Minggu, 28 Februari 2010

Wali Kelas

Menjadi wali kelas adalah sebuah kebahagian tersendiri. Walaupun disisi materi, tunjangan jabatan menjadi wali kelas hanya Rp.25.000 (Ups, buka kartu!), tapi pembelajaran itu lebih mahal harganya! Tahun ini aku menjadi wali kelas 4 A. Namun sekarang nama kelas harus nama negara, maka setelah sepakat, nama kelas 4 kami adalah kelas 4 Brazil. Emm…emang sih kesannya ‘bola’ banget! Anak laki-laki ngotot pengen nama Brazil. Apalagi Zen yang suaranya paling lantang dan gemar bermain bola. Ya sudah, demi semangat mereka, aku setuju nama kelas Brazil.

Menjadi wali kelas tidaklah mudah, di SDIT tempatku mengajar, anak-anak sudah masuk ke kelas sejak pukul 07.15 WIB. Lalu baca Al-matsurat, muroja’ah, absensi, memberi motivasi belajar dan lainnya harus dicek sampai pukul 08.00 WIB. Itulah tugas wali kelas setiap pagi. Menjelang siang ngecek lagi, apakah ada anak yang sakit, izin, atau lainnya. Pas dzuhur dicek anak yang bawa Al-qur’an atau tidak. Biasanya Pak guru or ustadz yang membimbing akan memberikan sanksi bagi anak yang tidak membawa Al-qur’an. Anak tersebut berdiri di masjid selama teman-temannya murojaah sampai sholat berjama’ah dimulai. Ohh…lumayan capek kali ya?

Singkat cerita, tugas wali kelas ini kujalani dengan enjoy. Menghias kelas bersama anak-anak dan saling mengingatkan tentang kebersihan kelas. Nah, karena kekurangan kelas alias bangunan karena setiap tahun peminat sekolah di SDIT Baitul Muslim kian meningkat, maka perpustakaan yang ada dipensiunkan sementara. Akibatnya anak-anak jadi kesulitan mencari bacaan. Terbersitlah ide bersama teman-teman untuk memanfaatkan ruangan kelas menjadi Pojok Baca. Di sebuah pojok ruangan disulap menjadi perpustakaan mini, beberapa buku dari rumah dibawa dan baca anak-anak ketika usai belajar atau istirahat. Sungguh bahagia melihat anak-anak ketika istirahat pada membaca buku. Biasanya mereka berlari-lari atau berncanda saja. Padahal istirahat pertama bisa 20 menit. Dipotong sholat dhuha dan ke kantin, masih ada waktu untuk membaca.

Kian hari anak-anak mulai protes.

“Bu, buku baru sih, bu! Saya sudah baca semua,” ujar Vivi.

Memang puisinya banyak menghias mading kelas. Oh ya, selain Pojok Baca, saya membuat Mading kelas hasil karya anak-anak. Ada foto anak-anak, laporan kegiatan di sekolah, juga profil saya sebagai wali kelas. Emm….saya terus belajar menjadi wali kelas yang baik dari waktu ke waktu. Semoga!

Puisi-puisi


Menanti Akad

Aku adalah aku
Ketika semua melahap impian bersatu
Aku bukanlah kau
Berlari menepis asa itu

Aku adalah aku
Kuingin asa itu tetap ada
Walau tak tau tepiannya
Tuk gapai makna dalam sebuah ikhtiar

Aku adalah aku
Menjaga cinta agar tak lena
Menjaga luka agar tak pedih
Tapi menjadi sebuah tekad
Menyibak jalan ini yang penuh semak belukar

Aku adalah aku
Biarkan saja dahulu
Kau adalah kau
Mengalirlah temukan muara

Nanti…
Aku bukanlah aku saja
Nanti…
Kau bukanlah kau seorang
Tapi, kita…
Dalam sebuah akad pada-Nya

Bengkulu, 31 Januari 2005


Jadilah Pemuda Tangguh

Aku rela
Ketika kau basahi pakaianku dengan ompolanmu
Aku rela
Ketika kau ganggu lelapnya tidur malamku
Aku rela
Ketika kau pecahkan keramik kesayanganku
Aku rela…

Tapi,
Jangan buat dunia ini kian suram
Dengan pola gaya remaja yang binal
Dengan moral yang kian pudar
Dengan prestasi yang kian tipis

Wahai adikku sayang
Jadilah pemuda yang tangguh
Jadilah pahlawan di hati setiap orang

Bengkulu, 31 Januari 2005


Rumah Taman Baca

Maukah kau mampir ke rumahku?
Akan kuhadiahkan secangkir teh manis
Kupinjamkan setumpuk buku
Kuperlihatkan beberapa bingkai foto

Maukah kau mampir ke rumahku?
Ada papan tulis besar di tengah ruangan
Ada lemari-lemari besar berisi buku

Maukah kau mampir ke rumahku?
Akan ada banyak anak kecil putus sekolah berkumpul
Akan ada banyak anak yatim-piatu menanti kasihmu

Maukah kau mampir ke rumahku?
Bersama kita bangun rumah taman baca
Bersama kita latih jiwa mengalirkan cinta
Bersama kita asah jiwa agar peka dengan derita
Bersama kita bangun bangsa
Yang cinta baca dan menulis
Maka,
Maukah kau mampir ke rumahku?

Bengkulu, 31 Januari 2005


Kenangan indah menjelang pernikahan,2005

Puisi ini aku tulis menjelang akad nikah dan dimuat di Koran Rakyat Bengkulu.

Jual Obat

“Kok tambah lemas sih?” tegur seorang Ibu. Pandangannya tertuju kepada anak saya yang sedang digendong. Pertama berjumpa saya jawab dengan senyuman dan penjelasan singkat, “Maklum sudah ngantuk, tapi masih pengen mainan,” ujarku singkat lalu berlalu dan mengajak anak saya mainan kuda-kudaan di halaman Play group.

Selang berapa hari bertemu lagi, kali ini anak saya juga ikut serta. Tegurannya tak berubah, “Kok tambah lemas sih?” tentu saja teguran itu tertuju untuk anak saya. Memang beberapa hari ini ia sakit. Sariawan, sehingga sulit makan. Hanya itu jawaban saya. Karena saya sudah malas berkomentar banyak. Dalam hati saya membatin, “Duh apa nggak ada kata sapaan yang lebih empati, ya?” emang sih anak saya tubuhnya kecil. Tak sedap didengar tapi kenyataan, kata orang medis ‘kurang gizi’. Padahal lahirnya cukup normal, Berat Badan (BB) 2,8 Kg. Tapi, tak bisa disangkal kenyataannya tubuhnya kurus.

Sejak lahir ia sering sakit-sakitan, 1,5 bulan ia harus diterapi akibat benjolan di sebelah kiri lehernya akibat trauma pada otot leher karena persalinan sungsang bokong murni. Menjelang usia 8 bulan, ia kena diare, akhirnya terpaksa di opname setelah 4 hari mengalami diare dan menghalami dehidrasi. Usia 11 bulan ia batuk (bronhitis) dan harus di opname di RS. Setelah di cek up, anak saya dinyatakan menggidap TBC. Sejak itu, selama 6 bulan makan obat rutin. Tubuhnya kurus, tapi geraknya lincah tidak lemas seperti tanggapan sebagian orang, ia lincah, berlari dengan aktif, suka tersenyum, cepat beradaptasi, dan tidak cengeng. Memang ia sulit sekali makan terutama makan buah-buahan.

Menjelang usia 2 tahun, BB nya baru 8,4 Kg. saya pernah konsul ke dokter anak, katanya harus ganti susu formula Chil Kid yang harganya cukup “wah‘ bagi kami suami-istri yang berpenghasilan ngepas, apalagi dipotong dengaan kebutuhan 1 bulan. Maka tak heran, jika ada orang yang tak paham riwayat penyakit anak saya akan heran atau berkomentar pedas, “Wah suami-istri sarjana, kok anaknya kurang gizi ya?” pedas memang, tapi harus ditelan. Karena tak ada pilihan, itulah kenyatannya.
Lama-lama saya mulai terpancing komentar orang, apa iya sih anak saya terlalu mundur perkembangannya? Atau berbeda dengan temannya? Tapi setelah saya konsul dengan guru Play group-nya, perkembangan motoriknya bagus, ia senang menulis, menabur dan susun balok.

“Sudahlah jangan dipikirkan teguran orang, mungkin itu bentuk perhatian mereka,” ujar suami saya menghibur. Ya, tak ada kata lain, kita memang harus bersyukur atas titipan Allah SWT. Bagaimanapun anak kita, itulah yang terbaik. Harus bersyukur, karena masih banyak orang lain yang menanti kehadiran buah hati dengan penantian panjang. Masih banyak orang yang memiliki anak yang tak sempurna (cacat), tapi mereka sungguh sabar, tidak mengeluh dan pe-de memperkenalkan anak mereka, tak ada rasa minder apalagi malu. Nah, saya mencoba meniru dan mempraktekannya. Walau sedikit hati kecewa terhadap sikap si Ibu, “mbok ya ucapan lebih empati dong, pilih kata yang lebih halus kek,”batin saja.
Maka, ketika teguran ketiga menyapa: “Kok tambah lemes sih?” kata si Ibu, saya tanggapi dengan wajah cerah. Saya terangkan karena anak saya baru saja kena mencret dan muntah akibat salah makan. Ia makan jeruk, nata de coco dan mencicipi kopi buatan suami saya. Akibatnya anak saya 3 hari mencret. Tak seperti pertemuan 1 dan 2, kami terlibat ngobrol cukup panjang, pada akhirnya si Ibu menawarkan produk obat herbal.

“Pake omega 3 saja itu bagus buat pertumbuhan anak yang BB nya kecil. Juga tambah dengan Sipiriluna. Tapi mahal lho harganya,” promosi si Ibu.

“Berapa?” saya mulai tertarik, “Boleh nyicil nggak, karena uang gaji sudah tersedot untuk susu,” tawar saya. Si Ibu menyebutkan harga obat herbal tersebut.

"Harganya….bla…bla…” si ibu menjelaskan. Diam-diam di hati saja berkomentar, “Wah ternyata si Ibu selama ini mau mempromosikan dagangannya toh? Sehingga memancing dengan kata sapaan “Kok lemes sih?” seharusnya, lebihh empati dengan kata : “Anak ibu kurang nafsu makan ya? Saya kenal obat herbal perangsang nafsu makan lho! Memang harganya cukup mahal, tapi berkhasiat untuk menambah BB, saya sudah mencoba ke anak saya,” bukankah ucapan demikian lebih baik, lebih empati dan lebih berkesan?

Ya, dalam pergaulan masyarakat kita harus memilah kata agar tak membuat hati orang terluka, bukankah pepatah mengatakan: “Mulutmu harimaumu,” semoga kitapun dapat mengambil hikmahnya untuk memilih kata sapaan yang lebih empati

Labtu, 5 Februari 2008
Naqiyyah Syam

Senin, 22 Februari 2010

Namaku Edelweiss

Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Oleh kalangan Botani, aku sering disebut tanaman sejenis perdu, dan termasuk anggota famili Compositae atau disebut juga Asteraceae (sembung-sembungan).

Bungaku kecil sebesar bunga rumput, orang lebih mengenalku dengan warna putih daripada warna lainnya. Hidupku bergerombolan di ujung dahan dengan harum yang khas. Tinggi batangku dapat mencapai 5 meter dengan daun-daun runcing dan lurus. Bungaku istimewa, tak pernah layu, mekarku abadi, sehingga aku dijuluki “bunga abadi”. Sungguh julukan inilah yang menjadi ‘beban’ bagiku, karena banyak orang menyalahgunakan ‘arti’ keabadianku selama ini! Keabadianku mereka sama kan dengan ‘cinta abadi’, cinta sepasang manusia yang tidak memiliki ikatan resmi. Ah…. Apalah arti protesku? Tho’ siapa yang peduli dengan rintihanku?
* * *
Aku berada di kamar Rieska. Tersusun rapi di atas lemari belajarnya. Disampingku ada diktat kuliah, novel, majalah remaja dan…. Bunga-bunga koleksi Rieska! Tepatnya sengaja disimpan Rieska. Yap! Untuk mengenang siapa yang memberikannya! Aku memang lebih beruntung dari bunga Mawar yang menjadi pendatang baru di kamar ini. Wajahnya pucat karena air di dalam vas tersebut tak pernah diganti oleh Rieska. Sama halnya dengan nasib Suplir yang telah mengering menjadi pembatas buku, lengkap dengan spora yang masih menempel ditubuhnya, dan Anggrek yang merana karena sebagian kelopak bunganya telah mengering.
Ya…. diantara bunga-bunga milik Rieska, ternyata aku memang diperlakukan ‘istimewa’ oleh majikanku, Rieska! Aku ditaruh di dalam kotak berwarna biru muda, berlapiskan plastik transparant. Aku sangat senang dengan perlakuan baik Rieska, tapi…. aku sangat resah dengan label hitam yang bertuliskan “Cinta Abadi” yang melekat manis di atas plastik kotak ini.
* * *

“Kamu beruntung yah, Weis, tempatmu empuk,” komentar Mawar suatu hari saat Rieska sudah pergi kuliah.
“Iya…. Weis, kamu nggak perlu ganti-ganti air sepertiku!” ujar Anggrek sedih.
“Ah…. Kalian bisa aja!” ujarku pelan.
“Tapi…. Benar kan memang kamu anak emas-nya Rieska! Apa karena kamunya pemberian Ari pacar Rieska si anak gunung itu?” kali ini suara Suplir dari balik buku angkat bicara. Ya… aku memang pemberian Ari Jaya Saputra kekasih Rieska. Ari mengambilku ketika dia mendaki gunung Ciremai, Jawa Barat. Aku diberikan kepada Rieska tepat ketika Rieska ultah yang ke-22 tahun, tepatnya enam bulan yang lalu.
“Ah…. Itukan pikiran kalian saja kalo aku bahagia ada di sini, sebenarnya aku nggak terlalu bahagia kok tinggal di sini!” ujarku.
“Kok bisa? Mengapa?” tanya Mawar keheranan.
“Nggak bahagia gimana? Diperlakukan istimewa kok nggak senang, nggak bersyukur kamu!” suara Anggrek ketus.
“Weiss…, seharusnya kamu bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jangan belagu deh pura-pura nggak senang” timbal Suplir.
“Maksudku…. aku bersyukur kok Rieska menjagaku dengan baik di sini, tapi…. yang membuat aku sedih Rieska selalu beranggapan kalo kesegaran bungaku yang abadi menjadi simbol keabadian cinta Ari padanya, padahal…..”
“Padahal apa? Maksud kamu apa sih? Aku jadi nggak ngerti!” suara Suplir terdengar pelan memotong pembicaraanku. Tampaknya susah payah ia berbicara dibalik lembaran buku dairy Rieska .
“Iya… nih Weis, maksud kamu itu apa?” tanya Mawar lagi. Aku berusaha menjelaskan kepada mereka, tentu saja dengan bahasa kami kaum bunga-bungaan.
“Aku ingin sekali Rieska menyadari keberadaan kita. Rieska seharusnya berpikir ada apa dibalik kekuasaan Allah yang telah menciptakan kita. Mereka seharusnya menjaga kita dengan baik, bukankah mereka diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini? Manusia seharusnya menyayangi dan merawat kita. Mereka seharusnya berfikir coba kalo nggak ada Mawar, Anggrek, Suplir atau bunga lainnya bagaimana? Dunia pasti suram tanpa penyejuk mata. Beda kalo ada kita, mereka akan merasa senang dan tentram bila memandang si Mawar yang sedang mekar, Suplir yang segar, atau Anggrek yang ….dan seharusnya manusia yang melihat ‘keabadianku’ sebagai contoh bagaimana mengabadikan hatinya sebagai rasa syukur ke hadirat Illahi” suaraku pelan, mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tertumpah.

“Kamu benar Weis, seharusnya manusia memang balajar dari fenomena alam, seperti kita! Lihat bungaku, berwarna merah menawan, wangi semerbak. Allah sengaja menciptakan duri-duri kecil dibatangku untuk menjaga kehormatanku dari serangan makhluk yang jahil, agar tidak mudah dipetik begitu saja. Kamu juga kan Weis, hidup ditepi jurang, sehingga diperlukan perjuangan bagi siapa yang ingin memetikmu. Ah… seharusnya manusia menyadari hal itu, mencontoh kita! Indah tapi tak mudah diraih! Berbeda dengan manusia, coba saja lihat kaum wanitanya? Masih banyak diantara mereka yang belum menyadari betapa pentingnya menjaga kehormatan diri, mereka dengan mudahnya dipegang sembarang orang, pake’ wangi-wangian yang merangsang syahwat lelaki, berbicara dengan suara yang mendesah, dan bangga mengubar aurat mereka. Sebenarnya mereka tahu nggak sih kalo prilaku seperti itu dosa?” ujar Mawar prihatin.
“Kok kamu tahu banget,War perubahan manusia begitu?” tanyaku heran pada Mawar.
“Jelas dong aku tahu, aku kan pernah tinggal di taman depan rumah Asep, teman kuliah Rieska, sehingga setiap hari aku bisa melihat dunia di luar sana” jelas Mawar.
“Ah sudahlah… sekarang emang zaman edan, yang pria berjas rapi menutup seluruh aurat, eh… wanitanya berpakaian seksi minim bahan, apa itu namanya nggak kebalik dunia sekarang?” sahut Suplir yang dulunya tinggal di teras depan rumah Bayu pacar Rieska yang ketiga.
“Eh.. iya juga yah, kemarin malam aku dengar di TV kalo aborsi semakin merajalela, koran-koran berbau porno semakin meluas, kemana sih hati nurani mereka?” suara Aggrek pelan. Anggrek memang pernah dibawah Rieska ke ruang keluarga dekat TV. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka berdzikir memuji asma Allah.
* * *

“Ari…… ada yang ingin ku katakan” terdengar suara Rieska di ruang tamu. Malam ini hanya mereka berdua yang ada di rumah, mama dan papa serta kedua orang kakaknya Rina dan adiknya Shanty pergi ke pesta pernikahan relasi papanya.
“Ada apa?” tanya Ari, mereka berdua duduk di sofa.
“Aku…aku …. Telat tiga minggu!Aku…ha…mil, Ari!”
“Hah? Kamu…hamil?” tanya ari keheranan, ini diluar dugaannya.
“Iya, kita harus segera menikah, Ari! Aku takut papa dan mama akan marah!” ujar Rieska gusar.
“Tidak! Aku tidak mau menikah sekarang! Kamu harus mengugurkan kandunganmu!”
“Ari! Aku nggak mau, ini anak kita! Kamu harus bertanggungjawab!” teriak Rieska bercampur tangis.
“Nggak, aku nggak mau, mungkin saja itu anakmu dengan pacar kamu yang lain!” cibir Ari.
“Ari… teganya kamu ngomong begitu, ini anak kamu Ari! Anak kita!”
“Pokoknya tidak! Kamu harus mengugurkannya, harus, titik!”
“Tidak! Aku nggak mau!”
“Harus!” paksa Ari menarik tangan Rieska dengan keras.Tangis Rieska semakin kencang.
* * *

“Ari jelek! Lelaki brengsek!” teriak Rieska ketika masuk ke kamar. Ia menghembaskan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk disertai suara pintu dibanting dengan keras. “Ada apa yah?” batinku bertanya penasaran.
“Hu….hu…., katanya cinta, katanya sayang, buktinya? Kamu jahat!” teriak Rieska lagi, semakin keras terdengar. Rieska menangis, air matanya menetes memasahi kemeja kotak-kotaknya.
“Eh… kawan-kawan, Rieska kenapa yah?” tanyaku pada Mawar, Anggreka dan Suplir.
“Nggak tahu, tidak seperti biasanya yah? Mungkin… Rieska ribut dengan Ari, atau berantem ama papa atau mamanya” tebak Anggrek.
“Ari…. Ka..mu…kejam! Ngakunya setia, cinta setengah mati, setia sampai akhir zaman, tapi mana? Kamu …. Hu….hu… Cinta? Ah… Ari … ngaku cinta abadi? Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi meninggalkanku dalam keadaan begini, kamu lelaki tak bertanggungjawab! Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?” tangis Rieska semakin keras terdengar. Rieska bingung harus bagaimana.
Tiba-tiba. Rieska berjalan dengan tergesa menuju meja belajarnya, meraih kotak mungil yang disimpannya dengan penuh kasih sayang selama ini.
“Percuma kamu berikan aku dulu bunga Edelweiss kalo cintamu bukan cinta abadi, tapi cinta murahan! Ngakunya cinta, tapi mengapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan begini?” tangis Rieska sambil membuka kotak mungil itu lalu membuang seluruh bunga Edelweiss ke dalam tempat sampah yang berada tepat di samping meja belajar. Melihat pristiwa tersebut, bunga lainnya, Mawar, Suplir dan Anggrek menjerit histeris!
“Ja……ngan……!!” teriak Mawar, Suplir dan Anggrek serentak. Tapi terlambat! Edelweiss telah dibuang ke dalam tong sampah yang bercampur dengan sampah lainnya.
* * *

Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Kali ini aku berada dalam gengaman seorang pemuda bernama Rahman. Ia mengamatiku dari tadi sambil terus berdzikir memuji asma Allah.
“Ya… Rabb yang Maha Kuasa, satu lagi telah Kau tunjukkan kebesaran-Mu. Menciptakan bunga Edelweiss yang tahan layu dan tak lelah diterpa angin, tanpa pemudar dan tanpa kekeringan. Ya… Rabb, seperti ini jugakah semangat saudara-saudaraku di Palestina dalam menghadapi serangan Yahudi demi merebut kembali hak mereka atas Masjid Al-Aqsa? Ya… Allah, kuatkan hati-hati kami untuk merebut itu semua” lirih suara Rahman menyejukan hatiku.
Aku hanya tumbuhan tanpa nyawa tapi aku merasakan betapa ia seorang pemuda yang ‘berhasil’ mengenali alamnya dan terus berdzikir melihat ke-Esaan penciptanya. Aku Edelweiss tersenyum bahagia dalam genggamannya.


(Dimuat di Majalah Sabili No. 19 Th X 10 April 2003/8 SHAFAR 1424)