Minggu, 20 September 2015

Resensi Buku Rahasia Pelangi : Menjaga Kelestarian Gajah Lewat Novel

Alhamdulillah resensi ini dimuat di Koran Jakarta pada tanggal  24 Agustus 2015. Nah, buat yang mau ngirim boleh dibaca syarat-syaratnya di sini.  Ini kedua kalinya resensiku dimuat. Pertama kali resensi dimuat pada tanggal 29 April 2014 (wiih jagu ya jarahnya? hahahaha... Moms bisa baca juga di sini :) 

Ini resensi sebelum diedit, silakan baca yang versi asli sedangkan versi yang sudah diedit ada di foto korannya :) *kebaca enggak?* hihihi...

Ayo coba dikirim, honornya lumayan banget loh Rp. 277 ribu (sudah dipotong pajak), asyik kan?

Selamat membaca :) dan selamat mencoba kirim resensi ke Korjak :)





Menjaga Kelestarian Gajah Lewat Novel

Judul : Rahasia Pelangi
Penulis :  Riawani Elyta dan Shabrina Ws
Penerbit : Gagas Media
Tahun : 2015
Tebal : 324 Halaman
ISBN  : 979-780-820-3

Konflik gajah liar yang masuk ke perkampungan warga pernah terjadi di Riau pada tanggal 23 Maret 2015 lalu. Kawanan gajah berjumlah 20-30 ekor mengamuk masuk perkebunan sawit hingga menelan korban jiwa. Hal ini disebabkan karena hutan yang sudah berkurang. Kawasan hutan telah berganti menjadi perkebunan sawit. Gajah yang marah karena  kehilangan hutannya masuk ke perkampungan warga. Inilah PR besar dalam penjagaan kelestarian lingkungan agar gajah bukanlah ancaman bagi manusia.  Konflik ini diramu dengan apik oleh duet penulis novel  Riawani Elyta dan Shabrina Ws. Keduanya juga pernah berduet dan menang juara I Lomba Novel remaja Bentang Belia 2011.

Dikisahkan Anjani  yang memiliki trauma pada gajah saat masa kecilnya memilih profesi yang jarang dilakoni perempuan pada umumnya yaitu sebagai mahout (pelatih gajah). Anjani sebelumnya mendapat pelatihan di Way Kambas Lampung bertemu dengan Chayood Pratham atau Chay seorang keturunan Thailand. Chay mewarisi keahlian kakeknya yang seorang pensiunan mahout. Semua keluarganya menekuni profesi sebagai mahout.  Chay sangat ahli dalam menjinakan gajah. Cukup dengan tepukan tangan, Chay dapat memerintahkan gajah. Ia tidak pernah memakai gancu (tongkat pengait untuk mengendalikan gajah). (Halaman 46).

Keduanya lalu bertemu kembali saat bersama bertugas di TNTN (Taman Nasional Tesso Nilo). Kedekatan Anjani dan Chay semakin erat mana kala mereka berdua tanpa direncanakan menyaksikan seekor gajah bernama Rubi melahirkan. Saat menunggu Rubi melahirkan, Anjani melakukan sesuatu tindakan yang sangat penting, sehingga Anjani mendapatkan kehormatan untuk memberikan nama anak gajah yang baru lahir. Padahal, biasanya memberi nama anak gajah harus menunggu kehadiran gubernur.

Chay sudah cerita, pada saat genting, kau justru melakukan apa yang tidak dia pikirkan. Kau bahkan berlutut di bawahh Rubi hinga wajah dan pakaimu  penuh bercak darah,” kata Pak Bima (halaman 53).

Chay dan Anjani bertugas melatiih gajah-gajah. Chay melatih gajah bernama Indro dan Anjani melatih gajah bernama Beno. Keduanya saling mengagumi dalam diam. Tak sekali pun Chay mengutarakan isi hatinya.  Demikian pula dengan Anjani. Keduanya dengan rapat menutupi isi hati masing-masing. 

Suatu hari, datang seorang gadis cantik, cerdas, energik tapi sedikit ceroboh bernama Rachel. Ia adalah  seorang aktivis lingkungan hidup di sebuah organisasi CWO (Change World Organization).  Kehadiran Rachel yang didampingi rekannya Febriando atau Ebi ini menyulut rasa cemburu Anjani. Terutama saat melihat Rachel bersama Chay bermain dengan Indro. Lalu, Rachel menaiki punggung Indro, oleng dan hampir terjatuh. Saat itu, Chay dengan sigap membantunya (halaman 103).

Sejak itu Anjani menghindari Chay. Hatinya bergejolak. Anjani bingung untuk bersikap. Disaat bersamaan, ada penyerangan. Sekelompok gajah liar masuk ke kebun sawit.  Warga telah mencoba mengusirnya tapi gajah memakan tanaman warga. Untuk mengantisipasi korban jiwa, diturunkan tim Flying Squad (tim patroli gajah latih). Rachel ikut dalam tim tersebut dan memaksa turun untuk merekam kejadian sehingga musibah itu terjadi. Rachel mengalami retak kaki yang cukup parah membawa Anjani dalam penyesalan yang sangat dalam.

Namun,dibalik musibah ada kebahagian yang menanti. Harapan hidup Rachel  perlahan bangkit berkat  pendampingan yang dilakukan Ebi. Rachel  menyadari sikap ceroboh akan menyulitkan semua orang. Lalu, bagaimana dengan Anjani dan Chay? Apakah keduanya bersatu dalam ikatan cinta yang abadi?

Novel berlatar kelestarian alam ini mengajak kita untuk bersikap bijak dalam kehidupan. Dilengkapi catatan kaki di setiap istilah yang ditemui sangat memudahkan pembaca memahami istilah baru. Novel ini juga bertabur quoate pembangun jiwa, seperti Cinta bukan seberapa banyak kau mengatakan, melainkan sejauh mana kau buktikan (halaman 317).  Cover buku bergambar gajah, hutan dan dua orang sedang menyayangi gajah sangat mendukung isi novel ini.

Nah, di sini yang sudah diedit editor KorJak  :)

Resensi Buku Rahasia Pelangi di Koran Jakarta


Resensi Buku Kisah Pecah Kongsi (KPK) : Menelisik Eksotisme Bengkulu dan Kisah Persahabatan

Ini resensi buku yang tulis dan pertama kali dimuat di Koran Jakarta pada tanggal 29 April 2014. Kaget juga plus senang karena cepat banget dimuat. Aku kirim subuh, besok harinya dimuat. Wow, senang banget. Mana lumayan juga honornya hihihi *emak matre* mau ikutan ngirim ke Koran Jakarta? Syarat lengkapnya bisa dibaca di sini ya :)

Menelisik Eksotisme Bengkulu dan Kisah Persahabatan

Foto:
Memiliki sahabat adalah salah satu anugerah. Dia dapat meneguhkan saat duka dan berbagi tawa kala bahagia. Namun, persahabatan haruslah dibina dan dijaga agar tidak terjadi perpecahan. 

Novel Kisah Pecah Kongsi (KPK) ini menceritakan lima sahabat yang terjalin sejak SMP. Mereka terdiri dari dua cowok, yakni Restu, Raksa dan tiga cewek, yakni Eki, Fe, serta Anggira. 

Kelima sahabat ini saling mendukung dalam menggapai cita-cita, walau ada beda ambisi. Seperti saat di kelas sembilan SMP, Anggira berhasil masuk grand final kontes Ciknga dan Donga dalam ajang pemilihan putra dan putri Bengkulu. Semua sahabat mendukung dan hadir di acara bergengi tersebut.
Mereka tetap hadir walau dari Desa Curup ke Kota Bengkulu sangat jauh. Demi persahabatan, mereka berkumpul. Keempat sahabat mendukung Anggira hingga berhasil menjadi runner up Cikga Bengkulu, (halaman 67).

Seusai pemilihan, Anggira memilih pulang secara estafet bersama teman-temannya. Mereka menumpang sebuah mobil milik Om Anton. Di perjalanan antara Bengkulu dan Curup, mereka berhasil melihat bunga langka, khas Bengkulu, Rafflesia, yang tengah mekar. Di depan bunga ini mereka berikrar untuk menjaga persahabatan berlimanya.

“Kuntum-kuntum Rafflesia akan tetap mekar di hati…. Kapan pun dan di mana pun,” begitu mereka berjanji, (halaman 87). Namun, apa mau dikata, KPK pun terjadi. Setamat SMP, mereka berpisah. Fe melanjutkan sekolah ke Pesantren di Yogyakarta. Anggira yang terobsesi menjadi artis melanjutkan sekolah di Jakarta. Tinggallah Restu yang memilih aktif di Rohis. Raksa yang berwajah tampan dan Eki yang tomboi tetap tinggal di Bengkulu. 

Keretakan persahabatan bermula dari Eki yang kehilangan kaos olah raga. Restu tertuduh mencuri kaos tersebut sehingga terjadi perang dingin dengan Eki. Namun, lambat laun misteri kehilangan terungkap saat Eki mengalami kecelakaan fatal dan berujung pada kematian. Siapakah sebenarnya yang mencuri kaos olah raga Eki? 

Ini adalah novel remaja dengan seting daerah budaya Bengkulu. Tak hanya Rafflesia yang sudah terkenal sebagai ikon Bengkulu, tapi juga Curup, tempat bermukim para tokoh novel. Novel juga dilengkapi banyak puisi seperti dalam halaman 46, “Kenapa bergerimis karena aku terus berduka untuk menyemai bibit. Gerimis tak cukup mampu memberi tenaga menumbuhkan kecambah hati yang luruh. 

Di sini juga dikisahkan fenomena remaja masa sekarang. Ada yang bercita-cita menjadi artis, ada juga yang berjiwa sosial tinggi seperti Anggira. Dia rela membiayai sahabatnya menuju Jakarta untuk bersama-sama menemani Eki yang akan dioperasi. Sikap sosialnya antara lain terungkap dalam ungkapan Anggira, “Sekarang bukan saatnya membicarakan besar dan kecilnya materi, untung atau rugi. Eki membutuhkan kita”, (Halaman 130). 

Novel ini pantas direkomendasikan untuk remaja. Bacaan yang aman dan penuh renungan tentang persahabatan, cita-cita, dan sarana mengenal budaya Indonesia, terutama Bengkulu. Sayang, pada cover tidak dilengkapi foto berlatar Pantai Panjang atau bunga Rafflesia, ikon Bengkulu. 

 Diresensi Sri Rahayu, S1 Kehutanan Universitas Bengkulu


Judul Buku    : Kisah Pecah Kongsi (KPK)
Penulis        : Elzam Zami Cimot
Penerbit    : Citra Media Pustaka, Yogyakarta
Tebal        : 184 halaman
Cetakan    : I/ Februari 2014
ISBN         : 978-602-7729-93-3
Peresensi    : Sri Rahayu, S.Hut



contoh tulisan : http://koran-jakarta.com/?10962-menelisik+eksotisme+bengkulu+dan+kisah+persahabatan