Sabtu, 31 Oktober 2015

Pengalamanku ke Gramedia Tiga Kota (Lampung, Bengkulu dan Padang)

Bedah Buku di Gramedia Lampung
Siang itu aku bersama temanku naik ke lantai 2 Gramedia Lampung. Kami akan mengajukan kerjasama kegiatan bedah buku. Keringat dingin membasahi tubuhku. Ini pengalaman pertama kali berurusan dengan Gramedia. Jantungku berdegup lebih kencang.

"Silakan ke ruangan pojok itu ya, Bu," seorang SPG cantik menunjukkan sebuah ruangan.

Aku bersama temanku mengetuk pintu itu. Tak disangka, kami disambut dengan senyuman dan sapa bersahabat. Kami menemui manajer pemasaran Gramedia Lampung. Kala itu dipimpin oleh Mbk Ira.  Singkat cerita, aku ceritakan niat kedatangan kami dan menunjukan proposal yang telah kami siapkan.
"Kami pelajari dulu ya, nanti kami kabari," begitu kata Mbk Ira. Aku bernapas lega. Setidaknya, niat kami untuk bekerjasama dengan Gramedia tidak ditolak.

Seminggu kemudian, aku ditelp. Proposal kami di-acc. Pihak Gramedia menyambut kerjasama bedah buku dan akan menjadikan sponsor. Saat itu rasanya aku ingin terbang melayang. Hatiku berbunga-bunga. Wow, bayangkan, Gramedia Lampung toko buku terbesar di kotaku itu mau menyediakan tempat, hadiah dan banner untuk bedah bukuku. It's amazing!

Jumat, 30 Oktober 2015

Cara Mengirimkan Foto Bayi ke Tabloid Mom and Kiddie

Cara Mengirimkan Foto Bayi ke Tabloid Mom and Kiddie

Alhamdulillah foto Aisyah Fahira dimuat di Tabloid Mom and Kiddie Edisi X Tahun X Terbit 22 Oktober-4 Oktober 2015.  Sebelumnya aku mendapatkan email pemberitahuan bahwa akan dimuat. Jadi, langsuk cegat dong di lapak koran dekat rumah (dekat? jauuuh sebenarnya bawa motor bisa 30 menit). Tak apalah ya demi sebuah bukti heheh... 


Senin, 26 Oktober 2015

Resensi Buku Sayap-Sayap Mawaddah : Merawat Cinta Agar Berbuah Mawaddah



Resensi Buku Sayap-Sayap Mawaddah

Judul               : Sayap-sayap Mawaddah
Penulis            : Afifah Afra dan  Riawani Elyta
Tebal              : 206 halaman
Tahun             : Juli 2015
Penerbit          : Indiva
ISBN              : 978 – 602 – 1614 – 65 – 5


Data Pengadilan agama di Indonesia merilis  dari dua juta pasangan menikah pada tahun 2010, terjadi 285.184 pasangan bercerai. Besarnya jumlah itu membuat Indonesia menjadi posisi pertama negara dengan angka perceraian tertinggi di Asia Pasifik. Padahal, Indonesia memiliki penduduk mayoritas muslim. Dimana, dalam Islam, pernikahan adalah bernilai ibadah. Sebaliknya, perceraian adalah peristiwa yang sangat dibenci Allah  Swt. Lebih mengejutkan, dari semua gugatan perceraian itu, 70% dilakukan oleh pihak istri (kaum perempuan). Fakta tersebut menjadi sebuah tanda tanya, ada apa dengan kaum perempuan saat ini? Apakah pernikahan yang tidak harmonis itu menjadi goyah karena modal sakinah mereka sudah habis? Sementara mawaddah dan rahmah buah dari sakinah belum di dapat?  Hal inilah yang dikupas dengan cermat oleh dua penulis hebat Afifah Afra dan Riawani Elyta. 

Buku non fiksi berjumlah 206 halaman ini adalah lanjutan dari buku sebelumnya, Sayap-sayap  Sakinah. Di buku ini, penulis mengajak pembaca untuk membahas permasalahan hubungan suami dan istri dengan konsep mawaddah sebagai fokusnya. Menurut Imam Abu Hasan al-Mawardy, Mawaddah artinya mahabbah, yaitu rasa cinta. Khususnya yang mengarah pada perasaan dua manusia berlawanan jenis yang telah dewasa (hal 16). Lebih spesifik, dalam tafsir Ibnu Abbas dijelaskan bahwa mawaddah artinya cinta seorang istri kepada suaminya. Pendapat Imam Baidlowi menyebutkan bahwa mawaddah dikiaskan sebagai jima' (hubungan seksual antara suami dan istri). 

Di dalam Al Qu'ran, mawaddah disebut sebanyak 29 kali. Sedangkan mahabbah dengan berbagai bentuk disebut sebanyak 95 kali (hal 28). Untuk itu, dalam pernikahan sangat diperlukan adanya perasaan mawaddah. Apa artinya jika dalam pernikahan tak ada mawaddah? Menikah adalah lisensi bagi suami istri untuk mengeskpresikan insting seksual. Tapi, insting seksual seseorang terhadap pasangannya atau pun seseorang yang belum menjadi pasangan sahnya dapat menjadi berkah atau musibah. Contohnya legenda Ratu Mesir, Cleopatra sang ratu yang konon cantinya luar biasa. Kecantikannya dapat mencundangi kaisar Romawi sekaligus (hal 35).

Fitnah perempuan juga dialami oleh orang shalih. Contohnya Umar bin Abdul Aziz yang jatuh cinta kepada budak istrinya. Berkali-kali ia meminta izin untuk menikahi budaknya, tapi ditolak oleh istrinya Fathimah. Namun, rasa cinta yang bergejolak itu teredam sejak ia menjadi Khalifah. Umar bin Abdul Aziz menolak untuk menikahi budak yang ternyata juga mendambakannya. Padahal istrinya sudah merestuinya. Umar lebih memilih merawat cinta-Nya dibanding nafsu menikahi budak tersebut. Umar sangat yakin dan ingin menjalankan firman Allah Swt dalam Qs. An-Nazi'at ayat 40-41.

Perasaan cinta yang bergejolak mampu diredam oleh Umar berkat kedekatannya kepada Allah Swt. Lalu bagaimana merawat cinta agar berbuah mawaddah? Pada buku ini di bab keempat (Sayap 4) dibahas lengkap oleh penulis undangan Ahmad Supriyanto seorang dokter yang membahas tentang seksologi sebagai unsur pokok pilar mawaddah.

Pada sayap empat ini, penulis membahas mengenai adab-adab menyalurkan seks kepada pasangan.  mulai dari foreplay (pemanasan) prasenggama, mengoptimalkan daerah erogen dalam membantu istri mencapai orgasme hingga pembahasan mengenai problem-promblem yang sering terjadi dalam ketidakmampuan mencapai orgasme, seperti impotesi dan ejakulasi dini (hal 67).

Kemudian dibahas mengenai perempuan juga harus agresif dalam melayani suami.Diksiahkan  Yeholana yang memikat suaminya Kaisar Manchu Hsien Feng bersaing dengan 3.000 selir lainnya. Yeholana belajar kepada pelancur, sehingga Kaisar menjadi mabuk asmara dengan pelayanan Yeholana dibanding istri-istrinya yang sering bersikap "pasif (hal 74). 

Namun, itu hanya salah satu cara merawat cinta dalam rumah tangga. Kerap kali kita dengar perceraian terjadi dalam waktu lima tahun pernikahan. Padahal waktu singkat itu rasa cinta masih mengebu-ngebu. Tapi, lagi-lagi ketidakcocokan yang dikambinghitamkan sebagai penyebab retaknya rumah tangga (83). Lalu, apakah setiap ketidakcocokan berakhir perpisahan? Rumah tangga perlu selalu "dihangatkan", tahapan itu seperti belajar mencintai, tunjukan cintamu, dan buktikan cintamu (hal 95).

Buku ini memang tidak setebal dari buku lain yang membahas tema pernikahan, tapi isinya lengkap dan dibahas secara lugas dengan diksi yang  sangat indah. Setiap bab ada puisi-puisi yang indah dan romantis. Buku ini ditutup dengan lima kisah sejati tentang keajaiban cinta. 

Dari uraian yang telah saya sampaikan di atas, jika buku ini akan direvisi untuk perbaikan ke depan, saya memberikan beberapa masukan :

1. Data perceraian yang diulas menggunakan data yang lebih terkini, misalnya tahun 2013 atau 2014 sehingga lebih up date.

2. Untuk penggunaan contoh lirik lagu, hendaknya dipilih lagu yang lagi ngetren saat ini. Lagu dangdut dengan lirik, "kalau cinta sudah melekat, gula jawa pun rasa coklat," sudah tidak relevan. Kemudian di dua bab (Sayap 9 dan Sayap 10) menggunakan contoh lirik lagu Nicky Astria dan alm Nike Ardilla. Menurut saya, lirik lagu ini sudah jarang terdengar, akan lebih mengena jika menggunakan lirik lagu yang sekarang lagi tren.

3. Untuk kisah keajaiban cinta, mungkin ada baiknya disisipkan kisah bagaimana menghadirkan mawaddah jika pasangan belum memiliki keturunan.

Terlepas semua itu,  buku  tema pernikahan dengan harga terjangkau tapi ulasannya lengkap membuat buku ini pantas direkomendasikan untuk pasangan yang baru menikah atau yang lama sekali pun. Pernikahan yang bernilai ibadah harus terus dihangatkan, dirawat agar berbuah mawaddah. Covernya yang teduh, dua ekor burung dengan taman bunga yang mengepakkan sayap-sayapnya hingga terjadilah rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah





Sabtu, 24 Oktober 2015

Ketika Ratu Antologi Jadi Blogger

Ngeblog Asyik Ala Ratu Antologi


"Gimana nih cara nampilkan fotonya?"
"Cara nulis link bagaimana?"

Si perempuan berkaca mata itu panik sekali. Ia sedang di warnet langganannya. Anaknya yang masih usia 5 tahun asyik bermain pasir di halaman warnet.  Demi belajar ngeblog, si perempuan berkacamata itu rajin tanya teman-temannya. Maklum dulu itu, belum sebanyak ini tutorial ngeblog. Jadi, tanya dengan teman sesama bloggerlah jalan pintasnya.

"Eh, ada lomba nulis, posting di blog. Hadiahnya lumayan banget, ikutan ya!"

Minggu, 18 Oktober 2015

Ibu Rumah Tangga Juga Butuh Pulsa

Memilih Resign dan Melepaskan Sertifikasi guru demi keluarga

Juni tahun 2013, aku resmi resign dari guru di sebuah SD Swasta. Aku melepas impianku menjadi wanita karir. Punya baru seragam, bekerja dan punya penghasilan sendiri. Aku juga harus rela melepaskan sertifikasi guru yang susah payah aku dapatkan, bahkan dengan berdarah-darah dan berurai air mata (kisahnya ada di sini).

Temanku sampai menegur, "Emang kamu tahan jaga anak sampai 24 jam?" atau "Enggak sayang tuh dengan sertifikasi gurunya? Kan bisa buat DP mobil."

Ada juga yang lebih menohok, "Kamu mau kerja apa? Nanti enggak bisa punya uang jajan, kamu kan suka jajan," kata seorang teman melihat aku jajan di kantin sekolah.


Rabu, 14 Oktober 2015

Cara Mudah Beli Tekwan Tidak pakai Repot

Tekwan di Padang
Assalamualaikum Sahabat Smart Mom,

Selamat tahun baru Islam, 1437 Hijriah ya, semoga tahun baru ini kita akan semakin baik lagi, amin. Nah, aku mau cerita soal makanan kegemaranku. Aku suka sekali makan tekwan. Itu makanan khas dari Palembang. Ibuku memang berasal dari Sumatera Selatan. Jadi, makanan tekwan sudah tidak asing lagi di keluarga kami. Kalau ada acara keluarga, kami selalu membuat tekwan. Bahkan, lebaran lalu, keluargaku juga buat tekwan. Sayangnya, aku belum bisa buat tekwan yan enak. Apalagi cari ikan tenggiri susah banget dekat rumahku. Makanya, saat pindah ke Padang, aku tersiksa bangettt belum bisa makan tekwan (lebay.com). Rasa kangen makan tekwan baru terobati saat mudik ke Bengkulu lalu. 

Selasa, 13 Oktober 2015

Yuk, Raih Jutaan Rupiah dalam Lomba Resensi Buku Indiva 2015

Menulis resensi itu asyik loh. Karena kita enggak suka-suka mencari ide. Idenya sudah ada dalam buku. Kita tinggal baca dan mesarikan isi bacaan kita. Nah, yang susah-suah gampang itu buat paragraf pertamanya hehehe....soalnya opening resensi bisa membius pembaca, menarik hingga ke akhir resensi kita. 

Bersyukur aku pernah ikutan pelatihan menulis resensi jadi tahulah dikit ilmu menulis resensi xixixi... Tapi, menulis resensi untuk lomba dan media berbeda loh. Sahabat Smart Mom bisa baca resensi saya untuk media ada di sini dan untuk lomba ada di sini. Alhamdulillah pernah menang lomba resensi Indiva tahun 2013. Nah, tahun ini mau nyoba lagi ah, semoga meningkat prestasiku, amin. Nyoba juga yuk! Ini syarat-syaratnya :




Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015 (DL 23 Oktober 2015)

Lomba cerita rakyat telah berlalu. Jangan sedih ya kalau belum menang. Ikuti lomba yang lain. Masih ada lomba cerita rakyat yang menggoda hehehe....Nah, sahabat Smart Mom pasti semangat dong ya? Ini ada syarat lombanya, dibaca baik-baik ya. Info berasal dari fb NuBi di sini.  Semoga menang!



Ikutan Lomba Menulis Dongeng yang diadakan oleh Nusantara Bertutur dan KSAN 2015 yuk!


Jadi, Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) adalah acara dua tahunan (sejak 2007) yang dilaksanakan sebagai bagian dari upaya pencapaian Universal Access 2019.

Lalu, dalam KSAN tahun ini ini diadakan Lomba Menulis Dongeng Anak – KSAN 2015. 

Tema Nusantara Bertutur (NuBi) Bulan Oktober 2015


Niat banget ya pengengen nulis di NuBi ak Nusantara Berturur, makanya aku langsung copy aja dari fb NuBi. Biar ingat dan enggak susah nyari syarat-syarat nulisnya. Oh ya, sahabat Smart Mom juga mau tahu? Ini aku tulisan ya :)

Sabtu, 10 Oktober 2015

Cerita di Balik Blog :Yuk, Menabung 3 Harta Abadi Lewat Blog





Aku punya blog tahun 2010. Saat itu dibuatkan teman karena aku asli gaptek habis.  Saat itu, niatnya buat ikut lomba blog yang diadakan Anazkia salah satu srikandi blogger. Kaget plus happy berat, ternyata tulisanku sertifikasi oh sertifkasi menang menjadi juara pertama. Dapat uang 500 ribu. Uangnya sangat bermanfaat bagiku. Langsung ganti kaca mata. Alhamdulillah, dari ngeblog ternyata bisa membuka peluang rezeki ya?

Jumat, 09 Oktober 2015

Resep Donat Enak, Mudah, Murah, Modal Di Bawah 50 ribu

Donat Mudah Modal di Bawah 50 ribu


Anak-anakku sangat menyukai makan donat.  Apalagi sejak di Padang, ada anak yang keliling jualan donat dan bakwan. Lalu, terpikirkan kapan ya bisa bikin donat sendiri? Dulu, waktu di Lampung, ada teman guru yang membawa donat kentang. Aku dikasih dan saat mencicipnya enak deh. Huah...ngiri kapan bisa bikin donat sendiri? Tapi,  keinginan itu terpendam saja dan malas esekusi resepnya. Nah, suatu hari Faris akan mengadakan Market Day di sekolahnya. Faris ingin aku membuatkan 30 donat untuk dijual. Faris enggak mau pesan dan memaksa Umminya membuat sendiri. Akhirnya ngubek-ngubek resep di internet. Dan aku tertarik dengan resep yang enggak pake timbang-timbang. Males en timbanganku rada eror. Alhamdulillah nemu di blog resep donat yang praktis.

Inilah resep donat parktis. Resep donat yang murah dan enak. Resep donat yang hanya bermodal kurang dari 50 ribu hehehe...

Kamis, 08 Oktober 2015

Pengalaman Pakai XL di Thailand




Subuh menjelma. Pagi-pagi sekali aku sudah menyiapkan sarapan. Pagi yang istimewa karena suami akan berangkat ke luar ngeri untuk pertama kalinya. Ya, suami dapat tugas kantornya ke Thailand. Sejak beberapa hari lalu telah berkemas dan menyiapkan perlengkapan.

Rabu, 07 Oktober 2015

Mencicipi Sarapan Katupek Pitalah

Mencicipi Sarapan Katupek  Pitalah. Saat baru sampai di Padang. Orang bilang, makanan di Padang itu cuma ada dua. Satu enak dan dua enak sekali hehehe...jadi makanannya emang enak-enak. Pokoknya masakan Padang super mantap deh. 

Biasanya,saat di Lampung, kami sarapan dengan makan ketupat itu jarang banget. Paling banter makan ketupat sayur. Itu pun pakai ketupat eh lontong dari plastik atau pakai daun pisang. Berbeda di Padang, lontongnya dari ketupat euy. Rasanya jelas banget bedanya. 

Nah, soal katupek pitalah atau lidah Padang ngomongnya Ketupek Pitalah . Kami baru dengar. Sore itu, Maya Lestari Gf main ke rumah, dia membaca pecel yang mantep banget. Wih, kami langsung jatuh cinta (kapan-kapan aku posting ya). Ngobrol ini itu, dia merekomendasikan sarapan dengan ketupat pitala.

Penasaran apa sih bedanya katupek pitalah dengan lontong sayur atau pun ketupat yang sering dijual dekat rumah. Kami pun mencari lokasinya.

Lokasi tempat jual ketupat pitala ada di dekat Pasar Belimbing (orang Padang menyebutnya Balimbiang). Tempatnya bersih dan penjualnya ramah loh. Sepertinya itu usaha keluarga karena penjualnya ramai bergotong-royong. Kalau Hari Minggu ramai banget di sini. Datang telat sedikit saja (jam 8-an) sudah habis deh, jadi kalau ke sini buruan hehehe

Menu di Cafe Anggur Raya pilihannya cukup banyak. Selain katupek pitalah ada juga katupek gulau tauco, sarabi talua, kolak pelangi, bubur kacang padi, pergedel jagung, bakwan, salak lauak dan lainnya. Khusus Hari Minggu ada nasi sup jagung, nasi sup ayam, lopis dan teh talua.

Tak mau berlama-lama, kami langsung memesan katupek pitalah. Eing-eng...akhirnya pesanan kami datang :)
Katupek Pitalah Padang


Minggu, 04 Oktober 2015

Piknik yang Dirindukan : Sehat dan Hemat

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk  atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkantentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami,tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa neraka."
 (QS.Ali Imron:190-191)


Akhir-akhir ini Padang terasa panas. Hujan jarang datang. Debu bertebaran. Pakai kipas angin tak mempan menciptakan kesejukan. Belum punya AC sih, hehehe... Mandi 5 kali sehari kayak mau sholat sudah dilakukan. Gerah banget. Makanya, pas suamiku ngajak "ngadem" di Universitas Andalas (Unand) aku langsung bersorak. Horee... piknik ya?

"Beneran nih?"

"Iya, siaplah berangkat!" 

Sepagi ini kami bergegas. Anak-anak dimandikan. Menyiapkan bekal. Dari makanan MPASI untuk si kecil Aisyah, diaper, pakaian ganti, air minum, matras untuk tempat duduk, dll. Karena belum sempat masak nasi, kami membeli pecel di warung langganan. Lalu, kami berangkat piknik ala keluarga kami. 

Piknik Murah Meriah
Sepanjang jalan, tiap ketemu mobil bagus kami berdoa, Ya Allah mudahkan kami punya mobil agar bisa melancarkan kegiatan dan urusan kami hihihi... Selalu bicara soal mobil hal yang paling disukai Faris. Si sulung kami bilang, "Nanti Mamas mau punya mall, punya mobil banyak. Mau jadi pengusaha." 

Ya, selama di atas motor, kami manfaatkan mengobrol. Tentu saja bawa motornya harus pelan-pelan. Biasanya Faris akan mudah cerita soal kegiatan di sekolahnya. Dari soal PR yang banyak, teman yang suka mengejek sampai suka dengan lawan jenis. Hadeeh, enggak berasa ya anak sulungku udah 9 tahun. Udah deg-degan nunggu cerita mimpi basahnya hihihi... #emaknyakepo

Motor terus melaju dan belok ke kiri. Kami melewati jembatan. Di bawah terlihat orang menggambil pasir dan sebuah truk besar. Faris dan Fatih heboh melihat sungai yang airnya sudah kering. "Ummi, itu ngambil pasirnya izin enggak?" Tanya Faris. Eh, enggak pernah terlintas itu pertanyaan. Tiap lewat sungai paling ngebatin, kasihan ya si bapak ambil pasir berat gitu. Lah si Faris kepikiran soal perizinan? Ck..ck... Anak siapa ya? *emaknya bersemu merah*

Jembatan Menuju Unand
Akhirnya gerbang Unand di depan mata. Hawa sejuk terasa. Beda banget dengan daerah rumahku yang panas. Di Unand adem banget. Berasa di atas puncak. Memang tempatnya lebih tinggi dan banyak pohonnya. Kami langsung mencari lokasi. Sebuah taman yang terlihat ada tebing dan rumput yang kami pilih. 

"Ayo turun, disitu lebih asyik!" Ajak Abi. Ya, tempatnya lebih datar dan banyak rumputnya. Pasti seru gelar duduk di sana. Kami turun dan menggelar tikar yang kami bawa. 

Taman di Unand, banyak orang pacaran, hadeeh...
Di bawah, kami menggelar matras. Membuka bekal dan sarapan. Aku menyuapi Aisyah. Faris dan Fatih makan sendiri. Sedangkan Abi makan pecel yang tadi dibeli. Usai sarapan, anak-anak langsung berlari ingin bermain di rumput. Faris langsung naik turun tebing. Fatih mengumpulkan ranting-ranting, sedangkan Aisyah merangkak di rumput. Aku juga mengajak anak-anak membaca buku. Fatih dan Aisyah yang sangat antusias, sedangkan Faris masih senang berlari-lari.
Sarapan dan Mendongeng

Bermain rumput
 Aku dan suami bergantian sarapan. Setelah Abi selesai makan. Giliranku yang makan, Abi menjaga anak-anak. Abi juga mengajak anak-anak berolahraga. Saat Abi melatih jurus karate, dikira Fatih mengajak bermain monster-monsteran. Jadilah akhirnya Fatih menjadi robot mengalahkan moster hahaha...
Bermain monster-monsteran
Kalau sudah piknik begini. Senang deh... anak-anak terlihat akrab dan lebih terbuka buat cerita. Aku dan suami sembari mencuri waktu untuk menghangatkan suasana. Cie... kadang sambil berpegangan tangan, kami mengobrol visi dan misi keluarga kami. Apalagi saat ini suami lagi kuliah S2-nya. Lagi sibuk dengan tesisnya. Tiap malam begadang. Jarang ngobrol ngalur-ngidul. Aku sibuk dengan anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Suasana piknik beginilah yang dirindukan. Jika suasana mendukung, hati juga jadi adem hehe...  ya iyalah ibu rumah tangga itu banyak banget pikirannya. Dari ngurus menu makanan, kesehatan anak sampai memijat suami dikalah lelah hihihi...tuhkan top banget jadi ibu rumah tangga hehe... jadi sesekali bolehlah berpiknik ria asal tidak boros. Nah, piknik menurutku harus memperhatikan sebagai berikut :
1. Tempat yang nyaman (ada kamar mandi).
2. Tempatnya dekat (Kalau bawa balita kuatir kelelahan, nanti gampang sakit).
3. Bawa perlengkapan (makanan, obat kesehatan, baju ganti, dll).
4. Bawa tissu basah.(Ini mudah buat pengganti cuci tangan yang higenis).
5. Buat kesepakatan dengan anak-anak sebelum pergi (Perjanjian agar tidak minta jajan sembarangan, buang sampah pada tempatnya, dan lain-lain).

Mendaki tebing sambil bawa bayi
Matahari telah tinggi. Kami bergegas menyudahi petualangan piknik hari ini. Berbeda dengan datang saat turun dengan jalan yang biasa dilalui pengunjung. Kali ini kami pulang dengan mendaki.Lumayan ngos-ngosan dan mengeluarkan keringat. Alhamdulillah, badan jadi sehat. Lalu, kami bermotoran keliling Unand. Saat di Fakultas Peternakan, Faris berteriak, "Ummi, ada sapi yang dikutuk!" hah? Masak sih, sapi dikutuk? Olala...ternyata yang dimaksud Faris patung sapi! Onde mandeh.... sapi dikutuk kayak Legenda Malin Kundang aja dikutuk jadi batu hehehe...

Patung Sapi Bukan Sapi Dikutuk Jadi Batu
Aisyah say, "Wah, Abi dan Ummi, aku ikutan foto celfie doong.."


Menjelang dzuhur kami sudah pulang. Piknik hari ini sangat menyenangkan. Anak-anak senang, Umminya juga happy dan Abi juga dapat tersenyum karena tidak membuat kantong bolong hahaha... pengeluaran kami saat piknik hari ini hanya membeli pecel, air mineral, es tebu dan es dugan (kelapa muda). Murahkan? Piknik tak perlu jauh-jauh yang penting keluarga mendapatkan manfaatnya. Keakraban tercipta, ruhiyah  terisi karena mentadaburi alam dan hemat. Tetep...hemat mah pangkal kaya hihihi...


Gerbang Unand

Ngomong-ngomong soal piknik. Aku pengen ngajak anak-anak liburan di Bogor. Saat masih lajang aku pernah ke Bogor. Ngebolang dengan adik tingkat usai praktik umum di Getas. Tapi, sudah lama banget. Pasti Bogor sudah banyak perubahan. Jika liburan di Bogor pengen mengajak anak-anak Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor. Anak-anak pasti suka berlarian di rumput yang luas. Pohonnya besar bikin adem dan suami yang suka sejarah pasti sangat antusias melihat Istana Bogor. Wah, kapan ya bisa ke Bogor? Teman-teman mau jugakan? Di sana bisa nginap di berbagai hotel. salah satunya Padjajaran Suite Hotels dan Resort Semoga suatu hari kelak kami bisa nginap di sana ya :) Saat ini bersyukur dulu pikniknya ke Unand aja karena lebih dekat dari rumah dan hemat hihihi...

Nah, Moms, pekan ini mau piknik ke mana? Yuk, piknik biar sehat jiwa dan raga :)


Lomba Blog Piknik  Itu Penting


Sabtu, 03 Oktober 2015

Cernak : Kiki Berani Ikut Lomba (Lampung Post, Minggu 29 Maret 2015)

Cernak di Lampung Post, Minggu 29 Maret 2015.



Cernak ini terinspirasi dari sebuah tulisan teman tentang ikut lomba puisi. Nah, aku tulis dalam dongengnya. Tentu saja beda alur dan konfliknya. Tapi pesan yang kusampaikan adalah berani ikut lomba. Menang atau kalah itu urusan lain hehehe...  Alhamdulillah dimuat di Lampung Post, Minggu 29 Maret 2015.


Kamis, 01 Oktober 2015

Idul Adha dan Sepeda Faris yang Hampir Hilang

Alhamdulillah tahun ini Idul Adha kami yang kedua di Padang. Sungguh menambah kebahagiaan. Aisyah sekarang sudah 1 tahun dan bisa diajak sholat Id. Sejak subuh kami telah bersiap-siap untuk ke Mushollah. Anak-anak happy mau lihat sapi dan kambing. Oh ya, sebelumnya sudah diceritakan ke Faris dan Fatih cerita mengenai Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail juga dibalik hikmah potong kurban.

Pukul 06.45 WIB kami berangkat dari rumah. Faris dan Fatih sangat bersemangat. Aku telah menyiapkan makanan untuk Aisyah agar selama sholat Id bisa tenang.

Ummi dan Aisyah
Faris dan Fatih