Selasa, 22 September 2015

Cernak Edisi Juli 2015 di Majalah Ummi : Angpao Lebaran Untuk Arya

Cernak dimuat di Majalah Ummi Edisi Juli 2015


Cerita anak ini aku kirim setahun. Sengaja untuk tema Lebaran. Alhamdulillahnya direspon cepat banget. Emailku dibalas dan ditanya apakah bersedia menunggu dan diterbitkan edisi Juli saat lebaran? Wow, senang banget doong :) ini pertama kali aku ngirim ke Majalah ummi dan alhamdulillah langsung dimuat. Buat teman-teman yang mau ngirim, silakan baca syaratnya di sini.

Honornya 250 ribu cepat banget dikirimm, bahkan sebelum majalahnya terbit dan penulis dapat bukti terbit loh :) Oiya, nama-nama tokoh aku ambil dari nama murid-muridku dulu di PB 3, semoga anak-anak enggak protes en minta traktir ya hahaha....

Cernak : Angpao Lebaran Untuk Arya

           Sebentar lagi lebaran tiba. Arya sekeluarga, pergi mudik ke rumah kakek nenek di Bengkulu. Tapi, selama perjalanan Lampung-Bengkulu, Arya sibuk dengan tablet-nya. Teguran Kak Santi agar Arya beristirahat, seolah hanya angin lalu. Arya terus saja memainkan game dari tablet-nya. Sejak dapat hadiah tablet dari Paman Fiko, adik bungsu ayah, Arya memang lupa waktu. Padahal, tablet itu adalah hadiah kenaikan kelas untuk Arya dan Kak Sinta. Jadi, harusnya milik bersama.
Awalnya, kesepakatan dibuat. Baru boleh membuka tablet jika sudah selesai mengerjakan tugas dari sekolah. Tapi, lama-lama Arya melanggarnya. Bahkan, jika Kak Santi ingin meminjam untuk mencari bahan pelajaran lewat internet, susahnya minta ampun. Tablet selalu dipegang Arya. Saat pulang sekolah, sebelum mengaji, saat sahur, hingga setelah terawih. Arya baru berhenti jika baterai tabletnya baterai. Kak Santi sampai kesal dibuatnya.
Arya juga mulai berubah. Ia jadi enggan bermain dengan teman-temannya.
“Ar, kita main kembang api, yuk,” ajak Agus selepas tarawih.
“Iya, Ar. Agus punya kembang api panjaaang banget. Pasti indah kalo kita nyalakan,” tambah Rae.
“Enggak, ah. Aku mau main game angry birds terbaru,” tolak Arya sambil memasuki rumahnya. Teman-temannya sampai heran melihat perubahan Arya.
Ajakan Kak Santi untuk pergi tarawih juga kadang ditolak.
“Perutku sakit, Kak. Nanti aku menyusul, deh,” elak Arya.
“Awas, ya, kalau bohong! Jangan-jangan cuma alasan supaya bisa main tablet,” tebak Kak Santi. Arya nyengir. Perutnya memang sakit karena kekenyangan. Saat berbuka tadi, ia terlalu banyak makan. Tapi ketika sakit perutnya hilang, bukannya langsung sholat Isya, Arya malah asyik main tablet lagi.
Bosan bermain game, Arya membuka facebook. Arya memang sudah memiliki akun facebook. Paman Fiko yang membuatnya, untuk menyambung tali silaturahmi dengan para sepupunya di kota lain. Akhirnya karena kelelahan, Arya tertidur dan lupa sholat isya.
Sampai di Bengkulu, keluarga besar ayah Arya sudah berkumpul. Ada sepupu kembarnya, Nina dan Nani dari Jakarta, juga Rahman dari Jambi dan Tiara dari Palembang. Tak lama, mereka langsung akrab. Melepas kangen karena selama ini hanya berjumpa lewat facebook saja.
Takbir bergema. Lebaran telah tiba. Setelah sholat Idul Fitri di masjid, tibalah waktu yang ditunggu Arya dan para sepupunya. Pembagian angpao! Biasanya, setiap paman dan bibi akan memberi angpao pada keponakan mereka. Asyik sekali. Arya sampai menghitung-hitung, berapa besar angpao yang akan didapatnya. Paman dan bibinya ada delapan orang. Jika masing-masing memberi lima puluh ribu, berarti Arya akan mendapat empat ratus ribu. Wah, banyak banget! Arya tersenyum sendiri membayangkan total angpaonya nanti.
“Seperti tahun sebelumnya, kali ini paman juga mau kasih angpao untuk kalian semua,” cetus Paman Yayan pada keponakan-keponakannya. “Tapi, ada syaratnya...” ujar Paman Yayan lagi.
“Apa syaratnya, Paman?” tanya Kak Santi tak sabar.
“Nanti setiap angpao, ada pertanyaannya. Oke? Siap, ya!”
“Siapa yang tahun ini puasanya penuh? Tidak batal sampai beduk maghrib?” Paman Yayan mulai bertanya. Arya dan para sepupunya mengangkat tangan serentak. Semua gembira karena mendapat angpao.
“Yang sholat lima waktunya penuh?” Kali ini hanya Kak Santi yang menunjuk tangan. Aku dan yang lain tidak mendapatkan angpao.
“Uh, kalah deh dari Kak Santi,” gerutu Arya.
“Siapa yang rajin sholat tarawih?”
“Siapa yang khatam mengaji Al Quran?”
“Siapa yang rajin membantu orang tua?”
Entah ada berapa pertanyaan lagi. Dan lagi-lagi, Arya tidak mendapatkan angpao dari paman dan bibinya. Arya jadi kesal sekali. Ini semua gara-gara tablet menyebalkan itu. Gara-gara Paman Fiko juga, sih!
Arya segera berlari masuk ke kamar dan menutup pintunya. Ia kesal, sedih sekaligus malu. Tahun ini, ia hanya dapat satu angpao! Hanya satu!
Diam-diam, Arya menangis di kamarnya. Ia malu jika diejek para sepupunya. Pikiran Arya pun menerawang pada semua tingkahnya yang buruk selama ramadhan kemarin. Ia menyesal karena belum bisa memilih waktu bermain dengan tepat. Gara-gara tablet, ramadhannya jadi berantakan.
Karena lelah menangis, Arya ketiduran. Saat bangun, Arya kebingungan. Ia sudah ada di dalam mobil. Dan di luar, terbentang laut yang indah. Pasti ini Pantai Panjang, pikir Arya. Di kejauhan, terlihat semua sepupunya sedang asyik membuat istana pasir. Sementara yang lain, duduk di atas tikar di bawah pohon kelapa.
Arya beranjak keluar dari mobil. “Siapa yang mengangkatku, Paman?” tanya Arya pada Paman Fiko yang duduk di samping mobil.
“Paman, Ar. Kasihan kalau kamu ditinggal di rumah. Oya, maafkan Paman, ya? Gara-gara tablet dari Paman, tahun ini kamu cuma dapat angpao sedikit,” kata Paman Fiko.
“Ah, Arya yang salah, Paman. Arya tidak pandai mengatur waktu. Maafkan Arya juga, ya?” Arya memeluk pamannya.
“Wah, kamu sudah bangun, Ar. Ikut main pasir, yuk!” ajak Rahman. Tanpa menunggu lama, Arya berlari bersama Rahman. Arya tak ingin lagi kehilangan waktu berkumpul dengan keluarganya.


**
Di atas versi asli belum diedit, semoga bermanfaat ya, selamat mencoba mengirim cernak ke Majalah Ummi ya :)

Cernak di Majalah Ummi Edisi Juli 2015

Ya Rabb, Motorku Hilang


Tulisan ini pernah aku share di Kompasiana tahun 2011. Kisah nyata yang kami alami di rumah kontrakan di Purnawirawan, Lampung. Mengingatnya membuat aku banyak bersyukur. Alhamdulillah kami selamat dan tak kuran apa pun. Berikut kisahnya.


Kemarin aku kehilangan sebuah sepeda motor berwarna hitam, berlist biru. Tentu saja aku sedih.Motor itu khusus dibelikan suami atas namaku dan sudah dilunasinya.


Malam itu aku merasakan beda.Apalagi Fatih dan Faris agak rewel. Si Faris bolak-balik minta antar pipis dan bikin susu. Fatih juga maunya nenen tiduran dan gak mau lepas. Badanku juga agak kurang fit karena Senin baru sudah bawa motor agak jauh.

Pukul 23.00 WIB suamiku yang sedang pelatihan di bogor SMS,"Mi,jangan lupa cek semua pintu,jendela dan lainnya,"

Okelah,kucek semua. Lampu kuganti menjadi lampu kecil,kulepas kunci pintu depan dan kukunci pintu kamar.Tak lama Faris bangun minta ditemani pipis dan buatkan susu.Kuantar ke belakang (kamar mandi dekat dengan penyimpanan motor).Kulihat motor masih ada.

Pukul 01.30 WIB, Faris bangun lagi minta ditemani pipis lagi.Kami kembali ke kamar mandi dan tak terlihat janggal apakah ada kerusakan. Lalu kami larut dalam mimpi. Fatih yang mulai bagun minta nenen, Faris yang minta digarut-garut, bolak-balik aku ke tempat tidur Faris dan Fatih (kamar kami ada dua tempat tidur). Jadi menjelang subuh aku baru tidur. Memang terdengar suara bedebum sekilas di belakang, tapi aku tak mengira jika itu suara orang melompat,  karena rumahku sering terdengar suara seperti itu.

Subuh menjelang,aku terbangun dan sholat. Hingga pukul 05.30 WIB ketika aku menghidupkan sanyo,airnya tak mau hidup.Lama kutunggu tak juga naik airnya. Kubawa seember air dan gayung menuju sumur di samping rumah. Aku berjalan melewati pintu depan. Ketika kembali dan bersenang hati sukses membuat sanyo mengangkat air aku berjalan menuju rumah dan terkejutlah aku melihat pintu samping sudah terbuka dan motorku sudah tak ada. Ya Allah, jantungku berdegup kencang, hilangkah? Aku masih berharap ini mimpi, tapi ternyata kenyataan.Kuhubungi tetangga dan akhirnya aku ke kantor polisi.

Episode di kantor polisi yang lama,membuat aku lemas. Belum sarapan,hanya ada beberapa roti tawar yang kupersiapkan sebagai bekal sekolah Faris, tapi Faris tidak mau sekolah,maunya ikut ke kantor polisi. Di sana,akupun ditanya dan menceritakan kronologis kejadian. Usai pelaporan,polisi langsung ke TKP dan mengecek, tak ada kerusakan pintu,kemungkinan memang pencuri masuk naik tembok yang tinggi di belakang rumahku dan langsung membuka pintu. Walau motor sudah kugembok,kunci stang tapi Allah telah berkhendak.

Sedih ada.Di saat suamiku pelatihan,musibah datang. Harta tak bisa kujaga.Eit,maksudnya aku sudah berusaha ding:) Insya Allah kami suami-istri sudah mengikhlaskan.

Kini, Faris jika ke kamar mandi akan menjerit bila sendirian.Sepertinya masih trauma jika ada orang tiba-tiba datang. Ya, kami patut bersyukur nyawa kami selamat,karena ada kejadian seorang ibu yang dibunuh pemulung yang mencuri motor di rumahnya.

Ya Allah,kuatkan kami,mohon digantikan yang lebih baik lagi,amin.