Minggu, 30 Oktober 2016

Aku Mengukir Prestasi Bersama FLP



Forum Lingkar Pena (FLP) adalah cinta pertamaku di kegiatan literasi. Kian lama, cinta itu terus berkembang hingga menuai prestasi
Naqiyyah Syam, 2016


Siang itu matahari mulai terik, saat aku membuka Majalah Annida yang berisikan formulir pendaftaran Komunitas Kepenulisan FLP. Saat itu, aku masih bau kencur di dunia kepenulisan. Tak ada satu pun riwayat kepenulisan yang aku cantumkan. Aku hanya berharap, ketika bergabung dengan FLP, aku bisa belajar menulis.


Pra Munas FLP di Kantor Majalah Ummi

Tak lama, diumumkan anggota yang telah mendaftarkan di Majalah Annida. Aku senang sekali ada namaku di antara 12 peserta lainnya. Maka, sejak itu aku rajin mengikuti pertemuan FLP di kotaku kala itu, Bengkulu.

Aku menjadi juara ketiga Cerpen Islami Se-Provinsi Bengkulu

Baca Juga : Aku dan FLP 

Bersama teman-teman FLP Bengkulu, aku mulai mengenai dunia kepenulisan. Adalah Imam Hanuji ketua FLP Bengkulu pertama kali yang mengenalkan aku dalam lautan indahnya menulis. Kami berenam mulai membangun dan mengenalkan FLP di berbagai kalangan. Jangan ditanya seberapa banyak hambatan yang kami temui. Beberapa kalangan meragukan keberadaan FLP kala itu. Walau Mas Imam Hanuji memang ada latar wartawan, tapi para anggota masih sangat minim pengalaman. Tapi, kami bertekad untuk memajukan FLP di Bengkulu, hingga sukses mendatangkan Mbk Helvy Tiana Rosa (Pendiri FLP dan Ketua FLP Pusat kala itu).

Saat bergabung di FLP Bengkulu

Mendatangkan Mbk HTR bermodal nekad adalah sebuah perjalanan organisasi yang membawa hikmah. Saat itu, Mbk HTR datang dengan biaya sendiri (panitia tak punya biaya untuk membelikan tiket). Tapi, kami berjanji suatu hari kelak kami berhasil mengembalikan tiket Mbk HTR. Aku pun ikut termotivasi semangat menulisku saat menang menjadi Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Islami Se-Provinsi Lampung tahun 2001, pialanya langsung diberikan oleh Mbk HTR, huaaah...bahagianya :)

Tahun berlalu, FLP Bengkulu berkembang. Dengan tujuan mengembalikan hutang tiket Mbk HTR, kami mengumpulkan cerpen untuk menjadi buku antologi. Saat itu, aku didampuk menjadi Pj antologi mengumpulkan naskah dari teman FLP Se-Sumbangsel. Alhamdulillah akhirnya kami berhasil menerbitkan buku antologi Ketika Nyamuk Bicara dan uang untuk penulis dipotong untuk membayar tiket Mbk HTR.

Baca Juga : HTR dan Membesarkan Organisasi


Norak-norak bergembira dengan buku Kumcer Ketika Nyamuk Bicara :)

Hutang lunas hatipun lega. Bersama FLP aku banyak belajar mengelola emosi. Saat mendapatkan amanah menjadi Ketua FLP Bengkulu, aku berusaha bersungguh-sungguh agar dapat menebarkan manfaat bagi orang lain. Alhamdulillah dengan Kumcer Ketika Nyamuk Bicara, kami dapat melakukan berbagai kegiatan seperti bedah buku, pelatihan, siaran radio, silaturahmi dengan tokoh seniman di Bengkulu hingga akhirnya FLP Bengkulu mendapat nominasi sebagai FLP Terpuji di Munas 1  tahun 2001 yang diadakan di Yogyakarta.

Baca Juga : Suka Duka Pj Naskah Antologi

Ketika Suami Menjadi Kekuatanku Berjuang Bersama FLP

Sebelum menikah, ada rasa keraguan, “Masih bisa enggak sih aku aktif di FLP?” mengingat banyak temanku kian pudar berorganisasi sejak menikah. Diawal pernikahan memang ada hambatan aku aktif di FLP tercinta. Tak lain karena hambatan ekonomi. Saat itu, komunikasi dengan FLP di luar kota hanya lewat milis. Sedangkan, sejak menikah aku tinggal di Lampung Timur dengan konsisi susah sinyal dan tidak ada internet. Alhasil, aku harus rela tidak aktif di FLP.

Sedih rasanya saat tidak bisa hadir di launching buku Uda Ganteng No 13 di Sumatera Barat. Bersamaan itu juga diadakan temu FLP Se-Sumatera. Padahal Kumcer Uda Ganteng No 13, aku sebagai pj pengumpulan naskahnya (Dan bertahun kemudian Allah gantikan dengan kesempatan aku dan keluarga tinggal 2 tahun di Padang).

Tak ingin berlama-lama dalam kesedihan, aku mengumpulkan semangat dengan menghubungi Teteh Pipiet Senja, aku ditawari ikut dalam antologi. Dengan semangat kukirim naskahku. Alhamdulillah diterima membuat semangat menulisku kian mengebu.

Momong anak sambil ikut kelas menulis FLP :)

Rindu bergabung dengan FLP terus membara. Aku bahkan rela dari Lampung Timur ke Bandar Lampung (lebih kurang 4 jam) naik motor untuk mengikuti kegiatan FLP. Lalu, aku memberanikan diri membuka FLP Cabang Lampung Timur.

“Ummi mau mendirikan FLP Cabang Lampung Timur,” kataku pada suami. Tak langsung diizinkan loh! Suamiku hanya diam dan diam. Lama aku menunggu izinnya. Suamiku bahkan meminta aku membuat proposal apa saja rencanaku dalam mengembangkan FLP di Lampung Timur. Bukan tanpa alasan. FLP masih asing didengar teman-teman di Lampung Timur.

“Apa itu FLP?”
“Hah? Daftarnya dulu di Majalah Annida? Siapa ketuanya?”
“Apa ada yang mau daftar?”

Berbagai tanya disampaikan oleh teman-teman saat aku mengajak membuka Cabang FLP Lampung Timur. Bahkan ada masa percobaan dari FLP Wilayah Lampung. Alasannya kuatir tidak aktif dan hanya semangat diawal-awal saja. Pelan-pelan aku sampaikan niatku mendirikan Cabang FLP Lampung Timur dan akhirnya mereka sangat mendukung. Suami juga orang yang pertama yang sangat support atas rencanaku. Alhamdulillah walau sebagai FLP dengan cabang yang baru saja berdiri kami dapat menghadirkan Mas Boim Lebon, Afifah Afra dan Tim Majalah Gizone.

Beberapa buku antologi dan duetku :)


Pindah ke Bandar Lampung Kembali Cinta FLP


Atas izin Allah, akhirnya aku kembali masuk kota, hehe...suamiku mendapat tugas di Bandar Lampung. Dengan cinta yang membara aku kembali bergabung dengan FLP. Kala itu, FLP  Lampung ketuanya Lilih Muflihah. Kemudian tahun 2015 aku melanjutkan perjuangan Lilih menjadi Ketua FLP Lampung.

Kelas Menulis FLP Lampung

Bersama teman-teman yang tangguh, kami mulai bergerak membangun literasi di Lampung. Dimulai dari kegiatan kelas menulis, lomba menulis, diskusi dengan koran Lampung Post, hingga membuka Taman Baca Keliling FLP Lampung.

Tak jarang aku juga diminta jadi guru menulis dan juri baca puisi. Kami lalu berbagi tugas untuk mengenalkan FLP Lampung ke masyarakat. Beruntung teman-teman sangat kreatif dan penuh dedikasi. Ada Tri Sujarwo, Destiani, Rinda, Thika, Mbk Maya Uspasari, Adit, Ahmad Tarmudzy, Desma dan masih banyak lagi memberikan waktu dan tenaganya untuk FLP.

Kegiatan FLP Lampung

Membuka Taman Baca Keliling di SDIT PB 1
Bersama FLP aku banyak belajar. FLP adalah guruku untuk belajar mengelola emosi saat mengemban amanah. Bersama FLP aku mendapat teman dan relasi. Dari FLP juga aku dibentuk hingga menjadi blogger yang santun.

 
Ini kegiatan FLP Lampung saat aku menjadi ketua FLP, silakan klik videonya :)
Belajar Menulis Cerita Anak Bersama Ali Muakhir



Dari Menulis Media, Buku hingga Blogger  

Bagi yang belum mengenal FLP pasti akan bertanya, “Apa sih yang kamu dapat bergabung dengan FLP?” waah, banyak sekali. Selain ilmu menulis, ada ukhuwah (persaudaraan) di dalamnya. Saat aku ke luar kota jika menghubungi salah satu pengurus FLP di daerahnya, maka kami bagai bertemu sahabat lama. Padahal baru pertama jumpa. Itu juga pernah aku alami saat bertemu Berlian Santosa kala itu sebagai Ketua FLP Jambi. Saat aku menetap di Padang, aku juga bertemu dengan pengiat literasi FLP Sumbar. Dari mereka aku banyak belajar membangun jaringan dan pantang menyerah membimbing penulis pemula.

Aku pernah mendengar seseorang disebuah komunitas kepenulisan berkata “Kami tidak menerima penulis pemula. Yang baru belajar menulis masuk FLP saja! Kami ingin penulis yang sudah jadi!”  

Menjadi Blogger FLP yang santun :)

Ya, hanya FLP yang terus membuka diri untuk penulis pemula. Bahkan sangat-sangat awal. Dari A-Z dibimbing dalam terjun di dunia kepenulisan. FLP kini telah berkembang, teruslah merapikan diri dalam dunia organisasi dan jaringan. Satu yang aku pinta dari FLP, tolong jangan tolak cinta tulusku dan ajak aku ke surga bersama pejuang-pejuang pena di dalamnya. Sungguh, aku ingin bersetia bersama FLP.

8 komentar:

  1. Sukses terusss ya, mb Naqi.dikau memang identik dengan flp

    BalasHapus
  2. MasyaAllah perjuangannya ya Mbak, salut banget buat Mbak Naqi.

    Moga Mbak Naqi dan FLP jaya slalu.
    Waktu kuliah dulu, pernah sekali ikutan seminar yg diadain FLP, abis ikut kegiatan itu rasanya niat utk bisa maju jd bagian FLP menggebu2, tapi gak dilanjutin hihihih :D

    BalasHapus
  3. Aaah keren niy Emaak...
    Semoga setia selalu ya, Merdeka!!

    Awalnya ga ngerti apa itu FLP, karena bergaulnya sama kang Ali Muakhir jadi tau deeh hahaha

    BalasHapus
  4. Mbak Naqiy dan FLP adalah bagian yang tak terpisahkan :D

    BalasHapus
  5. barokallah mbak.. salut dengan perjuanganmu, FLP sdh seperti mendarah daging ya.. sukses terus ya mak.. pengen dong diajak duet hihi

    BalasHapus
  6. Jadi inget tahun 2000, merintis FLP Yogyakarta. Sayang nggak saya lanjutkan karena sibuk di pers kampus. Sukses terus,Mbak Naqi :-)

    BalasHapus
  7. Mbak Naqi keren deh, konsisten dengan FLPnya.

    BalasHapus
  8. Ada ya komunitas yang ga mau terima pemula :(
    Padahal saat ini ga pemula ga senior perlu ide-ide baru. Dan ide-ide baru dan segar seringkali datangnya dari pemula.
    Aku sering alami di fotografi. Pemula itu malah banyak ide-ide kreatif.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menghindari spam. Mohon juga follow blog, Google +, twitter: @Naqiyyah_Syam dan IG saya : @naqiyyahsyam. Semoga silaturahmi kita semakin terjalin indah ^__^