word ada fasilitasnya. Cari aja Word Count, nanti ada laporan lengkapnya.

Nah, gimana kalo ternyata, saking semangat 45, 66, dan 98 sekaligus, naskah kita membengkak jadi 9.000 karakter? Saya safety player, memilih mengikuti peraturan. Bukan apa-apa. Males banget, deh, kalau karya saya langsung ditendang gara-gara saya sotoy bikin aturan sendiri. Nambah-nambahin jumlah karakter kan termasuk ke-sotoy-an. Jadi, kalau sudah membengkak gitu, ya, harus dipangkas.

Tapi nanti jalan cerita gue berubah dwooong?

Kita bisa memangkas jumlah karakter tanpa mengubah jalan cerita. Beneran. Saya pernah memangkas sekitar 8.000 karakter dari naskah teman baik saya. Yang semula 25rb karakter bisa tinggal 17rb karakter tanpa banyak menggunting cerita.

Kuncinya ternyata gampang. Biasakan menulis dengan benar. Contohnya, nih:

  1. Aku hanya sekadar ingin bertemu dengan kamu saja

-----------> 48 cws. Banyak kata mubazir (tidak efektif) di sana. Hanya, sekadar, dan saja tidak perlu dipakai bareng. Pilih satu aja, ya. Ini sama tidak efektifnya seperti: masuk ke dalam, naik ke atas, turun ke bawah.

Aku hanya ingin bertemu denganmu

-----------> 34 cws. Kata-kata mubazir udah kita buang. Kata "dengan kamu" juga bisa ditulis menjadi "denganmu". Maknanya sama, tapi jumlah karakter lebih sedikit.

2. “Jangaaaaaaaan.....................!!!!!" teriak Salsa.

------------> 55 cws. Tidak perlu memakai banyak huruf yang sama, banyak titik, dan banyak tanda seru. Boros dan nggak bener.

“Jangaaan...!" teriak Salsa.

-----------> 28 cws. Cukup tiga huruf a dan tiga titik. Kalau merasa efek teriaknya kurang terasa, bisa pakai huruf kapital. "JANGAAAN...!". Namun, jangan terlalu banyak.

Yang lain:

  • Cukup tekan space bar sekali aja (satu ketuk) untuk jarak antarkata atau perpindahan kalimat baru dalam satu paragraf. Beberapa penulis punya kebiasaan memberi dua ketukan space bar. Nah, hilangkan kebiasaan ini. Space bar juga dihitung karakter, lho.
  • Cari sinonim. Kalau ada yang lebih pendek, kenapa harus yang panjang? Misalnya: harapan------->asa. Namun, nggak selalu bisa diganti sih.
  • Nggak usah bolak-balik menerangkan hal yang sama. Kalau di awal udah ditulis Amira dan Morgan itu pacaran, ya nggak usah bolak-balik ditulis, misalnya: Amira pacar Morgan atau Morgan pacar Amira. Pembaca nggak bego, kok.
  • Kata ulang ditulis serangkai, tanpa space bar (dan memang ini yang benar). Kupu-kupu, laba-laba, malu-malu. Bukan: kupu - kupu, laba - laba, malu - malu.

Percaya atau tidak, ribuan karakter bisa dipangkas dengan cara seperti itu. Kalau masih bengkak juga,harus tega. Setel lagu "Potong Bebek Angsa" lalu mulailah membuang bagian cerita yang tidak perlu.

(nb: Saya nggak akan ikut lomba cerpen ini. Kata Pak Kepsek sebelah, kalau saya nekat ikut, saya akan dicegat di tikungan jalan trus dipecat dari jajaran dewan guru stres)

Bikin OUTLINE

Judul : Inspirasi dari Perempuan Biasa

Alternatif Judul : Karena, Setiap Perempuan Istimewa

Tema : Dunia Perempuan

Target Pembaca : Kaum Perempuan Dewasa

Kelebihan Naskah :


Naskah ini merupakan perpaduan antara cerita inspiratif dari perempuan biasa dan tips pengembangan diri. Nantinya buku ini akan dilengkapi dengan:

  1. Wise word dan mutiara hikmah di setiap kisah
  2. Tips untuk mengupgrade inner beauty sebagai inti dari keistimewaan perempuan

Rencana Jumlah Hal Naskah : 100 halaman

Spesifikasi Hal Jadi : 128 Hal/BW/ 14,5 x 21cm

Nama Penulis : Neti Suriana

Sinopsis :

Saya meyakini bahwa setiap perempuan itu istimewa. Sesederhana apa pun, seburuk apa pun bahkan sebejat apa pun seorang perempuan di pandangan orang lain, sesungguhnya ia masih memiliki sisi istimewa dan mampu menginspirasi orang lain. Kadang keistimewaan tersebut tercermin tanpa ia sadari. Namun, kesederhanaan penampilannya dan ketidak populerannya menyebabkan inspirasi-inspirasi tersebut, tenggelam dan tidak mampu menyentuh hati orang lain.

Buku ini mencoba menampilkan inspirasi dari keunikan perempuan biasa. Perempuan yang tidak disorot media, perempuan yang tidak terkenal dengan kekayaan harta apalagi tahta. Mereka hanya perempuan sederhana dengan beribu pesona terpendam. Harapannya, kehadiran buku ini mampu menginspirasi perempuan-perempuan lainnya dan membuka mata hati semua perempuan bahwa mereka sesungguhnya unik dan istimewa. Mari kita up grade keistimewaan itu sehingga memancarkan aura kecantikan yang mempesona. Aura kecantikan yang tidak hanya disenangi oleh penghuni bumi, namun juga penghuni langit dan pemilik alam semesta ini. It’s mean innerbeauty.

Pengantar dari penulis

Daftar Isi

BAB I

KARENA, SETIAP PEREMPUAN ADALAH ISTIMEWA

Sub Bab:

  1. Di Balik Kesederhanaan
  2. Mereka adalah Perempuan-Perempuan Cahaya

Deskripsi:

1. Memahami keistimewaan yang tersembunyi di balik kesederhanaan perempuan biasa

2. Mereka memang tidak hidup bergelimang sorotan lampu dan blitz kamera media. Namun, mereka adalah perempuan yang bergelimang cahaya. Cahaya yang memberi aura positif pada siapa saja yang menyaksikannya. Di sini aku ingin memberitahumu kawan, siapa mereka?

BAB II

PEREMPUAN-PEREMPUAN CAHAYA

Sub bab:

  1. Yang Tak Pernah Berkata Tidak

2. Kehadirannya Bagaikan Magnet

3. Senyum Itu

4. Kasih yang Tak Berharap Balas

5. Si Tomboi

6. Izin Suami Untuk Uang Lima Ribu

7. Pinjam Majalahnya Dong!

8. Perempuan dengan Segudang Maaf

9. Binar Cinta Di Mata Perempuan Biasa

Deskripsi:

  1. Kisah tentang ibu, perempuan yang tidak pernah berkata tidak untuk setiap impian dan keinginan anak-anaknya.
  2. Kisah tentang seorang ibu muda yang selalu energik, cerdas dan selalu mampu menyedot perhatian kaum ibu yang lain. Kehadirannya dalam sebuah kelompok wanita bagaikan magnet yang selalu menarik anggota kelompok tetap betah dan nempel di sana. Sosoknya adalah sumber inspirasi dan kekuatan bagi perjalanan kelompok wanita di desa terpencil itu.
  3. Betapa bahagianya mendapatkan senyum, disaat yang lain menerima kita dengan tatapan penuh selidik. Senyum tulus. Itulah yang diberikan oleh perempuan paroh baya itu, ketika pertama kali kakiku menginjak kebun sayurnya. Senyum tulus, yang kemudian kembali menyuburkan semangatku yang mulai layu untuk bergerak menjalankan tugas pembinaan di desa ini
  4. Balasan apa yang diharapkan oleh seorang ibu dari seorang anak yg diponis cacat mental seumur hidup? Tidak ada kan? Kecuali mengharap balasan dari Allah SWT. Tapi, kata-kata yang meluncur dari bibir perempuan itu, sungguh membuatku merinding. Merinding dengan aura optimis yg terpancar di sana
  5. Remaja tomboy itu biasa. Nah, kalau ibu-ibu kepala lima tampil dengan tomboy dan energik gimana ya? Inilah keunikan dari perempuan satu ini
  6. Uang lima ribu, berapa sih nilainya saat ini? Apalagi di daerah Riau yang apa-apa mahal. Namun, bukan nilai uangnya yang membuat perempuan ini selalu kukuh untuk meminta izin mengeluarkan uang lima ribu pada suaminya. Ada hal lain yang bahkan kadang tidak terpikirkan oleh orang-orang yang lebih berpendidikan
  7. Semangat belajar dan selalu ingin tahu. Dua hal itu yang kukagumi dari ibu-ibu muda ini. Meski hanya perempuan desa dan sehari-hari bekerja membuat bata, namun hal itu tidak menghalanginya untuk terus belajar. Walau ia sadar, ia tidak akan memperoleh ijazah yang bisa ia jual untuk mendapat pekerjaan yang lebih bergengsi. Sungguh bertolak belakang dengan realita yang ada di masyarakat terdidik di daerah ini
  8. Berkali-kali di sakiti, diacuhkan, dikecewakan bahkan ditinggalkan oleh sang adik tercinta. Namun, ketika sang adik jatuh, kembali menghampiri dan menangis dibahunya, perempuan sederhana ini tetap menyambutnya dengan tangan terbuka. Sungguh tak habis pikir, terbuat dari apa hati perempuan ini?
  9. Perempuan biasa sangat jarang yang mampu mengungkapkan cintanya secara verbal. Namun, tahu kah kau kawan? Betapa dalamnya cinta yang mereka miliki. Aku berhasil menangkap binar cinta itu dari mata seorang perempuan biasa. Binar itulah yang ingin kubagi padamu. Betapa dahsyatnya cinta seorang perempuan biasa.

hingga bab-bab yang diperlukan...

Kesimpulan dan Penutup

Daftar isi

Tentang Penulis

Catatan:

1. Perhatikan deskripsi yang menjelaskan isi sub bab

2. Perhatikan judul yang menurut saya menarik

3. Standarisasi penulisan Times New Roman, 12 font, spasi 1,5

4. Menentukan jumlah hal jadi: dari total naskah word 100, kemungkinan akan menjadi 128 hal karena ada prelims (daftar isi, kata pengantar, dll) dan juga skema layout yang memakan jumlah hal.

5. Membuat standar halaman jadi harus berdasarkan kelipatan 4, 8, dan 16.

6. Untuk spesifikasi buku, banyak-banyak pelajari spesifikasi buku yang terbit ya, biar lebih sip memantas-mantaskan naskah dengan buku jadi yang dibidik

6. Kalau ada kekurangan dalam outline ini mari diskusi...

Outline Buku Anak

Belajar dari pengalaman saya mengenalkan dan mengajari anak saya membaca, akhirnya saya memberanikan diri menulis outline “Mengajar anak Ala saya”, harap maklum kalau banyak kekurangannya.

Buku I

Judul Buku : Asyiknya Mengenal Huruf

I. Mengenal Huruf

  1. Mengenal Huruf Kecil
  2. Mengenal Huruf Besar

Satu lembar berisi huruf kecil dari huruf a-z, dan berisi huruf besar dari huruf A-Z.

II. Penjabarannya

    Berisi huruf Aa - Kalimat yang diawali huruf “A” - Gambar menarik yang sesuai kata

    Dan seterusnya sampai huruf “Z”

    (Kalau ala saya, sambil mengenalkan huruf saya praktekkan dengan ilustrasi gerakan jari saya membentuk huruf “a sampai z”, karena membuat anak saya makin kreatif dan bersemangat)

    Buku II

    Judul Buku : Asyiknya Membaca dengan Vokal

    I. Mengenal Huruf Vokal

      Berisi huruf vokal besar dan kecil (Aa, Ii, Uu, Ee, Oo)

      II. Membaca huruf dengan Vokal

        1 lembar berisi satu suku kata dua huruf, dengan variasi huruf vokal

        Ba - Contoh kata berawalan “Ba” - Gambar sederhana sesuai “Kata”

        Bi - Contoh kata berawalan “Bi” - Gambar sederhana sesuai “Kata”

        Bu - Contoh kata berawalan “Bu” - Gambar sederhana sesuai “Kata”

        Be - Contoh kata berawalan “Be” - Gambar sederhana sesuai “Kata”

        Bo - Contoh kata berawalan “Bo” - Gambar sederhana sesuai “Kata”

        Dan seterusnya sampai Z

        Buku III

          Judul Buku : Asyiknya Belajar Membaca

          I. Belajar Membaca

          1. Membaca 2 suku kata dengan huruf depan 1

          A-ku, I-bu, O-ma, O-pa dst

          2. Membaca 2 suku kata dengan dua huruf

            Ba - ca, Di - ta, Fi - na, Ma - ta, Li - ma, Ro - da, Sa - te, Dst.

            3. Membaca 2 suku kata 3 huruf

              Bu-ku-ku, Je-ra-mi, Ke-ra-pu, Ma-ma-ku, dst.

              4. Membaca 2 suku kata, 2 huruf dengan akhiran 1 huruf

                Ja-la-n, Ma-ka-n, Mi-nu-m, Ti-du-r, Ma-su-k, dst.

                5. Membaca 2 suku kata, 2 huruf dengan akhiran 2 huruf

                  La-ya-ng, Lo-ya-ng, Sa-ya-ng, Ma-ta-ng, dst.

                  (Setiap contoh kata disertai Gambar pendukung yang menarik)

                  Contoh Pengajuan Pictorial Book ke Penerbit

                  Oleh:
                  Dian Kristiani


                  Dear Teman-teman grup Penulis Buku Anak,
                  Saya ingin berbagi pengalaman, tentang bagaimana mengajukan naskah pictorial book kita ke penerbit. Dengan cara ini, insya Allah penerbit akan lebih suka, dan naskah kita lebih cepat mendapat keputusan ya dan tidaknya. Jangan lupa, jika memungkinkan, beri juga satu atau dua sample ilustrasi untuk karakter tokohnya. Sample bisa diminta dari para ilustrator buku anak. dan mereka akan dengan senang hati memberikannya. Semoga berguna yaaa...
                  COVER DEPAN
                  1. INNER COVER-KA
                  2. Redaksional (Copyright etc)-KI
                  3. This Book Belongs to... - KA
                  4. Pingo adalah seekor penguin yang hidup berkelompok bersama teman-temannya. Ia tinggal di Antartika atau lebih sering dikenal dengan Kutub Selatan.
                  5. Pingo is a penguin who lives in groups with his friends. He lives in Antartic or known as the South Pole.
                  Ilustrasi:
                  Pingo dan teman-temannya, latar belakang bongkahan salju dan es
                  6.Di antara teman-temannya, Pingo memiliki bulu yang paling tebal dan indah. Warnanya hitam mengilat dan halus sekali. Teman-temannya sangat mengagumi bulunya. Itu membuat Pingo bangga sehingga rajin merawatnya.
                  7. Among his friends, Pingo has the thickest and the most beautiful fur. It is shining black and very soft. His friends admire his fur. It makes Pingo proud and he takes really care of it.
                  Ilustrasi:
                  Pingo close up, wajah gembira dengan bulu yang tebal dan hitam. Background teman2 nya mengagumi
                  8. Dengan bulunya yang tebal, Pingo tidak pernah merasa kedinginan. Suhu di Antartika memang amat dingin, namun Pingo merasa nyaman. Bersama teman-temannya, ia bermain lempar bola salju, menangkap ikan, membuat es krim dari salju, dan banyak kegiatan menyenangkan lainnya.
                  9. With his thick fur, Pingo never feels cold. The temperature in Antartic is very low, but Pingo feels comfortable. Together with his friends, he throws snowballs, catches fishes, making ice creams from snowflakes, and many other fun activities.
                  Ilustrasi:
                  Pingo bermain lempar bola salju, latar belakang teman2nya menangkap ikan
                  10. Suatu hari, Pingo merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
                  “Ada apa ini, kenapa aku merasa gerah?” tanyanya dalam hati.
                  Ia kemudian keluar dari rumahnya dan menemui teman-temannya. “Hai teman-teman, apakah kalian merasakan hal yang sama denganku? Mengapa hari ini terasa panas? Lihat, buluku basah berkeringat.
                  11. One day, Pingo feels something weird with his body. “What is going on, why do I feel hot?” he asks to himself.
                  He then goes out of his house and sees his friends. “Hi friends, do you all feel the same thing with me? Why does today feel hot? Look, my fur is wet with sweat.”
                  Ilustrasi:
                  Pingo kegerahan, ada keringat menetes dari dahinya. Pingo berhadap-hadapan dengan teman2nya.
                  Dst...dst...dst..sampai mencapai jumlah halaman yang diinginkan (kelipatan 8, misalnya 16/24/32/40/48 halaman)
                  Semoga membantu...