Pengalaman Kehamilan BO dan Kuret

Assalamualaikum Sahabat Smart Mom,

Aku mau sharing pengalamanku Kehamilan BO dan Kuret. Aku menulis ini agar menjadi kenangan suatu hari ke depan. Di mana aku sudah pernah merasakah kehamilan di usia 41 tahun walau gejala kehamilan itu bukan menjadi janin, tapi kehamilan kosong. Apa itu kehamilan kosong? Cek tulisan aku sebelumnya!

Selain itu, saat Kehamilan BO dan mau proses kuret, aku membaca banyak artikel dan pengalaman orang di blog dan youtube. Rasanya campur aduk sebelum proses itu. Maka, semoga tulisan ini bermanfaat, ya!

Pengalaman Kehamilan Bo dan Kuret

Diary Kehamilan BO di Usia 41 Tahun

Tanggal 19 Oktober hari pertama aku cek tespack dan seketika aku langsung lapor dengan suamiku. "Alhamdulillah," jawab suami dengan wajah berseri. Ya, Abilah yang paling gembira, Abi emang pengen banget nambah anak lagi sejak 2 tahun terakhir. 

Kami berdua gembira menyambut kehamilan tak terduga ini. Bagaimana tidak, sebulan sebelumnya aku baru saja dirawat di rumah sakit karena types, kemudian sejak 2 tahun aku mengalami 'pra menopause' di mana haid hanya 3-4 hari saja. Hormonku tidak lancar dan kehamilan itu membuatku gembira, "Ternyata aku masih subur!" masya Allah!

Kehamilan ini jauh dengan kakak-kakaknya, anak pertama sudah 15 tahun, anak kedua 10 tahun dan anak ketiga sudah 7 tahun. Artinya, kehamilan ini bakal jauh banget kan? Berita gembira ini sengaja aku sembunyikan di media sosialku bahkan keluarga besarku, mengingat usiaku yang udah rawan, aku mau cek sampai benar-benar kondisi aman baru aku umumkan.

Kemudian aku ke Klinik Kesehatan Kedaton Medical Center (KMC) untuk cek apakah benar-benar hamil. Menurutku biar hemat coba dulu deh cek ke bidan dan ternyata bisa cek kehamilan dengan BPJS. Caranya siapkan Fotocopy KTP, Fotocopy KK dan daftar deh! Tapi, untuk rujukan USG harus minimal 3x konsultasi dulu, sehingga USG pertama aku biaya sendiri.

Saat USG pertama, aku ke dokter Idris yang dekat rumah saja kebetulan sudah langganan dan sejak anak kedua aku sudah cek ke sini. Kebetulan saat USG aku sendirian karena suami dinas ke Bengkulu, kampung halamanku. Menurut dokter karena hamilanku baru 6 minggu, hanya ada kantong saja, belum ketahuan ada janin, jadi aku hanya diresep vitamin.

Nah, merasa vitamin dari bidan KMC masih ada, aku enggak tebus resep dari dokter itu, aduh setelah kejadian aku nyesel banget! Ya, dari youtube yang aku baca, kehamilan BO bisa saja bertahan dan janin berkembang kalau makan obat vitaman dosis tinggi. Jadi, ini pelajaran aja Moms, siapa tahu akan jadi informasi bermanfaat ya! Balik ke kisahku ya! 

Ngidam Enggak Saat Kehamilan BO?

Sekilas aku ceritakan kalau selama belum mengetahui kehamilan BO, aku layaknya orang hamil, PD kencang dan terasa bengkak, badan mudah ngantuk dan letih, jalan udah condong ke depan, lapar terus dan ngidam pisang ambon Bengkulu, Untungnya pas suamiku ke Bengkulu, aku dibelikan 2 sisir pisang ambon dari kakakku. 

Nah, aku belum cerita ke keluarga besar soal kehamilan ini. Menurutku, tunggu dulu deh sampai ada USG tampak janinnya baru kirim kabar gembira ini. Sampai kemudian 2 minggu berikutnya, aku dan suami ke dokter B di RS lainnya. Masih pakai BPJS (Bisa dapat USG gratis setelah 3x konsultasi dengan bidan di KMC), jadi kami ngantri berduaan, anak-anak di rumah saja. 

Pada tanggal 14 November 2021 aku cek up ke dokter B. Alhamdulillah menurut dokter B aku sehat dan kehamilan 6 minggu sudah ada kantongnya, tapi di sini aku mulai curiga, "Kok masih 6 minggu ya dok?" saya sudah USG sebelumnya di dokter lain sebelumnya usia kandungan sudah 6 minggu juga," tanyaku. Ya, aku mulai gelisah ketika USG kok tidak ada kemajuan usia janin? Masih ukuran 6 minggu? Padahal sudah nambah 2 minggu jarak USG-nya! 

"Kita tunggu 2 minggu lagi, ya Bu!" semoga nanti janinnya berkembang.

Kehamilan BO (Blighted Ovum)

Menunggu 2 minggu untuk cek kehamilan lagi membuat aku gelisah. Badan sudah sering gregesan karena mual dan pusing. Aku sering tiduran saja kalau sudah siang dan makin mudah ngantuk kalau sudah jam 8 malam. Sampai tibalah waktunya mau USG ke dokter B lagi pada tanggal 28 November 2021 au cek lagi.

Sayangnya aku enggak bisa ditemani suami, perawatnya melarang karena Covid-19 masih tinggi, ya udahlah aku sendirian di ruang pemerikasaan. Keselnya dokter B bercanda, "Kok nenek-nenek mau punya bayi lagi?" sembari ketawa-tawa dengan perawatnya, di sini aku bete abis huhu...

Ditambah saat USG bikin aku makin sedih, "Ini usia kandungannya sudah 6 minggu, bu!" kata dokter. Aku makin panik, "Kok masih 6 minggu dok? Kan sudah USG 2 minggu lalu!" Nah, enggak enaknya kalau USG pakai BPJS, kita enggak dikasih hasil foto USG-nya. Jadi, aku untung simpan foto dan video di hp saat di monitornya dan dokter mengecek foto aku itu, serelah dicek lagi katanya kehamilanku adalah kehamilan kosong atau kehamilan BO (Blighted Ovum).

Di sini duniaku terasa runtuh, aku mau nangis, marah, kecewa tapi di ruangan itu aku sendiri, suamiku enggak ada dan enggak juga dipanggil untuk menerima info penting ini. "Kita tunggu 2 minggu lagi ya bu, jika janin tidak berkembang kita akan melakukan operasi kuret!" kata dokter B.

Sampai di luar ruangan, aku sampaikan ke suami dan kami terdiam lama. Sedih banget sampai di atas motor enggak ada suara sedikit pun. Hanya air mata yang mengalir tanpa diminta.

Sampai di rumah usai ke dokter B, aku langsung curhat ke temanku, Yessi yang bidan di Bengkulu Utara. Menurut teman SMA-ku ini, kemungkinan besar  memang aku dari ceritaku aku kehamilan BO. Jadi, aku mengalami seperti orang hamil, tapi sebenarnya janinku tidak berkembang. 

Sembari menunggu 2 minggu ke depan aku membaca banyak konten mengenai kuret  dan prosedurnya. Sedangkan anak-anak sudah aku sampaikan kalau kita tidak jadi mau punya adik, Umi harus mengalami kuret. Jangan ditanya rasanya, perut udah semakin mules dan tidak nyaman. Terutama bagian anus dan perut bagian bawah, seperti ada yang mendesak ingin keluar. Malam-malam aku tidak bisa tidur nyenyak, minta dipijatin sama suami dan sering nangis karena sedih.

Dua hari kemudian sekitar pukul 4 pagi aku terbangun dengan bagian bawah basah, aku pendarahan! Ya, darah mengalir di bagian bawah rasanya ngilu di perut bagian bawah seperti kontraksi mau melahirkan. Kami berdiskusi mengenai rumah sakit yang akan kami pilih, soalnya enggak mau ketemu dokter B lagi, akhirnya kami memilih RS Urip.

Proses Kuret yang Dimudahkan

Alhamdulillah pagi itu (30 November 2021) benar-benar dimudahkan prosesnya. Sampai di IGD aku diswab, cek jantung, dll. Setelah diinfus aku juga diberi obat yang disuntik dan dimasukan di V ini rasanyaa mules banget tapi pendarahan sudah mulai berhenti.Masya Allah perawatnya baik banget, aku jadi nyaman selama persiapan menunggu ruangan. "Mbk, sebenarnya aku ini kehamilan berapa minggu ya?" tanyaku dengan perawat yang cek kehamilanku. "Sekitar 10 minggu, bu!" katanya.

Pengalaman Kuret


Masya Allah, jadi kehamilanku ini sekitar 10 minggu tapi janin tidak berkembang mentok 6 minggu saja terdeteksi di USG. Maklum aku orang awam dan belum pernah mengalami jadi aku masih bertanya-tanya.  Usai diantar ke ruangan nginap lagi-lagi kami mendapatkan kemudahan. Awalnya ruangan kelas 1 penuh kami digabung ke kelas 2. Tapi, 1 ruangan ada 3 pasien dan AC-nya jauh dari ranjang. Tapi, tak lama perawat lainnya bilang ada 1 ruangan kosong dan kami bisa di sana sendiri tidak ada pasien lainnya. 

Siangnya aku di USG dan bertemu dengan dokter dr. Azman Roni, Sp.OG. Menurut beliau faktor penyebab kehamilan BO aku ini pertama karena faktor usia, kedua faktor usai aku dirawat dari sakit types. Tapi kemungkin terbesar karena faktor usia. Jadi, Moms kalau mau kehamilan di atas usia 40, harus dipersiapkan, ya!

Usia USG, aku bersiap untuk kuret yang dijadwalkan pukul 21.00 WIB. Nanti osre aku diminta puasa. Sembari menunggu itu, aku mulai melakukan proses cek apakah aku alergi obat, cek ronsen dll. Sampai akhirnya aku harus masuk ke ruang operasi.

Pengalaman Kehamilan BO dan Kuret


Ini pertama kali aku masuk ke ruang operasi yang selama ini aku lihat di drakor aja. Ruangannya super dingin membuat aku menggigil dan di sana banyak perawat mempersiapakan prosdurnya. Mulai aku tiduran di meja operasi dll. Aku ingatnya ruangannya pintunya digeser pakai kaki, bukan dibuka pakai tangan ya, ada lampu besar kemudian aku disuntik obat bius. "Ibu, kalau terasa mengantuk tidur saja ya!" kata perawatnya. Sekilas aku lihat dokter masuk ke ruangan dan aku pun mengantuk.
 

Pasca Kuret

Alhamdulillah aku sadar ketika di ruangan menunggu. Aku lihat beberapa perawat lalu lalang dan aku belum berhijab, hiks. Aku sedih tapi enggak berdaya, badanku lemah sekali. Agak lama aku baru dijemput suami dan anak-anak. Aku dipindahkan ke ruangan dan aku dibangunkan lagi pukul 23.00 WIB oleh suami untuk minum, aku hanya mampu minum 2 sendok kemudian tertidur lagi karena sangat mengantuk.

Pasca Kuret
Foto dengan USG sebelum kuret dan menu makanan + obat pasca kuret


Proses pasca kuret ternyata membuatku melow dan baper. Walau keluarga sudah aku kabari menjelang operasi kuret dan mereka support banget, aku selalu menangis lihat konten bayi. Kebetulan hiburanku di rumah sakit hanya lihat medsos dan banyak video Nagita Slavina baru saja melahirkan anak keduanya. Tapi, aku juga merasa harus kuat setelah mendengar kabar duka juga Muhammad Ameer Azzikra meninggal dunia. Ya Allah, aku suka nonton konten Ameer dengan dakwahnya. 

Selama proses penyembuhan aku banyak mencoba healing dengan cara aku sendiri. Aku melegakan semua apa yang aku rasakan. Soalnya sehari sudah kuret suamiku sudah dinas keluar kota. Untungnya anak sulung liburan dari pondok, jadi aku bisa banyak rebahan dan tugas menjaga kedua adiknya aku serahkan ke Mas Faris. 

Dua minggu kemudian aku merasa badanku sudah mulai fit dan bisa keluar rumah. Sebelum itu aku benar-benar menjaga tidak bawa motor sama sekali. Bersyukur Mas Faris di rumah jadi bisa mengobati rasa kangenku.

Aku berhenti berkabung setelah aku menemukan QS. Maryam ayat 4 dan Qs. Maryam ayat 22-25. Kedua surat ini membuatku merenung, boleh aja kok sedih, berduka tapi insya Allah ada  jalan keluarnya. Intinya, aku sedih bangets boleh aja toh berduka karena kalau ditahan-tahan nyesek di dada. Toh, tiap orang pertahanan beda-beda dengan cara berbeda, tapi dari kisah Nabi Zakaria dan Maryam ini ambil hikmahnya. Aku manusia biasa, ada rasa sedih dan berduka. Cara ini aku terapkan sama kayak metode Magnet Rezeki

Itulah kisahku Pengalaman Kehamilan BO dan Kuret semoga teman-teman dapat mengambil hikmahnya dan informasi yang secuil di atas bermanfaat. 

47 komentar untuk "Pengalaman Kehamilan BO dan Kuret"

  1. Hemm, sehat-sehat Mbak, bayinya juga dijaga. Jadi belajar kalau harus punya persiapan sebelum kehamilan apalagi kalau udah faktor U. Semoga lancar kedepannya, Mbak, semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah sudah proses operasi kuretnya Mbk Nisa, janinnya enggak berkembang.

      Hapus
  2. MasyaAllah bun, tetep semangat ya Bun. Nyi mohon doa nya ini lagi jalan 8 minggu di pernikahan jalan 5 tahun. Mual dan mutah serta bawaanya dlosor terus juga nih bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah barokallah ya Nyi, ikut senang dan bahagia dengar kabar gembira. Sehat-sehat ya, Nyi.

      Hapus
    2. Mba...turut senang ya, semoga lancar sampai lairan nanti....😊

      Hapus
  3. Semangat ya, Mbak. Mungkin jalannya emang kaya gini. Jadi catatan buat aku juga kalau dikasih resep obat atau vitamin pas hamil tuh harus dihabiskan. Ini berguna buat pertumbuhan janin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bisa jadi obat dari dokter itu berguna banget karena beda dosis-nya

      Hapus
    2. Catatan juga buat aku yang bakal jadi calon Ibu. Kehamilan di usia berapa pun kudu disiapkan dengan gembira

      Hapus
  4. Di kuret itu kan sama saja rasanya seperti melahirkan, Mba. Dan hormonnya pun ga stabil seperti habis lahiran. Bedanya lahiran ada bayi yg buat bahagia, kuret kehilangan baby. Semoga mba naqi kuat yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget ini Mbk, aku megalaminya. Namun, kadang orang berpikir ah kan cuma "dikuret" 3 hari bisa langsung kerja, nyesek deh tiap orang beda-beda.

      Hapus
    2. saya baru tahu kalau kuret ternyata rasanya seperti melahirkan. Terima kasih sudah menuliskan pengalamannya mbak naqi, Saya juga usia udah diatas 40 nih, udah 3 bulan ini lepas kb. Sudah pd aja nggak subur lagi, padahal kalau Allah berkehendak, bisa aja ya usia 40+ masih bisa hamil

      Hapus
  5. Baca cerita Mbak Naqi dari atas sampai bawah ikut sedih. Yah, semuanya Allah yang punya ya Mbak. Dia yang memberi Dia pula yang mengambil kembali. Insyaallah mbak naqi dan seluruh keluarga ikhlas menerima kehamilan BO ini. Amin

    BalasHapus
  6. Aku turut prihatin ya, mbak Naqi :) Semoga kehilangan ini ga membuat mbak sedih berkepanjangan. Mungkin takdir dari Allah demikian adanya. Mengandung di usia di atas 40 tahun memang harus sangat diperhatikan. Duh, iya tuh dikuret itu kata temanku rasanya wow3x :( Semangat terus ya mbak. Semoga nanti ada lagi calon bayinya aamiin.

    BalasHapus
  7. maasyaallah mba, aku linu ngebayangin dikuret mba, kamu kuat banget deh,, sehat-sehat ya selama hamil ini dan saat proses persalinannya lancar, ibu dan bayi nya sehat

    BalasHapus
  8. Serius banget mak aku membacanya sambil membayangkan.
    Sedih pasti karena pengen banget punya baby lagi, tapi yakinlah ya mak semua sudah takdir.

    Makasih sharingnya, 👌

    BalasHapus
  9. Masya Allah mbak Naqi, pasti rasanya beda banget ya saat tahu hamil anak pertama dan yang sekarang. Meski akhirnya harus kuret karena BO, tapi si janin sempat menjadi pembawa kebahagiaan di rumah. Alhamdulillah juga mbak Naqi kuat dan bisa berdamai dengan kehilangan. Sehat terus ya mbak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul banget, kebahagiaan di rumah sempat hadir dan semua happy dengan kabar itu, kini alhamdulillah sudah menerima yang terbaik dari Allah.

      Hapus
  10. Turut prihatin membaca postingan ini. Semoga dikuatkan selalu ya, syukurlah keluarga memberikan support.
    Berduka gak apa mbak, melepas kesedihan hingga pada waktunya kita bisa merelakan dan percaya apa yang Tuhan kehendaki baik bagi kita adanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah menguatkan, iya Mak mesti ikhlas pasti ada hikmahnya

      Hapus
  11. Ya Allah, baca tentang kuret nya aku ikutan ngilu
    Semangat ya mbak Naqi
    Semoga KLO ada kesempatan lagi, akan diberi sama Allah
    Yang penting sekarang sehat sehat dulu ya mbak

    BalasHapus
  12. Turut sedih...karena ternyata janin ga berkembang ya Mba...aku pernah BO juga. Umur 30an waktu itu. 31 kayaknya.

    Pas di aku nggak ngidam...cuma aku kok ga mens. Aku curiganya di situ. Test pack, telat 1 minggu masih negatif. Pas telat 2 minggu positit. Cuma...pas 9 minggu, aku tiba2 keluar darah... Ke dsog, usg transvagina...denyut jantung bayi ga ada, kantung doang. Jd tahu klo BO...

    Pasca kuret, selang 4 bulan trus hamil lagi, Alya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. masya Allah pengalaman juga ya Mbk, semoga ke depan sehat-sehat. Salam buat Alya

      Hapus
  13. Mba Naqi, perasaan memang campur aduk saat menerima berita kehamilan dan harus menghadapi kuret. Aku jadi ingat mamaku yang hamil seperti mba tapi bahkan saat aku udah kuliah 😌😅.

    BalasHapus
    Balasan
    1. asli banget lagi naik happy langsung down lagi.

      Hapus
  14. Gemes banget dengan candaan Dokter B, makanya aku tuh nggak selalu respek sama beberapa dokter yang nggak paham nursing care ke pasien. Semoga lekas pulih ya mba Naqi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih dicandaain dengan kondisi gitu sempat down banget kalau diingat hiks

      Hapus
  15. Mbak Naqqy, peluk jauh yaa. Terimakasih sudah mau share pengalamannya. Kadang kl pas hamil nyepelein gamau minum vitamin, huhu. Dokter B jokes-nya ga manner sama sekali, bacanya pengen ikut nampol. Sehat selalu ya Mbak Naqqy :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul kadang menyepelekan, dari yang aku baca pengalaman orang lain juga udah makan vitamin dari dokter bisa berkembang.

      Hapus
  16. Semangat ya mbak Naqi, Insya Allah semua ada jalannya. Sedih wajar, tapi mudah-mudahan iklash ya mbak. Ikut mendoakan semoga sekarang & ke depannay sehat2 selalu mbak Naqi

    BalasHapus
  17. sedih bacanya :(
    dan komen dokter itu kok ikutan kesel ya, kenapa bisa bisanya dokter ngejek begitu >.<

    Tetap semangat dan semoga segera pulih ya mbak pasca kuretnya
    insyaAllah, Allah tahu yang terbaik

    BalasHapus
  18. Peluuuk dari jauh mbak 🤗 memang harus kuret itu terkesan menyeramkan sekaligus menyakitkan fisik maupun batin. Insya Allah diberi pengganti yang paling baik dari Allah SWT ya mbak. Aamiin YRA.

    BalasHapus
  19. Sedih baca becandaan dokter itu ya mbak, memangnya kenapa kalau usia kita sudah lebih dari 40 tahun masih hamil, kan itu rezeki dari Allah yaa. Pernah saya juga dibecandain waktu menyusui Saki, apa ibu yakin ASInya masih keluar? gitu katanya, ih gemes banget deh. Btw mbak Naqi, semoga dimudahkan untuk promil selanjutnya ya mbak. memang untuk hamil kita perlu persiapan apalagi kalau sudha kepala 4 mbak. dulu aku waktu hamil Saki, makan kurma mudah (ruthab) dan proses dari makan kurma ini ke hamil sekitar 6 bulan. sepertinya makan kurma membuat sel-selku menjadi muda kembali mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbk, alhamdulillah ya Saki sehat. Sekarang ngeri-ngeri sedap kalau mau hamil lagi mengingat usia bertambah ini.

      Hapus
  20. Sehat selalu ya... Alhamdulillah kalo prosesnya lancar meskipun ada kesedihan tentu kita wajib menerima segala ketetapanNya kan ya kak...tetep semangadd

    BalasHapus
  21. sedih yah, tapi rencana Allah mungkin nanti kita akan paham jauh lebih indah, emoga diberikan kesehatan dan hamil lagi nnati yah mak dengan kondisi yang lebih sehat

    BalasHapus
  22. Mak Naqiiii, semangaaaat! Alhamdulillah sekarang sudah sehat kan mak? InsyaaAllah pasti Allah sudah merencanakan yang terbaik untuk mak Naqi dan suami yaaa.. Aamiin

    BalasHapus
  23. Mba Naqi...semoga dikuatkan yaaa insya Allah ada hikmah dari ini semua. Aku kalo udah bayangin kuret tuh ya Allah, kuat banget mbaa Naqi.

    BalasHapus
  24. Ternyata memang benar ya mba, kehamilan di atas usia 40 itu ada resikonya. Ikut berduka ya mbaa... semoga rasa kehilangan yang Mb Naqi alami segera terganti dengan kisah hidup lain yang lebih bikin bahagia. Peluk dari jauh mbaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul mbk beresiko banget kalau enggak ada persiapan

      Hapus
  25. Mbak, aku bacanya sambil mewek. Prlik Mbak Naqi. Jadi pelajaran banget ini buat aku. Aku umur 43. Belum punya anak dan masih terus ikhtiar punya anak. Semoga disegerakan punya bayi lagi ya Mbak. Semoga sehat terus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya Allah semoga dikabulkan doanya, aku doakan semoga segera dapat momongan, aamiin

      Hapus
  26. Mbak, ikut mewek bacanya dan ikutan kesel ama dokter B,bercandanya kelewatan #menurutaku.
    Tapi noted nih, untuk vitamin dosis tingginya itu, berarti bisa kemungkinan janin bisa berkembang yak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi Mbk, dari beberapa pengalaman orang lain itu salah satu jalannya

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^